June 18, 2012

Ketika Mendaki

Puncak Triangulasi: Fajar - Kinkin - Adi - Dadid - Udin - Vijay - Gerry - Bintar

(ini bukan catatan perjalanan, hanya sepotong kisah yang paling saya ingat dan rekam di otak.)

Sejak kami tiba di basecamp Pak Parman jumat malam itu, belum satu jam pun saya memejamkan mata dan terlelap. Saat itu saya merasa terlalu sayang melewatkan sunrise cantik dari wilayah sabana I sehingga saya memilih untuk tetap terjaga dan berkeliaran di sekitar tenda. Pagi itu memang cerah sekali: langit tanpa awan, Merapi gagah menjulang, dan saya mendapatkan momen matahari terbit paling cantik tahun ini.

Kami sedang mendaki Merbabu setinggi 3142 mdpl yang dikenal sebagai gunung tujuh puncak via Selo. Benar sekali, trek pendakian gunung ini dihiasi dengan puncak-puncak bayangan yang memberikan harapan palsu. Sudah bahagia tiba di satu puncak, ternyata di baliknya ada puncak lain yang lebih tinggi dan curam. Tetapi di sisi lain, Merbabu menawarkan bentang alam yang begitu menawan. Dan tidak salah kami datang pada bulan Juni di saat cuaca senantiasa cerah dan perbukitan masih menghijau subur.

Keputusan saya untuk tidak beristirahat sama sekali itu tentu saja kemudian mempengaruhi perjalanan. Menjelang siang, tim kami terbagi dua dan saya menjadi satu-satunya wanita yang ikut perjalanan ke puncak. Sejak perjalanan dari basecamp Pak Parman pada jumat malam, dengan total waktu 12 jam kami sudah berhasil mencapai Puncak Triangulasi (dikurangi 4 jam waktu untuk nge-camp, makan, dan foto-foto jadi perjalanan ke basecamp - puncak sekitar 8 jam). Saat mendaki kondisi saya masih prima dan stamina senantiasa terjaga penuh. Di dini hari yang dingin itu saya berani tidak menggunakan jaket dan sarung tangan, celana pun hanya pakai jeans semi denim yang tipis. Entah mengapa ada semangat yang begitu menggebu sehingga menjadikan saya tidak peduli pada udara dingin yang menusuk.

Tetapi kemudian tubuh saya mulai berontak saat kami meninggalkan puncak untuk kembali ke basecamp. Ia marah karena tidak diperhatikan.

Perjalanan dari sabana II ke puncak cukup curam, begitupun saat perjalanan turun. Untuk saya, saat mendaki  lebih mudah daripada saat turun. Saya harus selalu siap menahan kaki dari gravitasi yang dapat membuat saya langsung menggelinding jika tidak hati-hati. Lutut dan jari-jari kaki mendapatkan tekanan berat untuk menahan tubuh. Sekali-kali saya harus berjongkok untuk bergelesotan di trek yang sangat curam dan licin. Kondisi trek tersebut rupanya membuat saya kelelahan dan kaki ini semakin sulit digunakan untuk berjalan. Apalagi saya tidak mempersiapkan diri dengan latihan fisik sebelumnya, sama sekali.

Dalam satu setengah jam, kami sudah tiba di sabana I tempat anak-anak yang lain menunggu. Saat itu saya sudah tidak lagi ceria seperti saat mendaki. Setelah selesai mengisi perut, kami langsung membereskan barang-barang, melipat tenda dan membersihkan peralatan masak. Satu jam kemudian kami sudah siap untuk perjalanan turun dan harus bergegas agar tidak tiba terlalu larut di basecamp. Para wanita berjalan ditemani satu orang laki-laki, berpasang-pasangan agar dapat saling membantu. Manis ya :)

Saat turun itulah, saya merasa sangat kepayahan dengan kondisi kaki yang mawut. Saya harus berjalan perlahan sembari menahan sakit setiap jari-jari kaki menahan beban tubuh dan carrier yang saya gendong. Bahkan beberapa kali saya lebih memilih berjalan menyamping atau mundur agar jari-jari kaki tidak tertekan oleh sepatu. Hal yang sama sebenarnya juga dialami teman-teman rombongan puncak sehingga beberapa dari kami memilih berjalan di belakang, hahaha. Barang bawaan yang berat, angin gunung yang berhembus kencang, kaki dan tangan yang sakit, wajah yang terbakar, kelelahan karena belum tidur sama sekali, itulah ujian yang harus dihadapi. Selama belum melewati batas kemampuan diri dan kaki masih mampu melangkah meski tertatih, saya belum ingin menyerah.

