November 22, 2014

Jenis-Jenis Pengendara Motor di Jogja: Sebuah Pengamatan (Tidak) Ilmiah

Sebulan terakhir saya rutin membelah Jogja. Bagi yang rutin main atau bahkan asli wong Jogja pasti tahu meskipun daerah istimewa ini kelihatannya hanya seuprit di peta pulau Jawa, tapi luasnya nggak kira-kira. Hahaha. Jadi setiap hari kerja saya harus berangkat dari rumah di dekat Ringroad Utara (kampus UGM) ke kantor di wilayah kota Bantul yang jauuuuh di selatan. Karena itulah saya sebut 'membelah Jogja'. Jarak tempuh satu arah sekitar 15an kilometer. Lumayan...

Nah, dengan jarak pulang pergi sejauh itu, saya tidak mau menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk berlama-lama di jalan. Jadilah selama beberapa minggu pertama saya mencoba beragam rute pulang pergi demi mendapatkan efektivitas dan efisiensi maksimal! Pertama saya mencoba pulang pergi lewat tengah kota Jogja, menyusur jalanan utama nan padat yang saya biasa lewati. Daripada nyasar? Tapi saya bisa habis 1 jam lebih di jalan dan melewati lebih dari 15 lampu lalu lintas. Kemudian saya disarankan memutari Ringroad saja, karena meski lebih jauh lampu lalu lintas lebih sedikit dan jalannya tidak sepadat lewat dalam kota. Enak sih, hanya habis 35-45 menit saja di jalan, tapi lawan saya truk-truk gede dan bis AKAP. Akhirnya saya coba rute kombinasi (berasa pesen roti bakar) melewati jalan mblasuk lewat Goa Selarong dan akhirnya blusukan lewat Soragan. Waktunya tidak jauh beda dan tidak selelah saat saya menggunakan jalur Ringroad.

Jadinya curhat.

November 16, 2014

Gunungkidul Pada Suatu Hari


Pagi masih muda. Ine memacu cepat kendaraannya, berkejaran dengan jarum menit yang belumlah genap melewati pukul enam. Hawa pagi ini tak membuat kami menggigil, mengingat semalam harus terbangun berkali-kali karena gerah bukan main. Akhir musim kemarau di Jogja kali ini cukup menyiksa: udara kering berdebu dan suhu yang cukup membuat kepala cenat-cenut.

Berangkat dari Kota Bantul, sepeda motor Ine arahkan menuju timur melewati jalan lintas kabupaten yang mulus dan berkelok-kelok. Kami menuju Gunungkidul untuk kepentingan kunjungan ke sekolah yang menjadi mitra yayasan. Saya selalu suka perjalanan ke Gunungkidul apalagi pada pagi hari. Pemandangannya luar biasa. Barisan pohon jati yang meranggas dan berwarna kemerahan adalah favorit saya.

Enaknya ke Gunungkidul lewat 'jalan belakang' adalah jalanan yang cenderung lebih lancar dan sama bagusnya dengan lewat jalan utama yang biasa dilewati truk-truk dan warga Jogja. Meski tanjakannya membuat motor matic Ine ngos-ngosan, akhirnya kami tiba juga di Playen, sebuah kecamatan di tengah Gunungkidul. Kalau kata orang kecamatan di Jogja itu besarnya seperti kabupaten, saya setuju seratus persen. Luas banget!

November 01, 2014

Dicari, Pelari Terakhir! (+Pengalaman Seleksi Indonesia Mengajar)


jalan masuk menuju Dusun Serambah, dusun penempatan saya di Pulau Bawean (2013)
*tulisan ini saya buat berbekal potongan ingatan dari lebih setahun yang lalu. maaf jika ada kesalahan penulisan, ya :)

Rasanya baru kemarin saya menapakkan kaki di Jalan Galuh II no 4 sembari menggendong sebuah carrier, dengan perasaan tidak karuan karena selanjutnya hidup saya akan berbeda. Halah. Yap, 22 April 2013 adalah hari bersejarah karena itulah hari pertama saya akan memasuki camp pelatihan Pengajar Muda VI. Hampir satu setengah tahun yang lalu! Oh maaan, cepet banget!

