December 11, 2013

The Moment(s) They've Captured

Tangan Haera (kelas 6) membayang di matanya saat ia mencoba memotret dirinya sendiri.

"Ibuuuu, lihaaat! Gambar bunga saya kabur kenapa Bu?" rajuk Kisra, anak kelas 5 yang saat itu kebagian giliran memotret objek yang ia suka.
"Lihat Kisra, kalau memotret tangannya tidak boleh goyang-goyang biar gambarnya bagus," ujar saya sambil mencontohkan cara memegang kamera padanya. Ia manggut-manggut tanda paham.

November 09, 2013

Adit Akhirnya Pulang

Di tengah teriakan anak-anak didik yang asyik bermain bola di lapangan tepi pantai Bhayangkara, saya duduk dan membiarkan kaki terendam genangan air di antara ceruk karang. Fauzan, rekan sepenempatan yang ikut meramaikan piknik mendekati saya tanpa banyak bersuara.

Sejurus setelah saya membaca pesan singkat yang ia tunjukkan, suara anak-anak itu tak lagi terdengar nyata. Sebulir air mata turun perlahan. Saya tak percaya.

***
Halimun di Ranca Upas menjadi saksi akan dimulainya perjalanan kami sebagai guru tepat selepas hasduk merah putih dikalungkan oleh ketua yayasan, Anies Baswedan. Memori itu, tepat lima bulan yang lalu, mengakhiri cerita kebersamaan kami selama dua purnama sebelumnya di camp pelatihan Pengajar Muda. Kami, Pengajar Muda angkatan VI akan segera menjejak tanah baru di lokasi penugasan selama satu tahun ke depan.

Dia orang yang penuh semangat. Ucapannya menggebu-gebu, seakan tak kenal jeda di antara kalimatnya yang penuh optimisme. Perawakannya kecil dengan kacamata bertengger di hidung, senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang cerdas. Apalah namanya jika bukan jodoh, di antara 7500 orang pendaftar, dia salah satu di antara 73 lainnya yang akhirnya dipertemukan dalam idealisme yang sama.

Saya tidak pernah mengenalnya sampai begitu dekat. Interaksi antara kami berjalan begitu normal: guyonan dan diskusi pendek di meja makan, lantunan doa saat sembahyang subuh berjamaah, argumentasi dan dukungan sepanjang microteaching, hingga jabat tangan akhir sebelum tim saya berangkat sebagai tim pertama. Tetapi ada satu perasaan mengikat sebagai rekan satu nasib dan satu rasa. Sudah sejak awal pertemuan di registrasi ulang pelatihan, saya, pun teman-teman yang lain, akan mengamini bahwa kami sudah layak disebut teman seperjuangan. Jalan yang sama. Idealisme yang serupa. Tujuan akhir kami mungkin memang berbeda, tapi satu tahun ini kami akan belajar dan berproses dalam kadar yang hampir sama banyaknya.

Kemarin, 5 November 2013. Saat umat Islam meninggalkan satu tahun di belakang dan menapak satu hari di tahun yang baru, ia pun melanjutkan perjalanannya di tempat yang baru, yang sama sekali lain dengan tempat kami berada saat ini. Lima bulan berjalan dan purnalah tugasnya sebagai seorang pendidik. Ia meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Tampak jelas bayangan saya bagaimana ia menyambut anak-anak didiknya di depan kelas, mengajar dengan penuh semangat, dan ia tunjukkan kecintaannya akan pendidikan dengan memberikan sebaik-baiknya usaha. Berkelebat kemudian, bayangan kursi yang biasa ia tempati untuk menunggui murid-muridnya, papan tulis yang biasa ia bubuhi beragam ilmu, atau bilik kecil tempatnya menanti pagi. Kosong. Bukan lagi raganya yang akan mengisi kekosongan itu.

