July 05, 2012

Sepotong Memori

Kalian wanita-wanita pintar. Anak UGM. Kalian harus bisa mendapatkan suami yang lebih dari kalian. Bermimpilah yang tinggi, yang besar. Jangan bermimpi kecil. Kejar cita-cita sesuai passion. Besok kalian harus dapat suami yang mau menuruti passion kalian. Kalau mau kuliah keluar negeri, berangkat! Jangan mau dibatasi.. Susah lo dapat suami seperti itu. Langka, tapi ada. Bekerjalah, tapi kalian tidak punya kewajiban untuk mencari nafkah. Suami-suami kalian yang harus mencari nafkah. Jangan mau dengan suami yang menyuruh kalian cari duit!
- AA, lebih dari sekedar atasan dan mentor, ayah selama dua bulan. 

Perasaan sendu muncul begitu saja ketika sosoknya yang berjaket hitam menghilang dari balik gate imigrasi. Ada rasa kehilangan. Saya masih mengingat pertemuan pertama saya dengan beliau yang spontan mengatakan, "Bener nama kamu Kinkin?" disertai celetukan bahwa beliau agak tidak yakin apakah saya memang bisa melakukan pekerjaan itu. Tetapi hari demi hari berjalan, selalu nampak senyum puas beliau setiap melihat foto-foto yang saya jepret. Foto yang saya bilang biasa saja, ternyata sesuai dengan seleranya. 

Saya mengenal sosok beliau lebih secara moralitas, dimana saya banyak terlibat pembicaraan-pembicaraan non-profesional dengan beliau. Nasihat-nasihat, teguran, pun guyonan jamak terdengar dari mulut beliau yang  selalu sukses membuat saya semakin kagum. 
Hingga akhirnya saya bertekad, nantinya dapat menemukan suami sehebat Bapak.
Saya baru dua bulan bekerja untuk beliau. Mungkin tidak sedekat asisten-asisten yang lain yang sudah sejak lama bersama beliau. Tapi itu sudah cukup untuk membuktikan dan membuat saya meyakini bahwa Bapak adalah orang hebat yang baik. Tiang agamanya kuat, jaringannya yang begitu luas, santun tapi tegas dalam bertindak, integritasnya yang tak terbantahkan, sekaligus mampu menjadi sosok suami dan ayah yang menjadikan keluarga sebagai prioritas nomor satu.

Saya beruntung ikut menemani Bapak dalam tiga hari kunjungan terakhirnya sebagai akademisi sebelum akhirnya beliau terbang ke ibukota dan memulai tugas di kantornya yang baru.

Bapak, selamat bekerja. Sampai bertemu di kesempatan yang lain. Terima kasih sudah menjadi lebih dari sekedar atasan yang sangat hebat, terima kasih telah menjadi seorang ayah.

***

"Bapak, bapak juga mau saya foto ya di depan situ ya? Buat kenang-kenangan.. "


"Ah kamu, saya nih sudah tua, ngga butuh itu difoto-foto... Sini, kalian aja yang saya foto. Ini gimana pakai kameranya, tolong disettingkan dulu.." 

Bapak, akan saya rindukan percakapan itu, yang selalu terjadi setiap saat.


1 comment:

  1. Baca kalimat ini "Bekerjalah, tapi kalian tidak punya kewajiban untuk mencari nafkah. Suami-suami kalian yang harus mencari nafkah. Jangan mau dengan suami yang menyuruh kalian cari duit!". Saya jadi ingat percakapan sore dengan mas Farid Gaban beberapa hari lalu, beliau juga bilang kalimat yang esensinya (mungkin) hampir sama "Sejak dulu kami berkomitmen, saya yang kerja untuk keluarga, sedangkan istri jika bekerja, kerjanya untuk sosial"

    Seharusnya memang seperti itu sepertinya :)

    ReplyDelete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)