January 24, 2012

Papua Dalam Cinta

Eh ini lagunya bagus deh teman-teman. Judulnya Papua dalam Cinta, yang nyanyiin Pay ft Soa Soa. Sebenarnya udah agak lama saya tahu lagu ini, tapi baru ndengerin lagi tadi. Tonton deh tonton deh!
Sekarang yang saya masih penasaran, judul lagu yang saya dengar waktu pesta kedatangan Sultan Ternate di Akelamo Kao, yang ada liriknya 'berlambang burung kepala dua, pulau panjang halmahera...' itu judulnya apaaa?? Cari dimana-mana nggak adaaaa T.T

January 21, 2012

Sunrise Hunter: Bonus dari Telomoyo


 

Sebenarnya ini adalah posting yang terlupa.. Tapi karena terlanjur ya sudah dibikin posting baru saja. Hehehe.

Jadi ini menyambung cerita sebelumnya disini:
Sunrise Hunter: Telomoyo Magelang
Sunrise Hunter: Puncak Telomoyo

Sudah saya ceritakan bahwa ketika kita mendaki gunung Telomoyo, di perjalanan yang berat bin melelahkan itu kita akan menemukan dua air terjun kecil yang menyejukkan mata. Mengalir dari sela-sela punggungan, diantara pepohonan dan rumput hijau.

Pokoknya kalau sudah di Telomoyo, jangan lupa mampir di sini :)








January 20, 2012

Sunrise Hunter: Puncak Telomoyo (2)


 

Sebelumnya saya anjurkan teman-teman membaca posting ini dulu >> Sunrise Hunter: Telomoyo Magelang

***
Pukul dua malam, motor kami melaju kencang dengan bebas di Jalan Magelang. Sesekali saya mendongak ke atas memastikan bahwa bintang-bintang di langit malam itu masih terlihat jelas. Hawa dingin menusuk tulang, kebetulan sekali tidak hujan. Saya mengantuk, beberapa kali kaca helm saya terantuk helm Wana yang segera menyadari bahwa saya butuh 'goncangan' agar tetap terjaga. Tiba-tiba kabut menyergap turun ketika kami melewati jembatan Kali Pabelan. 'Wah mendung wan..' seloroh saya waktu itu.

Kami terus melaju menuju daerah Kopeng, Magelang Jawa Tengah. Jalanan masih sepi tetapi kami harus tetap waspada karena jalur ini juga dilewati truk-truk besar yang berjalan lamban. Melewati hutan sempat membuat bulu kuduk kami merinding, saya memilih menutup mata agar tidak melihat yang aneh-aneh. Ketika kami berhenti di sebuah masjid untuk numpang pipis, benar saja, Iqbal dan William mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan hutan-hutan tadi, perasaan mereka tidak enak.

Hampir dua jam kemudian, kami tiba di daerah Kopeng. Hutan yang menutupi kiri-kanan jalanan kami digantikan oleh hamparan ladang penduduk. Walaupun gelap, siluet Gunung Merbabu tetap terlihat di kejauhan. Jalan mulai berkelok ekstrim dan udara semakin dingin! Ketika sampai di gerbang Kopeng, kami berhenti untuk mengecek apakah sudah berada di arah yang benar. Kami mengandalkan GPS di handphone Iqbal dan kemampuannya membaca peta yang jelas-jelas lebih baik dari saya. Ternyata kami salah arah. Berbalik lagi dan menemukan jalan yang benar, akhirnya kami sampai di sebuah portal putih di ujung perumahan. Nampak jelas siluet Gunung Telomoyo dan tidak ada satu cahaya pun kecuali sebuah cahaya putih di puncak yang sempat kami kira bintang. Melihat jauh ke depan, kok rasanya horor sekali ya. Kayak mau ke dunia lain. Kami agak jiper juga, dan akhirnya memutuskan untuk menunggu subuh di masjid di pojok jalan itu juga.



