April 24, 2012

Street Busker

Teman, boleh saya bercerita tentang kejadian kecil yang menyenangkan di sore ini?

Boleh? Asik.

Sore ini, saya pulang lebih terlambat dari biasanya. Sudah lama saya tidak berjalan pulang ke kosan ketika langit sudah gelap dan lampu-lampu gedung perkantoran mulai menyala. Seperti biasa, saya berjalan dengan bahu yang lunglai, dengan sepatu yang diinjak bagian belakangnya - kalo ketahuan manajer saya bisa dimarahin karena ga sesuai safety code - saya berjalan pelan menyusuri trotoar Rasuna.

Wanita yang keadaan hormonalnya tidak stabil memang perasaannya jadi sulit diprediksi, bahkan oleh si wanita itu sendiri. Saya, dengan perasaan yang campur aduk karena sedang PMS, akhirnya sampai di jembatan penyeberangan. Dari ujung jembatan, tatapan saya bertumbuk ke ujung jembatan yang lain. Kemudian saya mempercepat langkah agar bisa segera sampai ke sana.

Di ujung sana, berdiri seorang pengamen. Tapi bukan pengamen yang biasa bertebaran di jalanan Jakarta, yang hobi sekali bicara panjang lebar tetapi ketika menyanyi suaranya menyedihkan. Pengamen satu ini mengenakan jas hitam dan celana jeans yang lusuh sementara rambut gimbalnya yang panjang diikat jadi satu ke belakang. Di tubuhnya bersandar sebuah cello. Wajahnya nampak kotor, tetapi saya memperhatikan sejak dari jauh bagaimana ia dengan sangat telaten membersihkan alat gesek untuk cello-nya.

Ini adalah pengamen yang pernah saya temui beberapa minggu lalu, di sebuah jembatan penyeberangan di daerah Benhil. Saat itu, saya dan seorang teman hanya berdiri di depannya, mendengarkan tanpa memberikan sepeserpun. Saya melihat saat itu, wajahnya nampak kecewa ketika kami menjauh begitu saja.

Kemudian kami bertemu lagi di sini. Spontan, saya keluarkan dompet dan saya ambil lembaran uang terakhir di dalamnya. Meremasnya menjadi gumpalan dan segera menyisipkannya ke dalam softcase cello yang ia gunakan sebagai tempat uang.

"Mas, mainin satu lagu buat saya dong."

Dia tertawa kecil, nampak kaget karena ia belum mulai main satu lagu pun. "Mbaknya suka musik juga ya?"

"Hahaha, biasa aja mas. Satu lagu ya."

"Sebentar mbak!" bergegas ia menyelesaikan pembersihan alat geseknya tersebut dan bersiap memainkan sebuah lagu.

"Nggak ada foto ya mbak.." ujarnya dengan sopan ketika saya mengeluarkan handphone. Dia kira saya akan memotretnya.

Kemudian saya bergeser ke sebelahnya. Segera, satu lagu klasik mengalun dari cello yang ia gesek. Lagu sendu yang manis, entah apa judulnya. Saya segera menyenderkan tubuh di pagar jembatan penyeberangan, membiarkan suara-suara klakson mobil berkepanjangan berpadu dengan suara cello yang ia mainkan.

Sesaat saya memejamkan mata, tanpa mempedulikan orang-orang yang lewat dengan tatapan heran. Kemudian saya berbalik melihat kemacetan Rasuna di bawah sana sembari tetap mendengarkan gesekan cello-nya. Perasaan saya yang tadi campur aduk segera membaik, ini rasanya seperti ada lelaki yang memperhatikan kamu dan memainkan musik agar kamu tidak ngambek lagi. Hahahahaha.

Satu lagu kemudian selesai ia mainkan, saya pun pamit pulang. Berjalan begitu cepat dan masih bisa mendengar sayup suaranya mengucap terima kasih di belakang saya.

Justru saya yang harus berterima kasih :)

April 02, 2012

Kucari Pantai



Penat di kos-kosan dan pusing kerjaan, memutuskan untuk keluar pada akhir pekan.
Saya merindukan pantai kemudian beranjak ke Ancol, mencari harum laut dan gesekan pasir putih di sela- sela jemari kaki.
Tapi yang saya temukan hanya sepetak pasir putih di antara jalanan beton yang dipadati mobil pengunjung.
Langit gelap mencekam dan angin mulai menghembus kencang membawa butiran air hujan.
Salahkah jika saya merindukan luasnya dataran pasir di Pantai Parangtritis dan air laut yang harum asin?