February 11, 2012

Bumi Halmahera (11) : Sultan Ternate Su Datang!



Saat baru dua minggu 'mendarat' di bumi Halmahera, kami mendapatkan sebuah berita gembira: Sultan Ternate akan datang ke Akelamokao! Ini adalah sebuah momen langka mengingat kedatangan terakhir beliau adalah sekitar tujuh tahun yang lalu. Karena itulah, persiapan untuk menyambut kedatangan Sultan Ternate ke desa ini sudah dilakukan sekitar seminggu sebelum hari H. Berita kedatangannya pun sempat simpang siur dan akhirnya mundur dua minggu dari rencana awal. Akan tetapi, kapanpun Sultan datang, warga akan siap menyambut. Segera setelah pengumuman resmi disebarkan, warga bergotong royong membersihkan dan menghias desa. Pada beberapa malam, ketua pemuda desa mengelilingi desa dan memberitahukan pengumuman kerja bakti menggunakan megaphone. Suaranya keras sekali seperti orang marah-marah, hahaha. Tiga hari sebelum hari H, ibu-ibu sudah mulai menyiapkan banyak sekali hidangan istimewa mulai dari nasi jaha, berbagai kue dan kudapan khas, hingga ikan bakar dan ikan kuah asam yang enaknya bukan main! Untuk acara istimewa ini pula, warga menangkap dan memasak belut sungai yang besarnya sepaha orang dewasa. Konon, belut ini hanya mau keluar ketika Sultan akan datang.

Jalanan desa yang akan dilewati Sultan dengan tandunya menjadi cantik berhiaskan janur-janur yang melengkung. Para ibu berkumpul di Rumah Besar untuk memasak dan mempersiapkan berbagai hidangan yang lezat. Selama di Desa Akelamokao, Sultan Mudzaffar Syah II menginap di Rumah Besar. Saya berkesempatan untuk masuk ke Rumah Besar ini, sayangnya saya nggak bisa memotret kamar Sultan yang katanya diselubungi kain putih tersebut. Rumah ini bentuknya sekilas biasa saja, tapi bagian dalamnya sangat mencerminkan bahwa pemiliknya bukan orang biasa. Rumah Besar terletak di seberang rumah Pak Imam, orang yang dituakan oleh penduduk desa. Pak Imam sendiri masih saudara dari Sultan Ternate dan sebagian besar penduduk Akelamokao adalah keturunan dari Kesultanan Ternate. Karena itulah, Desa Akelamokao ini menjadi satu-satunya yang berbahasa Ternate ketika desa-desa di sekitarnya berbahasa Tobelo dan Gorap. Orang Akelamokao bangga bukan main dengan asal-usulnya, maka tidak heran kalau mereka cukup angkuh dan tidak suka direndahkan :)

***

Ratusan warga yang berpakaian adat kebaya dan kain khas Maluku Utara telah berkumpul di sisi jalanan Trans Halmahera. Sesekali mereka beringsut menyingkir ketika satu dua oto atau truk pengangkut logistik lewat perlahan. Jalan Trans Halmahera menjadi semakin ramai ketika warga mulai menabuh genderang dan gong mengiringi tarian Cakalele yang dibawakan Aulia, seorang pemuda desa Akelamokao. Dengan membawa parang dan tameng sebagai peralatan menari, ia begitu bersemangat menari mengikuti alunan musik di tengah jalan. Semakin bersemangat dan ia menjadi tak terkendali. Tiba-tiba Aulia menjadi histeris dan berteriak-teriak, rupanya ia kesurupan. Dengan segera Aulia dibopong oleh sang kakek untuk ditenangkan dan tarian dilanjutkan oleh penari Cakalele lainnya.

berkumpul di tepi Trans Halmahera
tabuh gongnya!
tandu untuk sultan
cakalele

ibu-ibu dengan kebaya dan sarung
mendapat kehormatan mengangkat tandu Sultan
akhirnya Sultan datang
Kira-kira setengah jam kemudian, sebuah mobil double cabin berplat merah yang diiringi beberapa mobil lain datang dari kejauhan. Manusia yang paling ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sultan Mudzaffar Syah II dari Kesultanan Ternate datang mengunjungi Desa Akelamokao dan akan menginap selama dua hari. Saat turun dari mobil, Sultan Ternate tidak boleh menginjak tanah. Karena itulah beliau dibawa dengan tandu putih hingga ke Rumah Besar. Sebelum masuk Rumah Besar, kaki Sultan Ternate dibasuh dengan air yang disapukan menggunakan rambut panjang anak perempuan kerabat Sultan. Si anak ini gemetaran dan menangis karena membasuh kaki Sultan.

gladi resik sebelum Sultan datang

berebut air bekas basuhan kaki Sultan
jamuan makan keluarga dan tamu undangan


Saya sempat bingung ketika melihat sosok Sultan Ternate. Tidak ada muka-muka khas timur yang berahang keras atau berkulit cokelat eksotis. Sultan Ternate berkulit putih, bermata cokelat, persis kayak bule! Begitu juga dengan keluarga Pak Imam, seakan-akan saya justru melihat keluarga Minang bukannya keluarga Ternate. Tapi kemudian saya mengangguk paham ketika salah satu keponakan Sultan bercerita bahwa ada orang asing (entah Portugis atau Belanda) di silsilah keluarga Sultan Ternate sehingga anak-anaknya jadi blasteran begitu :p Tapi ini cerita dari warga setempat ya, kebenarannya tidak bisa saya buktikan hehehe.

