July 20, 2014

Cinta yang Tumbuh di Tempat-Tempat Biasa

Tapi kalo ini bukan tempat biasa sih...
Cinta ini tumbuh di antara peron-peron stasiun kereta api. Cinta ini tumbuh di dek kapal berlunas rendah yang menari di tengah samudera. Cinta ini tumbuh di tapak-tapak berpasir jalan menuju atap langit Jawa. Cinta ini tumbuh di tiap sudut kota Jogja: angkringan nasi kucing, warung bakmi jawa, tebing landas pacu Laut Selatan, dan teras depan Societet Taman Budaya.

Cinta ini tidak tumbuh di tempat-tempat (yang menurut orang lain) istimewa.

Pertama menjabat tangannya, aura yang menyenangkan tersibak begitu saja. Baru saja aku bertemu ia hari itu, rasanya sudah seperti kenal sejak lama. Bersemangat dan murah senyum, kusematkan tanda di memori bahwa ia perlu kukenal lebih jauh.


Sebuah buku digital adalah prasasti yang nanti akan mengingatkan bilamana aku lupa cara kami menjadi dekat. Dek kapal, matahari terbenam, lautan lepas, koridor sempit menuju haluan, adalah tempat pertemuan-pertemuan sepintas bulan sebelumnya. Kuakui, ia tidak meninggalkan kesan biasa. Banyak hal yang membuat kami bisa bersama-sama tertegun dan berucap, "Kok sama sih?" lalu menertawakannya.

Hingga kemudian, memikirkannya mulai memakan ruang di otakku. Melihat senyumnya menjadi candu. Pernah kukatakan, mungkin akan kutemui jodohku di stasiun kereta api atau di gunung. Aku tidak menemukannya di sana, tapi dengannyalah kemudian kujelajahi tempat itu. Apa yang lebih menyenangkan dari bertemu teman dengan kesukaan-kesukaan yang sama?

Untunglah cinta itu tumbuh di tempat-tempat biasa dengan cara yang sederhana. Ucapan bertitel 'aku' dan 'dia', dengan segera pun berganti menjadi 'kami'.

Kami tertawakan orang-orang yang terlalu serius menyikapi hidupnya, dalam sekejap kami kasihani diri sendiri yang mungkin akan segera mengalami hal yang sama. Kami coba berjanji untuk menjadi sisi yang saling melengkapi, walau kemudian seluruh angan harus disisipi kata 'mungkin'.

Dia yang penuh keangkuhan bersumpah tak akan membawakan tas sang wanita jika jalan bersama, akhirnya luluh juga melihatku yang nampak kepayahan menahan beban. Dia yang selalu jumawa bercerita betapa ia mampu mendaki gunung-gunung yang tinggi, akhirnya menyerah kelelahan setiap menemaniku berkeliling gang-gang pasar. Dia yang tak pernah bisa diam tiap bercakap dengan banyak orang, mampu memilih tenang saat menghadapi emosiku yang sesekali memuncak.

Pandangan mata yang ia teduhkan, nada suara yang ia rendahkan, dan perilakunya yang menenangkan, membuatku yakin bahwa ia tidak pernah sembarangan dalam perihal sayang.

Semoga ini bukan sementara. Karena cinta yang tumbuh perlahan di tempat-tempat biasa, (semoga saja) akan lebih lama dapat bertahan. Dia tentu saja bukan yang pertama, tapi akan terus kupertahankan agar dialah yang menjadi paripurna.

25 comments:

  1. "Kok sama sih?" :)

    Manisnya, Kinkin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih atas kunjungannya Kak Atre...

      kalau dulu, "Kok sama sih?" terus senyum2 malu-malu. Kalo sekarang "Kok sama sih?" pasti ngotot-ngototan siapa yang lebih dulu ngeklaim. ahaha

      Delete
    2. *jorogin Kinkin* hahaha…

      udah kelar PM-nya? main ke Jakarta yoooooo...

      Delete
  2. Replies
    1. Rock and roll... terus ngglundung ga balik-balik. haha

      Delete
  3. how sweet! bisa nginspirasi nih mau posting apaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. semanis gula jawa? haha. sipp ditunggu postingnya yaa!

      Delete
  4. Ini sih dalemnya bikin...






    haus akan kasih sayang :))

    ReplyDelete
  5. duh suka sama penyampaian kata katanyaa mbak

    ReplyDelete
  6. Wah dalem sekali nih mantep mbak T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. dalem ples agak lebay sebenarnya sih mas. hihihi

      Delete
  7. Salam perkenalan
    Saya sering membaca tulisan kamu melalui blog ini... jangan lelah menulis... Saya sering terkesan apabila membaca tulisan kamu. Semoga sukses menjadi seorang guru.

    Salam dari Sabah, Malaysia..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga.. Wah jauhnya di Sabah :)

      Terima kasih ya sudah sering mampir. Amiin. Sukses untuk Anda juga.

      Delete
  8. Aduwh Kin, akhirnya kukepoin blogmu. Dan waktu baca post ini aku klepek-klepek. Gimana si *** sendiri yang baca? Wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. setelah kebersamaan kita setahun ini kamu baru kepo blogku sekarang?! *mata mendelik lebay* haha im, klepek2nya kok malah bikin merinding... ahhahaha

      Delete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)