January 04, 2012

Bumi Halmahera (10) : Rumah Akelamos Yang Bercerita


Rumah bercat putih pudar beratapkan seng ini adalah salah satu tempat yang paling familiar di memori kami, para Akelamos. Pagar kayu di tepi jalan setapak yang akhirnya rubuh diterjang kambing tetangga, dua kursi plastik biru yang akhirnya patah atau hilang dibawa anak-anak, jendela-jendela tidak berkaca dan ditutup kertas HVS, 'tirai' sederhana dari bekas spanduk sebuah provider selular, dan pohon kelapa pendek yang menjadi tempat latihan panjat pohon. Setidaknya itu yang selalu saya ingat ketika saya memandang rumah ini dari depan.

Rumah ini punya cerita yang panjang. Seakan ia menjadi saksi bisu konflik horisontal berdarah yang pernah terjadi di tanah Halmahera beberapa tahun yang lalu. Rumah ini, dengan atapnya yang bocor, jendela yang bolong-bolong, dan pagar yang rubuh, memperlihatkan bahwa kekuasaan menyengsarakan mereka yang jelata. Perkenankan saya menceritakan kembali apa yang saya dapatkan dari Jamet (pendahulu Jainyonyo), warga desa, teman-teman Jainyonyo subunit sebelah, dan sumber internet.

Medio 2000-an, seiring dengan perkembangan otonomi daerah, wilayah di Maluku Utara mengalami pemekaran wilayah. Sebelumnya konflik ini pernah terjadi pada tahun 1999 dimana terjadi konflik isu agama yang disinyalir berawal dari konflik politik perebutan kekuasaan. Di Maluku Utara, isu agama adalah isu sensitif dan jelas saja, ketika terjadi sedikit pergesekan akan segera membesar dan meluas. Pada 2003 kembali terjadi konflik yang diawali perebutan batas wilayah antara Halmahera Utara dan Halmahera Barat. Konflik ini melibatkan desa-desa yang terletak di perbatasan wilayah tersebut. Terdapat enam desa yang masuk ke wilayah pelayanan Kecamatan Jailolo Halmahera Barat tetapi secara administratif masuk ke Halmahera Utara. Kompleks sekali permasalahannya. Selama bertahun-tahun tidak ada penyelesaian atas hal ini. Rakyat diombang-ambingkan ketidakseriusan pemerintah.

Tidak semua warga desa menerima keputusan ini. Ada warga desa yang dengan keras menyatakan bergabung dengan Halmahera Barat, tetapi ada pula yang memutuskan bergabung dengan Halmahera Utara. Akibatnya? Konflik horisontal terjadi. Di Desa Akelamo Kao sendiri, pada akhirnya warga yang memilih bergabung dengan Halmahera Utara pergi meninggalkan desa. Warga desa yang memilih Halmahera Barat mengusir mereka dengan cara melempari rumah dengan batu, bahkan konon rumah-rumah tersebut 'dikirimi' berbagai santet agar penghuninya tidak betah.

Warga Akelamo pernah bercerita dengan bangganya, pada konflik 1999 warga antar desa saling serang. Ketika desa-desa lain habis terbakar dan warganya tunggang langgang, desa Akelamo yang hanya dijaga beberapa pemuda tetap berdiri walau terbakar disana-sini. Kisah ini hingga sekarang masih terus diceritakan kepada para pendatang. Bener sih, saat kami main ke Akesahu, desa yang terletak beberapa kilometer di utara Akelamo, terlihat jelas jejak konflik. Puing-puing rumah yang rusak atau terbakar masih ada dan warga Akesahu masih mencoba membangun rumah-rumah kayu baru di dekat pantai. Saya sedih sekali melihatnya, ini adalah bukti nyata bahwa otonomi daerah tidak selalu membawa kesejahteraan bagi warga.

Saya jadi pusing mau cerita. Jadi, mari kita kembali ke rumah pondokan kami.

Sebenarnya ini rumah yang bagus. Besar memanjang ke belakang dan ruang depannya sudah berlantaikan keramik putih. Ini adalah rumah seorang pedagang yang pindah ke Halmahera Utara kemudian dijual kepada seorang haji, yang kebetulan ketika kami kesana ia sedang bekerja di Sofifi sehingga rumah ini tidak digunakan. Sudah saya ceritakan sebelumnya kalau rumah warga yang memilih ke Halut akan 'dikirimi' macam-macam, hal yang sama terjadi di rumah ini. Kejadian kecil yang aneh mewarnai hari-hari kami. Hari pertama mendiami rumah, tidak ada yang berani tidur nyenyak. Bagaimana tidak, sepanjang malam terdengar suara orang main bola dan menyapu di halaman samping dan atap rumah berkali-kali kejatuhan sesuatu, entah apa. Dua kali saya mendengar suara orang bersiul aneh yang dipercaya warga merupakan suara siulan makhluk jejadian Fio-Fio. Pada akhirnya kami mulai terbiasa dengan keadaan rumah ini dan kini cerita tentang rumah ini dan segala yang terjadi di dalamnya adalah salah satu hal yang paling lucu untuk diingat.


kamar tidur cewek. jauh dari layak
ruang belakang, disini letak kamar mandi. kalau malam saya gaberani ke sini.
kamar mandi. pintunya jebol dan bolong-bolong, jd harus diangkat kalau mau pakai kamar mandi.
tanpa lampu, kalau malam (lagi-lagi), saya selalu minta ditemani.
dapur yang menjadi penghubung ruang depan dan ruang tengah.
suasana rapat perencanaan kegiatan di ruang tengah.
Desa Akelamo mengandalkan sisa-sisa sinyal telepon seluler dari pemancar yang terletak di PT NHM Halmahera Utara. Sinyal hanya ada di tempat-tempat tertentu dan menjadi lokasi favorit warga untuk berkumpul. Tapi uniknya, rumah kami menjadi jalur lewat sinyal. Maka tidak aneh kalau warga sering duduk-duduk di depan rumah untuk sekedar menelpon, ber-SMS, dan... menyetel lagu dangdut koplo keras-keras! Sementara kami, cukup meletakkan handphone di jendela rumah, dan voila! Sinyal barang satu-dua strip akan menghampiri.

dijual dijual...

2 comments:

  1. jujur saya suka dengan setting Rumah Akelamos ini. menurut saya unik juga nih apalagi kalo dijadikan lokasi buat syuting.hehehe...
    asik bgt ya bisa punya pengalaman di rumah tersebut, walau agak seram tapi kayaknya asik aja. :D

    ReplyDelete
  2. letaknya sblah mna sih??? klu sma wisma anak bangsa? wktu konflik aku prnah tnggal dsana

    ReplyDelete

terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar :)