June 05, 2012

Whale Shark di Laut Selatan

doc. KPN 2012
Kapal seberat 30 GT berwarna biru muda itu melaju perlahan menyusuri teluk Sadeng. Dermaga makin terlihat mengecil, terhimpit batuan karang raksasa di kanan-kiri. Sepuluh menit kemudian barulah nampak lansekap khas Gunungkidul yang menakjubkan; bukit-bukit karang gundul bertebing 90 derajat yang angkuh. Ombak ganas berkejaran dengan cepat dan akhirnya menabrak dinding tebing, menggerus lubang karang yang terus membesar. Saya duduk diam di dekat anjungan kapal, menatap lansekap tersebut tanpa berkedip atau mengatupkan mulut. Belum pernah sekalipun saya melihat Gunungkidul dari sisi yang lain.

Ombak cukup tenang ketika kami bergerak dari dermaga, tetapi tingkahnya makin menggila ketika kami tiba di laut selatan. Kata para kru kapal, cuaca hari ini baik dan ombak tidak terlalu besar. Konon katanya, ketika sedang musim ombak besar, bisa saja ombak setinggi 4 meter menerjang kapal dan air segera membanjiri dek. Saya merinding mendengarnya. Apa kabar mabuk laut kalau begitu keadaannya ya?

Ketika tebing-tebing karang itu sudah nampak seperti miniatur di kejauhan, kapal pun berhenti melaju. Nakhoda memberi perintah untuk mematikan mesin dan membiarkan kapal terombang-ambing di lautan.

"Hayooo, kita lihat ya, siapa yang nggak mabuk laut kali ini..." goda seorang kru kapal dengan tawa penuh arti. Kami berteriak penuh semangat, dan segera tingkah anak-anak makin menjadi. Ada yang berdiri angkuh di tiang anjungan menatap lautan luas seakan menjadi raja lautan, ada yang berpose seperti sedang berdiri di atas papan surfing (termasuk saya), ada yang tidur-tiduran di atas jala, atau tetap asyik makan snack bekal dari daratan.

Jujur, di tengah lautan dan terombang-ambing begitu, saat itulah pertama kalinya saya merasakan mabuk laut. Saya tidak merasa pusing, hanya saja perut saya seperti diaduk-aduk. Saya berhasil menghilangkan pusing dengan memandang tebing di kejauhan, tapi perasaan campur aduk di perut rasanya tidak dapat dibohongi.

Nakhoda kapal tetiba berteriak, "Ada yang mau nyebur nggak?"

Wajah-wajah tertarik nan penasaran segera muncul dari anjungan. Mereka adalah para lelaki gagah berani (hahaha bohong) yang ingin menjajal ganasnya ombak laut selatan. Didahului oleh para kru yang melompat pasti ke tengah lautan, kemudian panitia dan beberapa peserta lelaki menyusul untuk ikut berenang. Byur! Satu persatu tubuh itu segera merasakan dinginnya air biru samudra. Kami bersorak sorai menyemangati mereka yang sibuk menyeimbangkan diri agar kepala tetap berada di atas permukaan air. Akhirnya anak terakhir menyeburkan diri, ketika itulah seorang kru kapal di anjungan berteriak panik.

"Awaaas mas ada ikan mas!"

Ikan? Segera saya merapat ke pinggir kapal untuk melihat ikan apakah yang membuat si kru panik. Baru saja saya bertanya-tanya, tetiba seekor hiu berbadan totol-totol dengan panjang sekitar tiga meter menampakkan diri dari kedalaman lautan. Si anak yang menceburkan diri terakhir tadi hanya berjarak dua meter dari si ikan, dan diapun berenang panik ke arah kapal seperti anak-anak lainnya.

Whale shark. Kami lihat whale shark. Yang selama ini hanya saya lihat di Teroka. Yang konon muncul di Teluk Cenderawasih Papua. Sekarang ada di depan kami, muncul seakan ingin menyapa. Kami berteriak-teriak histeris, antara merasa sangat senang sekaligus panik akan nasib teman-teman kami di bawah sana. Benar-benar ndeso saat itu. Makhluk itu hanya keluar sesaat selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali menenggelamkan diri ke lautan biru. Saat itulah saya sadar, anak-anak yang tadi menceburkan diri sudah berpegangan erat pada ban dalam yang tergantung di sisi-sisi kapal. Kami pun tertawa terbahak-bahak mengingat kebodohan barusan.
 
doc. KPN 2012

 Cuma 'digodain' whale shark. Untung cuma whale shark. Untung whale sharknya diam, tidak membuka mulut dan menghisap. Atau menamparkan ekornya ke air. Atau menamparkan ekornya ke mereka. Hahaha.

Tetapi euforia bertemu whale shark itu tidak terlalu lama. Saya segera dilanda mabuk laut, tanpa pakai pusing saya langsung merasa begitu mual. Ternyata saya tidak sendirian, lima wanita yang ada di pelayaran tersebut juga mengalami hal yang sama: muntah di lautan. Seirama dengan tiap gelombang besar yang menerjang, saat itulah kami segera menyingkir ke pinggir dan melakukan ritual yang sama.

Saya terus muntah sampai isi perut terasa kosong. Padahal sebelumnya saat KKN, belum sekalipun saya mabuk laut! Padahal kapal yang dinaiki saat itu lebih kecil dan tanpa tenaga. Tapi ternyata ombak laut selatan lebih ganas. Ampun-ampunan, saat itu saya hanya terduduk lemas di pinggir kapal berharap kami segera tiba di daratan.

Saya ternyata masih jadi anak gunung rupanya :))

__________
Ini adalah cuplikan dokumentasi saat whale shark nongol. Didokumentasikan oleh Guntur dari KAKPN.

4 comments:

  1. ooo, kirain cuman ada di perairan papua doang, ternyata di laut selatan pun jadi habitatnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa saya baru tau kemarin juga mas :)

      Delete
  2. hehe akhirnya di posting juga, kemarin Andro sempat kasih tau juga kalo dia liat whale shark.. iya mereka juga lewat di Pantai Selatan, kadang juga lewat di perairan utara (Situbondo)..dan mereka ga gigit hihihi jadi tenang ajaaaa :D

    aah kangen laut!

    ReplyDelete
    Replies
    1. kangen laut? nyebuuur jii nyebuur! hehehe...

      makasih infonya yaa, aku kira whale shark di papua aja looh. ga gigit tapi kalo nyamplak pake ekor bisa ga ya?

      Delete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)