Saya mulai sedikit khawatir ketika senja menua dan matahari sudah terbenam di ufuk barat. Senter saya habis baterenya dan saya mengidap rabun senja! Hahaha. Transisi dari siang ke malam ini memang menjadi momok sejak dulu karena saya akan kesulitan melihat. Tetiba saya tidak dapat melihat jalan dengan baik dan perasaan panik mulai muncul seperti biasanya.

"Aku mau jalan pelan-pelan aja ya, mataku siwer jhe, haha.. " ujar saya sembari tertawa kepada teman-teman yang berjalan beriringan di belakang saya. Mereka menyetujuinya dan perjalanan pun dilanjutkan dengan saya yang berjalan lambat seperti orang buta. Seorang teman meminjamkan saya senter, tetapi belakangan lampu senter itu meredup dan mati di perjalanan sebelum pos I Dok Malang. Akhirnya saya berjalan dengan mengikuti jejak langkah teman yang di depan, menyusuri jalan setapak yang penuh akar menyembul dan lubang. Semakin lama saya makin kesulitan melihat, dan brak! Tulang kering kaki saya menabrak akar dengan keras. Agak kesakitan tetapi saya masih bisa berjalan beberapa meter dan dug! Kaki saya kembali tersandung akar, hahaha.

Yang kemudian bikin saya terharu, teman-teman ini langsung tanggap membantu saya. Meskipun mereka tahu saya sudah terbiasa mendaki dan punya stamina yang lumayan, saat saya kepayahan mereka tidak menyindir-nyindir atau membiarkan saya berjalan sendirian :') Seorang teman segera mendahului dan menyinari jalan saya dengan lampu senter yang dia bawa. Ia menemani saya berjalan, sementara teman-teman yang lain dengan sabar menunggu di belakang sembari tetap menyemangati. Sepanjang sisa perjalanan, ia tidak lelah mengingatkan saya akan adanya lubang, akar, atau apapun yang mengganggu. Jika trek sedikit curam atau licin, dengan sigap ia membantu saya agar dapat turun dengan selamat. Kami masih sempat bercanda dan tertawa-tawa agar perjalanan tidak terasa begitu berat. Sesaat saya merasa menjadi orang yang paling merepotkan. Hahaha.

Mereka teman-teman tangguh yang super menyenangkan. Kalau boleh jujur, orang-orang seperti mereka adalah teman ideal saya untuk mendaki gunung. Kemarin sangat terasa bagaimana kami dapat saling menguatkan. Lucunya, para lelaki ini sangat gengsi untuk mengeluh. Tidak sekalipun kata-kata keluhan saya dengar dari mulut mereka, padahal jelas bawaan mereka berkali-kali lebih berat. Masih sempat pula membuat guyonan-guyonan yang membuat kami sampai kesulitan berjalan saking seringnya tertawa. Mereka tidak mau kalah dengan kami para wanita yang bisa berjalan cukup cepat. Saya baru mengetahuinya di akhir perjalanan saat mereka curhat.

