September 27, 2015

Journalkinchan.com is on the way!

HAI! *ditulis pakai huruf kapital semua saking kangennya*

Tunggu, saya bersihkan dulu sarang laba-labanya.

Oke, sudah.

Saya mau nangis liat jumlah posting blog di tahun 2015 ini. Lebih miris lagi melihat janji-janji palsu yang ditulis dalam tiap posting seperti "I'll be back!", "Write more", etc etc, tapi kosong melompong! Hahaha. Serius deh, menulis dan memotret jadi kegiatan mewah beberapa bulan terakhir ini. Ditambah lagi saya udah jarang banget traveling.

Tapi ada satu kabar gembira. Setidaknya bagi saya sendiri.

JournalKinchan sekarang sudah punya alamat .com sendiri! Ini adalah legenda nyaris mitos yang saya impikan sejak bertahun lalu dan baru kesampaian sekarang. Itupun karena bantuan salah satu suhu sebelah yang meminta tidak disebutkan namanya, panggil saja Lingga Binangkit, yang mau membantu saya migrasi ke blog baru tersebut. Di antara kerjaan seabrek bergaji dolarnya, dia masih mau bantuin saya! I'm blessed! Hahaha *mulai lebay*

Jadi... Setelah posting ini saya secara resmi akan rutin menulis di alamat baru saya. Blog ini tidak akan saya hapus, tapi postingnya tidak akan saya tambah lagi. Kalian jangan pergi yaaa... Saya selalu baca komentar teman-teman walau saya tak selalu sempat membalas. Senang rasanya tahu bahwa tulisan saya banyak yang membaca... Sungguh :)

Saya pamit dari blogspot ini, sampai jumpa di Journalkinchan.com!

*ya saya tahu nama blog saya emang alay, tapi sudah jadi trademark jhe :p

Sampai jumpa di posting selanjutnya!

-Maharsi Wahyu Kinasih-

September 07, 2015

Semerbak Negeri Tembakau


Seorang ibu memilah daun tembakau sebelum dikemas
Saya ingat bahwa almarhum Buppak (ayah angkat saya di Pulau Bawean, Jawa Timur) selalu memesan sebuah benda yang sama setiap saya menyeberang ke Jawa: tembakau. Barang itulah yang membuat kami menjadi akrab pada hari-hari selanjutnya. Tembakau yang saya bawa dari Jawa hanyalah tembakau rajangan biasa yang diperoleh dari Pasar Gresik. Daun kering ini Buppak simpan dalam sebuah plastik lusuh yang sudah berisi kertas linting. Plastik tersebut tak pernah lepas dari tangannya, dibawanya ke sawah, kamar mandi, hingga saat ia beranjak tidur. Buppak adalah seorang pekerja keras yang berubah tak produktif jika ia tak merokok barang satu batang dalam sehari.

“Tanpa rokok, makan saya tak enak Bu,” celetuknya dalam logat Bawean-Melayu yang kental.

Saya selalu ingin membelikan Buppak tembakau yang menurutnya enak. Pernah suatu ketika saya bawakan tembakau yang asal-asalan dibeli di pasar, ia tak doyan karena rasanya terlalu asam. Sejak saat itu saya mulai lebih memperhatikan jenis tembakau yang saya belikan untuknya.

Tawa Buppak saat menerima tembakau itu dari tangan saya, sungguh tak ternilai.

***

Lombok adalah ayam taliwang dan plecing kangkung. Lombok adalah tiga Gili dan Senggigi. Lombok adalah Suku Sasak dan Gunung Rinjani. Pulau yang jamak disebut Pulau Seribu Masjid ini tak terlalu saya kenal sebelumnya. Saya hanya melewati Lombok dalam perjalanan darat menuju Labuan Bajo. Karena itulah saat Mas Nuran Wibisono mengajak saya mengunjungi pulau ini lagi untuk mengetahui proses produksi tembakau dari hulu ke hilir, hati ini tak kuasa menolak. Mengenal sebuah tempat dari sisi yang lain selalu terdengar menarik. Saya makin bersemangat setelah mengetahui beberapa nama yang malang melintang di dunia maya rupanya turut serta.

Setelah menerima tawaran Mas Nuran dengan senyum yang mengembang, saya baru menyadari bahwa tema perjalanan ini mungkin akan sedikit sentimentil (memang saya anaknya tukang galau, sih). Saya tidak memiliki hubungan yang baik dengan rokok yang menjadi produk utama dari si emas hijau ini. Saya harus rela kehilangan Ayah selepas sekolah dasar setelah beliau bertahun-tahun menderita stroke sebagai akibat dari racun rokok yang ia hisap setiap hari tanpa jeda. Sejak saat itulah saya punya ketidaksukaan (jika ‘benci’ terdengar terlalu kasar) pada benda kecil tersebut. Tapi rasanya aneh membenci satu benda yang bahkan wujud mentahnya pun belum pernah saya sentuh. Selain itu, saya selalu menyimpan rasa penasaran tentang tembakau yang telah mengakar sebagai bagian dari kultur Indonesia. Saya juga ingat bagaimana tembakau menjadi jalan keterbukaan interaksi antara saya dan Buppak, antara tuan rumah dan pendatang. Meski saya tak merokok, tentu saja.

