March 25, 2012

Before Sunset

 

 








 

 


Great friends, great weather, great place: Jogjakarta :)
Sekali-kali narsis boleh lah yaa...


March 23, 2012

Perfect Moment


I kind of see this all love as this, escape for two people who don't know how to be alone. People always talk about how love is this totally unselfish, giving thing, but if you think about it, there's nothing more selfish. 

- Before Sunrise

Semalaman saya berdiskusi cukup menyenangkan dengan salah satu sahabat terbaik saya, Stephanie, di tempat yang belum pernah kami duga: gerbong kereta ekonomi. Di saat para pembuat keramaian di kursi seberang sudah tertidur dan malam kami ditemani dengkuran teratur seorang bapak di sebelah saya, saat itulah saya dan dia justru terbangun dan tidak bisa memejamkan mata lagi. Kami tidak terbiasa tertidur sebelum pukul 12 malam sementara Yusrina sudah tumbang sedari awal perjalanan.

Cukup sering saya dan dia terlibat pembicaraan absurd yang terkadang menjadi berat, entah bagaimana kami bisa menghabiskan berjam-jam membahas masa depan, asmara, bahkan membicarakan orang. Dengan cara yang berbeda, kami tiba-tiba menjadi begitu feminis dan (sok) bijaksana menanggapi satu persatu topik yang meluncur begitu saja. Dengan posisi kursi yang berhadap-hadapan, kami puas mengobrol dan dia bisa mem-bully saya yang kadang-kadang salah tingkah jika topiknya agak menyentil masalah hati.

Tiba-tiba Stephanie meluncurkan kalimat yang menurut saya absurd.

" Kin, kamu mesti nyobain. Kayak kita sekarang ini. Duduk berdua di kereta, berhadap-hadapan sama cowok kamu. Terus sepanjang perjalanan kalian ngobrol, kamu bebas natap mata dia. Kalo bosen, tinggal tidur! Hahaha..." celetuk dia tiba-tiba sembari tertawa puas dan menyipitkan matanya yang sudah sipit.

"Jangan sebelahan, nanti kamu nggak bisa liat dia ngomong..."

Celakanya, apa yang diucapkan Stephanie tersebut persis sekali dengan bayangan akan momen impian saya. Seketika teringat pada sebuah film jadul berjudul Before Sunrise, yang memiliki adegan-adegan utama sangat mirip dengan apa yang kami pikirkan saat itu. Seorang lelaki Amerika bertemu seorang perempuan Prancis di sebuah kereta. Mereka tidak saling mengenal tetapi obrolan di mengalir begitu saja, seketika mereka klik satu sama lain. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk berlibur bersama ke Wina, dan lanjutan kisahnya tidak perlu saya ungkapkan di sini. Film Before Sunrise memiliki sekuel yaitu Before Sunset yang keluar tahun 2004 dan saya belum nonton yang ini. Hahaha :)

Snapshot adegan utama di kereta dalam Before Sunrise di atas memang tidak dapat disamakan dengan kondisi di Indonesia ya. Tetapi feel-nya tetap sama, seperti yang saya pernah katakan di posting beberapa minggu lalu: selalu ada romansa di gerbong kereta ekonomi. Di antara kursi-kursi tegak lurus dan lutut yang saling berbenturan.

Dan yang paling penting momen impian saya bisa menjadi kenyataan.


selalu ada romansa di kereta ekonomi, percaya kan? :)

March 16, 2012

Bumi Halmahera: Penyelaman Perdana di Sulamadaha

Tiga jam perjalanan melintas Trans Halmahera ditambah setengah jam perjalanan laut dengan speedboat tidak mengurangi semangat kami untuk menyelam di perairan Ternate siang ini. Turun di Pelabuhan Bastiong, kami berduabelas segera berjalan kaki melewati pasar dan pusat kota Ternate, menuju markas Nasijaha Diving Center yang merupakan satu-satunya dive operator di Maluku Utara.
Saya belum pernah sekalipun snorkeling ataupun diving. Saya jarang main di pantai. Tetapi kapan lagi coba bisa punya pengalaman menyelam di salah satu kawasan coral triangle dunia. Deg deg serr hati ini ketika mengisi form penyelaman dan menyerahkannya ke Kang Adit, divemaster yang menemani penyelaman. Ada dua jenis penyelaman yang kami lakukan siang ini. Teman-teman yang sudah punya lisensi mengambil paket fun diving, sementara saya dan beberapa anak lain mengambil paket discovery diving, semacam kelas perkenalan selam dan mendapat bonus berkeliling Sulamadaha. Sementara, beberapa anak lain memilih paket snorkeling.

Pukul sebelas kami tiba di Sulamadaha. Salah satu pantai paling terkenal di Ternate ini memiliki pemandangan yang ciamik, berarus tenang dan aman untuk berenang, tetapi dasarnya dipenuhi koral cantik! Saya langsung menahan napas ketika pemandangan ajib ini menyembul begitu saja dari balik bukit yang tengah kami daki. Lautnya jernih dan berwarna biru toska dikelilingi perbukitan rendah yang hijau. Nampak di kejauhan, Pulau Hiri dan Pulau Tidore yang gagah kebiruan.

