August 20, 2012

Tentang Sebuah Rumah

di sini kita akan duduk berdua menikmati sore, suatu saat nanti
(sumber)

Di blog ini, saya pernah menulis sebuah sajak tentang impian saya untuk pergi ke Nepal dengan orang yang saya kasihi, suatu hari nanti. Di situ imajinasi saya meliuk-liuk dengan liar, berusaha mengingat berbagai artikel tentang Nepal yang pernah saya baca, dan membangun sebuah konstruk cantik tentang bagaimana saya nanti akan mengalami keindahan tersebut dengan mata kepala saya sendiri.

Dalam sajak itu saya seakan menjadi seorang nomaden yang berjalan tanpa henti serasa ingin terus menjelajahi dunia. Seorang pejalan yang punya pendirian 'home is where the heart is'. Menganggap dunia adalah rumah, dan saya bisa tidur dimana saja.

The Beach Is Ours!



On a sunny day we go...

August 17, 2012

Meninggalkan Jogja Lagi


Tidak terasa kurang dari seminggu saya akan meninggalkan Jogjakarta lagi, tapi untuk sementara saja. Dan kali ini, bersama kelima pemuda-pemudi inilah saya akan menggoreskan kisah baru yang sebelumnya hanya dimulai dengan sebuah mimpi.

Menggunakan KRI Makassar 590 yang gagah berani, kami akan mengarungi lautan dan merasakan bagaimana dulu nenek moyang kami berjuang dan menjadi pelaut-pelaut yang tangguh menerjang gelombang. Posting ini adalah bentuk optimisme saya bahwa acara ini benar-benar akan terlaksana dengan baik dan saya dapat kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, bersama mereka berlima.

Tunggu ceritanya ketika kami kembali ke Jogjakarta sebulan lagi :)

August 15, 2012

Berburu Bimasakti


Bimasakti nampak jelas membujur dari utara ke selatan (Maharsi Wahyu)


tenda kami di tepi pantai, di bawah taburan bintang-bintang.


Mungkin ini yang disebut 'sabar menanti'. Tiga tahun lebih sejak saya pertama mengenal astrophotography, sejak saat itu pula saya bertekad ingin bisa memotret galaksi Bimasakti. Sulit, tentu. Gear yang saya punya tidak mendukung, pun ilmu yang saya pelajari masih dangkal sehingga setiap ada kesempatan saya mencoba selalu gagal.

Tapi Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir. Tadi malam, lima mahasiswi skripsi yang mendirikan tenda di tepi Pantai Indrayanti Yogyakarta, mendapatkan pemandangan langit malam yang super mewah. Dan akhirnya, Bimasakti yang sudah saya buru sejak tiga tahun lalu tersebut, berhasil saya abadikan dengan tangan saya sendiri.


***
P.S. : terima kasih banyak untuk Newin, Edo, dan Monik yang sudah meng-endorse acara kemping bahagia ini. terima kasih banyak sudah membantu kami menabung rindu :)

August 08, 2012

Misty Morning

Pernah menangis gegara melihat pemandangan luar biasa di depan mata? 
Saya pernah. Salah satunya, 
di sini.


sayangnya, saya tidak bisa membuat kamera saya menangkap momen sebagus apa yang ditangkap oleh mata.
saya memang orang yang gampang histeris, melihat langit biru saja teriak-teriak bahagia. cium bau air laut saja saya sudah tidak sabar berlarian di tepinya.

saya hanya berharap, terus diberikan kesempatan untuk bisa menjelajahi tiap jengkal Indonesia.

August 07, 2012

Bromo dalam BW







Sedang suka ngedit foto jadi BW. Katanya, hasil jepretan fotografer mencerminkan suasana hatinya. Abu-abu? :)

Yadnya Kasodo Bromo








Lantunan musik tradisional yang lirih lamat-lamat terdengar tanpa terputus di antara kabut pekat dini hari tersebut. Terasa menyayat hati, entah mengapa. Sembari terus berlari menyamakan langkah dengan arak-arakan, saya membayangkan kisah Roro Anteng dan Joko Seger yang konon menjadi cikal bakal masyarakat Tengger dan upacara Kasodo di Bromo.

Saya berada di tengah segelintir rombongan pengiring ongkek-ongkek. Bersama saya, hanya ada kurang dari 10 fotografer yang sama-sama berlarian agar tetap berada di barisan depan. Sejenak saya merasa bahagia karena ekspektasi saya bahwa Kasodo akan seramai festival-festival lain yang pernah dihelat di Indonesia, rupanya salah besar. Ya, tidak banyak yang mau mempersulit diri di tengah bekunya udara pegunungan dan pekatnya debu Bromo, pagi ini.

Setelah berhenti di tiga tempat persembahan kecil untuk berdoa sejenak dan meletakkan sesaji, kami tiba di Pura Luhur Poten yang sudah dipenuhi para peziarah dan wisatawan yang ingin menyaksikan prosesi Kasodo. Ah, rupanya mereka semua menunggu di sini. Segera, arak-arakan menjadi objek ratusan fotografer yang haus dokumentasi. Saya yang sudah kelelahan memilih untuk duduk di pojok bersama rombongan, menanti waktu sahur untuk membuka bekal dari warung Tante Tolly.

Duduk kedinginan, saya larut dalam nyanyian kidung suci yang dilantunkan oleh para dukun pandhita. Walaupun tidak paham akan artinya, entah mengapa telinga ini sangat menikmati bait demi bait nyanyian mereka. Mungkin karena itu adalah doa yang berisi pujian dan harapan yang dipanjatkan kepada pemilik semesta.

Bromo pagi itu, tetap romantis seperti biasanya. Ada nostalgia yang saya titipkan untuk ikut terbuang bersama ongkek-ongkek dan ratusan sesaji lainnya, ke dalam kawah Bromo yang menganga...