February 23, 2014

Mewah dalam Sederhana

Pagi itu sumpah setia Nin ‘Ali di depan petugas KUA Sangkapura telah membuat Sanna menjadi istri sahnya. Jauh dari hingar bingar akad nikah a la kota, disaksikan ratusan pasang mata, dekorasi gedung dan pakaian mewah, serta kelip lampu blitz tanpa jeda – mereka menikah disaksikan dua saksi yang juga masih tetangga. Dengan motor pinjaman, Nin’Ali membawa pulang Sanna, sang istri yang sama bahagianya, kembali ke rumahnya di balik gemunung Bawean.

Pak Jamsuri, wali kelas 1, datang tergopoh-gopoh dari luar. "Ibu, Ibu, iring-iringan pengantinnya sudah datang!" beliau sebenarnya berbisik, tetapi karena suasana sedang hening maka segeralah semua anak mengetahui isi percakapan kami. Spontan, semua siswa saya berlarian keluar menuju teras sekolah dan melompat-lompat demi bisa melihat jalan masuk Serambah. Dari kejauhan memang terdengar irama tabuhan rebana, klakson dan gerungan motor, lalu nampaklah barisan panjang pengiring pengantin dari dusun Tanarata yang berjalan menuju Serambah Barat.


Padahal lima menit sebelumnya, anak kelas 5 dan 6 yang saya ampu duduk tenang di bangkunya masing-masing. Beberapa terpekur di lantai acuh dengan keadaan sekelilingnya. Mereka sedang asyik menulis surat balasan untuk sahabat penanya yang baru di Musi Banyuasin. Satu demi satu kata dieja karena tulisan pengirimnya tidak jelas, lalu perlahan mereka tuliskan balasannya di kertas. Konsentrasi itu buyar seketika.

"Ibu! AYO PULANG IBU!" anak-anak kelas saya mulai berteriak dan merajuk meminta agar segera dipulangkan. Pak Jamsuri dan Pak Irul ternyata sudah memulangkan kelas 1 sampai 4 segera setelah suara tetabuhan itu terdengar. Kedua guru tersebut pun langsung ikut berlarian bersama anak-anak tidak ingin tertinggal iring-iringan pengantin.

Tinggallah saya bersama Pak Kepala Sekolah - yang saat itu baru saja menapakkan kaki di sekolah akibat hujan deras - dan saya tersenyum penuh arti. "Bapak, kegiatan belajar masih akan dilanjutkan?" tanya saya perlahan. Untunglah Pak Kepala Sekolah mengiyakan permintaan saya memulangkan anak-anak yang tersisa karena sebenarnya pun hasrat mereka untuk segera keluar dari kelas tak terbendung lagi.

Tak menunggu lama, saya ikut larut dalam kebahagiaan warga dua dusun tersebut. Bersama beberapa siswa saya mengikuti iring-iringan dari belakang. Terlambat memang, saat tiba di rumah pengantin prosesi serah terima dalam walimatul ursy sudah akan dimulai. Kaum bapak sudah duduk manis mengitari berbagai hidangan yang disediakan warga desa. Saya bergerak pelan menuju kerumunan ibu-ibu di dekat pelaminan sederhana yang dibuat malam sebelumnya.

Kedua mempelai ini sebenarnya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ibu mempelai wanita adalah single parent dengan banyak anak dan tanpa pekerjaan. Ia mengandalkan kiriman saudara-saudaranya dari Malaysia. Kondisi mempelai lelaki tidak jauh berbeda. Tetapi, kondisi tersebut bukanlah hambatan untuk tetap merayakan peristiwa berbahagia yang (semoga saja) hanya terjadi sekali seumur hidup. Saya khawatir dengan kelangsungan rumah tangga mereka. Bukan karena apa-apa. Mempelai wanita baru berumur 16 tahun lulusan SD. Mempelai lelaki hanya empat tahun lebih tua darinya dan tidak mempunyai pekerjaan. Semoga keputusan untuk menikah muda ini bukanlah ego sesaat yang akan disesali di hari kemudian.



