May 26, 2012

Mendaki Pananjakan : Sebuah Catatan Perjalanan



Siapa yang tidak setuju kalau Gunung Bromo adalah salah satu objek wisata alam yang paling populer di tanah Jawa. Bahkan Bromo masuk ke dalam daftar top picks di website Lonely Planet yang jadi bible para traveler itu. Perpaduan lansekapnya yang sangat indah, legenda masyarakat dan sejarah suku Tengger yang menarik, upacara Kasodo yang sakral, serta gunung apinya sendiri yang masih aktif saat ini, menjadi magnet besar yang membuat traveler dari seluruh dunia berbondong-bondong datang. Thanks to the internet, saat ini sangat mudah menemukan panduan how to get there, akomodasi, hingga hal-hal menarik yang bisa dinikmati backpacker kere kece hingga tuan tanah yang tidak tahu harus menghabiskan uangnya dimana.

Sebenarnya saya sudah sejak lama ingin sekali mengunjungi Bromo. Tetapi kepopuleran Bromo sebagai destinasi sejuta umat rupanya telah membuat biaya akomodasi di sana melonjak tajam. Setiap bertanya kepada teman atau membaca referensi di internet, saya mendapatkan jawaban jika ingin hidup sedikit layak di Bromo maka kita harus membayar agak mahal.

May 19, 2012

Semangat dari Matahari Terbenam




Hidup adalah berproses. Akan ada saat-saat kita gagal menjalani sesuatu, entah itu pekerjaan, mimpi, bahkan hubungan cinta. Terpuruk dan mengasihani diri sendiri terlalu lama akan merugikan dan tidak menghasilkan apapun. Sudah seharusnya ketika kita berada di bawah, maka akan berjuang lagi untuk bisa mencapai titik atas sehingga kita bisa kembali tersenyum bahagia. Karena itulah, buat saya yang namanya move on itu adalah sesuatu yang klise, bukan hal istimewa yang harus dilakukan dengan berat hati. Namanya juga proses kita menjadi manusia yang lebih dewasa, dibalik semua kegagalan itu tentu ada pelajaran.

May 17, 2012

[VIDEO] Travelmates | A Journey To Bromo



Sepulang magang pada akhir April lalu, saya sudah merencanakan perjalanan singkat bersama seorang travelblogger ke Bromo, Jawa Timur. Rencananya kami akan pergi ke Bromo lalu melanjutkan ke Surabaya, dan mungkin akan ke Ijen juga. Tetapi karena padatnya jadwal, akhirnya kami memutuskan hanya berangkat ke Bromo.

Ceritanya menjadi seru ketika kami sudah hampir putus asa menunggu selama sepuluh jam di sebuah pangkalan bison yang akan mengangkut kami ke Desa Cemorolawang. Ketika itu datanglah empat traveler asing: dua turis Eropa dan dua turis Asia. Selanjutnya kami mengenal dua pasang turis itu sebagai Rhasa dan Arthuras dari Lithuania serta Aoi dan Ex dari Thailand. Beberapa saat kemudian datang pula seorang traveler wanita yang sendirian memanggul tas ranselnya, Sera dari Kalimantan.

Pada akhirnya kami bertujuh sepakat menjadi teman seperjalanan ke Bromo. Dan satu hal yang sama-sama kami setujui untuk dilakukan di sana: mendaki dari Cemorolawang ke Penanjakan I sejauh 22 kilometer demi melihat sunrise Bromo yang tersohor itu. Demi kemurahan biaya dan pengalaman langka. Dan segera, kami menjadi teman seperjalanan yang akrab. Duo Lithuania yang kalem dan jalannya super cepat, Sera yang heboh dan tidak pernah berhenti bicara (saya gatau dia ada berapa batere cadangannya haha), Aoi yang super lucu dan manis, Ex yang murah senyum dan mukanya mirip orang Jawa, serta Adit yang cool padahal sebenarnya kepayahan mendaki Penanjakan *disambit sama Adit*

