October 03, 2013

Nostalgia dalam Telepon


Ada sebuah titik istimewa di teras rumah orangtua angkat saya. Di antara anyaman dinding bambu yang menghadap ke lembah tersebut, tergantung beberapa telepon genggam milik penghuni dan tetangga rumah. Bersebelahan satu sama lain, benda-benda tersebut saling berebut satu dua garis sinyal. Sebut saja sinyal-tempel-tembok, sisa-sisa sinyal dari kecamatan sebelah inilah yang menghubungkan warga Serambah ke dunia luar sana.

Meskipun semua telepon genggam tersebut tergantung di sana sepanjang hari, tidak ada satupun telepon yang pernah hilang diambil orang. Dering masing-masing telepon juga begitu keras, ketika ada satu yang berdering maka seluruh penghuni rumah - baik yang sedang di dapur atau di kebun - akan berlarian ke titik tersebut untuk sekedar melihat siapakah yang beruntung mendapatkan panggilan. Saat menelpon pun tidak bisa diletakkan di samping telinga seperti biasanya, mode loudspeaker harus diaktifkan agar sinyal tidak hilang sehingga semua orang mampu menguping pembicaraan tanpa perlu bersusah payah.


Ragam panggilan yang masuk dapat dihitung dengan jari. Sehari-hari, telepon genggam Norma, adik saya, akan dihiasi oleh panggilan dari kakak dan adiknya yang bekerja di Malaysia. Ada pula milik Uus, tetangga di hilir yang pulsanya habis hanya untuk menelpon paraban(1)-nya di Serambah Barat. Sementara log list telepon saya diisi dengan tiga nama saja.

Rumah Mak Masnah, ibu angkat saya, sudah sejak lama menjadi tempat tinggal bagi para guru perantauan yang ditugaskan di Serambah. Sembilan tahun lalu, kehadiran Pak Bonaim menghiasi keseharian Emak dan Bupak selama tujuh tahun lamanya. Di tahun akhir Pak Bonaim mengajar, datanglah Pak Tidar, pengajar muda pendahulu saya yang ikut meramaikan suasana rumah selama satu tahun. Dan kini sayalah anak angkat Emak dan Bupak di sini.

Orang-orang datang dan pergi. Di kala tak ada warga yang mau menampung guru-guru perantau tersebut, Emak dengan ikhlasnya memberikan tempat berteduh dan perlakuan layaknya tamu istimewa. Pada akhirnya semuanya membaur dalam keseharian a la warga Serambah, tetapi akan ada batas waktu sampai mereka harus meninggalkan rumah Emak untuk kembali melanjutkan kehidupannya di tempat yang lain.

Lalu, apa hubungan guru-guru perantau tersebut dengan telepon bersinyal-tempel-tembok?

Mungkin hingga satu tahun yang lalu, Pak Bonaim menelpon Emak dan keluarga untuk sekedar bertukar kabar. Meskipun Pak Bonaim berumah di Gresik, beliau belum berkunjung kembali ke Serambah. Lain lagi Pak Tidar. Ia rutin menelpon Emak dan pernah satu kali mengunjungi Emak dengan membawa serta Ayah Ibu nya dari Jakarta. Ada pula Pak Karecka, pengajar muda pendahulu saya juga, yang beberapa kali menelpon ke rumah meskipun ia tak tinggal di sini. Kakak dan Adik Norma di Malaysia-lah yang paling rajin, hampir setiap hari tak pernah alpa menelpon ke rumah dengan pertanyaan serupa, "Boras, Mak? Kemma oreng-oreng kabbhi? Bede e bengko?"(2)

Pertanyaan dari semua orang yang menelpon ke rumah akan selalu dijawab serupa pula oleh Emak, "Boras kabbhi, Nak... Eshon la datang deri saba, Bupak la ngarek, Irul tau kamma, Norma bede e jeddhing."(3)

Para perantau tersebut selalu punya kabar berbeda dalam tiap teleponnya. Entah seperti Tidar yang terakhir kali menelpon untuk berpamitan karena akan sekolah di Amerika, Karecka yang bercerita bahwa ia masih mencari kerja, atau kakak-adik Norma yang mengeluhkan bahwa belum ada uang yang dapat dikirimkan kepada Emak. Ceritanya selalu berbeda dari waktu ke waktu. Sementara Emak akan selalu memberikan kabar yang sama tentang kesibukan sehari-harinya di dusun.