Pulau Hiri
our swimming pool :)

Setelah puas menikmati pisang mulut bebek dicocol sambal dabu-dabu di sebuah warung tepi pantai, kami melanjutkan perjalanan ke The Holl, spot menyelam pilihan Kang Adit. Holl merupakan sebutan orang Melayu untuk semenanjung. Konon, di tepi The Holl terdapat air panas yang keluar dan menghangatkan perairan sekitarnya sehingga bulu babi banyak berdiam di sana.

Perahu yang membawa peralatan selam datang bersamaan dengan turunnya kami ke pantai. Segeralah kami berebutan mengambil peralatan favorit dan saya sempat tarik-tarikan wetsuit karena hanya ada satu yang ukurannya kecil! Hahaha. Setelah berganti dengan wetsuit dan memakai sepatu, kami membagi diri menjadi dua kelompok. Saya mendapatkan kesempatan mencoba diving di sesi pertama. Untuk menghemat biaya, kami saling berbagi peralatan sehingga sesi materi ini dibagi menjadi dua. Si Akang dengan sigap membantu kami memakai peralatan dan mengajari seluk beluk penyelaman tingkat super dasar. Mulai dari perkenalan alat, simbol-simbol yang digunakan penyelam untuk berkomunikasi, cara pasang-lepas dan bersihkan regulator, sampai bagaimana menyeimbangkan tubuh (buoyancy) di dalam air. Kang Adit pun selalu mewanti-wanti kami untuk bernapas dengan normal di dalam air dan tidak menahan napas ketika akan naik ke permukaan. Secara umum, caranya mengajar sangat asik dan tidak terasa hampir dua jam dihabiskan untuk materi dasar ini!

Kang Adit sepertinya terhibur memperhatikan tingkah kami yang masih polos. Saya tidak bisa menegakkan tubuh karena pemberat yang terlalu banyak, teman kami tersandung fin-nya sendiri saat berjalan, ada yang keasikan mainan regulator sementara yang lain justru tidak terbiasa untuk bernapas dengan mulut menggunakan regulator. Tetapi, besarnya semangat dan ketertarikan kami pada kegiatan ini membuat Kang Adit cukup kewalahan. Di akhir sesi, ia memberikan kami tes kecil untuk menguji penyerapan ilmu tadi. Kami diminta untuk mengisi ruang kosong pada masker dengan air, kemudian di dalam laut pula kami harus mengeluarkan air yang masuk ke masker tersebut dengan cara yang telah diajarkannya tadi. 

berasa di tepi kolam renang




hayo coba bedakan mana yang penyelam beneran dan gadungan? :))

Perairan di The Holl tidak terlalu luas, tetapi semakin sore semakin dipenuhi manusia. Puluhan orang berenang-renang menyeberang dari ujung satu ke ujung lainnya dengan peralatan snorkel atau cukup mengapung dengan ban dalam. Perahu-perahu kecil berpenumpang dua orang berseliweran siap menyeruduk perenang yang tidak waspada. Saya sendiri hanya bisa mengayuh fin sejauh 10 meter sebelum akhirnya kepala saya menabrak kaki seseorang :(

Akhirnya tiba giliran saya untuk menyelam ke tengah perairan. Ketika diajak Kang Adit untuk menyelam dan menyeimbangkan tubuh, saya masih bisa menyesuaikan. Tapi lama-lama saya ternyata ga bisa turun! Buoyancy saya buruk dan ternyata pemberat yang tadi dilepas dari tubuh saya terlalu banyak sehingga saya jadi terlalu ringan di air. Kemudian Kang Adit mengajak saya untuk menyelam lebih dalam, dan tiba-tiba kuping saya sakit banget. Saya melakukan apa yang dikatakan Kang Adit di atas tadi, meniup udara lewat mulut untuk menghilangkan rasa sakit di telinga tapi masih gabisa juga. Menyerah pada rasa sakit, saya panik, lalu segera memberikan tanda ada masalah di telinga saya dan saya minta Kang Adit membawa saya naik. 

Saya agak menyesal tidak bisa seperti teman-teman lain yang berhasil 'turun' ke dasar laut. Tetapi Kang Adit mengapresiasi tindakan saya tadi. Belajar diving tidak boleh dipaksakan jika kondisinya tidak fit, karena bagaimanapun juga, diving adalah olahraga dengan risiko sangat tinggi. Daripada memaksakan turun kemudian telinga malah berdarah karena tekanan yang terlalu tinggi, lebih baik naik sebelum terlanjur kan hehehe *membela diri*


(copyright Nasijaha)
(copyright Nasijaha)
Tidak ingin menyiakan sore yang indah di tepi The Holl, saya pun mengajak Kak Anto dan beberapa teman lain untuk snorkeling dari ujung ke ujung. Saat itulah saya melihat betapa cantiknya koral-koral yang ada di tengah perairan Sulamadaha. Visibilitynya cukup baik dan masih banyak karang berwarna-warni dan ikan berseliweran di tengah karang lain yang memutih karena sudah rusak. Satu hal yang membuat saya sedih, orang-orang yang berwisata di Sulamadaha ini seenaknya berhenti di tengah dan menginjak karang sebagai tempat berpijak :(

