September 25, 2013

Menepikan Pertanyaan

Malam ke-45, purnama kedua

Sudah lebih satu bulan sejak pertama saya menginjakkan kaki di bumi Serambah. Ya, saya hitung betul malam demi malam yang telah saya lewati bersama keluarga angkat dan tanggung jawab baru sebagai seorang guru. Saya terhenyak. Sebenarnya, sudah lebih dari tiga bulan saya mengucapkan sampai jumpa pada tanah kelahiran Jogjakarta. Waktu yang tak sebentar, tapi tak terasa dilewati dengan begitu cepat.

Mungkin dalam tahun-tahun sebelum ini, saya begitu fokus pada diri sendiri. Apa yang saya lakukan adalah untuk kepentingan diri dan orang-orang terdekat. Dan dalam 90 hari belakangan, saya 'dipaksa' untuk mengesampingkan urusan diri, memperhatikan orang-orang yang bahkan sebelumnya tidak pernah saya kenal. Masuk ke dalam masyarakat dan menjadi bagian kecil dari mereka.

Saya datang tak alpa mengenolkan harapan. Meminimkan ekspektasi. Mengosongkan diri kemudian bersiap menerima dan memberi. Ah, siapa yang suruh saya menjadi inspirasi. Orang-orang yang menugaskan saya 'hanya' menyuruh saya menjadi diri sendiri.



Berat pada awalnya. Hal terburuk yang saya hadapi sebenarnya bukan dari anak-anak didik, masyarakat, atau keluarga angkat. Tetapi pikiran saya sendiri. Sering pada malam-malam yang sunyi, di tengah listrik yang padam, pikiran saya menerawang kemana-mana. Jeleknya, saya sering didatangi oleh pikiran buruk dan pesimis.

Saya tidak akan bisa. Apa yang bisa saya lakukan? Saya bukan siapa-siapa.

Dan kini, di tengah malam purnama di hari kelima belas shaum ramadhan, saya terbaring sakit. Tepatnya sejak tiga hari yang lalu. Hanya berdiam diri di rumah, tiduran di kamar, dan melembur rencana belajar hingga pagi buta membuat saya kembali jauh dari warga. Dua hari sebelumnya, saya mati-matian berkeliling rumah warga dari gunung hingga hilir. Menyetor muka dan sekedar basa-basi bicara. Tapi akhirnya saya menyerah pada keadaan. Ba'da maghrib kemarin, saya kembali tidak berdaya.

Dalam sakit, saya kemudian merenung panjang. Ada genangan air di sudut mata yang timbul setiap saya membayangkan nyamannya rumah dan segala kemudahan yang didapatkan dalam sekali genggam. Saya teringat makanan enak yang dibuat Ibu setiap saya jatuh sakit dan tak bisa kemana-mana. Saya ingat handphone yang bisa digunakan menelpon sewaktu-waktu, bahkan sembari gelesoran di kasur sampai tertidur tanpa takut kehilangan sinyal.

Dan sekarang saya tengah sendiri. Kelima teman satu tim saya memang berada di wilayah yang sama tetapi jauhnya berpuluh kilometer dari tempat saya tinggal sekarang. Saya hanya bisa berkomunikasi dengan orang-orang di waktu tertentu saja dan tidak bisa mengatakan bahwa sekarang saya sedang tidak bisa beraktivitas dengan normal. Sebaik apapun keluarga angkat saya, sedekat apapun saya dengan mereka, tetaplah mereka tidak dapat menggantikan orang-orang yang saya rindukan.

Mungkin sakit ini adalah sebuah peringatan untuk berhenti sejenak. Ambil napas dalam-dalam. Saya tidak akan mampu menyenangkan semua pihak. Saya tidak akan mampu menjadi yang terhebat. Dan terkadang, saya terlalu berorientasi pada kesempurnaan.

Dua hari kemudian saya memeriksakan diri ke bidan. Rupanya saya terkena penyakit campak. Bidan memarahi saya yang tetap beraktivitas di ruang terbuka. Akibatnya, kulit muka dan tubuh saya menebal, dipenuhi bintik-bintik merah. Ketika sedang kambuh, gatal bukan main dan sekujur tubuh saya pun langsung panas dingin. Seminggu kemudian penyakit itu benar-benar sembuh, seketika saya merasakan kebebasan.

