Kaki tidak seramah dulu menginjakkan tanah dengan semangat. Bahu tak
lagi sekokoh dulu memanggul ransel dan berjalan mendaki. Aku tahu benar,
aku merindukan situasi itu, saat hanya berbekal lampu senter dan
berjalan di tengah malam, dengan keringat di sekujur tubuh. Satu gunung
dengan cerita yang tak pernah henti untuk diingat sekalipun tidak pernah
kita lisankan sering-sering.
Sampai pada ketika aku akan kembali menyapa langitmu di puncak gunung, suatu saat ketika kerinduan ini aku obati dengan langkah-langkah kaki lagi di tanahmu.
Rindu tebal untuk alam dan mereka yang pernah berjalan bersamaku.
Karlina Aucia | simpleoetjieck.wordpress.com
Penggalan tulisan Uci di atas begitu jelas menampakkan kerinduannya akan apa yang menjadi rutinitasnya dulu semasa sekolah: mendaki gunung. Membacanya bait demi bait, saya langsung merasa hangat. Uci, kita merasakan kerinduan yang sama.
Walaupun saya seorang mantan siswa pecinta alam, saya belum pernah berhasil menggapai puncak gunung manapun. Malu, tentu saja. Merapi yang tiap hari dapat saya lihat puncaknya dari balkon rumah pun saya belum pernah. Lawu yang katanya level pendakiannya mudah seperti naik tangga saya juga belum pernah. Paling tinggi menggapai pos tiga Lawu. Urung mencapai puncak karena badai bulan Januari yang ganas. Saya turun dengan tangan hampa. Tiada puncak gunung yang pernah saya daki, kecewa.
Sebenarnya di lubuk hati yang paling dalam, yang saya rindukan adalah rekan-rekan seperjalanan. Tiap bulan Januari, mungkin hingga Januari dua tahun lalu, kita selalu punya cerita. Mulai dari kumpul-kumpul tanpa tujuan di posko sekolah hingga ekspedisi di tengah hutan di Pulau Nusakambangan, memori itu masih saya ingat satu persatu. Kita pasti tahu, sifat asli seseorang akan nampak ketika ia naik gunung. Karena itulah (mungkin) saya mengenal mereka dengan baik. Siapa yang hobi tidur ngorok di tenda, yang masakannya paling enak, yang dengan tulus melindungi dan membantu teman yang kesulitan, semua terekam baik dalam ingatan.
Tahun terakhir kuliah, entah mengapa, dunia saya seakan menjadi sepi. Mereka yang dulu selalu ada di sekeliling satu persatu menghilang. Maka bolehlah saya sebut tahun ini adalah tahun rindu. Rindu saya persembahkan bagi mereka rekan seperjalanan yang selalu ada di saat suka dan sedih.
Hingga suatu saat pasti ada masa bagi kita kembali berada tengah alam dengan segala kesederhanaan yang menyenangkan: bergerumul di tenda menahan dingin, berebutan nesting untuk memasak paling enak, dan berjalan beriringan setapak demi setapak sembari melontarkan candaan yang menyegarkan.
Walaupun saya seorang mantan siswa pecinta alam, saya belum pernah berhasil menggapai puncak gunung manapun. Malu, tentu saja. Merapi yang tiap hari dapat saya lihat puncaknya dari balkon rumah pun saya belum pernah. Lawu yang katanya level pendakiannya mudah seperti naik tangga saya juga belum pernah. Paling tinggi menggapai pos tiga Lawu. Urung mencapai puncak karena badai bulan Januari yang ganas. Saya turun dengan tangan hampa. Tiada puncak gunung yang pernah saya daki, kecewa.
Sebenarnya di lubuk hati yang paling dalam, yang saya rindukan adalah rekan-rekan seperjalanan. Tiap bulan Januari, mungkin hingga Januari dua tahun lalu, kita selalu punya cerita. Mulai dari kumpul-kumpul tanpa tujuan di posko sekolah hingga ekspedisi di tengah hutan di Pulau Nusakambangan, memori itu masih saya ingat satu persatu. Kita pasti tahu, sifat asli seseorang akan nampak ketika ia naik gunung. Karena itulah (mungkin) saya mengenal mereka dengan baik. Siapa yang hobi tidur ngorok di tenda, yang masakannya paling enak, yang dengan tulus melindungi dan membantu teman yang kesulitan, semua terekam baik dalam ingatan.
Tahun terakhir kuliah, entah mengapa, dunia saya seakan menjadi sepi. Mereka yang dulu selalu ada di sekeliling satu persatu menghilang. Maka bolehlah saya sebut tahun ini adalah tahun rindu. Rindu saya persembahkan bagi mereka rekan seperjalanan yang selalu ada di saat suka dan sedih.
Hingga suatu saat pasti ada masa bagi kita kembali berada tengah alam dengan segala kesederhanaan yang menyenangkan: bergerumul di tenda menahan dingin, berebutan nesting untuk memasak paling enak, dan berjalan beriringan setapak demi setapak sembari melontarkan candaan yang menyegarkan.
![]() |
| nusakambangan di bulan juli, empat tahun lalu. |

0 comments:
Post a Comment
terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)