Satu lagi kejutan Sulamadaha, ketika saya mendongak ke sebelah timur, ternyata puncak Gunung Gamalama menjulang begitu indahnya di balik perbukitan. Matahari juga semakin turun, lautan memantulkan cahayanya yang mulai kekuningan. Suasana damai di tengah lautan, saya melepas snorkel dan terdiam menutup mata sesaat, membiarkan semuanya terekam dalam otak saya.


gamalama!
(copyright Nasijaha)

Ketika kami akan kembali ke starting point, tiba-tiba saya mengalami masalah dengan masker. Masker saya tidak menutup hidung dengan sempurna, berkali-kali air masuk hidung dan saya panik sampai hampir tenggelam. Untung Kak Anto sangat sigap, segera diperbaikilah masker itu, tapi ternyata masih nggak bisa, sehingga kami terpaksa bertukar masker. Kesempatan terakhir itu tidak saya sia-siakan untuk berkeliling The Holl sekali lagi sebelum kembali ke starting point.

Saya sangat bahagia karena berhasil mengalahkan ketakutan saya akan air laut biru. Saya dulu sempat phobia akan birunya air dan tidak berani berenang di kolam yang dalam. Tapi sekarang, saya berani di air laut yang dalamnya lebih dari lima meter tanpa merasa panik.

Sumpah, saya harus balik lagi ke Sulamadaha, kali ini dengan lisensi sehingga saya bisa diving sepuasnya! Sulamadaha yang segini ramainya aja karangnya masih cukup bagus dan beragam, bagaimana dengan Morotai, Pulau Babua, dan Guraici Halmahera Selatan ya? :)

Biaya untuk discovery diving di Ternate bersama Nasijaha:
  • Transport Akelamo Kao - Jailolo : Rp 25.000 (PP Rp 50.000)
  • Speedboat Jailolo - Ternate : Rp 50.000 (PP Rp 100.000)
  • Paket discovery diving (transport, materi, dan peralatan selam) : Rp 250.000 jika tidak bergantian menggunakan peralatan berkisar antara Rp 400.000 - 500.000
  • Transportasi ke pelabuhan : Rp 50.000 untuk 12 orang
  • Makan malam : Rp 25.000
  • Penginapan : Gratis (terimakasih Nasijaha!)
  • Total biaya: +/- Rp 450.000

special thanks to : Ferzya Farhan dan Fahmi Najmi, atas racun yang kalian tularkan ke kami :))

Jainyonyo, nyonyonyonyooooo!

Bumi Halmahera: Melancong ke Maluku Utara

Kapan ke Maluku Utara?

Beberapa teman menanyakan kepada saya mengenai akomodasi dan transportasi untuk berlibur di Maluku Utara. Saya memang tidak terbiasa untuk membahas mengenai dua hal tersebut dalam setiap catatan perjalanan yang dibuat, tetapi tidak ada salahnya kali ini saya berikan sedikit penjelasan sesuai dengan pengalaman saya.

Sebelumnya perlu diingat, Maluku dan Maluku Utara adalah dua provinsi berbeda. Maluku dengan ibukota Ambon terletak di sebelah selatan Maluku Utara dengan ibukotanya Sofifi. Jarak kedua provinsi ini juga cukup jauh mengingat Maluku adalah sebuah wilayah yang didominasi laut.

Dan hal kedua yang kedua perlu diingat, memang benar bahwa biaya berlibur ke wilayah Indonesia Timur relatif lebih mahal karena jauh dan keterbatasan pasokan kebutuhan, tidak seperti di Jawa yang semua serba ada. Tetapi sekali lagi ini relatif, ada banyak sekali alternatif bagi pelancong yang tertarik pergi ke Maluku Utara entah ala backpacker kere atau wisatawan berdompet tebal :)

sumber: google

Starting point untuk perjalanan menuju Maluku Utara yang saya bahas di sini adalah dari Jakarta atau Surabaya.

1. Jakarta - Ternate / Surabaya - Ternate
  • Dengan kapal. Ada dua jenis kapal yang melayani pelayaran menuju pulau Ternate, ibukota lama Maluku Utara yaitu KM Sinabung (berangkat Surabaya via Makassar) dan KM Doro Londa (berangkat Surabaya via Balikpapan). Waktu tempuh kedua kapal ini hampir sama yaitu 3-4 hari. Harga tiket termurah berkisar antara 500-600 ribu rupiah dan yang termahal mencapai 2,2 juta rupiah. Cek jadwal dan rute di sini.
  • Dengan pesawat. Beberapa maskapai penerbangan memiliki rute tujuan Sultan Baabullah Ternate dari  Jakarta dan Surabaya. Ada Sriwijaya Air, Lion Air, Express Air, dan Garuda Indonesia. Ketiga maskapai yang saya sebutkan pertama memiliki tarif yang relatif lebih terjangkau dari maskapai terakhir. Saat bukan peak season harga tiket akan berkisar pada 800 ribu - 1,3 juta sementara jika peak season (atau ketika ada event/festival) harga tiket akan melonjak hingga 2,5 juta rupiah. Untuk Garuda Indonesia harga yang ditawarkan berkisar antara 1,8 juta rupiah - 4,5 juta rupiah per Januari 2012. Bisa coba bandingkan harga tiket maskapai lewat WegoID kalau malas cari satu persatu.
Biasanya, maskapai menggunakan pesawat Boeing dan transit di Makassar/Manado. Lalu bersiaplah untuk petualangan menggunakan pesawat berbaling-baling melintasi lautan menuju Ternate! :)
Ada cukup banyak destinasi wisata di Pulau Ternate yang kecil-kecil cabe rawit ini. Sebut saja pantai Sulamadaha, Danau Tolire, benteng-benteng peninggalan Portugis, Istana Kesultanan Ternate, Gunung Gamalama, diving di sekitar pulau, atau sekedar wisata kuliner di sudut-sudut kotanya. Dari Ternate kita bisa menyeberang ke Pulau Maitara (yang ada di uang kertas seribu rupiah itu!) atau lanjut ke Pulau Tidore yang sama mempesonanya!