Aditya Prasetya, telah dicukupkan bekalmu untuk menghadapi penantian hari akhir yang entah kapan datangnya. Sosokmu akan selalu terkenang di hati kami, orang-orang yang sepenuh hati mendukung dan menyayangi. Tetapi rupanya Tuhan lebih sayang pada Adit, dengan cara-Nya yang tak pernah kita ketahui. Semangat juangmu takkan pernah padam, dan justru menjadi minyak pembakar semangat kami yang mungkin memudar. Pengabdianmu tak akan sia-sia. Ketiadaanmu menjadi pemompa harapan kami untuk terus mengestafetkan mimpi di ujung-ujung negeri. Binar mata anak-anak didikmu pasti tak akan bohong, betapa mereka nanti akan merindukan Bapak Gurunya yang senantiasa optimis. Binar mata kami pun, menunjukkan betapa kami bangga kepadamu, Adit.

Selamat menempuh jalanmu yang baru. Kami iri padamu yang nir dalam keadaan begitu tenang, dalam derasnya pengabdian. Umurmu mungkin tidak panjang, tapi kamu telah meninggalkan goresan makna yang begitu panjang di hati orang-orang: keluarga, sahabat, rekan, dan mereka yang ada di Timur sana.

Akan kami lanjutkan perjuanganmu. Jangan pernah merasa sendiri, karena sebenarnya kamu memang tidak pernah sendiri.

*Sore 6 November 2013, jenazah Adit tiba di Lampung setelah menempuh perjalanan panjang dari Saumlaki, Maluku Tenggara Barat. Beberapa rekan Pengajar Muda datang mewakili kehadiran kami, Bapak Anies Baswedan, Bapak Hikmat Hardono, dan tim Galuh pun ikut mengantarkan Adit hingga ke peristirahatan akhirnya. Semoga keluarga dan sahabat yang ditinggalkan diberi ketabahan. amin yaa rabbal al amin.


Selamat jalan, Adit...

October 18, 2013

Obrolan Cepo Mak Masnah

Pada malam-malam yang beranjak sunyi, Emak Masnah senantiasa melakukan hal yang sama: membuat cepo dari bambu. Cepo adalah tempat menyimpan barang-barang dapur atau beragam makanan. Potongan bambu yang diambil dari rumpunnya tersebut ditipiskan, diserut hingga halus kemudian dianyam dan diberi tatakan datar. Tekun sekali Emak mengerjakan satu demi satu cepo berukuran sedang tersebut. Jika sudah banyak yang dibuat, Emak kemudian menjualnya ke Pasar Kepuh yang terletak di pesisir laut. Kadang berjalan kaki turun gunung, kadang menumpang colt, kadang diantar oleh anak tertuanya.

Cepo Emak yang tertumpuk membisu menunggu dijual, bercerita pada saya tentang banyak hal. Mungkin dahulu, cepo itu dibuat Emak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Seperti layaknya penduduk desa yang masih jauh dari hingar bingar konsumerisme ala kota, ada daftar panjang kebutuhan harian yang masih mampu mereka penuhi tanpa campur tangan uang. Contoh terdekat tentu saja penduduk dusun Serambah ini. Mereka mampu memenuhi kebutuhan pangan berupa beras selama satu tahun penuh dari sawah-sawah luas yang membentang hingga ke bukit seberang. Beragam tanaman pangan tumbuh sembarangan - ditanam begitu saja tanpa perawatan - siap dipanen kapanpun empunya mau. Buah-buahan menggantung di pohon menggoda setiap orang yang lewat di bawahnya. Jika mereka ingin ikan, cukup ambil jaring dan turun ke laut mencari beberapa keranjang ikan rencek. Saat angin besar, persediaan ikan kering yang sudah dibuat sejak beberapa bulan sebelumnya siap mengambil alih meja makan. Di sekitar mereka, tumbuh berserakan pohon jati, mahoni, dan pohon berkayu kualitas nomor satu untuk kebutuhan papan. Mungkin satu-satunya yang harus mereka beli adalah baju yang melekat di badan.