Video ini hanyalah berupa kolase, tidak ada alur cerita eksplisit yang saya buat. Benar-benar menjadi dokumentasi perjalanan emosional *eh* yang membuat saya tidak pernah bosan memandangi foto-foto kami di Bromo atau memutar ulang video ini. Pertama kalinya pula saya mengedit video footage dari hasil rekaman Sony Nex 5 yang selalu menemani saya melakukan perjalanan. Sensor CMOSnya berpengaruh pada hasil rekaman yang sedikit 'patah-patah' dan tidak ada stabilizer pada kamera padahal saya tremor parah. Yah, pada akhirnya saya sangat puas, karena saya ternyata mampu mulai dari merekam, mengedit, hingga finalisasi saya lakukan sendiri. Ini merupakan video ketiga yang saya buat dan sepertinya, memang saya lebih nyaman bekerja sendirian. Hahaha *ngaku*

Cerita lengkap dan foto-foto perjalanan saya ke Bromo akan saya ceritakan di posting selanjutnya. Tunggu ya!

May 07, 2012

Ketika Waisak Penuh Sesak

 

Di bulan Mei yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau ini, Jogjakarta masih saja diguyur hujan. Mungkin ini sisa-sisa rintik hujan bulan April yang belum selesai. Begitupun pada hari Minggu kemarin, saya dengan tenaga yang menipis setelah lava tour di Kaliadem, berangkat menembus hujan yang benar-benar menyakitkan. Menuju kosan Debbie yang sebenarnya hanya berjarak 1 kilometer dari rumah saya, tetapi rintik hujan yang besar menghujam kulit membuat saya harus mengendarai motor perlahan.

Kami akan berangkat ke kompleks candi Borobudur. Menyaksikan Perayaan Trisuci Waisak 2556 BE yang sudah saya tunggu-tunggu sejak setahun sebelumnya. Sebentar, menyaksikan? Hmm saya rasa ini bukanlah pemilihan diksi yang tepat. Tapi memang itulah yang ingin kami lakukan di sana.

Seorang sahabat pernah mengatakan bahwa ia tidak tertarik menonton Waisak. "Buat apa nontonin orang lagi ibadah? Itu kayak kita lagi sholat...tunggu, lagi haji... terus kita ditontonin orang gitu."

Saya mengangguk perlahan. Jauh di dalam lubuk hati, saya mengiyakan pernyataannya yang sekilas begitu apatis tersebut. Saya setuju bukan tanpa alasan. Kira-kira sebulan sebelumnya, saya pernah mengunjungi rumah seorang Buddhis di kaki gunung Merbabu. Di situ kami banyak berbincang dan sedikit banyak saya tahu makna perayaan Waisak. Tidak perlu saya ceritakan di sini ya, ada banyak sekali referensi di internet yang lebih terpercaya daripada celotehan saya :)

Di akhir pembicaraan, saya menanyakan apakah beliau akan datang ke Borobudur bersama umat Buddha di desa tersebut. Saya terhenyak mendengar jawabannya.

"Saya tahun lalu tidak datang ke Waisak. Besok tidak tahu. Borobudur kalau Waisak itu ramai sekali. Saya nggak pernah bisa khusyuk berdoa dan meditasi kalo di Borobudur."

Dan ternyata benar, ia lebih memilih untuk berdoa bersama sebagian umat di sebuah vihara sederhana di dekat rumahnya.

***
Hujan masih mengguyur bumi Magelang ketika kami tiba di pelataran parkir candi Borobudur. Saya cukup lega, parkiran mobil tidak penuh. Mungkin banyak pengunjung yang sudah pulang atau justru malas datang karena hujan sesiangan ini, deras pula. Perbukitan di sekeliling Borobudur yang biasanya nampak menaungi ketika langit cerah, siang itu tidak terlihat sama sekali. Kami dikelilingi kabut yang semakin membuat udara siang itu semakin dingin.

Sampai di dalam, telah bertebaran tenda-tenda putih milik umat Buddha yang tengah merayakan Waisak. Umat terbagi dalam beberapa aliran, yang saya tahu adalah Mahayana dan Theravada, sehingga prosesi doa pun berbeda-beda tergantung pada aliran yang dianut. Pengunjung bercampur dengan umat, jalan setapak menuju pelataran candi penuh sesak. Penjual jas hujan lima ribuan dan persewaan payung laris manis, jalanan dipenuhi manusia berbungkus plastik berwarna-warni yang berjalan mengikuti arus menuju candi.