'Sakjane mau aku kesel banget lo cuuk, tapi ra gelem ngomong, isin e nek njaluk break. Makane pas sing wedok njaluk break aku sing bengok paling kenceng. Hahaha..' (sebenarnya tadi aku capek banget lo, tapi gamau bilang. Malu kalo minta break. Makanya pas yang cewe minta break aku teriak paling kenceng. Hahaha)

Keempat teman wanita saya pun tidak kalah tangguhnya. Beberapa dari mereka bahkan baru pertama kali mendaki gunung, tetapi mereka tetap berusaha untuk terus mendaki dan mengalahkan ego sendiri. Pencapaian di sabana I adalah sangat hebat dan kerennya lagi mereka tidak sekalipun mengeluh atau marah-marah karena jauh dari kenyamanan dan harus menggigil kedinginan. Salut buat kalian, Gelgel, Gita, Vita, dan Dhanik! :)

fun and fearless :))
Satu hari satu malam di Merbabu. Di sinilah saya semakin percaya bahwa kunci sebuah perjalanan bukanlah kemana kita berjalan, tetapi dengan siapa kita berjalan.


Terima kasih atas pengalaman indah ini teman-teman. Seriously, naik gunung itu adiktif. Merbabu adalah puncak pertama yang saya capai, dan saya berharap akan ada puncak-puncak lain yang dapat direngkuh. Bukan untuk menjadi sombong, tetapi sebaliknya. Rasa syukur tak henti mengalir ketika kita berada di alam. Kita tidak ada apa-apanya, subhanallah.

Ayo, naik gunung lagi! :)

P.S: Dokumentasi perjalanan kami dapat dilihat di album saya, Gerry, dan  Gelgel.

9 comments:

  1. keintiman tu semakin kerasa kalo susah bareng2 kin. aku tau anak2 TI tu menyenangkan tapi baru lebih kerasa ketika susah bareng-bareng.

    Pas mendaki, aku mikir "mikir2 lagi jugak si kalo mau naik gunung lagi"
    tapi begitu sampe rumah ternyata mau lagi kalo ada kesempatan. haha

    asik ya, aku juga suka trip kemaren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah, that's the point gel! baru skrg aku nemu segerombolan anak yang bisa-bisanya punya ke-solid-an seoke ini.
      makasih ya udah infoin trip ini haha aku jadi dapet temen jalan baru yang asik-asik nih :D

      mau gel? juli tengah insya allah semeru. sama udin gerry :D

      Delete
  2. dan ketika ada seorang lelaki yang (berani) berkeluh kesah padamu, sesungguhnya dia telah (cukup) berani utk menunjukkan kekurangannya, karena bisa jadi ia menganggapmu spesial utknya dan tak takut untuk menunjukkan segala kekurangannya. #seperti seorang lelaki gagah yang berkeluh dimalam hari pada istrinya atau pada ibunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan lelaki yang menganggap seorang perempuan spesial akan berusaha menjadi sosok yang kuat dan bisa menguatkan si perempuan. bukannya mengeluh. dan lihat dulu konteksnya mas/mbak. mengeluh soal apa? di konteks ini di alam bebas, dimana saling menguatkan adalah hal yang penting untuk membuat tim tetap solid. mengeluh ga menyelesaikan masalah.
      kecuali yg mas/mba maksud adalah mengeluh soal kerjaan atau kebimbangan hidup, misalnya. nah itu saya baru setuju. si lelaku pasti menganggap perempuannya spesial kl mengeluh masalah2 personal yg hanya diceritakan ke org2 terdekat.
      kalo untuk konteks di atas, ya pikiran saya justru sebaliknya. si lelaki tidak menganggap perempuan itu spesial sehingga tidak berusaha menjadi kuat.

      apalagi kalo dibandingkan dg hubungan antara lelaki gagah yg mengeluh pada istri/ibunya. mereka pasti cenderung maklum krn sudah tahu seluruh detil si lelaki. mereka adalah orang2 yg 'menerima si lelaki apa adanya'.

      maaf kalo ada salah kata :)

      Delete
    2. mengeluh (atau menunjukkan kekurangan) manusiawi buat laki-laki atau perempuan. Selama mengeluhnya dalam batas toleransi, ga berlebihan dan si pengeluh masih mengusahakan yang terbaik. ya ga? cheers :)