October 03, 2013

Nostalgia dalam Telepon


Ada sebuah titik istimewa di teras rumah orangtua angkat saya. Di antara anyaman dinding bambu yang menghadap ke lembah tersebut, tergantung beberapa telepon genggam milik penghuni dan tetangga rumah. Bersebelahan satu sama lain, benda-benda tersebut saling berebut satu dua garis sinyal. Sebut saja sinyal-tempel-tembok, sisa-sisa sinyal dari kecamatan sebelah inilah yang menghubungkan warga Serambah ke dunia luar sana.

Meskipun semua telepon genggam tersebut tergantung di sana sepanjang hari, tidak ada satupun telepon yang pernah hilang diambil orang. Dering masing-masing telepon juga begitu keras, ketika ada satu yang berdering maka seluruh penghuni rumah - baik yang sedang di dapur atau di kebun - akan berlarian ke titik tersebut untuk sekedar melihat siapakah yang beruntung mendapatkan panggilan. Saat menelpon pun tidak bisa diletakkan di samping telinga seperti biasanya, mode loudspeaker harus diaktifkan agar sinyal tidak hilang sehingga semua orang mampu menguping pembicaraan tanpa perlu bersusah payah.

September 25, 2013

Menepikan Pertanyaan

Malam ke-45, purnama kedua

Sudah lebih satu bulan sejak pertama saya menginjakkan kaki di bumi Serambah. Ya, saya hitung betul malam demi malam yang telah saya lewati bersama keluarga angkat dan tanggung jawab baru sebagai seorang guru. Saya terhenyak. Sebenarnya, sudah lebih dari tiga bulan saya mengucapkan sampai jumpa pada tanah kelahiran Jogjakarta. Waktu yang tak sebentar, tapi tak terasa dilewati dengan begitu cepat.

Mungkin dalam tahun-tahun sebelum ini, saya begitu fokus pada diri sendiri. Apa yang saya lakukan adalah untuk kepentingan diri dan orang-orang terdekat. Dan dalam 90 hari belakangan, saya 'dipaksa' untuk mengesampingkan urusan diri, memperhatikan orang-orang yang bahkan sebelumnya tidak pernah saya kenal. Masuk ke dalam masyarakat dan menjadi bagian kecil dari mereka.

Saya datang tak alpa mengenolkan harapan. Meminimkan ekspektasi. Mengosongkan diri kemudian bersiap menerima dan memberi. Ah, siapa yang suruh saya menjadi inspirasi. Orang-orang yang menugaskan saya 'hanya' menyuruh saya menjadi diri sendiri.


Rapor Tingkah Laku

Kisra, anak kelas lima yang bertubuh bongsor tersebut sibuk mengiris-iris pepaya muda yang dipetiknya sendiri dari halaman rumah. Beberapa menit sebelumnya, ia tergopoh-gopoh menyiapkan tikar dan air minum di ruang tengah. Semua itu ia siapkan untuk saya yang datang berkunjung sepulang sekolah. Mulutnya tak henti menggumam, "Kema Emak, Bu Kinkin la datang..." (Emak kemana, Bu Kinkin sudah datang...)

"Sudah, Ibu di sini saja," cegah Kisra ketika saya berniat membantunya membuatkan bumbu rujak. Segera ia membenamkan diri dalam kesibukan mengulek cabai dan garam, yang oleh masyarakat Bawean biasa disebut bumbu buja cappi. Saya senyum-senyum sendiri memperhatikan tingkahnya yang lucu. Ia benar-benar bersemangat menjadi tuan rumah yang menyenangkan. Dan pada siang itulah saya baru tahu bahwa Kisra adalah storyteller yang sangat baik. Ia menceritakan tentang keluarga, teman-teman, kesulitan yang ia hadapi saat di sekolah, serta cita-citanya menjadi seorang penulis buku.