Di Serambah, memang dunia seakan berhenti. Aktivitas sehari-hari warga di sini sangat rutin, serutin sembahyang mereka lima kali sehari. Beberapa mungkin berkesempatan bekerja di Jawa atau bahkan luar negeri, tetapi yang masih ada di desa - terlebih orang-orang tuanya, selalu punya kegiatan yang sama. Mencari rumput, bekerja di sawah, mencari ikan di laut, bergotong royong membangun rumah, membuat cepo(4), atau sekedar beristirahat menunggu tibanya sore.

Saya membayangkan orang-orang perantau tersebut akan selalu bernostalgia lewat telepon. Mereka seakan masih bisa melihat Emak yang duduk di sudut teras sibuk menganyam bambu atau mengikuti Bupak yang mencari gula aren di hutan. Mungkin pula jika mereka menelpon bertepatan dengan kumandang adzan, akan langsung terbias ingatan akan Emak dan Bupak yang senantiasa menjadi orang pertama yang tiba di masjid untuk sembahyang. Dalam pertanyaan-pertanyaan mereka mengenai kabar Emak dan Bupak, seakan tersimpan kerinduan mendalam tentang rumah dan keseharian di Serambah.

Kini saya masih berada di rumah ini, memperhatikan setiap panggilan masuk dan terkadang menjadi operator untuk mengangkat telepon yang berdering. Saya pun menjadi bagian dari nostalgia para perantau yang dulu pernah punya keseharian yang sama dengan saya. Tetapi mungkin sepuluh tahun lagi saat saya sudah tenggelam dalam kesibukan baru dan tak terpikirkan untuk berkunjung lagi ke Serambah, saya akan dapat bernostalgia dan merasakan kembali atmosfer Serambah lewat telepon dan cerita-cerita Emak. Nantinya, cucu Emak lah yang akan mengangkat telepon dan bercerita tentang orang-orang rumah sementara dari kejauhan terdengar derap kaki Emak yang berlari, seperti biasanya, untuk ikut larut dalam pembicaraan.

Saya tak akan alpa mengatakan hal sama seperti yang Tidar selalu katakan dalam teleponnya, "Emaaaak, eshon kerrong ka Emakkkkk..."(6)

Emak, sehat terus ya :)

***
P.S.: Saya menulis ini ditemani Emak yang duduk di sebelah saya. Emak tak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Ia bisa membaca, tetapi tulisan di laptop menurutnya terlalu kecil. Lain kali akan saya ceritakan tentang Emak dalam posting istimewa. Duh, ingin rasanya memeluk Emak lama-lama bahkan membawanya ke Jogja :))

Arti:
(1) pacar
(2) Sehat Mak? Kemana orang-orang semua? Ada di rumah?
(3) Sehat semua, Nak... Emak sudah datang dari sawah, Bapak sudah ngarit, Irul tidak tahu kemana, Norma ada di kamar mandi
(4) wadah nasi/barang-barang dapur
(5) Sehat semua Bu Kinkin. Nenek sudah datang dari mengambil kayu di hilir, Kakek tidur di masjid, sekarang saya sudah pulang sekolah
(6) Emak, saya rindu ke Emak...

10 comments:

  1. Bacanya jadi penuh aura positif. Nambah semangat. Semoga tulisan ini benar-benar dari semangatnya Maharsi, bukan dari rangkaian katanya. Semangat. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan terima kasih telah mengirimi saya semangat lewat komen ini :)

      Delete
  2. mantap postnya mbak :D motivasi yg bagus buat saya hehehe...

    ReplyDelete
  3. saya membaca ini dengan senyum mengembang! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayak adonan kue ya mengembang hihi..
      trims sudah mampir ya!

      Delete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)