October 18, 2013

Obrolan Cepo Mak Masnah

Pada malam-malam yang beranjak sunyi, Emak Masnah senantiasa melakukan hal yang sama: membuat cepo dari bambu. Cepo adalah tempat menyimpan barang-barang dapur atau beragam makanan. Potongan bambu yang diambil dari rumpunnya tersebut ditipiskan, diserut hingga halus kemudian dianyam dan diberi tatakan datar. Tekun sekali Emak mengerjakan satu demi satu cepo berukuran sedang tersebut. Jika sudah banyak yang dibuat, Emak kemudian menjualnya ke Pasar Kepuh yang terletak di pesisir laut. Kadang berjalan kaki turun gunung, kadang menumpang colt, kadang diantar oleh anak tertuanya.

Cepo Emak yang tertumpuk membisu menunggu dijual, bercerita pada saya tentang banyak hal. Mungkin dahulu, cepo itu dibuat Emak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Seperti layaknya penduduk desa yang masih jauh dari hingar bingar konsumerisme ala kota, ada daftar panjang kebutuhan harian yang masih mampu mereka penuhi tanpa campur tangan uang. Contoh terdekat tentu saja penduduk dusun Serambah ini. Mereka mampu memenuhi kebutuhan pangan berupa beras selama satu tahun penuh dari sawah-sawah luas yang membentang hingga ke bukit seberang. Beragam tanaman pangan tumbuh sembarangan - ditanam begitu saja tanpa perawatan - siap dipanen kapanpun empunya mau. Buah-buahan menggantung di pohon menggoda setiap orang yang lewat di bawahnya. Jika mereka ingin ikan, cukup ambil jaring dan turun ke laut mencari beberapa keranjang ikan rencek. Saat angin besar, persediaan ikan kering yang sudah dibuat sejak beberapa bulan sebelumnya siap mengambil alih meja makan. Di sekitar mereka, tumbuh berserakan pohon jati, mahoni, dan pohon berkayu kualitas nomor satu untuk kebutuhan papan. Mungkin satu-satunya yang harus mereka beli adalah baju yang melekat di badan.

October 03, 2013

Nostalgia dalam Telepon


Ada sebuah titik istimewa di teras rumah orangtua angkat saya. Di antara anyaman dinding bambu yang menghadap ke lembah tersebut, tergantung beberapa telepon genggam milik penghuni dan tetangga rumah. Bersebelahan satu sama lain, benda-benda tersebut saling berebut satu dua garis sinyal. Sebut saja sinyal-tempel-tembok, sisa-sisa sinyal dari kecamatan sebelah inilah yang menghubungkan warga Serambah ke dunia luar sana.

Meskipun semua telepon genggam tersebut tergantung di sana sepanjang hari, tidak ada satupun telepon yang pernah hilang diambil orang. Dering masing-masing telepon juga begitu keras, ketika ada satu yang berdering maka seluruh penghuni rumah - baik yang sedang di dapur atau di kebun - akan berlarian ke titik tersebut untuk sekedar melihat siapakah yang beruntung mendapatkan panggilan. Saat menelpon pun tidak bisa diletakkan di samping telinga seperti biasanya, mode loudspeaker harus diaktifkan agar sinyal tidak hilang sehingga semua orang mampu menguping pembicaraan tanpa perlu bersusah payah.