July 20, 2014

Begini Rasanya Frenektomi

Cerita ini saya share agar teman-teman ikut meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut kalian ya :)

Saat baru mulai merasakan indahnya masa SMA, saya mengalami kecelakaan. Singkat cerita, rahang kanan patah (untung bukan pas di sendi, jadi ngga perlu bedah dan pakai platina segala) dan saya mendapatkan perawatan spesial: pemakaian plat pada susunan gigi atas bawah untuk mengikat rahang agar bisa tersambung kembali. Sayangnya, pemasangan plat tersebut tidak pas sehingga rahang saya tersambung tidak seperti bentuknya semula. Hal ini tentu saja berpengaruh pada susunan gigi geligi saya. Jadi berantakan kayak kapal pecah! Tapi barulah pada akhir masa kuliah saya berani pasang behel demi merapikan kekacauan itu.

Dua tahun pakai behel, gigi depan saya ngga simetris juga. Akhirnya saya tanya sana-sini, baca sana-sini, dan menemukan salah satu kemungkinannya adalah lipatan frenulum saya yang memiliki kelainan. Apa itu frenulum? Coba jilat bagian dalam bibir atas kalian (tepat di atas gigi seri depan) ada semacam lipatan kecil. Nah pada beberapa kasus (termasuk kasus saya) frenulum tersebut terlalu tebal atau pendek sehingga bisa mengganggu penampilan dan tentu saja, mengundang penyakit.

Saya memutuskan untuk segera konsultasi ke dokter spesialis periodontis. Oleh seorang teman yang juga mahasiswa FKG, saya disarankan langsung ke Klinik Alamanda di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo UGM. Di sana ada beberapa dokter spesialis periodontis yang pasti paham betul permasalahan saya. Kebetulan yang ada di tempat siang itu adalah drg. D*hlia H. Sp.Perio, akhirnya saya konsultasi dengan beliau. Dan ternyata, problem perio saya banyak! :(

"Wah, kamu frenektomi depan belakang kalo gini mba.."
"Depan belakang gimana Dok??"
"Iya, lapisan (lupa namanya) di belakang gigi seri atasmu itu juga terlalu tebal. Kalo hanya operasi depan ya sama aja, nanti melar lagi..." (Bu Dokter ngomongin gusi kayak ngomongin karet ban, santai amat)
*ndomblong sambil jilat miris langit-langit mulut*

Kemarin tanggal 16 Juli saya konsultasi, esoknya saya langsung memutuskan operasi mengingat masa recoverynya mencapai dua minggu, kalau ditunda-tunda nanti waktu lebaran saya ngga bisa makan opor dong. Haha. Ditemani maspacar, dengan percaya diri saya menapakkan kaki ke klinik. Meskipun hanya operasi minor dimana hanya diperlukan bius lokal, tetap saja rasanya degdegan membayangkan tangan dokter itu menari-nari di atas mulut saya. Apalagi sejak kecil kayaknya sebagian besar dari kita memang suka parno ngga sih dengan dokter gigi? Lihat alat-alatnya yang ajaib udah bikin ketar-ketir duluan.

Dalam 15 menit, saya sudah duduk manis di kursi panas. Dokternya rileks, saya jadi ikutan rileks. Kan ada ya dokter yang justru bikin takut pasiennya dengan bilang, "Mba jangan takut ya, ini agak sakit sedikit kok.. Aduh saya kasihan kamu kesakitan," yaaa malah jadi takut beneran dok! Dokter yang menangani saya memang ngga banyak bicara, tapi kerjanya cukup cepat. Untung saya udah cukup terbiasa dengan suntik bius, saya minta bius agak banyak biar sekalian ga kerasa kalo nanti diiris-iris. Haha. Biarlah sakit di awal saat bius, tapi nanti saya bisa woyo-woyo saat operasi.

"Dok, bius lagi dong Dok," (padahal gusi atas udah kaku sampe ke hidung)
"Lha, kamu udah saya kasih enam suntikan, udah banyak ini. Nanti aja kalo kerasa sakit baru disuntik lagi."
(dalam hati) "Bisa keburu pingsan sebelum sempat minta suntik.."

Walaupun sudah tutup mata dan berusaha rileks, hati saya ciut juga ketika dengar frenulum saya mulai dibedah. Krek..krek... Suaranya kayak urat dipotong. Ya emang urat sih yang dipotong. Haha. Karena bibir bagian atas saya ditarik sampai maksimal, saya ngga bisa bernapas lewat hidung. Hanya lima menit, hilang sudah 'gusi berlebih' tersebut dan langsung dijahit. Cukup banyak darah yang keluar, saya sampai galau karena harus memilih menelan darah atau bernapas. Hahaha. Untung perawatnya gerak cepat, 'genangan' tersebut langsung disedot dengan alat.
Bagian depan beres. Saatnya bagian belakang. Saya membayangkan langit-langit mulut atas kan keras, gimana cara bedahnya? Baru aja dipikirin, kejawab sudah pertanyaannya. Saya merasakan bagian belakang gigi seri atas saya dikerok agar lebih tipis. Ngga tahu yaa dikerok beneran ato gimana prosesnya, yang jelas saya dengernya kayak gitu. Heaa.. Darah makin banyak yang netes. Proses bedah yang satu tadi bener-bener bikin saya mau nangis karena dengar suaranya yang bikin ngilu. Terakhir, area yang dioperasi diberi semacam gum agar proses recovery-nya cepat dan area luka tidak terpapar udara bebas. Operasi minor ini membuat bibir atas saya jontor dan saya hanya bisa senyum-senyum sombong karena perihnya lumayan juga.

Kata dokter, gum itu baru bisa dibuka seminggu lagi, lalu jahitan dilepas setelah 10 hari. Mepet lebaran, untunglah dokternya asli Jogja jadi saya bisa main ke rumahnya kapan saja. Sekarang efek biusnya sudah hilang, lumayan bikin gegulingan sakitnya. Saya ngga kebayang deh mereka yang operasi plastik sampai potong tulang rahang itu gimana rasa sakit pascabedahnya ya? :(

Walau sempat degdegan mampus saat menjalani operasi, saya sekarang ingin jumawa karena akhirnya proses itu terlewati. Beauty is (really, really!!) pain. Gapapa, demi kesehatan dan kecantikan abadi!! (anaknya optimis banget)

P.S: Mungkin ada beberapa istilah atau proses yang penulisannya kurang sesuai bahasa ilmiah. Maklum, awam. Ini cerita dari sisi pasien ya, semoga teman-teman juga lebih peduli sama kesehatan gusi, jangan hanya gigi yang diperhatikan :)



No comments:

Post a Comment

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)