October 28, 2012

Ikan, Emas, dan Konflik: Catatan dari Teluk Kao


Teluk Kao yang terletak di pesisir timur pulau Halmahera adalah sebuah jazirah memanjang dari Jailolo di Halmahera Barat hingga Tobelo di Halmahera Utara. Jika berdiri di tepi Teluk Kao kita akan dapat melihat lekuk-lekuk perbukitan Halmahera Timur di kejauhan. Bisa dibayangkan cantiknya lansekap ala postcard ini menjadi halaman belakang rumah kami selama beberapa bulan. Tetapi semua itu terasa ironi dengan pahitnya sejarah lampau yang disimpan dalam-dalam di hati para penduduk Teluk Kao.

Teluk Kao menjadi saksi bisu kehebatan armada-armada perang Jepang di masa Perang Dunia II. Hingga saat ini kita masih dapat melihat bekas haluan kapal terserak di sepanjang pesisir, bahkan masih ada satu bangkai kapal perang Jepang yang karam teronggok di lautan dekat Malifut, Halmahera Utara. Teluk Kao memang terletak dekat dengan Morotai, sebuah pulau gersang di utara Halmahera yang dahulu menjadi basis pertahanan Sekutu untuk melakukan taktik perang lompat kodok demi mengalahkan Jepang.

Pada masa konflik berdarah yang mengatasnamakan agama di seluruh Maluku akhir tahun 90-an lalu, Teluk Kao menjadi salah satu medan perang yang mengerikan. Disebutkan dalam buku terbitan LIPI tentang konflik Maluku Utara, akar penyebab persoalan konflik tersebut tidaklah tunggal. Persoalan kesenjangan sosial, perebutan sumberdaya alam serta pertikaian politik dan birokrasi merupakan faktor penyebab yang dibungkus politik agama yang selama ini diyakini oleh sebagian besar masyarakat. Jejak kekejaman konflik tersebut - yang belakangan saya baca ternyata berawal dari perebutan hak tanah - masih terlihat di berbagai desa pesisir. Desa dibakar habis, nyawa-nyawa melayang begitu saja, eksodus besar-besaran terjadi. Ya, semenjak perang berkobar di tanah Maluku, tidak ada lagi desa yang penduduknya berasal dari beragam kepercayaan. Desa-desa homogen baru pun terbentuk berserakan di sepanjang pesisir, desa muslim, desa kristen, terkotak-kotakkan oleh agama. Di sini, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana isu SARA dapat dengan mudah memecah belah persatuan masyarakat.

October 25, 2012

Bersekolah di Tepi Teluk Kao

 

"Kinkin!" suara serak seorang perempuan terdengar memanggil ketika saya berjalan meninggalkan kantor desa selepas acara penyambutan. Sore itu saya dan teman-teman lain baru saja menjejakkan kaki di Desa Tafure Ternate Utara untuk mengikuti program homestay bersama penduduk selama dua hari, September lalu.
Segera saya menoleh mencari sumber suara. Sebuah sosok yang begitu melekat di ingatan saya, tengah berjalan cepat keluar dari halaman sebuah rumah. Ah, anak itu!
"Alipiii!!"
Pelukan erat dihadiahkan perempuan itu pada saya. Namanya Alif, tetapi sering kami panggil Alipi, adalah gadis desa yang saya kenal saat kami melaksanakan KKN di Desa Akelamokao Halmahera Barat lebih dari satu tahun yang lalu. Kala itu, Alipi adalah salah satu anak yang kami anggap adik sendiri dan keluarganya berbaik hati membersihkan rumah pondokan ketika kami datang serta meminjamkan peralatan tidur. Alipi juga sering datang membawakan makanan atau sekedar mengundang kami minum teh di rumahnya. Saat itu, Alipi baru saja resmi menjadi siswi baru SMK Pertanian Akelamokao.
Tetapi, ada yang berbeda dari Alipi sore itu. Perutnya membuncit, ia nampak sangat lebih dewasa dari sebelumnya. Rupanya Alipi tengah hamil tua. Dahi saya mengerenyit tidak paham mengisyaratkan bahwa saya butuh penjelasan.
"Iya, saya nikah sama orang Tafure, Kin. Sekarang tinggal di belakang rumah ini." ujar Alipi seakan paham akan kebingungan yang saya alami.
"Kamu udah nikah? Ya ampun, baru satu tahun kita nggak ketemu padahal..."
Sayangnya pembicaraan itu tidak berlangsung lama. Pak Jamaluddin, bapak angkat saya sudah menunggu di ujung jalan untuk membawa kami pulang ke rumah. Lambaian tangan Alipi di kejauhan terasa tidak cukup mengobati rasa rindu saya padanya.

Melihat kondisi Alipi saat itu, entah mengapa saya tidak bahagia. Alipi menikah dan tengah hamil, berarti dia tidak sekolah lagi. Meninggalkan sekolahnya, dan tentu saja kehidupannya di sebuah desa di tepi Teluk Kao yang damai. Satu lagi pemudi harapan Akelamokao putus sekolah dan memilih menjadi istri orang di usianya yang masih sangat muda. 

October 15, 2012

Kita Di Persimpangan

 

Aku anggap kita sedang sama-sama berada di sebuah persimpangan. Senja sudah sedari tadi menghilang, mungkin rindu tertidur di peraduan. Langit yang segera menjadi gelap membuat kita hanya saling menyapa sesaat tanpa banyak bicara. Mungkin, itu secepat kabut yang datang di pucuk-pucuk gunung yang angkuh. Atau mungkin, itu secepat dandelion yang menjadi gundul diterpa semilir angin. Atau mungkin, memang secepat itulah pertemuan kita.

October 12, 2012

[PHOTO] A Short Escape: Dodola Island, Morotai













Perjalanan ini berawal dari kami yang malas pergi untuk mengikuti gladi resik upacara, berbondong-bondong turun dari truk dan sempat dikejar para marinir. Kami lari berhamburan, bahkan ada yang sempat harus menumpang truk aspal atau bersembunyi di kebun penduduk. Saat-saat tersebut selalu membuat tawa ketika diingat.

Tahun lalu saya pernah berjanji untuk bisa kembali ke pulau ini. Saat itu hujan dan gelombang besar membuat perjalanan kami ke Dodola terhambat dan kurang berkesan. Tuhan Maha Baik. Rupanya tahun ini saya diperbolehkan kesana lagi, beramai-ramai pula bersama anak-anak ini. Kami langsung berlarian ke dermaga speedboat, mencari penumpang lain yang juga ingin ke sana, dan langsung berangkat ketika speedboat pesanan tiba.

What a short escape! :)