Di tengah perjalanan, saya mampir ke sebuah tenda yang memiliki panggung kecil dengan altar yang begitu menarik perhatian. Ada biksu-biksu yang duduk berbaris di depan altar mengucap doa diikuti ratusan umat yang duduk berteduh di bawah tenda. Ketika saya mendekati altar untuk sekedar mendengarkan doa-doa yang para biksu tersebut lafalkan, seorang wanita berjilbab dengan cepatnya merangsek ke depan saya, maju tanpa permisi memotret para biksu, dengan lampu flash! Saya langsung naik darah karena si mbak berjilbab memotret tanpa tahu unggah-ungguhnya. Bukan, bukan karena dia seenaknya membalap saya, tapi karena bagaimanapun juga itu adalah sebuah perayaan suci agama. Sembarangan memotret dan menganggu prosesi adalah salah satu bentuk intoleransi terhadap umat lain bukan? 

Seketika saya melepas pandangan ke seluruh tenda. Rupanya cukup banyak 'wartawan dadakan' yang bersikap seperti mbak satu tadi. Menganggap umat dan para biksu yang tengah melangsungkan prosesi sebagai sebuah objek foto mati semata. Ayolah, dengan anda membawa kamera, bukan berarti anda bisa seenaknya melewati batas privasi orang lain. Siapa yang tidak terganggu ketika moncong kamera begitu dekat dengan wajahnya, memotret tanpa minta izin, dan meninggalkan begitu saja tanpa mengucap terima kasih atau sekedar menyapa.

Sebenarnya, saat berangkat pun saya punya niatan untuk mendokumentasikan perayaan Trisuci Waisak. Ingin memperlihatkan bagaimana umat dan pengunjung benar-benar larut dalam perayaan tersebut dan memposisikannya sebagai sebuah acara yang begitu ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Tetapi rupanya mimpi tidak sama dengan kenyataan. Memang daya tarik perayaan Waisak yang dilangsungkan di Borobudur itu begitu besaaaar. Tapi juga benar kata Buddhis di kaki gunung yang saya wawancarai, bagaimana bisa mendapatkan kekhusyukan berdoa di tengah ramainya pengunjung dan banyaknya fotografer yang memotret tanpa mau ketinggalan momen? 

Saya, pun ribuan pengunjung lain, mungkin memang memiliki rasa penasaran yang sama tentang bagaimana perayaan Waisak itu dilangsungkan. Tetapi tidak semua pengunjung kemudian memiliki rasa hormat dan tetap respek terhadap para umat yang memang benar-benar ingin berdoa dan merayakan Waisak dengan penuh khidmat. Dan toleransi umat beragama tersebut bisa kita tunjukkan dari hal-hal sederhana, misalkan tidak berisik atau membuat gaduh di tenda ketika umat sedang berdoa, tidak menghalangi jalan umat yang akan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tidak seenaknya memotret biksu-biksu yang sedang meditasi tanpa unggah-ungguh yang benar, tidak merokok di area candi (banyak sekali yang melakukan ini!) dan hal yang paling kecil yang sering dilupakan: ikut menjaga kebersihan area perayaan dengan tidak membuang sampah sembarangan. 

Bahkan saat menunggu pradhakshina (biksu dan umat mengelilingi candi Borobudur sebanyak tiga kali), ada saja fotografer yang tidak hanya kurang menghormati umat, tetapi juga sesama fotografer dan pengunjung lain. Entah untuk keberapa kalinya, seorang wanita dengan kamera DSLR dan lensa telenya, memposisikan diri di depan kami, yang dari setengah jam sebelumnya sudah ngetag posisi nyaman duduk di atas rumput di barisan terdepan untuk menyaksikan pradhaksina. Tanpa ucapan maaf atau sekedar meminta izin, ia berdiri memantati kami dan membuat saya kehilangan mood untuk melihat pradhaksina.

Pada akhirnya saya lebih tertarik mendokumentasikan tingkah teman-teman saya yang begitu bahagia berada di tengah area candi Borobudur yang memang selalu mempesona. Beruntunglah, momen terakhir ketika kami menerbangkan ratusan lampion ke langit Borobudur, dengan latar belakang purnama dan stupa Borobudur yang bersinar, mampu mengembalikan mood saya. Tetapi secara keseluruhan, saya sangat menikmati prosesi Waisak ini karena saya mendapatkan banyak sekali hal-hal baru yang memperkaya.

Semua orang bisa menjadi turis. Tetapi tidak semua orang bisa menjadi turis yang bermoral dan berperilaku baik :)