September 23, 2013

Anak-anak, Ayo Jepret!

Posting singkat berikut ini khusus saya dedikasikan untuk Kak Wira Nurmansyah, photographer cum traveler (yang katanya) kece asal Bandung. Selamat membaca, Kak!

Sejak berangkat tugas ke Pulau Bawean, saya sudah memikirkan beberapa hal yang kiranya dapat saya lakukan di tempat penugasan nanti. Salah satunya adalah rencana saya membuat ekskul fotografi untuk anak-anak SD di Serambah. Yang saya inginkan tidak muluk. Saya tidak menginginkan anak-anak saya paham mengenai diafragma, shutter speed atau penggunaan filter lensa. Saya hanya ingin mereka sendirilah yang menangkap momen-momen yang mungkin tak akan mampu saya dapatkan.

Saat itu saya mendengar dari pengajar muda pendahulu bahwa anak-anak di dusun saya memiliki karakter yang cukup unik. Mereka sangat pemalu dan tidak terbiasa mengekspresikan diri secara verbal. Karena itulah saya berencana menggunakan dua media untuk membantu mereka berekspresi: tulisan dan foto. Mungkin tidak seperti anak-anak di tempat penugasan lain, saya sangat kesulitan untuk memotret mereka dengan pose natural dan tidak malu-malu.


September 16, 2013

Dalam Tiga Puluh Menit

Hanya kurang lebih tiga puluh menit saya mendengar suara khasnya setiap kami bertemu dalam telepon. Mendengar suara tawanya, saya hanya bisa membayangkan ia di sana tergelak menampakkan gigi-giginya yang putih dengan perut naik turun. Mendengar ia bercerita, saya hanya bisa membayangkan ia di sana tengah duduk sendirian dalam remang lampu karena ditinggalkan oleh orang-orang rumahnya. Mendengar ia menguap, saya membayangkan ia bersandar di dinding dengan mata berat tetapi tetap ia tahan demi komunikasi yang terus terhubung.

Awal cerita kami sangat berbeda. Saya begitu dimanja oleh kebaikan penduduk yang tidak membiarkan saya kelaparan dan tanpa tempat tinggal, sementara ia di sana sendirian harus membeli makan di warung dan tidur tanpa ditemani keluarga angkatnya. Di sini air melimpah saya gunakan untuk mandi dan mencuci, di sana ia harus pergi ke sungai berair cokelat untuk sekedar membersihkan pakaian-pakaiannya.

"Kebingungan kita berbeda. Aku bingung harus menerima tawaran menginap di rumah yang mana, sementara kamu bingung malam ini harus tidur di mana." ujar saya, diselingi gelak tawanya yang miris.

Cinta Sekeping Gili




Betapa diberkahinya saya ditugaskan di pulau kecil nan subur ini. Tanah perbukitannya yang subur saling berjajar membentuk barisan menawan sesekali ditutupi larik-larik awan. Hijaunya sawah menyejukkan mata, ditingkahi debur ombak berkilauan yang berjarak tak lebih dari dua puluh depa. Inilah Bawean, pulau penuh keajaiban yang terapung tenang di tengah Laut Jawa.


September 13, 2013

Belajar dari Sebuah Kelas

Anak-anak adalah pengkritik yang paling jujur.

Sejak tiga purnama lalu, panggilan untuk saya berubah. Saya tidak lagi mengendarai motor kemana-mana untuk melakukan hal-hal yang saya sukai, kini pagi saya diisi dengan berjalan kaki mendaki bukit diiringi teriakan "Ibu Guru!" dari penjuru sekolah. Saya punya ruang kerja sederhana - sebuah kelas yang diisi dua rombongan belajar tanpa sekat yaitu kelas 5 dan kelas 6. Sebagai seorang yang sebelumnya mempunyai nilai transaksi sosialisasi rendah - atau dengan nama lain suka menyendiri - saya dipaksa bertemu dengan banyak orang.