Dua Honda Revo dan empat manusia kurus, ternyata si Revo tidak kuat untuk menanjak. Apalagi Revo-nya Wana, ngos-ngosan banget mengitari punggung Telomoyo mengikuti jalan yang berkelok demi sampai ke atas. Belum jalannya jelek sekali, ga tanggung-tanggung jeleknya. Banyak jackpot lubang-lubang besar dan endapan lumpur licin atau bahkan genangan air. Kaki saya sempat tertusuk batu ketika harus berjalan karena motor Wana tidak kuat memboncengkan. Secara teori jalan sampai ke atas gunung 'hanya 7 kilometer' (setidaknya itu yang tersebut di GPS Iqbal) tetapi kami menghabiskan nyaris 45 menit untuk menggapai matahari terbit! Sialnya, matahari sudah terbit terlalu tinggi dan langit sudah memutih ketika kami menemukan tempat yang nyaman untuk memotret. Beberapa menit kemudian, kabut pun datang dan segera menyergap jalan kami. Oh iya, kita tidak mungkin melihat sunrise dari puncak gunung karena di sana dipenuhi tower pemancar dan masyarakat umum tidak diperbolehkan masuk.

  



 

 

Walaupun perjalanan ini berat, tetapi semua rasa lelah dan kesal itu hilang. Terbayar oleh cantiknya lansekap Magelang yang begitu hijau dan dikelilingi gunung, sebut saja Merapi, Merbabu, Telomoyo, Sumbing, dan Sindoro. Belum lagi di sepanjang perjalanan mendaki Telomoyo kami disejukkan oleh pemandangan dua air terjun kecil yang mengalir indah di sela punggungan.

Pulang dari Telomoyo, saya meminta Wana agar gantian menyetir. Hahaha. Kami sudah dua kali gantian menyetir, pertama kali waktu saya pergi ke Dieng ikut pakbos syuting video. Menyetir adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan agar tidak mengantuk. Kasian juga sih Wana, dia harus deg-degan karena diboncengin sama cewek. :))

Jangan lupa mampir ke kupat tahu legendaris di Magelang. Ada beberapa warung tetapi yang paling terkenal adalah Kupat Tahu Pojok Magelang. Sayangnya waktu itu tutup sehingga kami menyambangi warung lain yang terlihat meyakinkan. Saya memesan tahu gimbal dan dalam sekejap makanan itu berpindah ke perut saya :)



Tiap setahun sekali, diadakan Festival Lima Gunung di Magelang Jawa Tengah. Kalau tidak salah, setiap bulan Juli di daerah Pabelan. Saya juga belum pernah kesana. Sila googling jika berminat untuk datang ke Festival Lima Gunung Tahun ini.

January 18, 2012

Menikmati Keramahan Jogja a la Jazz Mben Senen

 

Tiap Senin malam, ratusan orang menyemut di Bentara Budaya Yogyakarta. Suara ketukan drum yang terkesan tidak beraturan menyihir orang-orang tersebut untuk ikut menggoyangkan kepala. Mereka mengelilingi sebuah panggung sederhana di pojok halaman Bentara Budaya. Beberapa duduk di kursi lipat dan lesehan di tikar-tikar yang tersedia, yang tidak kebagian terpaksa berdiri berdempetan di balik pagar. Suasana guyub sangat terasa.

Kemudian muncullah trio MC yang paling pinter bikin suasana Bentara Budaya jadi gerr-gerran dengan candaan mereka yang njawani banget. Mas Anggri simbah, Mas Diwa Hutomo, dan satu lagi Mas Jay. Sebenarnya Diwa adalah salah satu vokalis band pengisi dan Simbah adalah drummernya, sementara Mas Jay adalah saxophonist handal! Mereka ini stand up comedian sejati deh. Mau guyonnya jayus atau repost, mereka pasti sukses membuat pengunjung tertawa terbahak-bahak dan mau bersabar menunggu persiapan band yang akan manggung. Sesekali nggodain salah satu pengunjung sampe orangnya udah nggak bisa malu lagi. Kemudian kalau kehabisan bahan biasanya kegalauan Diwa akan jadi bahan olok-olokan Simbah sampai acara berakhir. 

trio MC gaul : Jay - Diwa - Simbah

Itulah suasana yang selalu berulang di acara Jazz Mben Senen tapi tidak pernah bosan saya saksikan. Tidak ada eksklusivitas ala pagelaran jazz yang biasanya berharga mahal. Semua orang bisa datang dan menyaksikan musik elegan ini sampai lewat tengah malam. Sampe teler deh pokoknya.