Perjalanan panjang tersebut dimulai dari sebuah titik balik. Alkisah pada akhir tahun 2012, dengan langkah gontai saya memasuki gedung Grha Sabha Pramana UGM untuk mengikuti talkshow Indonesia Mengajar bersama Pak Anies Baswedan. Motivasi saya saat itu hanya ingin lihat Pak Anies Baswedan saja. Sudah sejak lama saya 'tersihir' oleh berbagai speech beliau dan kali ini ingin saksikan langsung di depan mata. Selain Pak Anies, saat itu ada beberapa alumni Pengajar Muda yang ikut bercerita tentang pengalamannya selama di penempatan. Keluar dari ruangan kok ya tekad saya bisa berubah: saya ingin jadi Pengajar Muda! (thanks to Mas Arief Lukman Hakim yang sukses bikin saya ngiler ingin punya pengalaman yang sama serunya)

Dan sekarang, 1 November kembali datang. Rekruitmen Pengajar Muda angkatan X sudah dibuka. Indonesia Mengajar mengundang putra-putri terbaik bangsa untuk mengabdikan satu tahunnya di pelosok negeri. Yap, sudah sembilan angkatan yang sedang dan akan diterjunkan ke 17 kabupaten di seluruh Indonesia dan angkatan 10 siap menyusul. Apakah kamu salah satunya? Jika tertarik untuk mendaftar bisa langsung klik link INI ya.. :)

October 10, 2014

Sebulan Jajal Food Combining, Apa Hasilnya?

"Orang kurus kayak kamu itu justru harusnya lebih waspada. Mereka yang gampang gemuk punya alarm untuk atur pola makannya ketika berat badan mulai berlebih. Untuk kamu yang susah gemuk pasti akan merasa tenang makan apa saja. Baru nanti waktu tua kebingungan kok kadar kolestrol dan tensi lebih tinggi dari mereka yang gemuk."
Suatu ketika seorang sahabat, yang sayangnya saya lupa siapa, kurang lebih mengatakan hal seperti ini pada saya. Saat itu kami sedang berkumpul dan membahas betapa beruntungnya orang macam saya yang tidak perlu waswas makan terlalu nggragas. Cetaar! Rasanya kayak dislepet pakai sarung dan tetiba air muka saya langsung muram terngiang-ngiang hal tersebut.

Ah, yang benar orang kurus juga rentan kena kolestrol tinggi dan penyakit lain - sebut saja, hipertensi?

Pencarian saya berlanjut dengan bertanya kepada teman-teman dokter dan membaca berbagai sumber di internet. Kesimpulannya, kelaziman orang kurus dan gemuk dalam hal kadar kolestrol tinggi tidak jauh beda. Sama aja paparannya. Ini cukup masuk akal. Saya tidak pernah merasa khawatir makan apapun yang berlemak, bahkan ada masanya saya senang betul dengan junkfood dan daging merah olahan. Olahraga jarang, dulu cuma seminggu sekali saat jam olahraga di sekolah. Saat kuliah lebih jarang lagi. Dan memang, saya tidak pernah menjadi gemuk. Sejak SMP berat badan saya konsisten di bawah 50 kilogram dengan tinggi 163 cm. Underweight cuy! Kalaupun naik hanya 2-3 kilogram. Jika pola makan saya kendor sedikit akibat banyak kerjaan atau sedang tidak nafsu, berat badan akan kembali ke awal. "Dimulai dari nol Bu..." *menghela napas karena gagal gendut

October 02, 2014

Riuhnya Prau di Akhir Minggu

Berhenti sejenak di pos 3 sambil lihat kepulan debu yang dihasilkan pendaki yang menuruni lereng Prau
(journalkinchan)
Setelah membuat posting panjang mengenai keresahan saya saat mendaki Gn. Prau beberapa waktu lalu, tidak afdol rasanya jika tidak memposting foto-foto saat mendaki dan mencari matahari terbit di sini. Karena malas  tidak keburu mengeluarkan kamera DSLR untuk memotret (lebih praktis jepret pakai Go Pro -.-) maka tidak banyak foto yang saya hasilkan. Karena itulah saya meminta izin pada Lingga Binangkit, seorang teman yang mendaki bersama juga, agar ia mengizinkan beberapa fotonya dimuat di blog ini. Dan berhasil, yes! Haha. Oh iya, Lingga ini meski lumayan baru di dunia fotografi tapi hasilnya foto-fotonya ciamik dan ga kalah dengan fotografer yang udah malang melintang belasan tahun. Sayangnya satu foto startrail bikinan dia lupa belum saya minta, lagipula penuhnya tenda di puncak Prau saat itu bikin foreground foto jadi nggak oye. Gaya yah, padahal bukan saya juga yang foto :))  Akhirnya saya dapat foto startrail bikinan Lingga!