Berselang minggu, warga Serambah bergotong royong membangun sebuah panggung sederhana. Di panggung itulah nanti malam sebuah orkes mandailing (seni bernyanyi pantun dengan bahasa Bawean) akan tampil. Mereka diundang keluarga besar Nin’Ali dan Sanna unjuk gigi sebagai puncak acara pesta. Jangan bayangkan gemerlap pesta dengan dana ratusan juta. Tak ada pelaminan dengan dekorasi gemerlap nan rupawan, cukup dua buah kursi sofa berlatar belakang kain satin murah untuk pemanis suasana. Tamu pesta duduk lesehan di atas tikar yang dipinjamkan tetangga, sisanya cukup berdiri sekitar halaman rumah. Saya sendiri membantu pembuatan tulisan “Selamat Datang” dan “Semoga Berbahagia” yang hanya dicetak seadanya di atas kertas karton dan diberi kertas krep warna-warni agar lebih meriah.

Lupakan katering mahal dengan puluhan macam hidangan. Keluarga dan tetangga dusunlah yang akan menjadi juru masaknya, sebuah dapur besar dengan tiga tungku kayu raksasa mendadak dibangun di sebelah rumah. Di situlah acara memasak dilakukan secara gotong royong, dimana kayu bakarnya pun dicarikan oleh seluruh warga dusun yang berkenan. Makanan kecil, minuman, hingga hidangan utama dimasak bersama-sama tanpa sekalipun para tukang masak itu mengharapkan imbalan. Biarkan Nin’Ali dan Sanna menjadi raja dan ratu sehari.

Perihal nikah-menikah itu menjadi satu contoh betapa manisnya kebersamaan di dusun tempat saya tinggal ini. Kuatnya rasa persaudaraan menjadikan titik peluh mereka terlalu berharga untuk sekedar dihargai dengan rupiah. Ucapan terima kasih dan balasan bantuan nampaknya lebih bermakna – karena sebagian besar warga hidup di kisaran garis kemiskinan. Mungkin para manusia ini sadar, bahwa hidup sendirian akan membuat mereka tak bisa apa-apa.

Ah iya, Nin’ Ali dan Sanna sama-sama baru berusia 16 tahun. Menikah muda masih menjadi tren yang disukai oleh penduduk Bawean meskipun jumlahnya tidak semasif dahulu. Mungkin zaman Emak Masnah, emak saya, masih suka lari-lari bermain di sawah, para gadis yang baru lulus SD – jika memang bersekolah – sudah punya suami. Saya pernah melihat Mak Samma, tetangga saya yang usianya menginjak kepala enam, berjalan bersama dengan anak keduanya, sembari menggendong cucunya yang paling bungsu, dan cicitnya yang pertama. Mungkin ini ya enaknya menikah muda. Kamu masih bisa melihat garis keturunan yang berada tiga tingkat di bawahmu, hehe.

Ingin sekali saya memikirkan sebuah pernikahan sebagai hal biasa dalam hidup yang memang harus dipersiapkan, tetapi tidak untuk ditakuti. Pernikahan yang diharapkan semua orang hanya terjadi satu kali seluruh hidup mungkin butuh seremoni. Tapi bukan berarti ini harus dirayakan besar-besaran. Dan lagi, ingin menikah bukan berarti sudah harus punya rumah, kendaraan, tabungan, dan tetek bengek lainnya. Saya ingin memikirkan sebuah pernikahan sebagai sebuah hal yang sederhana. Maksudnya, tidak perlu dipersulit lagi. Lha wong aslinya sudah sulit.

Ini saya nulisnya kemana-kemana. Sebenarnya memang sejak awal tidak ada tujuannya sih. Intinya saya ingin sekali memiliki hidup simpel layaknya orang-orang di Serambah. They live happily in their own way.

Jadi, kapan ya saya nikah? #eh

5 comments:

  1. jadi ingat kutipan di suatu buku yang pernah aku baca beberapa tahun lalu, orang yang paling bahagia adalah orang yang mampu hidup dengan sedikit benda, karena kemelekatan adalah sumber penderitaan. kawin muda menjadi tidak masalah saat tidak diiringi banyak keinginan.

    Pertanyaan menyusul; "kapan kawin kin?"

    kaboooorrrrrrrrrrrrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan kamupun bertanya sambil ngaca.... *ikut kabur hahaha

      Delete
    2. komen yang super sekali ... nambahin dikit
      kawin muda menjadi tidak masalah saat tidak diiringi banyak keinginan ... baik itu keinginan dari diri sendiri dan lingkungan sekitar

      Delete
  2. Kesederhanaan memang menenangkan sih :) Kapan kawin? Nunggu ada yang mau... T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaaah.. ada curhat di dalam komen.. haha

      Delete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)