March 24, 2013

Artikel Morotai di Tabloid Wanita Indonesia



Perjalanan saya ke Pulau Morotai pada pertengahan September lalu dipublikasikan di Tabloid Wanita Indonesia edisi Februari 2013. 

Terima kasih kepada Hikmah Cut Ramadhana atas foto underwaternya. Saya sudah pesan untuk berikan credit fotografernya, tapi kayaknya mereka lupa ngasih. Hiks. Tulisan ini masih jauh dari sempurna. Ayo terus belajar untuk memperbaiki diri :)

Menjadi Pejalan Bahagia

Soleh, volunteer project Lebak, sedang mengajarkan konsep denah kepada anak-anak.
  Intro: Konsep berbahagia setiap orang berbeda. Yang ini, bahagia menurut saya, dan mungkin beberapa dari anda.

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata vakansi? Dulu, saya sendiri langsung membayangkan destinasi dengan lansekap indah, bergiga foto dan video yang bisa dibawa pulang sebagai kenangan, kuliner enak dan perjalanan yang melelahkan, dan tentu saja bukti otentik berupa kulit yang menghitam.

Tetapi itu dulu.

Beberapa tahun belakangan ada hal baru yang selalu saya cari setiap melakukan perjalanan: interaksi. Entah dengan orang lokal atau dengan sesama pejalan. Semua itu membuat saya lebih bisa memaknai sebuah vakansi dan menghargai rupiah yang sudah saya keluarkan, yang bagi orang lain mungkin dianggap kesia-siaan. Kemudian perjalanan pun tak melulu soal fisik, tapi lebih kepada perjalanan hati.

Aih berat.

March 21, 2013

Kelana Nusa Tenggara (3): Sea Lady dan Irawan




Posting Kelana Nusa Tenggara sebelumnya, bisa disimak di sini. Selamat membaca :)

Mata kami membelalak lebar, merasa terkejut sekaligus senang. Sebuah kapal live on board cokelat dengan desain Pinisi – meski tanpa tiga tiang – mengapung anggun di tengah tenangnya perairan Labuan Bajo. Boat fiber yang membawa kami bertujuh bergerak pelan meliuk di antara puluhan kapal LOB, menimbulkan riak-riak kecil yang terhempas tanpa jejak di dermaga. Semakin mendekat ke kapal yang kami tuju, hati makin riang. Sea Lady, nama kapal itu, akan menjadi tempat bermalam kami kali ini.

March 09, 2013

Kadang Kita Hanya Butuh Duduk Sejenak



Sore itu, saya tidak ingin kemanapun.
Kecuali ke sebuah tempat yang sudah sangat lama saya rindukan. Sebuah tempat lapang dari beton yang terbentang di ujung tebing barisan perbukitan sebelah timur Parangtritis, landas pacu Parangndog.