Saya menjadikan Jazz Mben Senen sebagai salah satu hiburan serba-ada. Cukup dengan 1000 rupiah untuk parkir dan menyumbang seikhlasnya, saya sudah bisa menyaksikan musik jazz berkualitas plus lawakan khas Jogja bersama teman-teman lain. Biasanya satu jam pertama adalah jamming session dan dilanjutkan dengan band-band yang manggung membawakan lagu yang telah dipersiapkan. Jika merasa lapar di pojok panggung tersedia angkringan yang menyediakan nasi kucing dan berbagai jenis minuman. Kadang-kadang, Djaduk Ferianto hadir dan ikut menyaksikan Jazz Mben Senen ini, berbaur dengan penonton yang lain.





mereka yang biasa nonton bersama saya :)
Tiap bulan, Jazz Mben Senen selalu membawa satu tema berbeda yang dikemas spesial. Sejauh ini saya sangat menyukai Jazz Mben Senen yang bertema Kla Project dan Dewa 19. Tiap band bisa membawakan lagu-lagu mereka dengan kemasan berbeda yang tak kalah menarik. Sayangnya waktu edisi Dewa 19, mereka nggak ngebawain lagu Mahameru. Hihihi.

Anda ingin merasakan keramahan Jogjakarta dengan cara yang unik? Silakan datang dan nikmati acara Jazz Mben Senen di Bentara Budaya Kotabaru Yogyakarta (utara kantor Telkom) mulai pukul 20.00 - selesai. Walaupun anda bukan fans fanatik musik jazz, saya jamin anda akan ketagihan dan selalu menunggu datangnya Senin malam!

Jazz Mben Senen, KANCAKUUUU!


Nih saya kasih bonus, lagu Yogyakarta yang dijadikan sebagai lagu penutup pada Jazz Mben Senin edisi Kla Project beberapa bulan lalu. Saya rekam dengan Sony Nex, maaf kalau hasilnya pas-pasan. Cekidot :)




 nemu di Youtube, yang ini durasinya lebih panjang :D

January 17, 2012

senja di lempuyangan

hahaha over banget mataharinya, dan saya gagal membuatnya 'lebih ramah' :(

Sore di bawah Jembatan Lempuyangan selalu ramai seperti biasanya. Dipadati manusia dan kendaraan yang mereka bawa. Luasnya tak seberapa, hanya sekitar 25 meter persegi dan itupun telah dipenuhi berbagai macam pedagang yang ingin ikut mengais rezeki dari keramaian pengunjung. Apalagi kemudian dibuat larangan untuk turun ke area rel kereta api sehingga tempat nongkrong menjadi lebih sempit. Padahal tempat itu sangat nyaman untuk duduk dan menunggu matahari terbenam.

Kali ini, entah untuk keberapa kalinya, saya menyepi ke Lempuyangan. Biasanya saya duduk di besi bekas rel di sebelah barat parkiran motor, tapi kali ini ketika saya baru mau melangkahkan kaki menuruni pembatas, suara peluit keras dibunyikan dari pos penjagaan rel. Seorang penjaga menunjuk-nunjuk saya sambil tetap meniup peluit. Saya cuma melihat si penjaga dengan tatapan tak paham hingga akhirnya pengunjung lain mengingatkan saya, 'mbak, sekarang udah gaboleh lagi turun ke rel.'