September 26, 2014

Bertemu Emak Masnah Sekali Lagi

"Emak kapan ke Jawa?"
"Tak tau Buuuu.. Tak punya uang. Emak belum pernah ke Jawa.."
"Sekali-kali main Maaak. Biar tahu Gresik macam apa.. Tak tua di Bawean saja..."
"Tak tahuuu Buuu.."

(obrolan singkat di amben depan rumah pada suatu malam di Serambah)

Hari Jumat pukul satu dini hari. Bus Patas Jogja-Surabaya yang saya tumpangi rupanya menjadi bus terakhir yang berangkat dari Terminal Giwangan hari itu. Beruntung saya tak terlambat, bisa-bisa perjalanan-singkat-satu-hari saya akan berantakan. Dengan estimasi perjalanan 8-9 jam, sekitar pukul 9 pagi saya akan tiba di Terminal Bungurasih. Lumayan, bisa tidur nyenyak di jalan. Karena keesokan malamnya saya akan berada di bus ini lagi, kembali ke Jogja.

Apa yang membuat saya begitu bersemangat pergi ke Surabaya kali ini?

September 15, 2014

Catatan dari Prau: Sejauh Mana Kita Bisa Menghargai Diri dan Alam?

yak yang antri yang antri....
(Gn. Prau, 14 Sept 2014)

Prolog (yang agak kepanjangan)
Saya bukan pendaki profesional. Kecintaan saya pada kegiatan alam bebas dimulai sejak bangku SMA, saat itu saya bergabung dengan organisasi sispala di sekolah. Sejak pendidikan dasar hingga kegiatan rutin selanjutnya bersama teman sispala, saya diingatkan betul untuk selalu menjalani safety procedure. Awalnya terasa repot. Saat melihat teman dari sispala lain bisa naik gunung dengan sandal jepit dan peralatan minim, kenapa kami harus repot-repot pakai sepatu tertutup, membawa ponco yang berat dan baju ganti pula? Kenapa kami tidak boleh buang sampah sembarangan di gunung atau membakar sampahnya agar tidak perlu kami bawa turun? Bahkan saat itu saya berpikir kami terlihat cupu karena mempersiapkan diri sebegitu ribetnya.

September 06, 2014

[UPDATED] Download E-book Tangan-tangan Kecil Bawean


**UPDATE**

Akhirnya! Setelah satu bulan menunda  menyelesaikan editing (karena versi pertama dicetak agak terburu-buru), buku Tangan-tangan Kecil Bawean bisa diunduh secara gratis. Hore! *tepuk tangan sendirian*

August 09, 2014

Ini Dia, Keluarga Saya di Tanah Serambah!

Jadi ceritanya sudah satu bulan lebih meninggalkan Bawean tapi saya masih belum bisa move on. Masih sering teringat-ingat keluarga angkat saya di sana, kalau kangen hanya bisa nelpon atau lihat foto saja. Yap, saya bertekad nggak akan 'pulang kampung' ke Bawean sebelum menikah. Nikahnya kapan? Wallahu alam. *backsound tarakdungjes

Saya ingin memperlihatkan keluarga angkat saya di Serambah yang sangat saya cintai dan banggakan. Sebenarnya anak angkat Mak Masnah dan Pak Misrudi ada dua, yaitu Mas Tidar Rachmadi (PM pendahulu tahun pertama) dan saya. Kami sama-sama mengamini bahwa keluarga ini memang begitu hangat dan ngangenin. Dan ya.. kami sama-sama posesif ngga mau Mak Masnah si emak juara jadi emak kita bersama. Walau yang pasti Mas Tidar menang sih karena dia cinta pertama. Untung kakak keren satu itu lagi di Amerika jadi Mak Masnah bisa saya posesif-in sendirian. Hahahaha *kemudian ditimpuk Mas Tidar

Akhirnya, kini mereka menjadi bagian dari nostalgia saya.