Jika punya banyak waktu dan ada budget lebih, silakan lanjut ke Pulau Halmahera, pulau terbesar di gugusan Kepulauan Maluku :)

sumber: google


2.  Ternate - Sofifi | Ternate - Sidangoli | Ternate - Jailolo

Ketiga kota kecil inilah yang banyak menjadi tempat tujuan orang-orang yang menyeberang ke Pulau Halmahera.
  • Ternate - Sofifi. Bisa dicapai menggunakan speedboat dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Perjalanan ini harus ditebus dengan biaya sekitar 35-75 ribu rupiah. Tidak ada angka yang pasti tergantung kemampuan kita menawar dan banyaknya jumlah penumpang. Speedboat bisa dicarter dengan biaya sekitar 500 ribu rupiah sekali jalan.
  • Ternate - Jailolo. Harga dan jarak tempuhnya hampir sama dengan ke Sofifi. Perbedaan kedua rute ini adalah perjalanan lanjutannya. Dari Sofifi kita harus menempuh perjalanan lebih jauh dan berkelok-kelok jika akan menuju pedalaman Halmahera. Sementara Jailolo lebih 'ramah' dan landai. Tapi pemandangan Sofifi lebih indah! Dimana ada kesulitan di situ ada nikmat, hehehe...
  • Ternate - Sidangoli. Rute ini biasanya digunakan oleh mereka yang menumpang kapal ferry untuk menyeberang ke Halmahera. Biayanya lebih murah, cukup 15 ribu rupiah (per Juli 2011) tetapi waktu keberangkatannya tidak fleksibel, hanya ada penyeberangan pagi dan siang.

3. Menjelajah Halmahera

Tidak cukup banyak moda transportasi yang dapat dipilih jika kita ingin menjelajah Halmahera. Kebanyakan tempat wisata pun ada di tepian pulau dan hanya ada satu jalan yang membelah dan menghubungkan wilayah-wilayah di Halmahera yaitu Trans Halmahera. Jangan berpikir bahwa ini adalah jalan beruas lebar yang punya banyak jalur, Trans Halmahera lebih mirip jalanan di Gunungkidul yang berkelok dan sempit-hanya cukup untuk dua mobil.

Transportasi yang paling banyak digunakan penduduk dan wisatawan adalah oto-sebutan untuk mobil plat kuning yang rajin mondar-mandir di Trans Halmahera. Jangan remehkan oto Trans Halmahera, kebanyakan mobil yang digunakan adalah mobil bermerk bagus, sebut saja Avanza, Innova, Jazz, bahkan Yaris keluaran terbaru dengan modifikasi mobil yang ciamik!

Sebagai contoh, untuk perjalanan dari Jailolo menuju desa KKN saya, Akelamo Kao, yang terletak di Teluk Kao, dibutuhkan biaya 25-30 ribu per orang (lagi-lagi, tergantung kepandaian menawar). Jika ingin langsung pergi ke Tobelo di Halmahera Utara, kita harus membayar sebesar 75-100 ribu rupiah (sekitar 4 jam perjalanan).

Jika sudah di dalam oto, persiapkan kuping untuk mendengarkan musik koplo yang diputar keras-keras (atau musik kasidahan jika supirnya religius) dan persiapkan perut agar tidak mual karena jalur yang berkelok dan supir yang ugal-ugalan.


Standby untuk part 2! Melancong ke Tobelo dan Morotai :)


Bumi Halmahera: Triple Combo Morotai (2)

bersambung dari Tripe Combo Morotai (1)

 

Selamat datang di bumi Moro!

Sembari menunggu jumlah ojek genap menjadi delapan, saya melempar pandangan ke penjuru pelabuhan Morotai yang jalan utamanya diselimuti pasir cokelat keabuan. Balok-balok beton penahan ombak nampak berserakan di sepanjang tepi pulau, bercampur dengan sampah! Sayang sekali, pelabuhan Morotai ini tidak terjaga dengan baik kebersihannya. Mungkin karena terpengaruh statusnya yang baru menjadi kabupaten pada tahun 2008 lalu sehingga pulau ini masih belum selesai berbenah.