Daerah di bawah Jembatan Lempuyangan ini merupakan salah satu public space andalan masyarakat Jogja yang ingin membawa anak-anaknya bermain atau melihat lalu lintas kereta dari Stasiun Lempuyangan tanpa dipungut biaya. Spot ini juga menjadi andalan para fotografer yang ingin mencari momen human interest yang cukup menarik. Saya sendiri, semenjak Stasiun Lempuyangan melarang pengunjung tanpa tiket masuk ke peron, memilih tempat ini sebagai salah satu tempat favorit mengejar matahari terbenam. Dan tentu saja, duduk sambil makan jajanan. The Art of Doing Nothing.
Saya sudah lebih dari tiga kali posting tentang Lempuyangan. Saya tidak pernah bosan :)







jadi tempat favorit orangtua buat nyuapin anak-anaknya

_________________________________________
yang di bawah ini ga ada hubungannya sih sama judul.
Tadi saya bimbingan skripsi dengan seorang dosen, yang dikenal sangat religius di kampus. Tetapi orangnya sangat ramah dan bersahabat serta suka memberikan pendidikan moral kepada para mahasiswanya. Sebelum saya ada beberapa adik kelas yang menanyakan masalah kuliah, gatau kenapa mereka nyasar sampai ke urusan menikah.
"Yang namanya menikah itu seperti akuntansi yang kita pelajari ini to.. Transaksi (ijab kabul) dulu, baru kalo ternyata nggak cocok kita melakukan adjustment (penyesuaian)... Sayangnya yang dilakukan sama anak-anak jaman sekarang itu melakukan adjustment lewat pacaran, nggak cocok ya nggak nikah. Ya to?"
Para adik kelas tertawa terbahak-bahak, sementara kami tetua di barisan belakang cuma bisa senyum simpul. Pacaran tidak dianjurkan lewat agama. Dan jodoh itu bukan semata-mata bisa didapatkan begitu saja, tetapi merupakan hasil usaha kedua belah pihak untuk saling mencocokkan diri dan menjadi yang terbaik untuk pasangannya. Itulah kenapa saya berani bilang, 'jodoh itu dia yang menemani kita sampai tua...'
Karena itulah, di umur segini saya masih single, saya mempercayai bahwa jodoh saya ada di luar sana, dan kami akan bertemu ketika masing-masing dari kami telah berhasil untuk memantaskan diri. Jodoh baik untuk orang baik, ditemukan di tempat baik pula. Nah loh, masalahnya apakah kita mau memantaskan diri agar mendapatkan jodoh yang baik? :)

Menutup posting kali ini, salam hangat dari saya dan senja cantik Lempuyangan.


January 16, 2012

segera: review kuliner Warung Bu Ageng


Sejak awal tahun 2012 ini, Jogjakarta punya satu lagi destinasi wisata kuliner yang cukup mengundang badan ini bergerak datang kesana dan mencicipinya. Menggunakan media twitter sebagai alat promosi utama, Warung Bu Ageng milik seniman Butet Kertaradjasa ini menggugah rasa penasaran saya dan beberapa teman. Butet sering sekali me-retweet para pelanggannya yang datang untuk mencicipi dan memberikan komentar atas masakan di Warung Bu Ageng. Beberapa artis juga ikut memberikan komentar terhadap Warung Bu Ageng tersebut. Dimana itu tempatnya? Apa saja makanan yang tersedia? Bagaimana rasanya? Seperti apa suasana restonya? Hehehe... Kita tunggu posting selanjutnya. Saya akan ajak Ian Prasetyo untuk membuat artikel review kuliner ini, segera setelah kami selesai ujian.

Selamat pagi :)

Butet sangat ramah dan dia tidak segan-segan mampir ke meja pengunjung menyapa mereka. 

January 12, 2012

Boyce Avenue

Di Youtube banyak sekali bertebaran video-video yang cover lagu Someone Like You-nya Adele. Saya udah males liat yang versi cewek karena menurut saya yang paling nggerus (tr: mellow) nyanyiinnya tetep si Adele. Saya cari-cari versi cowok, dan ada satu yang menyanyikannya dengan keren! Namanya Boyce Avenue, apakah mereka memang sudah terkenal dan saya telat tahu? Entahlah. Yang penting nyanyiinnya bagus. Satu lagi. Yang nyanyi ganteng! Ada dua lagu yang saya suka covernya, yang satu lagu Adele tadi, satunya lagu The Calling - Wherever You Will Go. Oke, combo dengan mendung menggantung, mellowlah pagi saya.