      Delete
  3. Saya rasa anda salah menangkap dengan yang saya maksud. keluhan ya keluhan artinya menunjukkan kekurangan. dan saya hanya menghargai orang yang apa adanya. itu saja. komen saya cukup jelas, lelaki yang bisa bersikap apa adanya, menunjukkan kelemahan di depan orang yang dicintainya saya rasa patut dihargai, karena seperti kata anda, bisa jadi lelaki itu telah sangat percaya pada perempuan yang dicintainya. (itu dari sudut pandang saya).
    Ada beberapa posting anda yang sempat saya baca, misal tentang impian anda kepada suami masa depan. dulu ketika saya seumuran anda, mimpi saya persis seperti itu, lebih bagus mungkin. menginginkan pernikahan yang sederhana, unik, intim, dan berkesan tapi ternyata boro-boro sederhana, tak kurang dari 2000 tamu undangan membludak di gedung pernikahan saya, anda tau sungguh saya tidak pernah kecewa karena impian pernikahan saya tak terwujud. saya sangat bersyukur dan bahagia bahwa ternyata betapa banyak orang-orang yang mencintai dan ingin ikut berbahagia di hari pernikahan saya.
    Impian saya memiliki rumah masa depan yang unik,asri, sejuk, dengan halaman hijau membentang luas, dan anak-anak bebas bermain di sana. faktanya, kini saya memiliki rumah yang jauh dari impian. Rumah saya di pinggir jalan besar, halamannya telah menjadi beton semua, menanam bunga hanya bisa di pot saja. jauh dari impian, tapi sungguh saya sangat bahagia. Karena di sini saya tidak pernah merasa kesepian, setiap jam orang-orang mengunjungi, banyak bertegur sapa dengan mereka yang hilir mudik, kerabat tak sungkan datang, karena rumah kami mudah ditemukan. Dan sungguh saya sangat bahagia dengan hingar bingar ini :).
    Ketika dulu masih pacaran, saya dan suami memimpikan mobil double cabin. Setelah menikah mobil Strada nya ada dan lucunya tetap terparkir di garasi, karena ternyata kita lebih nyaman menaiki mobil versi family. bawa strada seminggu sekali saja, terlalu besar, ribet parkir, jalan macet, dan boros :D
    bersyukur saya mencintai buku, walau tidak memiliki ruangan khusus perpustakaan tapi saya punya rak buku yang besaaaaaaarrr sekali. di situlah buku-buku kesukaan saya tertata cantik. dan itu sudah cukup saya rasa.
    Kesimpulannya,
    bahwa ternyata kadang hidup tidak sesuai dengan impian. Bahwa hidup tidak sesempurna impian. Bahwa lelaki impian tidak sesuai harapan. nikmati saja, bersyukur saja, lihat dari sisi hebat lain dari dirinya. ketika kau sudah bisa menerima kekurangan dari pasangan, mungkin saat itu baru kau akan menemukan cinta sejati.
    (panjaaaang yaaa... maaf :D)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mba anonymous, waah saya terharu mba mau mampir kembali dan memberikan komen sepanjang ini hehe :)

      kalo boleh dibilang, level saya dan mba udah beda nih :) saya masih tahap mimpi indah, mba sudah bangun tidur dan mewujudkan mimpinya. terima kasih banyak ya mba sudah mengingatkan saya, bahwa hidup tidak selalu sesuai impian. saya sudah merasakannya kok sejak kecil mba, tapi apa salahnya bermimpi. apa yang saya capai sekarang, juga dimulai dengan mimpi. masalah tidak sesuai kenyataan, ya memang gitulah hidup. saya justru bingung dengan orang2 yang sibuk mengomentari mimpi orang lain.

      salam :)

      Delete
  4. ckckck, kalo naik gunung istirahat yang cukup atuuhhh nenngg. Beruntung gak terjadi apa-apa..Kasian kamu, apalagi temen-temenmu. Walapun masih ketawa-tawa tapi pasti mereka was-was..

    btw mana foto sunrise-nya ini? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya wir, ini pelajaran banget buat aku. pertama kalinya naik gunung sebrutal ini hahaha. satu lagi pelajaran, perbanyak latian fisik!
      itu kami yang 8 orang jalan di belakang, ndak ado yang tidur haha.

      foto sunrise nya masih disimpen :)

      Delete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)