July 27, 2012

Pada Suatu Pagi Di Atas 3400 mdpl






Pada suatu pagi di ketinggian >3400 mdpl

Saya nggak pandai bikin catatan perjalanan yang runtut dan detail. Karena itu, sejak kemarin saya lebih memilih memposting cerita yang paling saya ingat dalam otak. Kisah perjalanan ke puncak - dan turun dari puncak - adalah satu fragmen paling menarik dalam pendakian kali ini, sehingga saya ceritakan dalam beberapa post. 
Selebihnya, biar foto yang bicara. 

***
Dipotret dengan Gopro HD Hero 2 yang terpasang di kepala saya. Susah juga memotret sambil menebak-nebak, karena Gopro tidak saya pasangi LCD BacPac. Terima kasih kepada studio Maman Agosto yang berbaik hati meminjamkan saya benda ajaib ini. 

July 25, 2012

Suatu Saat Kita Akan Ke India, Sayang

Suatu saat,
kita akan berjalan-jalan ke India, sayang.
berpakaian sederhana, dengan kacamata hitam dan berkalung kamera.
berlari di antara pasar dan kuil-kuil, dimana tanganmu menggandengku erat.

Kita tidak pergi ke Taj Mahal.
kita mencari ketenangan di antara ashram, mungkin di Ladakh atau Agra.
bermeditasi dalam sunyi selama satu atau dua minggu untuk kemudian berpindah lagi.
kemudian aku sibuk menertawakanmu saat mencicip asamnya yogurt di dalam saus canai, saat kita pelesir di Kolkata.

Berjalan Bersama


Some of my favorite memories are of people I have photographed.
Caroline Mueller - In Memory Of Those We Shot
Sembilan belas manusia, lima hari empat malam. Bahkan beberapa dari kita baru berkenalan di atas jeep menuju Ranu Pane, pintu gerbang dimana kita akan memulai petualangan di pertengahan Juli itu.

July 22, 2012

Selimut Kabut Ranu Kumbolo



Pagi itu, kami masih bergelimpangan di dalam tenda. Udara dingin menggigit: dua lapis baju dan jaket polar rupanya tidak mampu menjadi penghangat diri. Kami saling berteriak dari tenda masing-masing, 'bikin sarapan yuuuk!' sementara tubuh masih ingin berbalut sleeping bag yang melenakan.
Akhirnya terdengar suara tenda sebelah dibuka, para lelaki terbangun sudah. Saya dan Monik memilih untuk tetap menyelimuti diri dengan sleeping bag, ketika mulai timbul suara-suara ribut. Nampaknya para pemilik suara tersebut tengah bergerilya mencari peralatan masak dan kompor.

Beberapa hela napas kemudian, tenda kami diketuk. Ketika resleting pintu tenda terbuka, segera hawa dingin masuk. Tapi bersamaan dengan itu pula sebuah tangan menyodorkan segelas minuman hangat yang kami tunggu-tunggu.

"Diminum dulu Kin." Udin, dia sudah bangun dan memasak air.

July 18, 2012

[Pics] Haru Biru Mahameru: Landscape and The Journey




Akhirnya hari ini saya berhasil menyelesaikan editing dan resizing foto-foto perjalanan saya mendaki Mahameru pada akhir minggu yang lalu. Sangat melelahkan dan saya terpaksa mengesampingkan dahulu skripsi saya, tapi jujur kegiatan ini menyenangkan, hahaha.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa menggapai tanah tertinggi di pulau Jawa ini, yang pada bulan Juli - Agustus mencapai titik suhu terdinginnya sepanjang tahun. Berjibaku dengan udara beku dan oksigen yang tipis, napas yang tersengal dan mata yang berat karena kantuk, tetapi semuanya terbayarkan saat melihat sendiri letupan Jonggring Saloka dan ikut mendoakan Soe Hok Gie-Idhan Lubis langsung di depan in memoriam-nya.

July 17, 2012

Haru Biru Mahameru

Napas saya tersengal pada setengah perjalanan pendakian dari Cemoro Tunggal menuju Mahameru. Pukul 12 malam tadi kami sudah meninggalkan Kalimati bergerak menyusur hutan Arcopodo yang lebat dan gelap. Trek pasir berbatu yang biasanya ditempuh dalam lima-enam jam ini benar-benar menguras mental dan menguji ketahanan fisik. Jam masih menunjukkan pukul empat pagi, saya berhenti di tengah trek, mengatur napas sembari tetap mencengkeram pasir yang begitu labil. Sudah hampir dua jam saya merayap di lereng Semeru ini: kaki menjejak tiga langkah, merosot satu langkah. Daypack berisi kamera dan air yang saya bawa mulai terasa berat.

July 11, 2012

Mengaji



Beberapa hari belakangan, tiap saya mengintip ke kamar ibu untuk memastikan beliau sudah tertidur atau belum, saya selalu mendapati beliau tertidur mendekap DVD player portable kesayangannya. DVD player tersebut memang selalu digunakan ibu untuk memutar CD Al-Quran digital koleksinya.

Ibu sedang belajar mengaji. Akhir-akhir ini rajin sekali.