***

Seorang pria paruh baya yang menyambut kami pagi itu nampak masih energik. Dengan logat Jawa Timurannya yang khas, ia memperkenalkan diri sebagai Bapak Iskandar, senior manager PT Djarum di area Lombok. Diskusi santai bersama beliau di kantor sebelum menjelajahi area gudang, menjadi pijakan saya dalam memahami lebih jauh mengenai proses produksi tembakau yang cukup njlimet. Oh ya, rokok yang disediakan oleh pihak perusahaan disambut baik oleh teman-teman yang merokok. Hahaha. Suasana diskusi segera mencair seiring kepulan asap rokok yang memenuhi ruangan tersebut.

Sudah dua dasawarsa lebih pria kelahiran Sidoarjo ini tinggal di Lombok dan memperkenalkan tembakau virginia pada petani-petani Lombok.  Oh ya, dari beliau pulalah saya tahu bahwa Lombok merupakan salah satu penghasil tembakau terbesar dan terbaik di Indonesia, bahkan dunia. Sebelumnya saya kira bahwa tembakau hanya ditanam di Jawa saja. Maka jangan heran jika saat berkeliling Lombok, hamparan tanaman hijau berdaun lebar ini akan sering ditemui. 

Selepas diskusi, Bapak Iskandar mengajak kami berkeliling ke dalam gudang tembakau. Bangunan ini seakan menjadi sebuah diorama museum, tiap bagian ruangan memiliki aktivitasnya masing-masing yang dapat dinikmati sembari berjalan perlahan. Aroma tembakau memenuhi udara gudang, membuat saya terpikat harumnya sebelum akhirnya aroma itu berubah terlalu pekat.

Saya berbisik pada Mas Nuran yang kebetulan melintas di samping, “Mas, bau tembakau awalnya enak, tapi kok lama-lama, saya pusing ya...” Yang diajak ngobrol hanya tersenyum sok misterius. Akhirnya saya menyerah dan memasang masker di wajah sembari melihat sekeliling. Para pekerja ini, tahan juga ya menghirup aroma tembakau berjam-jam dalam sehari.

Ada beberapa aktivitas utama yang dapat dilihat di gudang tembakau ini. Beruntung kami datang saat musim panen tembakau tiba dimana aktivitas pengolahan tembakau sedang sibuk-sibuknya. Sayangnya, kami melewatkan proses musyawarah harga yang dilakukan antara petani tembakau dengan pewakilan perusahaan di hari sebelumnya, padahal proses inilah yang paling ingin saya lihat. Selain musyawarah harga, di gudang ini juga berlangsung aktivitas transaksi dan penimbangan tembakau, reklasifikasi, dan pengemasan ulang untuk dikirim ke pabrik pusat di Pulau Jawa.

Suasana gudang tembakau. Riuh!
Penimbangan tembakau
Karyawan dibagi jadi dua, reclass A dan reclass B sesuai jobdesk masing-masing
Tengkulak lokal Magelang, Agus Mulyadi


Kata Mas Nuran, kami sengaja diajak melihat proses produksi tembakau dalam urutan yang terbalik, dari hilir ke hulu. Cara ini sukses membuat saya penasaran bagaimana bentuk dedaunan kering tersebut saat masih segar menempel di batangnya. Ternyata, sebatang rokok mempunyai perjalanan yang sangat panjang. Dalam sebuah siklus produksi tembakau, ada ribuan tangan yang bekerja.

Selepas tur singkat di gudang tersebut, bus membawa kami ke tujuan selanjutnya: perkebunan tembakau Desa Padamara (dibaca: Pademare) di Lombok Timur. Petani tembakau di desa ini juga merupakan mitra PT Djarum. Oh ya, dari diskusi dengan Pak Iskandar saya mengetahui bahwa pola kemitraan yang dikembangkan oleh perusahaan rokok ternama ini cukup baik. Djarum menjamin untuk membeli tembakau hasil petani mitra dengan harga yang telah dimusyawarahkan. Proses penanaman hingga pengovenannya pun didampingi agar tembakau yang dihasilkan berkualitas mumpuni. Tak ayal, tingkat pengetahuan para petani pun meningkat seiring berjalannya waktu. Hal ini berkebalikan dengan cerita-cerita yang sering saya dapatkan tentang ketidakadilan yang dialami para petani tembakau, yang justru merugi saat panen tiba. Duh!

Ternyata tanaman tembakau seperti ini...


Di hari kedua, Pak Iskandar mengajak kami ke Desa Lekor dimana seorang petani tembakau sukses bernama Haji Sabaruddin tinggal. Haji Sabar, begitu ia biasa dipanggil, begitu hangat menyambut rombongan kami yang datang ke rumahnya. Saya tak menduga bahwa di desa yang nampak gersang ternyata tumbuh pula tanaman tembakau yang kontras dibandingkan ilalang kecoklatan di sekitarnya.