Enam puluh anak yang saya temui hampir setiap hari, lebih dari sekedar angka statistik. Mereka adalah manusia-manusia kecil yang punya kemampuan mencontoh lingkungan lebih hebat dari seekor bunglon yang menyamar. Cerminan perilaku masyarakat - kita sebut saja begitu - adalah anak-anak ini. Dan yang paling sering mereka temui selain orang tua mereka adalah guru di sekolahnya. Bahkan bagi beberapa anak, mereka bertemu dengan gurunya lebih sering daripada mereka bertemu dengan orang tuanya di rumah.

June 17, 2013

Ode Tengah Juni

Akhir Juli, 2011

Saya masih berdiri mematung di depan kelas. Anak-anak itu duduk diam menatap saya sembari sesekali mengedipkan matanya. Saya diam, mereka diam. Jika saja ada jangkrik, mungkin suara deriknya yang akan mengisi ruangan ini.

Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Buku acuan yang saya pegang tidak memberikan inspirasi apapun agar saya mampu berbicara panjang lebar. Omongan saya patah-patah menjelaskan apa itu kewirausahaan di depan anak-anak SMP Satu Atap yang sedari tadi menunjukkan ekspresi tidak paham. Kakak ini sedang apa sih, mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka.

Keringat dingin mengucur deras. Tatapan polos mereka dan keheningan kelas justru makin menekan saya. Akhirnya kelas saya serahkan kepada Siti, rekan satu tim yang menunggu di pojok ruangan. Sejak saat itu, saya trauma mengajar di depan kelas.

***
Pertengahan Juni, 2013

Seluruh barang bawaan telah kami angkut ke dalam dua mobil yang akan mengantar ke bandara. Rezano, koordinator tim penempatan saya nampak basah oleh peluh karena sedari tadi berkeliling memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Saya tidak dapat menyembunyikan rasa haru ketika satu persatu teman seangkatan saya turun dari kamar wisma, mengerumuni kami yang kurang dari setengah jam lagi akan berpisah. Ya, pelatihan intensif yang kami jalani selama delapan minggu ini purna sudah. Telah dicukupkan segala persiapan kami untuk menyebar ke 74 titik di Indonesia selama satu tahun penuh.

Sahabatku Ninda

Sahabatku Ninda, mungkin ketika aku sudah terjaga pukul empat menanti subuh, kamu masih terlelap di awal tidur setelah berjibaku dengan segala pekerjaanmu. Kita sama-sama letih dengan kantong mata hitam yang besar, mengais-ngais sisa waktu yang dapat digunakan untuk kembali terlelap. 

Boleh kita sebut diri kita sebagai wanita tangguh (tapi sebenarnya berhati rapuh)?


Dua bulan yang lalu, masa-masa tanpa kesibukan yang dahulu senantiasa kita keluhkan, akan segera menjadi masa lalu yang manis. Eh, manis kubilang? Mungkin aku menggigau. Tapi bukankah bangun setelah matahari terbit, menghabiskan siang dengan tidur atau mengobrol di kafe, atau menikmati sore sembari duduk di tepi rel Lempuyangan, adalah hal-hal mahal yang manis? 


Jika saja kita tahu bahwa masa itu akan segera menjadi tumpukan kenangan di pojok memori kita.



March 24, 2013

Artikel Morotai di Tabloid Wanita Indonesia



Perjalanan saya ke Pulau Morotai pada pertengahan September lalu dipublikasikan di Tabloid Wanita Indonesia edisi Februari 2013. 

Terima kasih kepada Hikmah Cut Ramadhana atas foto underwaternya. Saya sudah pesan untuk berikan credit fotografernya, tapi kayaknya mereka lupa ngasih. Hiks. Tulisan ini masih jauh dari sempurna. Ayo terus belajar untuk memperbaiki diri :)

Menjadi Pejalan Bahagia

Soleh, volunteer project Lebak, sedang mengajarkan konsep denah kepada anak-anak.
  Intro: Konsep berbahagia setiap orang berbeda. Yang ini, bahagia menurut saya, dan mungkin beberapa dari anda.