Ibu adalah anak perempuan yang terlahir dari rahim seorang Katolik taat. Ibu mengikuti kepercayaan kedua orangtuanya hingga menginjak bangku SMA. Kemudian eyang uti bercerai dan menikah lagi dengan seorang muslim, ibu pun ikut berpindah agama. Tapi itu tidak membuat ibu mempelajari Islam secara mendalam.

Ibu pun baru saja memakai jilbab sejak awal tahun ini. Setelah berpuluh-puluh kali pembicaraan alot antara saya dengan beliau yang meyakinkan Ibu bahwa berjilbab itu sama sekali tidak merugikan. Padahal saya juga masih asal-asalan dalam berjilbab. Ibu, mungkin seperti wanita-wanita yang belum berjilbab lainnya, menganggap bahwa dengan berjilbab artinya harus menjaga segala perkataan dan perilaku dan harus mampu menjadi contoh bagi sekitar, dan beliau menganggap dirinya tidak siap.

July 05, 2012

Sepotong Memori

Kalian wanita-wanita pintar. Anak UGM. Kalian harus bisa mendapatkan suami yang lebih dari kalian. Bermimpilah yang tinggi, yang besar. Jangan bermimpi kecil. Kejar cita-cita sesuai passion. Besok kalian harus dapat suami yang mau menuruti passion kalian. Kalau mau kuliah keluar negeri, berangkat! Jangan mau dibatasi.. Susah lo dapat suami seperti itu. Langka, tapi ada. Bekerjalah, tapi kalian tidak punya kewajiban untuk mencari nafkah. Suami-suami kalian yang harus mencari nafkah. Jangan mau dengan suami yang menyuruh kalian cari duit!
- AA, lebih dari sekedar atasan dan mentor, ayah selama dua bulan. 

Perasaan sendu muncul begitu saja ketika sosoknya yang berjaket hitam menghilang dari balik gate imigrasi. Ada rasa kehilangan. Saya masih mengingat pertemuan pertama saya dengan beliau yang spontan mengatakan, "Bener nama kamu Kinkin?" disertai celetukan bahwa beliau agak tidak yakin apakah saya memang bisa melakukan pekerjaan itu. Tetapi hari demi hari berjalan, selalu nampak senyum puas beliau setiap melihat foto-foto yang saya jepret. Foto yang saya bilang biasa saja, ternyata sesuai dengan seleranya. 

Saya mengenal sosok beliau lebih secara moralitas, dimana saya banyak terlibat pembicaraan-pembicaraan non-profesional dengan beliau. Nasihat-nasihat, teguran, pun guyonan jamak terdengar dari mulut beliau yang  selalu sukses membuat saya semakin kagum. 
Hingga akhirnya saya bertekad, nantinya dapat menemukan suami sehebat Bapak.
Saya baru dua bulan bekerja untuk beliau. Mungkin tidak sedekat asisten-asisten yang lain yang sudah sejak lama bersama beliau. Tapi itu sudah cukup untuk membuktikan dan membuat saya meyakini bahwa Bapak adalah orang hebat yang baik. Tiang agamanya kuat, jaringannya yang begitu luas, santun tapi tegas dalam bertindak, integritasnya yang tak terbantahkan, sekaligus mampu menjadi sosok suami dan ayah yang menjadikan keluarga sebagai prioritas nomor satu.

Saya beruntung ikut menemani Bapak dalam tiga hari kunjungan terakhirnya sebagai akademisi sebelum akhirnya beliau terbang ke ibukota dan memulai tugas di kantornya yang baru.

Bapak, selamat bekerja. Sampai bertemu di kesempatan yang lain. Terima kasih sudah menjadi lebih dari sekedar atasan yang sangat hebat, terima kasih telah menjadi seorang ayah.

***

"Bapak, bapak juga mau saya foto ya di depan situ ya? Buat kenang-kenangan.. "


"Ah kamu, saya nih sudah tua, ngga butuh itu difoto-foto... Sini, kalian aja yang saya foto. Ini gimana pakai kameranya, tolong disettingkan dulu.." 

Bapak, akan saya rindukan percakapan itu, yang selalu terjadi setiap saat.


July 01, 2012

Mendamba Taman Kota



Mobil yang kami kendarai bergerak cepat menyusuri jalanan Singapura yang cukup padat sore itu. Pak Dean, driver kami, mengajak kami menuju salah satu destinasi wisata masyarakat lokal yang konon sangat terkenal. Sebelumnya kami sempat bingung dimana akan menghabiskan sore sebelum berlanjut ke acara malam hari. Dan ya, tidak banyak yang dilakukan di Singapura jika kita tidak berminat shopping atau sightseeing.

Dengan cekatan Pak Dean menembus jalanan Singapura yang nampak begitu menyenangkan: ruas jalan yang lebar dan dihiasi pohon-pohon rindang dan trotoar yang sangat bagus. Sore belumlah memerah ketika kami tiba di sebuah public area yang begitu saya impikan ada di Indonesia: East Coast Park. East Coast Park adalah sebuah taman kota terpadu yang menawarkan beragam aktivitas menarik yang begitu dekat dengan pusat kota. Ini bukan kali pertama kunjungan saya ke negeri singa, tetapi baru kali ini saya tahu ada taman kota sebagus ini!