February 14, 2013

Melepas Rindu Akan Air di Umbul Ponggok


Jogjakarta memang kekurangan laut tenang yang dapat digunakan untuk snorkeling atau menyelam layaknya laut di kawasan Bali atau Lombok. Tapi untuk sekedar berlatih menyelam dan foto bawah air yang lumayan, saya merekomendasikan tempat ini. Namanya Umbul Ponggok, sebuah kolam mata air alami di wilayah Klaten, Jawa Tengah, sekitar 1,5 jam dari kota Jogjakarta. Kolam ini sudah cukup dikenal di kalangan teman-teman penyelam karena biasa digunakan untuk berlatih snorkeling dan scuba diving.

February 08, 2013

Mukena Untuk Bu Tiah

Ini adalah sepotong cerita manis tentang eskapisme saya di sebuah desa sederhana yang cantik di tepian lembah jauh di pelosok Lebak, Banten. Saya bergabung menjadi sukarelawan komunitas Book For Mountain untuk membangun perpustakaan dan mengajar anak-anak SD di SD Mekarsari II Cibeber. Intro-nya sudah pernah saya tulis di sini.

***

Kami bertujuh, atau setengah dari jumlah sukarelawan seluruhnya, tinggal di sebuah rumah kosong di tengah desa. Meski sudah disediakan kompor gas tetapi kami lebih memilih untuk memasak nasi dengan tungku demi menghemat gas.

Pertamanya ibu itu datang bersama yang lainnya. Sekedar ingin melihat apakah kami mampu menyalakan tungku sendiri. Nyatanya, tiga hari pertama kami selalu gagal, entah karena kayu yang masih basah, api yang labil, atau letak kayu yang tidak pas dengan tungku. Hari-hari berikutnya, si ibu menjadi alarm alami untuk bangun tidur: selepas subuh selalu menyenteri rumah (yang mirip akuarium karena berkaca besar di depan tanpa tirai); membantu menyalakan tungku dan menghangatkan nasi; mengajarkan kami merebus singkong, biji nangka, dan jagung; mengajak kami membuat bakwan jagung dan sayur rebung; hingga mencucikan perkakas makan ketika kami kelelahan sepulang mengajar.

Kelana Nusa Tenggara (2) : Menguji Fisik di Etape Maraton Lombok - Sumbawa

*lanjutan dari Kelana Nusa Tenggara (1) : Membelah Bali



Saya kira Bali dan Lombok itu jaraknya sangat dekat sehingga kami tidak perlu sampai mati gaya di atas kapal. Nyatanya, penyeberangan dari Pelabuhan Padang Bai, Bali ke Pelabuhan Lembar, Lombok membutuhkan waktu kira-kira empat jam menggunakan kapal ferry. Kami cukup beruntung mendapatkan kapal yang kondisinya masih baik meskipun kotor dan agak tua. Ombak siang itu lumayan besar ditingkahi dengan hujan deras dan angin kencang menerpa sepanjang jalan. Baru duduk beberapa menit di ruang VIP dek lantai dua, saya sudah merasa mual karena kapal terombang-ambing di lautan lepas. Ruangannya memang bagus, ber-AC pula, tapi melihat lautan lepas sampai miring-miring di jendela kaca, saya kibarkan bendera putih. Menyerah. Segera saya memilih naik ke dek teratas untuk mendapatkan angin demi menghilangkan mual. Yap, bepergian di akhir tahun memang harus siap dengan risiko hujan dan ombak tinggi musim barat sudah dimulai.