January 20, 2012

Sunrise Hunter: Puncak Telomoyo (2)


 

Sebelumnya saya anjurkan teman-teman membaca posting ini dulu >> Sunrise Hunter: Telomoyo Magelang

***
Pukul dua malam, motor kami melaju kencang dengan bebas di Jalan Magelang. Sesekali saya mendongak ke atas memastikan bahwa bintang-bintang di langit malam itu masih terlihat jelas. Hawa dingin menusuk tulang, kebetulan sekali tidak hujan. Saya mengantuk, beberapa kali kaca helm saya terantuk helm Wana yang segera menyadari bahwa saya butuh 'goncangan' agar tetap terjaga. Tiba-tiba kabut menyergap turun ketika kami melewati jembatan Kali Pabelan. 'Wah mendung wan..' seloroh saya waktu itu.

Kami terus melaju menuju daerah Kopeng, Magelang Jawa Tengah. Jalanan masih sepi tetapi kami harus tetap waspada karena jalur ini juga dilewati truk-truk besar yang berjalan lamban. Melewati hutan sempat membuat bulu kuduk kami merinding, saya memilih menutup mata agar tidak melihat yang aneh-aneh. Ketika kami berhenti di sebuah masjid untuk numpang pipis, benar saja, Iqbal dan William mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan hutan-hutan tadi, perasaan mereka tidak enak.

Hampir dua jam kemudian, kami tiba di daerah Kopeng. Hutan yang menutupi kiri-kanan jalanan kami digantikan oleh hamparan ladang penduduk. Walaupun gelap, siluet Gunung Merbabu tetap terlihat di kejauhan. Jalan mulai berkelok ekstrim dan udara semakin dingin! Ketika sampai di gerbang Kopeng, kami berhenti untuk mengecek apakah sudah berada di arah yang benar. Kami mengandalkan GPS di handphone Iqbal dan kemampuannya membaca peta yang jelas-jelas lebih baik dari saya. Ternyata kami salah arah. Berbalik lagi dan menemukan jalan yang benar, akhirnya kami sampai di sebuah portal putih di ujung perumahan. Nampak jelas siluet Gunung Telomoyo dan tidak ada satu cahaya pun kecuali sebuah cahaya putih di puncak yang sempat kami kira bintang. Melihat jauh ke depan, kok rasanya horor sekali ya. Kayak mau ke dunia lain. Kami agak jiper juga, dan akhirnya memutuskan untuk menunggu subuh di masjid di pojok jalan itu juga.



Dua Honda Revo dan empat manusia kurus, ternyata si Revo tidak kuat untuk menanjak. Apalagi Revo-nya Wana, ngos-ngosan banget mengitari punggung Telomoyo mengikuti jalan yang berkelok demi sampai ke atas. Belum jalannya jelek sekali, ga tanggung-tanggung jeleknya. Banyak jackpot lubang-lubang besar dan endapan lumpur licin atau bahkan genangan air. Kaki saya sempat tertusuk batu ketika harus berjalan karena motor Wana tidak kuat memboncengkan. Secara teori jalan sampai ke atas gunung 'hanya 7 kilometer' (setidaknya itu yang tersebut di GPS Iqbal) tetapi kami menghabiskan nyaris 45 menit untuk menggapai matahari terbit! Sialnya, matahari sudah terbit terlalu tinggi dan langit sudah memutih ketika kami menemukan tempat yang nyaman untuk memotret. Beberapa menit kemudian, kabut pun datang dan segera menyergap jalan kami. Oh iya, kita tidak mungkin melihat sunrise dari puncak gunung karena di sana dipenuhi tower pemancar dan masyarakat umum tidak diperbolehkan masuk.

  



 

 

Walaupun perjalanan ini berat, tetapi semua rasa lelah dan kesal itu hilang. Terbayar oleh cantiknya lansekap Magelang yang begitu hijau dan dikelilingi gunung, sebut saja Merapi, Merbabu, Telomoyo, Sumbing, dan Sindoro. Belum lagi di sepanjang perjalanan mendaki Telomoyo kami disejukkan oleh pemandangan dua air terjun kecil yang mengalir indah di sela punggungan.

Pulang dari Telomoyo, saya meminta Wana agar gantian menyetir. Hahaha. Kami sudah dua kali gantian menyetir, pertama kali waktu saya pergi ke Dieng ikut pakbos syuting video. Menyetir adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan agar tidak mengantuk. Kasian juga sih Wana, dia harus deg-degan karena diboncengin sama cewek. :))

Jangan lupa mampir ke kupat tahu legendaris di Magelang. Ada beberapa warung tetapi yang paling terkenal adalah Kupat Tahu Pojok Magelang. Sayangnya waktu itu tutup sehingga kami menyambangi warung lain yang terlihat meyakinkan. Saya memesan tahu gimbal dan dalam sekejap makanan itu berpindah ke perut saya :)



Tiap setahun sekali, diadakan Festival Lima Gunung di Magelang Jawa Tengah. Kalau tidak salah, setiap bulan Juli di daerah Pabelan. Saya juga belum pernah kesana. Sila googling jika berminat untuk datang ke Festival Lima Gunung Tahun ini.

7 comments:

  1. Sebenarnya ada lagi yang lebih elok di magelang yang belum terlalu terkenal, yaitu di Gunung Mangli. Saya sempat berhari-hari menginap di sana sekedar membuktikan perkataan orang, setiap fajar, warna langitnya selalu berbeda. *dekat juga dari Telomoyo*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gunung Mangli? Menarik nih mas! saya suka banget cari tempat sekedar buat liat langit fajar. disebelah mananya telomoyo? di kopeng juga? *excited*

      Delete
    2. Ini ada ulasan sedikit mengenai Mangli: Hutan Wisata Mangli.

      Delete
  2. Seriously, foto-fotonya bagus sekali, Kin. :')

    ReplyDelete
  3. selalu menarik tulisan dan fotonya :)

    ReplyDelete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)