July 20, 2014

Begini Rasanya Frenektomi

Cerita ini saya share agar teman-teman ikut meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut kalian ya :)

Saat baru mulai merasakan indahnya masa SMA, saya mengalami kecelakaan. Singkat cerita, rahang kanan patah (untung bukan pas di sendi, jadi ngga perlu bedah dan pakai platina segala) dan saya mendapatkan perawatan spesial: pemakaian plat pada susunan gigi atas bawah untuk mengikat rahang agar bisa tersambung kembali. Sayangnya, pemasangan plat tersebut tidak pas sehingga rahang saya tersambung tidak seperti bentuknya semula. Hal ini tentu saja berpengaruh pada susunan gigi geligi saya. Jadi berantakan kayak kapal pecah! Tapi barulah pada akhir masa kuliah saya berani pasang behel demi merapikan kekacauan itu.

Dua tahun pakai behel, gigi depan saya ngga simetris juga. Akhirnya saya tanya sana-sini, baca sana-sini, dan menemukan salah satu kemungkinannya adalah lipatan frenulum saya yang memiliki kelainan. Apa itu frenulum? Coba jilat bagian dalam bibir atas kalian (tepat di atas gigi seri depan) ada semacam lipatan kecil. Nah pada beberapa kasus (termasuk kasus saya) frenulum tersebut terlalu tebal atau pendek sehingga bisa mengganggu penampilan dan tentu saja, mengundang penyakit.

Cinta yang Tumbuh di Tempat-Tempat Biasa

Tapi kalo ini bukan tempat biasa sih...
Cinta ini tumbuh di antara peron-peron stasiun kereta api. Cinta ini tumbuh di dek kapal berlunas rendah yang menari di tengah samudera. Cinta ini tumbuh di tapak-tapak berpasir jalan menuju atap langit Jawa. Cinta ini tumbuh di tiap sudut kota Jogja: angkringan nasi kucing, warung bakmi jawa, tebing landas pacu Laut Selatan, dan teras depan Societet Taman Budaya.

Cinta ini tidak tumbuh di tempat-tempat (yang menurut orang lain) istimewa.

Pertama menjabat tangannya, aura yang menyenangkan tersibak begitu saja. Baru saja aku bertemu ia hari itu, rasanya sudah seperti kenal sejak lama. Bersemangat dan murah senyum, kusematkan tanda di memori bahwa ia perlu kukenal lebih jauh.

Pada Sebuah Meja Makan



Selama menjadi bagian dari keluarga Pak Misrudi dan Mak Masnah, saya selalu dipersilakan untuk ikut makan di dapur mereka. Dapur itu sederhana, terbuat dari jalinan bambu dengan atap daun aren yang terpisah dari bangunan utama.

"Bu, noro' ngakan sabedena pei ghi... Nyamana oreng tak andik, nya andik cukok kereng ya Ibu noro' ngakan pei ya Bu.. Eshon tak bisa masak se nyaman-nyaman carana oreng e nagarana Ibu."
(Bu, ikut makan seadanya saja ya... Namanya orang ngga punya, cuma punya ikan kering ya Ibu ikut makan aja ya Bu.. Saya ngga bisa masak yang enak-enak macam orang di kota Ibu.)

Di awal, pertengahan, hingga akhir masa tugas saya, selalu kata-kata tersebut yang diulang-ulang oleh Emak Masnah. Ibu angkat saya tersebut katanya sering kasihan karena saya hanya makan nasi dengan ikan kering, jika sedang tak musim ikan, dan jarang pakai sayur karena susah dicari. Jika sedang rejeki, akan terhidang sayur daun singkong, daun kelor, sayur ubi, dan sayur sawi hasil petik kebun sendiri. Mungkin Emak lupa, berat saya sempat naik sampai tujuh kilo saking nikmatnya makan masakan yang katanya 'seadanya' tersebut.

May 05, 2014

Mendaki Gunung Demi Danau Kastoba

Danau Kastoba dikelilingi perbukitan, di bagian belakang adalah persawahan di kecamatan Tambak dan laut lepas!
Eits, memang di Bawean ada gunung?
Jika menganut definisi gunung di Wikipedia yang mengatakan bahwa gunung mempunyai tinggi lebih dari 2000 kaki (600-an meter) itu artinya tidak ada gunung di Bawean. Tetapi jika menganut apa kata orang Bawean, ada 99 gunung di pulau kecil ini!
Ya, di Bawean, bukit disebut dengan gunung.

***
Akhirnya setelah satu tahun lebih vakum mendaki, sore itu rasa penasaran saya terobati. Gunung Sabu yang konon terletak tepat di tengah pulau akan menjadi tempat pendakian kami bersama teman-teman dari MA Himayatul Islam Kebuntelukdalam. Tingginya tidak lebih dari 200 meter saya kira. Hanya dibutuhkan waktu mendaki sekitar satu jam saja untuk mencapai puncaknya. Tapi jangan remehkan trek pendakian Gunung Sabu. Lumayan menanjak curam dan saya berkali-kali terpeleset tanahnya yang licin setelah diguyur hujan. Untung persiapan kami sudah lumayan matang.