Sukseskan Sail Morotai 2012!
Setelah kedelapan ojek datang dan berjajar menunggu kami, segeralah saya dan teman-teman lain memilih tukang ojek idola masing-masing. Ternyata tidak semuanya mengerti tempat yang dimaksud oleh Acil, dan kebetulan tukang ojek yang saya tumpangi menjadi pemimpin perjalanan. Seorang bapak tua berkulit keling asli Maluku yang ramah tetapi agak bau badan. Hahahahaha, lanjutkan!
 
Pertanyaan saya mengapa bentor tidak dipilih sebagai transportasi menuju rumah saudara Acil terjawab sudah. Jalanan di Morotai lebih buruk dari jalan lintas Sumatera seperti yang saya lihat di televisi. Kondisi jalan yang kering, berdebu, berpasir, dan penuh lubang besar membuat saya berkali-kali meringis kesakitan karena ojek yang saya tumpangi bermanuver menghindari jackpot. Beberapa kali motor ojek harus bekerja keras mendaki jalanan yang menanjak tajam dan cukup berkelok. Sebenarnya saat kami masih berada di bagian yang padat penduduk, nampak bahwa jalanan sedang diperbaiki, dihaluskan, dan diaspal. Tetapi itu hanya beberapa kilometer pertama. Selebihnya, mengenaskan.

sempat ada konflik kecil di Morotai akibat pilkada bupati Morotai
Sepanjang jalan saya merenung, inikah pulau Morotai yang dibanggakan sebagai salah satu surga tropis di Indonesia? Yang akan menjadi venue utama dilangsungkannya Sail Morotai di pertengahan tahun 2012 besok? Yang akan didatangi turis-turis mancanegara? Inikah wajah Morotai sesungguhnya?

Wilayah yang kami susuri ini adalah kota Daruba kecamatan Morotai Selatan. Bapak ojek mengatakan bahwa wilayah ini adalah yang paling maju dibandingkan dengan wilayah lainnya, ditandai dengan listrik yang menyala selama 24 jam. Sementara di bagian lain tidak menyala sepanjang hari, bahkan sudah biasa listrik mati sehari penuh. Kejadian listrik nyala-mati memang sudah biasa dialami penduduk di pulau Halmahera dan sekitarnya.

Bapak ojek kembali bercerita, bahwa keunggulan Pulau Morotai adalah sejarah dan pemandangan bawah lautnya. Pulau di permukaan memang jelek tetapi Morotai dahulu adalah salah satu pusat pertahanan Sekutu di masa Perang Dunia II. Mungkin kita masih ingat film Flags of Our Father dan Letter from Iwojima; Morotai rupanya juga menjadi salah satu arena pertempuran antara Sekutu dan Jepang karena letaknya yang sangat strategis. Pada akhirnya Jepang menyerah pada Sekutu dan Sekutu berhasil merebut kembali Philipina. Sementara si bapak terus bercerita, saya membayangkan di atas kepala saya ini ada pesawat-pesawat tempur yang menderu kencang membombardir pulau....

Konon, banyak sekali bekas-bekas peninggalan perang seperti peluru-peluru, ranjau, hingga mortir di pekarangan dan ladang-ladang warga. Sementara bangkai kapal dan pesawat tempur bertebaran di lautan Morotai dan menjadi daya tarik tersendiri untuk para penyelam yang ingin melihat ship wreck di kedalaman laut. Selain itu, Pulau Morotai memiliki tujuh (TUJUH!) landasan pesawat udara masing-masing memiliki panjang 3000 meter bernama Pitu Strep yang juga merupakan peninggalan Sekutu. Sementara itu di Pulau Zumzum akan ada tugu peringatan untuk Jenderal Douglas Mac Arthur yang menjadi komandan untuk pangkalan militer Morotai ini. Bapak ojek juga mengingatkan saya agar tidak lupa membeli oleh-oleh asli dari Pulau Morotai yaitu kerajinan besi putih. Berbagai jenis perhiasan dibuat langsung menggunakan besi bekas peninggalan perang sehingga dijamin tidak akan berkarat dan senantiasa berkilau.

"Dulu banyak sekali yang jarah besi rongsokan dari laut. Dijual bisa, dibuat perhiasan bisa. Tapi sekarang tentara itu sudah jaga besi-besi yang di laut, kalau ambil bisa baku tembak nanti deng tentara... hahaha..." celetuk bapak ojek dengan tawa khasnya.

Sesi dongeng si bapak ojek berakhir setelah kami sampai di sebuah desa kecil dengan rumah-rumah kayu yang berpagar dan berpohon. Beberapa rumah nampak ramai dan kami berhenti di sebuah rumah kecil yang belum jadi. Hanya ada dua ruangan kecil tanpa sekat permanen dan salah satu ruangan lantai kayunya sedang dipasang. Saudara Acil menyambut dan kami dipersilakan masuk. Saya memilih untuk tetap di luar karena ruangan itu sudah penuh oleh lima manusia termasuk saudara Acil.

