August 20, 2012

Tentang Sebuah Rumah

di sini kita akan duduk berdua menikmati sore, suatu saat nanti
(sumber)

Di blog ini, saya pernah menulis sebuah sajak tentang impian saya untuk pergi ke Nepal dengan orang yang saya kasihi, suatu hari nanti. Di situ imajinasi saya meliuk-liuk dengan liar, berusaha mengingat berbagai artikel tentang Nepal yang pernah saya baca, dan membangun sebuah konstruk cantik tentang bagaimana saya nanti akan mengalami keindahan tersebut dengan mata kepala saya sendiri.

Dalam sajak itu saya seakan menjadi seorang nomaden yang berjalan tanpa henti serasa ingin terus menjelajahi dunia. Seorang pejalan yang punya pendirian 'home is where the heart is'. Menganggap dunia adalah rumah, dan saya bisa tidur dimana saja.

Tetapi dalam satu tulisan yang lain, saya pernah menulis tentang suami impian saya. Bukan itu sih intinya, tetapi saya sempat menggambarkan rumah seperti apa yang ingin saya tempati nanti. Entah mungkin lima atau sepuluh tahun lagi. Saya ingin punya momen duduk bersantai di teras belakang rumah di sore hari bersama sang suami, menyesap teh hangat sembari menyaksikan matahari terbenam dari dan sawah-sawah yang menguning pun mulai tertutup oleh bayangan malam. Atau di suatu ketika yang lain, saya menghabiskan siang dengan bercocok tanam di pekarangan, menanaminya dengan berbagai jenis sayur dan buah-buahan, menyiraminya dengan penuh kasih sayang. Atau pada suatu ketika yang lain, saya sedang membereskan buku-buku yang berserakan setelah dibaca oleh sang suami, kemudian segera memasak makan malam dan menunggu dia pulang membawa banyak cerita.

Di satu sisi yang lain, saya memang selalu punya keinginan untuk 'menikmati hangatnya rumah'. Rumah, benar-benar rumah. Bangunan yang bisa saya lihat fisiknya, saya raba permukaannya, dan menjadi tempat tinggal saya sehari-hari.

Sebenarnya saya tidak punya tujuan ketika menulis ini. Hanya sekelebatan ide yang mungkin tidak akan saya selesaikan hingga akhir.

Saya hanya pejalan yang suatu saat ingin pulang. Kaki yang terus menerus berjalan ini, suatu saat pasti ingin berbalik arah ke tempat dimana dia sebelumnya paling tidak ingin berada. Pulang bersama yang terkasih, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati manisnya hal-hal yang hanya bisa dilakukan di dalam sebuah rumah.


#np Banda Neira - Ke Entah Berantah

4 comments:

  1. Rupanya beberapa minggu ini, saat blogwalking, banyak blogger yang ingin pulang. Aku juga ah.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. *angkat backpack* *nyetop bis di pinggir jalan* :D

      Delete
  2. jangan jalan jauh2 neng, ntar bingung pulangnya :p

    ReplyDelete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)