Sultan Ternate, seperti raja-raja lain di Indonesia, memiliki istri dan banyak selir. Akan tetapi, pemilihan Sultan Ternate berikutnya tidak berdasarkan anak tertua atau dari istri pertama. Pemilihan didasarkan atas diskusi Kesultanan sehingga kita tidak akan tahu siapa raja berikutnya. Sultan Mudzaffar Syah II ini sendiri sudah berumur kira-kira 76 tahun. Wah sudah sepuh juga ya.

Sayangnya, saya tidak banyak mendapatkan info mengenai Sultan Ternate ini. Nama kerajaannya hanya pernah saya dengar sekilas saat pelajaran sejarah SD dulu, dan saat main ke Ternate, saya nggak sempat ke istana kesultanan. Padahal saya yakin ada banyak cerita yang bisa saya dapatkan kalau mampir kesini. Ah, suatu saat nanti!

Yang jelas, saya merasa sangat beruntung sudah dapat melihat secara langsung Sultan yang dibanggakan rakyat Maluku Utara tersebut. Seperti saya yang membanggakan Hamengkubuwono dan keraton Jogjakarta :)

dua gadis yang mengipasi Sultan Ternate


para lelaki berikat kepala putih ini adalah kerabat Sultan






12 comments:

  1. Keren nian ceritonyo Kin...
    Wah sampe segitunya yah nyambut Sultan.
    Palembang juga punya Sultan sih, tapi sudah nggak terlalu sebegitunya. Hehe...
    Kayaknya sih, atau aku yang nggak terlalu mengikuti. haha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang nulis keren juga nggak? :D

      haha, begitulah kak. bahkan saat ulangtahun sultan, akan diadakan upacara Legu Gam (sekitar bulan April) di istana kesultanan Ternate, dan ribuan warga akan menari tarian Soya-soya! Orang Timur suka pesta, dan banyak makanan enak! Hahahaha :)

      Palembang juga punya Sultan? Saya baru tau loh...

      Delete
  2. waw sultannya pake jaket burberry #penting

    ReplyDelete
  3. kinkin...
    ceritamu keren-keren lohhh.... gue suka banget is the best lah buat loe... :)
    gue juga banyak blajar nie dari loe, hehehehehe_

    ReplyDelete
  4. wah hebat-hebat eui,,,hehehe ya memang betul ketika Sultan Ternate ingin datang berkunjung ke desa-desa di Halmahera pasti akan ditandu dan dipayungi, namun yang sangat mengherankan adalah ketika Sultan Ternate hendak berkunjung ke Desa Kao Kecamatan Kao, justru sultan tidak di tandu dan tidak dipayungi, tetapi Sultan Ternate disambut seperti orang biasa saja,dan anehnya Sultan Ternate diberlakukan tidak seitimewa di Desa lain..seperti dikipasin, dll itu yang saya herankan, namun hal tersebut hanya berlaku di Desa Kao dan tidak berlaku di Desa lain di halmahera. disatu sisi bahwa kenapa Sultan Ternate tidak ditandu ketika masuk desa Kao, karena Beliau harus menginjakkan kaki nya di Desa Kao...hal tersebut menurut cerita dari Sangaji Kao, yang kebetulan waktu itu saya dengar cerita dari beliau secara langsung,,Sangaji Kao salah satu pimpinan adat di Desa Kao,,,tapi yang saya perhatikan dari Poto anda, ada Bapak yang memegang payung di samping tandu Sultan Ternate yang belum dinaiki Sultan Ternate, beliau kalo tidak salah bernama Pak Zulkarnaen, yang sekarang menjabat sebagai kepala desa Akelamo Kao Cibok, waktu itu saya menghadiri pelantikan beliau sebagai kepala desa terpilih tanggal 30 July 2012...ahhh baca blog anda membuat torang rindu sampe deng Bumi Halmahera tarada...hehehehehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali mas.. wah saya sendiri juga rindu sekali deng Maluku Utara :)

      Delete
  5. @MuhammadQustam, iya betul... baca blog Kinchan bikin tong rindu sampeeeee

    apalagi skrg ada pagelaran Legu Gam,, pasti rame bukan maen

    ReplyDelete
    Replies
    1. haloo mbak, wah orang asli Maluku Utara juga ya? salam kenaaaal.

      Delete
  6. hehehehehe... mau lihat yang bagus lagi.. datang di acara hari ulang tahun sultan ternate. sultan dan permaisuri di tandi mendaki gamalama..

    ReplyDelete
  7. ini acara kalau tidak salah waktu acara penanaman pohon di belakang kantor camat to?itu mobil double cabin plat merah warna abu-abu merk izusu d-max :D

    soalnya saya jadi kameramen kantor dari pelabuhan sidangoli waktu jemput sampai selesai acara penanaman :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah sayangnya bukan mas.. ini acara di kampung saya. Memang di Jailolo Timur tapi bukan di pusat kecamatannya :)

      Delete
  8. wah menarik sekali infonya nih,,,,

    ReplyDelete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)