Malam ke 75, bulan sedang tidak kelihatan

Rupanya menjadi guru untuk kelas rangkap bukanlah hal yang mudah. Pada hari Jumat yang berangin kencang dan berudara panas ini, otak saya ikut-ikutan panas. Pagi tadi, baru saya yang hadir di sekolah tepat pukul tujuh pagi dan memang seperti itulah biasanya terjadi. Saya punya pekerjaan tambahan: menjadi penjaga kunci sekolah. Dua guru lainnya biasa datang setengah jam kemudian setelah saya purna mengajak anak-anak piket membersihkan kelas dan teras sekolah. Saya berlarian dari satu kelas ke kelas lain dengan beberapa anak kelas rendah yang terus mengekor gerak-gerik saya. Pagi hingga siang menjelang, saya memegang empat kelas sendirian. Anak-anak hari itu seperti kesetanan, mereka begitu brutal meminta cepat pulang.

Saya terduduk menghela napas di sudut sekolah ketika anak terakhir beranjak ke rumahnya.

Apabila mengingat-ingat materi saat pelatihan, mungkin ini adalah masa storming. Melihat sekeliling, membaca situasi, dan mulai timbul keheranan dalam diri tentang situasi ideal yang seharusnya terjadi. Tetapi, sekarang bukan saatnya berbicara panjang tentang idealisme dan tetek bengek yang menjemukan. Sekarang adalah masanya menghadap realita dan memikirkan hal terbaik apa yang bisa dilakukan. Dan tentu saja, baik belum tentu benar.

Malam ke 100, Bimasakti sedang cerah-cerahnya

Saya berjalan beriringan dengan anak-anak yang ikut les malam ini. Secara bergiliran saya memang mengadakan les di rumah serta di surau Serambah Barat. Tadi mereka begitu bersemangat belajar bahasa Inggris dan terus menerus meminta soal tambahan. Saya pulang dengan langkah ringan, anak-anak ini menjaga saya depan belakang dari keheningan dan gelapnya malam. Hanya satu cahaya dari lampu senter yang saya bawa. Di tengah perjalanan ketika kami berada di antara sawah dan hutan, senter itu dimatikan dan mereka saya minta melihat ke atas. Seketika sebentuk sungai bintang bernama Bimasakti menampakkan diri di atas kami. Semua berdecak kagum, pertanyaan-pertanyaan segera muncul.

Ibu, bagaimana cara pergi ke bintang? Ibu, astronot bisa terbang di bulan? Ibu, bintang ada di langit ke berapa? Kalau Allah di langit keberapa? Apa kita bisa bertemu Allah dengan naik pesawat Bu?


Siapa yang tidak tersenyum sambil garuk-garuk kepala mendapatkan pertanyaan secerdas itu. Hati saya berdesir. Keingintahuan anak-anak ini begitu besar, sebesar binar matanya melihat bintang-bintang di langit malam yang cerah. Dan di titik itu pulalah, saya mendapatkan jawaban mengapa saya ditempatkan di dusun di balik gemunung Bawean ini.

Ya, butuh hampir 100 malam untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan mengapa tersebut. Pengajar muda pendahulu saya mengatakan bahwa akan ada masa dimana kita tidak lagi mempertanyakan segala alasan kita harus berada di tempat ini sekarang.

Terimalah jawaban atas jalan yang kau pilih pada waktu yang lalu.
Fathor menyelip jalan saya sambil berlari mengusung papan tulis kecil yang saya gunakan untuk les. Di belakangnya, Haera mengejar sembari berteriak kesal karena sudah ditakut-takuti dengan cerita hantu. Kami tergelak bersama dan akhirnya berlomba lari menuju Serambah Timur. Di atas sana, Bimasakti yang bersinar semakin cemerlang sejenak terlupakan, seperti pertanyaan-pertanyaan yang akan ditepikan sementara kami terlelap malam ini.

Dan sebenarnya, saya tidak pernah sendiri.



4 comments:

  1. mbaca ini kayak baca cerita fiksi bersambung, mbak. bikin nagih. :DD

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha iya, idup saya di sini kayak cerita fiksi :))

      Delete
  2. anak kecil. pertanyaannya macem - macem deh ^^ tapi lucu

    ReplyDelete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)