Mungkin karena kasihan melihat kami berdempetan, saudara Acil mempersilakan kami untuk beristirahat di rumah tetangganya. Kami diperbolehkan menonton TV dan tidur di kamarnya yang lapang. Akhirnya bisa beristirahat juga, tidur kami sangat nyenyak siang itu. Kemudian saya terbangun di sore hari karena mendengar suara yang tidak asing. Morotai hujan deras! Saya tidak bisa tidur lagi dan memilih untuk menunggu di ruang tengah sementara teman-teman yang lain masih terlelap.

Sore ini suram sekali rasanya, saya hanya memandangi jendela yang menampakkan pemandangan abu-abu di luar. Hujan masih deras dan angkot yang kami tunggu masih juga belum datang. Satu persatu teman mulai bangun dan nampak Indro sudah berkeringat deras. Alhamdulillah, ia sudah lebih baik sekarang. Saya sering tidak tega melihat teman satu ini kalau malarianya kambuh. Dia hanya bisa merangsek masuk ke sleeping bag dengan jaket tebal dan menggigil kedinginan di dalamnya.

Tepat sekali ketika kami selesai bersiap, ada suara bising dari kejauhan yang semakin mendekat ke arah rumah tempat kami bernaung. "Oto su datang!" teriak Acil dari ruang depan. Segera kami membawa barang-barang dan berpamitan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada saudara Acil yang memberikan tumpangan istirahat. Bergegas kami naik ke oto yang sudah lumayan penuh oleh manusia dan barang-barang tersebut. Saya beruntung dapat kursi di depan, tetapi sayangnya sebelah saya adalah gadis gemuk yang menghabiskan tempat hingga 3/4 kursi -..-

muka-muka lelah karena perjalanan sehari penuh
Oto berisik ini berjalan pelan di tengah jalanan Daruba yang becek dan berbatu-batu. Sepanjang jalan kami terdiam kelelahan ditemani lagu-lagu yang sepertinya tidak ingin saya dengar lagi untuk selamanya. Lagu Alun-Alun Nganjuk, Hamil Tiga Bulan, dan Alay (lagi-lagi!!) mengalun keras dari salon di belakang saya. Ketika saya menengok ke belakang, rupanya keadaan di belakang lebih berdesak-desakan. Bahkan Fahmi sampai harus menggendong anak kecil agar ia bisa duduk. Hahaha..

Kira-kira satu jam di perjalanan, kami sampai di tepi Pelabuhan Morotai. Satu persatu penumpang turun dan tinggal kami berdelapan. Supir oto berbaik hati membantu mencarikan kami penginapan di sekitar pasar dan rupanya hampir semua penginapan penuh! Setelah berkeliling dan masuk ke kampung, akhirnya kami menemukan sebuah penginapan kecil di tepi pelabuhan seharga Rp 150.000/malam. Alhamdulillah, kami tidak jadi luntang-lantung di jalanan malam ini.

duduk di tepi pelabuhan Daruba

Tidak lama kemudian adzan magrib berkumandang. Sembari berdoa buka puasa saya memohon pada Tuhan agar menerima puasa saya hari ini yang penuh perjuangan berat. Mulut saya sudah sangat kering dan rasa debu, segera kami menyerbu warung es kecil di dekat penginapan. Membeli es pisang ijo dan beberapa kudapan manis yang mengenyangkan. Kami menghabiskan hari di tepi pelabuhan memandang jauh ke pulau-pulau kecil yang terselimuti awan mendung sembari membicarakan rencana esok hari. Kemudian kami makan malam di sebuah warung lalapan seberang penginapan yang ternyata penjualnya adalah orang Surabaya! Si bapak penjual menjanjikan kepada kami bahwa besok sahur dia akan buka warungnya sehingga malam ini kami tidak perlu berjalan jauh untuk mencari makan sahur.

Si bapak tidak menepati janjinya. Kami bangun kesiangan pukul empat pagi dan menemukan tidak ada tanda-tanda kehidupan di warung tersebut. Sial! Makan apa nih untuk sahur? Kami mencoba berjalan menyusur hingga jauh ke pasar, tidak ada satupun penjual makanan! Nampak satu persatu penduduk mulai keluar dari rumahnya dan menuju masjid. Sebentar lagi pasti subuh. Akhirnya kami kembali ke penginapan dengan tangan kosong (saya sempat berpikir untuk mengemis makanan ke rumah-rumah, hahaha). Saya hanya mengonsumsi air mineral dan beberapa biskuit untuk sekedar mengganjal perut.

Perjalanan hari ini akan berat.

Bumi Halmahera: Triple Combo Morotai part 1

 

Tidak seluruh acara jalan-jalan saya berlangsung dan berakhir menyenangkan. Ada satu dua pengalaman yang berkesan sekaligus tidak ingin saya ulangi. Transportasi yang jelek, cuaca yang tidak mendukung, atau kondisi tim jalan-jalan yang tidak baik dapat menyebabkan pengurangan kenikmatan jalan-jalan. Dan jika yang terjadi adalah kolaborasi ketiganya, maka akan menghasilkan mimpi buruk.