“Tembakau itu tanaman yang manja sekaligus sangat kuat. Di masa pertumbuhan cepatnya, ia butuh perhatian yang ekstra, tetapi di sisi lain meski tidak ada air ia tetap bisa tumbuh dan beradaptasi dengan lingkungannya,” ujar Pak Iskandar. Entah sudah batang rokok keberapa yang ia hisap siang itu. Luar biasa Bapak satu ini.

Setelah mengelilingi kebun tembakau milik Haji Sabaruddin, kami disuguhi kelapa muda segar dan beragam cemilan tradisional di rumahnya. Haji Sabaruddin berkisah awal mula tembakau masuk ke desa ini dan menjadi primadona. Desa Lekor dahulu ditakuti karena banyaknya warga yang menjadi penjahat. Ketika tembakau diperkenalkan dan warga melihat hasil penjualannya, beralihlah mereka menjadi petani tembakau hingga saat ini. 

Haji Sabaruddin naik haji lagi!
“Alhamdulillah dari tembakau saya bisa naik haji dan sekarang akan naik haji yang kedua kalinya,” kata Haji Sabaruddin sembari tersenyum simpul.

Daun tembakau yang telah dipetik kemudian masuk proses pengovenan (flue curing). Dalam sebuah bangunan kotak tinggi bermaterial batu bata tanpa ventilasi, tembakau yang telah diikat pada gelantang bambu itu dijajarkan di dalam oven dengan pola zigzag atau lurus sesuai kebutuhan. Selama empat hari oven tradisional tersebut mengeringkan daun-daun tembakau hingga menguning warnanya. Bahan bakarnya beragam telah dicoba, mulai dari minyak tanah, gas elpiji, batu bara, dan kini mereka menggunakan bahan bakar berupa limbah cangkang sawit dan kulit kemiri. Suhu oven harus dijaga antara 50-60 derajat Celcius dengan panas merata ke seluruh bagian oven. Jika tak kering betul, hal itu akan berpengaruh terhadap rasa tembakau. Barulah setelah proses itu dilewati, tembakau siap dikemas untuk dikirim ke gudang tembakau.

Bagian dalam oven dengan pipa-pipa besarnya
Dalam dua hari yang singkat tersebut, banyak istilah dan pemahaman baru yang saya peroleh. Tembakau punya kemiripan dengan kopi, tiap jenis memiliki karakteristik dan kelasnya masing-masing. Perawatan yang penuh kasih sayang akan menghasilkan daun tembakau berkualitas dengan harga jual yang sepadan. Di sinilah pengetahuan dan teknologi bermain peran.

***

Siang masih panjang ketika kami tiba di Pantai Tanjung Ann, Lombok Selatan. Pasir putih dengan tekstur halus dan laut membiru seakan mengundang kami segera menceburkan diri di airnya yang segar. Sayangnya, sinar matahari masih terlalu terik untuk dinikmati.

Saya jatuh cinta pada laut. Tapi sore itu, meskipun udara tak sepanas tadi, saya tetap enggan untuk sekedar mendekat ke air. Trauma nyaris tenggelam setahun lalu di Pulau Bawean (saya belum pernah cerita ya? Next time!) cukup menjadi alasan saya malas beranjak. Pun, saya justru disibukkan oleh berbagai pikiran yang sejak tadi berseliweran di kepala, tentang semua yang saya peroleh selama dua hari ini. 

drone milik Syukron jadi favorit anak-anak
Industri tembakau memang kompleks. Dari pro kontra masalah kesehatan, kesejahteraan masyarakat, hingga masalah politik dan ekonomi, membuat saya sadar bahwa tembakau telah begitu menyatu dengan kehidupan kita sehari-hari. Kehadiran tembakau tak ayal memberikan warna. Ya, perkara suka atau benci tak lantas menjadikan kita tumpul dalam berpikir. Saya bosan mendengarkan perkara pro kontra rokok tersebut, dan saya pun tidak tertarik membahasnya kali ini. Ada kepentingan dalam setiap keberpihakan yang kita ambil, saya pun punya pengalaman personal yang menjadikan saya berada di posisi yang mungkin berseberangan dengan sebagian peserta jelajah tembakau. Tapi hebatnya, kami bisa saling menghormati pendapat dan pilihan masing-masing.

Ada satu hal yang kini saya yakini: saya rupanya bisa berdamai dengan masa lalu. Ketika saya pulang ke Jakarta sendirian lebih awal pada Minggu malam itu, saya ingat senyum Haji Sabaruddin dan orang-orang yang saya temui selama perjalanan jelajah tembakau.

Saya masih tak menyukai rokok, tapi kini saya melihatnya dalam makna yang berbeda. 


___

Saya tak berkisah sendirian. Ada teman-teman blogger lain yang sudah menulis terlebih dulu dan beberapa punya ulasan yang lengkap dan cara pandang berbeda dalam bercerita mengenai proses produksi tembakau. Selamat menikmati!

Indri Juwono
Wira Nurmansyah
Edward S. Kennedy
Sabda Armandio
Vira Indohoy
Sukmadede
Atre7
Lostpacker