Biasanya saya selalu mantengin channelnya Kurt Hugo Schneider atau Mike Tompkins. Tapi mulai bosan. Tapi kalo liat gantengnya gapernah bosan. Baiklah, 'ganteng' selalu jadi variabel penting dalam pemilihan video Youtube yang saya tonton.*pengakuan*

January 11, 2012

you're friendzoned!

You're in friendzone, derp!

Kalimat ini begitu akrab terbaca di mata saya beberapa hari terakhir ini. Beberapa teman mungkin juga familiar dan (ikut) teracuni, yaaak saya resmi teracuni 9gag.com! tidak bisa untuk tidak mampir barang sehari. Dan sekalinya mampir bisa scrolling mulu sampe 5 halaman, minimal! Tapi emang lucu dan banyak yang bikin saya teriak 'So true!' atau 'Close enough!' hahaha. Hiburan mahasiswa akhir tahun. Ada yang setuju sama saya? :)

Aniwe, saya kemarin habis nonton video traveling ke India yang diRT sama Lonely Planet. Begitu saya cek, ternyata yang bikin orang Indonesia, namanya Jordan Marzuki. Bagus videonya, kualitas gambarnya juga bagus. Suka tone-nya. Belakangan saya tanya ternyata dia bikin pake Olympus Pen EPL-1 dan lensa bawaan Olympus. Saya sudah ijin yang bersangkutan untuk share videonya disini. Siapa yang pengen traveling ke Indiaaa? Cekidot!




akhirnya rusak juga

Beberapa bulan yang lalu dua teman saya, Nisia dan Ferzya mengeluhkan hal yang sama mengenai macbook mereka: baterai macbook soak! katanya sih memang umurnya sekitar 3,5 tahun sebelum si batere rusak atau bocor. Semacam sudah waktunya. Nyebelinnya harga batere macbook mahal, dan ga tiap toko jual yang sesuai spesifikasi yang dibutuhkan... Terus saya menghitung umur makki saya, sudah lebih tiga tahun juga. Dalam hati agak dag-dig-dug dan khawatir batere makki akan mencapai ajalnya.

Akhirnya sekitar dua minggu lalu, si makki selalu menunjukkan gejala yang sama: crash saat masuk ke halaman desktop dan ngambek gamau jalan (padahal seumur-umur se-hang apapun makki dia pasti akhirnya jalan lagi) dan terpaksa re-boot biar bisa dipake lagi. Saya kira dia masih bisa dipaksakan kerja untuk beberapa hari kedepan sebelum saya masukin ke reparasi. Eh ternyata sebelum rencana saya terlaksana, si makki gamau booting dan cuma berhenti di gambar logo apple sambil loading ampe lebaran monyet kagak muncul juga desktopnya...

Dua hari lalu saya masukin ke reparasi, dan baru tadi dapat kabar kalau HD makki saya mati dan udah ga kedetect lagi. Wo'o, ini lebih buruk dari batere soak. Tiba-tiba dunia suram.. burung berhenti berkicau.. hujan deras dan angin kencang... Dalam hati berdoa semoga si HD bisa direcovery dan semua data, foto-foto, editan, kerjaan saya terselamatkan.. karena selama ini cuma folder-folder berisi foto mentah yang saya backup di HD external. Dalam hati rasanya nyesek banget, selama ini niatan buat nge-backup semua data di makki ga pernah terlaksana karena virus males. Makan tuh males kin.. Padahal proposal skripsi saya ada di makki dan tidak saya backup.. kebodohan kedua. Beruntung saya ngerjain penelitian di laptop satunya dan saya tiba-tiba ngerasa pengen backup semua data saya di laptop itu biar ga kejadian yang sama kayak makki.