"Morotai itu pulaunya gersang gitu, ga ada apa-apanya. Yang bagus emang underwater view nya."
ucapan Andrea saat itu hanya menjadi angin lalu bagi saya dan teman-teman satu subunit. Andrea adalah tim KKN Jailolo Timur tahun sebelumnya, dan dia sempat mengunjungi (baca: honeymoon) Pulau Morotai pada medio 2010.

Sudah sejak saat perencanaan keberangkatan KKN kami memasukkan Morotai sebagai salah satu destinasi wajib dikunjungi di Maluku Utara. Pikiran kami saat itu sama: pulau-pulau di Maluku pasti berpasir putih dan lautannya berwarna biru toska. Saya sendiri sudah membayangkan tidur-tiduran di atas pasir putih halus di tepi laut sambil makan kelapa muda. Kalau bosan tinggal nyemplung ke laut atau duduk-duduk di dermaga.

Setelah seluruh kegiatan KKN di desa kami selesai (atau dipaksa selesai saat itu, hahaha) akhirnya pada awal Agustus 2011, di tengah teriknya siang di awal bulan ramadhan, kami berangkat menuju Pulau Morotai. Pada perjalanan kali ini kami ditemani Acil, pemuda desa Akelamo Kao yang menawarkan diri menjadi guide kami.

"Tenang saja, saya pe banyak saudara di Morotai... hahaha..." ujar Acil dengan penuh rasa percaya diri. Wah, akomodasi aman nih, pikir saya.

Sebenarnya perjalanan ini sudah hampir batal karena kejadian tidak mengenakkan yang bikin saya ngambek (oke ini curcol). Ditambah lagi, pada malam sebelum keberangkatan, Indro mengalami demam sangat tinggi dan badannya terus-terusan menggigil. Hanya satu pikiran kami saat itu: Indro mungkin kena malaria.

Akhirnya kami membawa Indro ke bidan desa. Indro yang takut jarum suntik saat itu sudah tidak bisa melawan lagi. Untunglah saat itu alat tes malaria tersedia. Dalam 25 menit kami mendapatkan hasilnya, dan yak! Indro positif malaria. Bidan desa nampaknya sudah terbiasa menghadapi kondisi itu, dia hanya memberikan wejangan singkat tentang perawatan sederhana untuk Indro. Tetapi karena kurang yakin akan hasil tes tersebut, kami berniat membawa Indro ke RSUD Tobelo keesokan harinya untuk mengikuti tes lagi dan mendapatkan pengobatan yang lebih layak.

Tobelo yang merupakan ibukota Halmahera Utara adalah kota terbesar di Halmahera dengan jumlah penduduk sekitar 25 ribu jiwa. Biasanya kapal-kapal pembawa logistik dan beragam barang kebutuhan lebih banyak merapat di Tobelo daripada Sofifi, ibukota Halmahera Barat. Kota ini sangat hidup dan bisa disandingkan keramaiannya dengan Ternate. Dan ya ampun, banyak sekali paras putih cantik dan tampan berseliweran di Tobelo karena percampuran antara darah Maluku, Bugis, Tionghoa, Portugis, hingga Philipina. Kebayang kan ya, remaja tanggung berparas Indo dengan kulit putih susu melenggang begitu saja di antara keramaian pasar. Atau lelaki bermuka Philipina dengan alis tebal khas Maluku berjualan handphone di outlet samping mall. Saya jadi ingat salah satu pemain sepakbola Akelamo kao yang saya idolakan karena mukanya mirip artis Thailand ternyata tidak ada apa-apanya di sini. Hahaha. 

Singkat cerita, Indro ternyata positif malaria. Kondisinya lemah tetapi dia tidak diharuskan untuk mondok di rumah sakit. Obatnya sebenarnya mudah: banyak makan, banyak minum air, minum susu, dan jangan lupa minum obat. Dengan wanti-wanti dokter tersebut kami sampai pada sebuah kesimpulan: asalkan Indro dijaga makan dan kesehatannya, dia pasti bisa ikut kami ke Morotai!
 
Seselesainya memeriksakan Indro, hari sudah beranjak sore. Karena itulah kami memutuskan untuk menginap di losmen dekat pelabuhan. Tetapi karena hari masih sore, kami menyempatkan jalan-jalan keliling Tobelo setelah mendapatkan penginapan. Kami mampir ke sebuah pantai di Desa Luari, Tobelo. Kata pak supir oto, pantai ini terkenal dengan arusnya yang tenang dan semenanjungnya yang cantik. Tapi yak sekali lagi kami tidak beruntung. Pantai Luari airnya sedang pasang dan langit mendung membuat saya tidak bersemangat bermain di sana. Kami hanya mampir sebentar dan segera beranjak sebelum adzan magrib berkumandang.

menyempatkan diri bikin beginian

Sembari mencari makanan berbuka, kami mencoba berkeliling kota dengan berjalan kaki. Suasana malam hari di Tobelo, apalagi di bulan puasa, sangat meriah dalam arti sebenarnya. Anak-anak Tobelo suka sekali bermain petasan dan sudah tidak terhitung lagi berapa kali kami yang sedang menyusuri jalan dilempari oleh mereka. Sampai-sampai saya yang sebenarnya takut sekali sama petasan menjadi terbiasa. Selain itu, banyaknya warung penjual CD dan DVD lagu-lagu Indonesia dan Maluku di pinggir jalan membuat telinga saya semakin terasa budheg. Lagu-lagu yang ngehits di kampung saya seperti Alay, Hamil Tiga Bulan, Asolole, dan lagu-lagu lain yang menyedihkan diputar dengan suara memekakkan telinga untuk mendatangkan pembeli.

