September 25, 2013

Menepikan Pertanyaan

Malam ke-45, purnama kedua

Sudah lebih satu bulan sejak pertama saya menginjakkan kaki di bumi Serambah. Ya, saya hitung betul malam demi malam yang telah saya lewati bersama keluarga angkat dan tanggung jawab baru sebagai seorang guru. Saya terhenyak. Sebenarnya, sudah lebih dari tiga bulan saya mengucapkan sampai jumpa pada tanah kelahiran Jogjakarta. Waktu yang tak sebentar, tapi tak terasa dilewati dengan begitu cepat.

Mungkin dalam tahun-tahun sebelum ini, saya begitu fokus pada diri sendiri. Apa yang saya lakukan adalah untuk kepentingan diri dan orang-orang terdekat. Dan dalam 90 hari belakangan, saya 'dipaksa' untuk mengesampingkan urusan diri, memperhatikan orang-orang yang bahkan sebelumnya tidak pernah saya kenal. Masuk ke dalam masyarakat dan menjadi bagian kecil dari mereka.

Saya datang tak alpa mengenolkan harapan. Meminimkan ekspektasi. Mengosongkan diri kemudian bersiap menerima dan memberi. Ah, siapa yang suruh saya menjadi inspirasi. Orang-orang yang menugaskan saya 'hanya' menyuruh saya menjadi diri sendiri.


Rapor Tingkah Laku

Kisra, anak kelas lima yang bertubuh bongsor tersebut sibuk mengiris-iris pepaya muda yang dipetiknya sendiri dari halaman rumah. Beberapa menit sebelumnya, ia tergopoh-gopoh menyiapkan tikar dan air minum di ruang tengah. Semua itu ia siapkan untuk saya yang datang berkunjung sepulang sekolah. Mulutnya tak henti menggumam, "Kema Emak, Bu Kinkin la datang..." (Emak kemana, Bu Kinkin sudah datang...)

"Sudah, Ibu di sini saja," cegah Kisra ketika saya berniat membantunya membuatkan bumbu rujak. Segera ia membenamkan diri dalam kesibukan mengulek cabai dan garam, yang oleh masyarakat Bawean biasa disebut bumbu buja cappi. Saya senyum-senyum sendiri memperhatikan tingkahnya yang lucu. Ia benar-benar bersemangat menjadi tuan rumah yang menyenangkan. Dan pada siang itulah saya baru tahu bahwa Kisra adalah storyteller yang sangat baik. Ia menceritakan tentang keluarga, teman-teman, kesulitan yang ia hadapi saat di sekolah, serta cita-citanya menjadi seorang penulis buku.

September 23, 2013

Anak-anak, Ayo Jepret!

Posting singkat berikut ini khusus saya dedikasikan untuk Kak Wira Nurmansyah, photographer cum traveler (yang katanya) kece asal Bandung. Selamat membaca, Kak!

Sejak berangkat tugas ke Pulau Bawean, saya sudah memikirkan beberapa hal yang kiranya dapat saya lakukan di tempat penugasan nanti. Salah satunya adalah rencana saya membuat ekskul fotografi untuk anak-anak SD di Serambah. Yang saya inginkan tidak muluk. Saya tidak menginginkan anak-anak saya paham mengenai diafragma, shutter speed atau penggunaan filter lensa. Saya hanya ingin mereka sendirilah yang menangkap momen-momen yang mungkin tak akan mampu saya dapatkan.

Saat itu saya mendengar dari pengajar muda pendahulu bahwa anak-anak di dusun saya memiliki karakter yang cukup unik. Mereka sangat pemalu dan tidak terbiasa mengekspresikan diri secara verbal. Karena itulah saya berencana menggunakan dua media untuk membantu mereka berekspresi: tulisan dan foto. Mungkin tidak seperti anak-anak di tempat penugasan lain, saya sangat kesulitan untuk memotret mereka dengan pose natural dan tidak malu-malu.


September 16, 2013

Dalam Tiga Puluh Menit

Hanya kurang lebih tiga puluh menit saya mendengar suara khasnya setiap kami bertemu dalam telepon. Mendengar suara tawanya, saya hanya bisa membayangkan ia di sana tergelak menampakkan gigi-giginya yang putih dengan perut naik turun. Mendengar ia bercerita, saya hanya bisa membayangkan ia di sana tengah duduk sendirian dalam remang lampu karena ditinggalkan oleh orang-orang rumahnya. Mendengar ia menguap, saya membayangkan ia bersandar di dinding dengan mata berat tetapi tetap ia tahan demi komunikasi yang terus terhubung.

Awal cerita kami sangat berbeda. Saya begitu dimanja oleh kebaikan penduduk yang tidak membiarkan saya kelaparan dan tanpa tempat tinggal, sementara ia di sana sendirian harus membeli makan di warung dan tidur tanpa ditemani keluarga angkatnya. Di sini air melimpah saya gunakan untuk mandi dan mencuci, di sana ia harus pergi ke sungai berair cokelat untuk sekedar membersihkan pakaian-pakaiannya.

"Kebingungan kita berbeda. Aku bingung harus menerima tawaran menginap di rumah yang mana, sementara kamu bingung malam ini harus tidur di mana." ujar saya, diselingi gelak tawanya yang miris.

Cinta Sekeping Gili




Betapa diberkahinya saya ditugaskan di pulau kecil nan subur ini. Tanah perbukitannya yang subur saling berjajar membentuk barisan menawan sesekali ditutupi larik-larik awan. Hijaunya sawah menyejukkan mata, ditingkahi debur ombak berkilauan yang berjarak tak lebih dari dua puluh depa. Inilah Bawean, pulau penuh keajaiban yang terapung tenang di tengah Laut Jawa.


September 13, 2013

Belajar dari Sebuah Kelas

Anak-anak adalah pengkritik yang paling jujur.

Sejak tiga purnama lalu, panggilan untuk saya berubah. Saya tidak lagi mengendarai motor kemana-mana untuk melakukan hal-hal yang saya sukai, kini pagi saya diisi dengan berjalan kaki mendaki bukit diiringi teriakan "Ibu Guru!" dari penjuru sekolah. Saya punya ruang kerja sederhana - sebuah kelas yang diisi dua rombongan belajar tanpa sekat yaitu kelas 5 dan kelas 6. Sebagai seorang yang sebelumnya mempunyai nilai transaksi sosialisasi rendah - atau dengan nama lain suka menyendiri - saya dipaksa bertemu dengan banyak orang.

Enam puluh anak yang saya temui hampir setiap hari, lebih dari sekedar angka statistik. Mereka adalah manusia-manusia kecil yang punya kemampuan mencontoh lingkungan lebih hebat dari seekor bunglon yang menyamar. Cerminan perilaku masyarakat - kita sebut saja begitu - adalah anak-anak ini. Dan yang paling sering mereka temui selain orang tua mereka adalah guru di sekolahnya. Bahkan bagi beberapa anak, mereka bertemu dengan gurunya lebih sering daripada mereka bertemu dengan orang tuanya di rumah.