March 08, 2014

Suadi, Bisakah Berdikari?


Empat siswa laki-laki istimewa di kelas yang saya ampu. Suadi berdiri paling kiri.
Selalu memilih bangku yang sama di pojok belakang kelas, ia menumpuk semua buku pelajarannya di atas meja. Seragam merah putihnya yang beranjak kumal selalu alpa dikancingkan. Ah, bukannya lupa. Baju itu sudah kekecilan, bahkan celananya menggantung hingga di atas mata kaki. Bukan karena ia tumbuh terlalu cepat, usianya yang sudah terlalu tua untuk jenjang kelas lima.

"Suadi, ini huruf apa? Lihat, gendutnya di belakang," ujar saya sembari menunjuk huruf 'b' pada kertas yang saya tulisi huruf-huruf dengan beragam warna. Tujuannya agar ia mudah mengenali perbedaannya. Saat itu, satu bulan sudah saya menjadi penduduk dusun Serambah.

Lama ia berpikir, hingga akhirnya terucap 'd' dari mulutnya. Lirih. Ia tak percaya diri. Saya menghela napas. Belum genap lima menit yang lalu saya memperkenalkan - tentu bukan pertama kali - huruf 'b' padanya, Suadi sudah melupakannya lagi. Mungkin pula Suadi sebenarnya tak lupa, tapi ia tak pernah bisa mengingatnya.

February 23, 2014

Mereka Yang Berproses

Saya percaya bahwa baik tidaknya perilaku anak berasal dari pembiasaan. Children do what children see. Anak yang dibesarkan tanpa amarah dan emosi akan tumbuh jadi manusia penyayang. Anak yang sennatiasa melihat atau mengalami kekerasan fisik akan menjadi manusia kasar. Anak yang dibesarkan tanpa kesabaran dan keikhlasan akan tumbuh menjadi manusia pendendam. Bagaimana cara anak dibesarkan, seperti itulah ia akan berkembang.

Saat ini sudah tujuh bulan saya bertugas di sebuah sekolah di pucuk perbukitan. Di sini, saya temui kenyataan bahwa anak-anak dusun bersekolah dan bermasyarakat dalam hawa acuh yang pekat. Acuh dengan teman, guru, dan lingkungan sekitar. Para siswa ini tidak terbiasa mencium tangan guru atau menyapa saat bertemu gurunya, membuang sampah sembarangan, dan tidak memperhatikan sekitarnya. Ah satu lagi, mereka tak terbiasa mengekspresikan diri. Awal datang, saya sempat merasa heran (sekaligus agak sakit hati) karena anak-anak ini tidak menunjukkan sambutannya pada saya. Kelihatan senang tidak, kelihatan sedih juga tidak. Baru belakangan saya tahu bahwa mereka sangat senang karena mendapatkan guru perempuan. Itupun hasil bisik-bisik di belakang saya!

Mewah dalam Sederhana

Pagi itu sumpah setia Nin ‘Ali di depan petugas KUA Sangkapura telah membuat Sanna menjadi istri sahnya. Jauh dari hingar bingar akad nikah a la kota, disaksikan ratusan pasang mata, dekorasi gedung dan pakaian mewah, serta kelip lampu blitz tanpa jeda – mereka menikah disaksikan dua saksi yang juga masih tetangga. Dengan motor pinjaman, Nin’Ali membawa pulang Sanna, sang istri yang sama bahagianya, kembali ke rumahnya di balik gemunung Bawean.

Pak Jamsuri, wali kelas 1, datang tergopoh-gopoh dari luar. "Ibu, Ibu, iring-iringan pengantinnya sudah datang!" beliau sebenarnya berbisik, tetapi karena suasana sedang hening maka segeralah semua anak mengetahui isi percakapan kami. Spontan, semua siswa saya berlarian keluar menuju teras sekolah dan melompat-lompat demi bisa melihat jalan masuk Serambah. Dari kejauhan memang terdengar irama tabuhan rebana, klakson dan gerungan motor, lalu nampaklah barisan panjang pengiring pengantin dari dusun Tanarata yang berjalan menuju Serambah Barat.