Ketika pagi masih muda, kami sudah bersiap di depan losmen menunggu dijemput oleh angkot yang akan mengantarkan kami ke pelabuhan Tobelo. Angkot di Tobelo persis seperti angkot di Ternate, Sofifi, dan beberapa wilayah lain di Maluku Utara: si sopir hobi sekali menyalakan musik dengan volume maksimal! Dan lagu yang diputar tidak jauh-jauh dari genre dangdut koplo. Jadi ketika kita berpapasan dengan angkot lain seakan-akan sedang terjadi duel musik dahsyat. Terkadang jika kami melewati rumah penduduk, mereka akan memaki-maki si sopir yang tidak peduli dengan suara musik yang dapat membangunkan bayi-bayi.



Suasana pelabuhan Tobelo pagi itu tidak begitu ramai. Hanya ada satu dua kapal mesin yang menunggu berangkat. Kami agak kesulitan mencari speedboat yang mau mengantar ke Morotai, ada pun harganya mahal jika dicarter hanya untuk 8 orang. Saat duduk di tepi dermaga speedboat itulah saya mendapatkan kabar duka bahwa Mami Kantin Padmanaba tutup usia. Seketika saya menangis dan mood saya turun drastis. Ditambah mendung yang menutupi matahari dan teman seperjalanan yang sakit parah, rasanya saya hanya ingin duduk dan merenung saja. Tetapi seorang petualang tidak boleh putus asa dan mudah bersedih. Akhirnya setelah sedikit mengobrol dengan Siti, saya kembali bersemangat.

di dermaga ini saya duduk merenung

Sementara kami duduk menunggu penumpang Indro terus-terusan mengeluh sambil tersenyum kecut, 'iki kok aku iso-isone melu nang Morotai...' (ini kok aku bisa-bisanya ikut ke Morotai..)

Setelah hampir 1 jam menunggu, kami mendapatkan penumpang tambahan. Speedboat pun segera dipenuhi penumpang dan barang-barang yang naudzubillah banyaknya. Interior speedboat yang berwarna biru dan langit-langit yang pendek sedikit membuat mata saya pusing. Segera saya ambil posisi duduk sambil memeluk tas, baiklah, gelombang laut pagi ini nampaknya tidak begitu bersahabat. Saya bersiap untuk guncangan selama 2 jam perjalanan nanti.

tepi pelabuhan Tobelo, bersiap berangkat

Benar saja, rupanya gelombang laut sedang tinggi. Mendung pun menggantung sejak pagi tadi, rasanya seluruh lautan hanya nampak berwarna abu-abu. Hujan rintik-rintik sepanjang perjalanan. Berkali-kali speedboat terhempas keras di permukaan laut setelah 'terbang' akibat gelombang. Ditambah lagi pengemudi speedboat yang menyetir kayak lagi balapan. Padahal jika speedboat terlalu ngebut dapat menyebabkan badan speedboat pecah terkena ombak. Cerita mengenai dua kecelakaan speedboat yang pecah membuat saya sibuk mencari-cari letak life jacket dan ternyata ada di bawah kaki. Saya sudah mulai merasa mual dan pandangan saya berkunang-kunang. Dalam hati saya kasihan sama Indro, dia tidak bisa berenang dan takut air dalam, ditambah sakitnya yang parah, pasti ini menjadi perjalanan paling menakutkan dalam hidupnya.

Dua jam di dalam speedboat yang tergoncang keras dan bunyi mesin yang begitu berisik sangat tidak nyaman rasanya. Bermacam posisi tidur sudah saya coba dan berakhir dengan selonjoran cuek di atas kursi kapal. Ketika saya sudah sampai di puncak bosan, mesin kapal menderu lebih pelan. Saya kira sudah akan sampai, rupanya pulau masih jauuuh di sana. Speedboat harus menurunkan kecepatan karena semakin mendekati pulau, akan semakin banyak bangkai kapal selam dan pesawat peninggalan Perang Dunia kedua di sekitar Pulau Morotai. Nampak besi-besi tua menyembul dari permukaan laut, saya bergidik ngeri membayangkan lambung speedboat sobek akibat nyangkut disitu, hiii..

Barulah setengah jam kemudian speedboat benar-benar merapat di Pelabuhan Morotai. Alhamdulillah, Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk hidup lebih lama. Suasana pelabuhan cukup ramai dan sudah nampak apa yang diceritakan oleh Andrea: pulau ini gersang. Kami bersegera mencari transportasi untuk mencapai rumah saudara Acil yang terletak di dekat wilayah transmigrasi dan bandar udara Morotai. Kami memilih untuk naik ojek karena katanya bentor tidak kuat untuk jalan menanjak. Dalam hati saya berpikir, emang kayak apa sih jalannya sampai bentor aja nggak kuat?

...bersambung ke part 2