November 09, 2013

Adit Akhirnya Pulang

Di tengah teriakan anak-anak didik yang asyik bermain bola di lapangan tepi pantai Bhayangkara, saya duduk dan membiarkan kaki terendam genangan air di antara ceruk karang. Fauzan, rekan sepenempatan yang ikut meramaikan piknik mendekati saya tanpa banyak bersuara.

Sejurus setelah saya membaca pesan singkat yang ia tunjukkan, suara anak-anak itu tak lagi terdengar nyata. Sebulir air mata turun perlahan. Saya tak percaya.

***
Halimun di Ranca Upas menjadi saksi akan dimulainya perjalanan kami sebagai guru tepat selepas hasduk merah putih dikalungkan oleh ketua yayasan, Anies Baswedan. Memori itu, tepat lima bulan yang lalu, mengakhiri cerita kebersamaan kami selama dua purnama sebelumnya di camp pelatihan Pengajar Muda. Kami, Pengajar Muda angkatan VI akan segera menjejak tanah baru di lokasi penugasan selama satu tahun ke depan.

Dia orang yang penuh semangat. Ucapannya menggebu-gebu, seakan tak kenal jeda di antara kalimatnya yang penuh optimisme. Perawakannya kecil dengan kacamata bertengger di hidung, senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang cerdas. Apalah namanya jika bukan jodoh, di antara 7500 orang pendaftar, dia salah satu di antara 73 lainnya yang akhirnya dipertemukan dalam idealisme yang sama.

Saya tidak pernah mengenalnya sampai begitu dekat. Interaksi antara kami berjalan begitu normal: guyonan dan diskusi pendek di meja makan, lantunan doa saat sembahyang subuh berjamaah, argumentasi dan dukungan sepanjang microteaching, hingga jabat tangan akhir sebelum tim saya berangkat sebagai tim pertama. Tetapi ada satu perasaan mengikat sebagai rekan satu nasib dan satu rasa. Sudah sejak awal pertemuan di registrasi ulang pelatihan, saya, pun teman-teman yang lain, akan mengamini bahwa kami sudah layak disebut teman seperjuangan. Jalan yang sama. Idealisme yang serupa. Tujuan akhir kami mungkin memang berbeda, tapi satu tahun ini kami akan belajar dan berproses dalam kadar yang hampir sama banyaknya.

Kemarin, 5 November 2013. Saat umat Islam meninggalkan satu tahun di belakang dan menapak satu hari di tahun yang baru, ia pun melanjutkan perjalanannya di tempat yang baru, yang sama sekali lain dengan tempat kami berada saat ini. Lima bulan berjalan dan purnalah tugasnya sebagai seorang pendidik. Ia meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Tampak jelas bayangan saya bagaimana ia menyambut anak-anak didiknya di depan kelas, mengajar dengan penuh semangat, dan ia tunjukkan kecintaannya akan pendidikan dengan memberikan sebaik-baiknya usaha. Berkelebat kemudian, bayangan kursi yang biasa ia tempati untuk menunggui murid-muridnya, papan tulis yang biasa ia bubuhi beragam ilmu, atau bilik kecil tempatnya menanti pagi. Kosong. Bukan lagi raganya yang akan mengisi kekosongan itu.

Aditya Prasetya, telah dicukupkan bekalmu untuk menghadapi penantian hari akhir yang entah kapan datangnya. Sosokmu akan selalu terkenang di hati kami, orang-orang yang sepenuh hati mendukung dan menyayangi. Tetapi rupanya Tuhan lebih sayang pada Adit, dengan cara-Nya yang tak pernah kita ketahui. Semangat juangmu takkan pernah padam, dan justru menjadi minyak pembakar semangat kami yang mungkin memudar. Pengabdianmu tak akan sia-sia. Ketiadaanmu menjadi pemompa harapan kami untuk terus mengestafetkan mimpi di ujung-ujung negeri. Binar mata anak-anak didikmu pasti tak akan bohong, betapa mereka nanti akan merindukan Bapak Gurunya yang senantiasa optimis. Binar mata kami pun, menunjukkan betapa kami bangga kepadamu, Adit.

Selamat menempuh jalanmu yang baru. Kami iri padamu yang nir dalam keadaan begitu tenang, dalam derasnya pengabdian. Umurmu mungkin tidak panjang, tapi kamu telah meninggalkan goresan makna yang begitu panjang di hati orang-orang: keluarga, sahabat, rekan, dan mereka yang ada di Timur sana.

Akan kami lanjutkan perjuanganmu. Jangan pernah merasa sendiri, karena sebenarnya kamu memang tidak pernah sendiri.

*Sore 6 November 2013, jenazah Adit tiba di Lampung setelah menempuh perjalanan panjang dari Saumlaki, Maluku Tenggara Barat. Beberapa rekan Pengajar Muda datang mewakili kehadiran kami, Bapak Anies Baswedan, Bapak Hikmat Hardono, dan tim Galuh pun ikut mengantarkan Adit hingga ke peristirahatan akhirnya. Semoga keluarga dan sahabat yang ditinggalkan diberi ketabahan. amin yaa rabbal al amin.


Selamat jalan, Adit...