June 17, 2013

Ode Tengah Juni

Akhir Juli, 2011

Saya masih berdiri mematung di depan kelas. Anak-anak itu duduk diam menatap saya sembari sesekali mengedipkan matanya. Saya diam, mereka diam. Jika saja ada jangkrik, mungkin suara deriknya yang akan mengisi ruangan ini.

Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Buku acuan yang saya pegang tidak memberikan inspirasi apapun agar saya mampu berbicara panjang lebar. Omongan saya patah-patah menjelaskan apa itu kewirausahaan di depan anak-anak SMP Satu Atap yang sedari tadi menunjukkan ekspresi tidak paham. Kakak ini sedang apa sih, mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka.

Keringat dingin mengucur deras. Tatapan polos mereka dan keheningan kelas justru makin menekan saya. Akhirnya kelas saya serahkan kepada Siti, rekan satu tim yang menunggu di pojok ruangan. Sejak saat itu, saya trauma mengajar di depan kelas.

***
Pertengahan Juni, 2013

Seluruh barang bawaan telah kami angkut ke dalam dua mobil yang akan mengantar ke bandara. Rezano, koordinator tim penempatan saya nampak basah oleh peluh karena sedari tadi berkeliling memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Saya tidak dapat menyembunyikan rasa haru ketika satu persatu teman seangkatan saya turun dari kamar wisma, mengerumuni kami yang kurang dari setengah jam lagi akan berpisah. Ya, pelatihan intensif yang kami jalani selama delapan minggu ini purna sudah. Telah dicukupkan segala persiapan kami untuk menyebar ke 74 titik di Indonesia selama satu tahun penuh.

Sahabatku Ninda

Sahabatku Ninda, mungkin ketika aku sudah terjaga pukul empat menanti subuh, kamu masih terlelap di awal tidur setelah berjibaku dengan segala pekerjaanmu. Kita sama-sama letih dengan kantong mata hitam yang besar, mengais-ngais sisa waktu yang dapat digunakan untuk kembali terlelap. 

Boleh kita sebut diri kita sebagai wanita tangguh (tapi sebenarnya berhati rapuh)?


Dua bulan yang lalu, masa-masa tanpa kesibukan yang dahulu senantiasa kita keluhkan, akan segera menjadi masa lalu yang manis. Eh, manis kubilang? Mungkin aku menggigau. Tapi bukankah bangun setelah matahari terbit, menghabiskan siang dengan tidur atau mengobrol di kafe, atau menikmati sore sembari duduk di tepi rel Lempuyangan, adalah hal-hal mahal yang manis? 


Jika saja kita tahu bahwa masa itu akan segera menjadi tumpukan kenangan di pojok memori kita.