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata vakansi? Dulu, saya sendiri langsung membayangkan destinasi dengan lansekap indah, bergiga foto dan video yang bisa dibawa pulang sebagai kenangan, kuliner enak dan perjalanan yang melelahkan, dan tentu saja bukti otentik berupa kulit yang menghitam.

Tetapi itu dulu.

Beberapa tahun belakangan ada hal baru yang selalu saya cari setiap melakukan perjalanan: interaksi. Entah dengan orang lokal atau dengan sesama pejalan. Semua itu membuat saya lebih bisa memaknai sebuah vakansi dan menghargai rupiah yang sudah saya keluarkan, yang bagi orang lain mungkin dianggap kesia-siaan. Kemudian perjalanan pun tak melulu soal fisik, tapi lebih kepada perjalanan hati.

Aih berat.

March 21, 2013

Kelana Nusa Tenggara (3): Sea Lady dan Irawan




Posting Kelana Nusa Tenggara sebelumnya, bisa disimak di sini. Selamat membaca :)

Mata kami membelalak lebar, merasa terkejut sekaligus senang. Sebuah kapal live on board cokelat dengan desain Pinisi – meski tanpa tiga tiang – mengapung anggun di tengah tenangnya perairan Labuan Bajo. Boat fiber yang membawa kami bertujuh bergerak pelan meliuk di antara puluhan kapal LOB, menimbulkan riak-riak kecil yang terhempas tanpa jejak di dermaga. Semakin mendekat ke kapal yang kami tuju, hati makin riang. Sea Lady, nama kapal itu, akan menjadi tempat bermalam kami kali ini.

March 09, 2013

Kadang Kita Hanya Butuh Duduk Sejenak



Sore itu, saya tidak ingin kemanapun.
Kecuali ke sebuah tempat yang sudah sangat lama saya rindukan. Sebuah tempat lapang dari beton yang terbentang di ujung tebing barisan perbukitan sebelah timur Parangtritis, landas pacu Parangndog.

February 14, 2013

Melepas Rindu Akan Air di Umbul Ponggok


Jogjakarta memang kekurangan laut tenang yang dapat digunakan untuk snorkeling atau menyelam layaknya laut di kawasan Bali atau Lombok. Tapi untuk sekedar berlatih menyelam dan foto bawah air yang lumayan, saya merekomendasikan tempat ini. Namanya Umbul Ponggok, sebuah kolam mata air alami di wilayah Klaten, Jawa Tengah, sekitar 1,5 jam dari kota Jogjakarta. Kolam ini sudah cukup dikenal di kalangan teman-teman penyelam karena biasa digunakan untuk berlatih snorkeling dan scuba diving.

February 08, 2013

Mukena Untuk Bu Tiah

Ini adalah sepotong cerita manis tentang eskapisme saya di sebuah desa sederhana yang cantik di tepian lembah jauh di pelosok Lebak, Banten. Saya bergabung menjadi sukarelawan komunitas Book For Mountain untuk membangun perpustakaan dan mengajar anak-anak SD di SD Mekarsari II Cibeber. Intro-nya sudah pernah saya tulis di sini.

***

Kami bertujuh, atau setengah dari jumlah sukarelawan seluruhnya, tinggal di sebuah rumah kosong di tengah desa. Meski sudah disediakan kompor gas tetapi kami lebih memilih untuk memasak nasi dengan tungku demi menghemat gas.

Pertamanya ibu itu datang bersama yang lainnya. Sekedar ingin melihat apakah kami mampu menyalakan tungku sendiri. Nyatanya, tiga hari pertama kami selalu gagal, entah karena kayu yang masih basah, api yang labil, atau letak kayu yang tidak pas dengan tungku. Hari-hari berikutnya, si ibu menjadi alarm alami untuk bangun tidur: selepas subuh selalu menyenteri rumah (yang mirip akuarium karena berkaca besar di depan tanpa tirai); membantu menyalakan tungku dan menghangatkan nasi; mengajarkan kami merebus singkong, biji nangka, dan jagung; mengajak kami membuat bakwan jagung dan sayur rebung; hingga mencucikan perkakas makan ketika kami kelelahan sepulang mengajar.

Kelana Nusa Tenggara (2) : Menguji Fisik di Etape Maraton Lombok - Sumbawa

*lanjutan dari Kelana Nusa Tenggara (1) : Membelah Bali



Saya kira Bali dan Lombok itu jaraknya sangat dekat sehingga kami tidak perlu sampai mati gaya di atas kapal. Nyatanya, penyeberangan dari Pelabuhan Padang Bai, Bali ke Pelabuhan Lembar, Lombok membutuhkan waktu kira-kira empat jam menggunakan kapal ferry. Kami cukup beruntung mendapatkan kapal yang kondisinya masih baik meskipun kotor dan agak tua. Ombak siang itu lumayan besar ditingkahi dengan hujan deras dan angin kencang menerpa sepanjang jalan. Baru duduk beberapa menit di ruang VIP dek lantai dua, saya sudah merasa mual karena kapal terombang-ambing di lautan lepas. Ruangannya memang bagus, ber-AC pula, tapi melihat lautan lepas sampai miring-miring di jendela kaca, saya kibarkan bendera putih. Menyerah. Segera saya memilih naik ke dek teratas untuk mendapatkan angin demi menghilangkan mual. Yap, bepergian di akhir tahun memang harus siap dengan risiko hujan dan ombak tinggi musim barat sudah dimulai.

January 30, 2013

Di Bawah Langit Biru: Sebuah Intro

Kuceritakan kepadamu sebuah desa kecil yang terletak di tepian lembah hijau nan subur. Ada petak-petak sawah dengan sungai kecil berair jernih mengalir tenang mengairi tiap jengkal tanah berpadi yang tumbuh merapat. Rumah-rumah dibangun di atas tanah bertingkat, sekilas semuanya akan nampak dari jalan di atas punggungan. Yang menyambut pagimu dan mengucapkan selamat tidur untukmu hanyalah suara putaran kolecer (kincir angin dari bambu,pen.) serta harmoni suara jangkrik dan kodok sawah.

January 14, 2013

Cerita Tentang Kedai Ibu

Sebenarnya saya ingin melanjutkan menulis ttg Kelana Nusa Tenggara, tetapi rupanya tangan lebih tergerak untuk membuat tulisan ini.

Ibu saya membuka sebuah kedai makan di rumah. Tidak begitu besar, hanya diisi beberapa meja dan kursi untuk para pelanggan yang ingin makan langsung di sana. Masakan yang disediakan pun hanya masakan ala rumah Jawa. Rumah kami memang berada dekat dari kampus dan dikelilingi banyak kos-kosan. Inilah yang membuat Ibu memutuskan untuk membuka kedai makan pada lebih dari tiga tahun yang lalu.

January 11, 2013

Kelana Nusa Tenggara (1): Membelah Bali

Ini adalah bagian pertama dari kisah perjalanan saya, Edo, Debby, dan Tege menuju Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Akan ada beberapa bagian, selamat membaca :)

"Kin, sudah sholat?"

Suara Tege menyadarkan saya dari kantuk setibanya kami di Stasiun Banyuwangi Baru, malam itu. Melakukan perjalanan darat sepanjang hari dengan kereta berkursi tegak tanpa pendingin cukup membuat tubuh kami menjadi letih dan pegal-pegal. Sambil menyeret kaki, perlahan kami beranjak ke mushola stasiun untuk melaksanakan sholat maghrib dan isya. Saat itu hanya ada rombongan kami dan beberapa penumpang lain yang menanti pagi datang.