Kemungkinan besar si HD rusak karena terlalu banyak kena goncangan. Kemudian saya mengingat-ingat style saya ngebawa si makki dan emang bener saya barbar banget ngebawanya. Seakan-akan si makki adalah pemeran film 300 yang tahan goncangan dan ahli debus. Saya googling dan menemukan bahwa ternyata macbook generasi ini memang sebagian HD nya tidak terlalu bagus (tidak semuanya) ditambah saya yang agak urakan ngebawa makki jadilah double combo faktor rusaknya. *tawa miris*

Terpaksa tabungan yang harusnya buat traveling dipake buat beli HD, padahal katanya harga HD masih melonjak tajam gara-gara banjir Thailand. Googling harga, dan yak ternyata benar...*ngunyah rumput*

Pelajaran bagus. Sayangi barangmu dan perlakukan ia seperti manusia.
"saat engkau memiliki keinginan, maka seluruh alam semesta - dengan ijin Allah - akan segera bekerja untuk membantu mewujudkan keinginanmu."

Mestakung. Semesta mendukung.
Percayalah :)




January 09, 2012

missing


Every parting is a form of death, as every reunion is a type of heaven.

I miss my partner in crime, Ian Prasetyo.
atas setiap momen yang pernah terjadi. mulai dari foto-foto sok berkonsep di rektorat kampus sampai bergabung dalam satu tim lomba prestisius. mulai dari berkomplot ngerjain teman sampai kamu sendiri malah balik dikerjain serombongan.

But time flies. People change.

Kurang dari seminggu Ian akan berulangtahun. Menuju 22 nya yang mungkin akan jadi tahun penuh tantangan. Semoga sukses, teman. :) 


birthday boy, 80 kg. :D
Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua

- nowplaying : Sheila on 7, Sebuah Kisah Klasih untuk Masa Depan 

kunjungi blognya yang penuh dengan review kuliner disini.

January 05, 2012

(UPDATE) #helpternate: Donasi untuk saudara kita di Ternate


 Untuk sementara, jalur donasi pengungsi Ternate via Jainyonyo di Jogjakarta kami tutup. Kami masih menunggu kabar terkini di lapangan melalui relawan Ambon dan kami akan mengabarkan ketika jalur donasi kembali dibuka atau akan ditutup untuk seterusnya.
Kabar mengenai penyaluran bantuan secara berkala dilaporkan oleh @iphankdewe dan @ambon_bergerak (website: ambonbergerak.com).

____________________________________________

Pagi terakhir di tahun 2011. Sebagian penduduk Indonesia sudah bersiap merayakan pergantian tahun malam nanti. Bersamaan dengan waktu liburan, jalanan macet, tempat wisata dijejali pengunjung, berbagai hotel, restoran, tempat hiburan sudah mempersiapkan acara perayaan yang menarik.

Tetapi perayaan tahun baru yang meriah tidak akan terjadi di Ternate. Pulau kecil di sebelah barat Pulau Halmahera Maluku Utara ini tengah dilanda musibah bencana alam. Gunung Gamalama, yang berada di tengah pulau tersebut, sejak awal Desember lalu telah beberapa kali meletus. Gunung setinggi 1.700 meter ini sempat menyemburkan abu vulkanik yang menutupi Ternate bagian utara. Tetapi ancaman tidak berhenti hingga disitu saja. Beberapa hari yang lalu banjir bandang lahar dingin menerjang Ternate dan menyebabkan kerusakan cukup parah di beberapa lokasi seperti kelurahan Tubo. Tiga orang dikabarkan tewas, puluhan luka-luka dan ratusan rumah rusak diterjang banjir lahar dingin.

Berdasarkan pemantauan kami via media dan jejaring sosial, curah hujan tinggi selama dua hari terakhir dan evakuasi penduduk di wilayah rawan bencana menyebabkan lonjakan pengungsi hingga 50%. Per 30 Desember 2011, sebanyak 3.822 jiwa di sepuluh titik pengungsian hidup di tengah keterbatasan pasokan kebutuhan barang-barang seperti makanan, obat-obatan dan peralatan tidur yang layak. Via KBR68H, kami mendapatkan informasi bahwa gudang logistik BPBD mulai kosong dan pasokan yang masih ada hanya cukup memenuhi kebutuhan pengungsi hingga 2 Januari 2012 nanti. Sementara via Metro TV, Sejumlah pengungsi terpaksa makan sagu yang mereka beli sendiri karena kurangnya pasokan makanan tersebut. Bahkan balita terpaksa diberi makan nasi campur air hangat karena tidak adanya makanan dan susu untuk bayi.

Jogja pernah mengalami hal yang sama. Setahun lalu kita mengalami bencana letusan Gunung Merapi dan kita telah banyak dibantu. Sedikit banyak kita paham penderitaan mereka. Bahkan mungkin keadaan mereka lebih sulit. Letaknya di timur sana, jauh dari pusat pemerintahan, kurang diekspos oleh media. Pulau kecil ini juga hanya dapat dicapai dengan kapal atau pesawat udara. Aksesnya jauh lebih sulit daripada kita di tanah Jawa.

Berangkat dari rasa simpati atas kondisi saudara-saudara di Ternate, sejumlah masyarakat bersepakat untuk menggalang bantuan untuk sedikit meringankan beban mereka. Ambon telah mulai bergerak. Mereka telah memulai penggalangan donasi dan bantuan melalui aksi solidaritas di Ambon mulai hari ini (31/12). Bantuan yang terkumpul nantinya akan dikirimkan langsung ke Ternate via kapal pada 3 Januari 2012. Tadi malam kami berkoordinasi dengan komunitas ambon bergerak. Kami di Jogjakarta bersepakat untuk membuka jalur donasi karena terkendala jauhnya jarak sehingga tidak dapat mengirimkan bantuan secara langsung.

Bagi teman-teman yang sudah melakukan donasi diharapkan confirm ke no 085643198838 agar kami mudah untuk melakukan rekap. Secara berkala kami akan mengabarkan informasi jumlah donasi yang terkumpul. Seluruh donasi yang terkumpul, berapapun itu, akan kami kirimkan via ambon bergerak agar dapat digunakan untuk membeli barang-barang kebutuhan pengungsi.

Bantu kami menyebarkan informasi donasi ini kepada semua orang. Kami akan sangat berterima kasih :)
Mari membantu sesama: atas nama kemanusiaan, persaudaraan dan kebangsaan.

Update (2/1) : Hingga Senin, 2 Januari 2012 sore donasi pengungsi ternate yang telah terkumpul adalah sebesar Rp 4.205.000. Donasi term 1 ini telah dikirimkan ke ambonbergerak untuk segera dibelikan logistik pengungsi. AmbonBergerak akan membeli logistik khusus kebutuhan bayi karena banyaknya pengungsi yang kekurangan logistik tersebut. Pada 3 Januari besok AmbonBergerak akan berangkat membawa logistik ke Ternate dengan menggunakan kapal laut. (sumber: akun twitter @iphankdewe) Kita doakan para relawan AmbonBergerak dapat sampai dengan selamat di Ternate dan distribusi logistik dapat dilakukan dengan baik.
Kami masih tetap membuka donasi bagi teman-teman yang ingin membantu saudara kita di Ternate.

Update (3/1)
: Hingga Selasa, 3 Januari 2012 pukul 16.00 WIB total donasi pengungsi Ternate yang terkumpul adl sebesar Rp 4.955.011, dimana sebesar Rp 4.205.000 telah dikirimkan kemarin kepada relawan AmbonBergerak.

Update (4/1) : Hingga Rabu, 4 Januari 2012 pukul 21.00 WIB total donasi pengungsi Ternate yang telah terkumpul adalah sebesar Rp 15.055.011, dimana sebesar Rp 4.205.000 telah dikirimkan kemarin kepada relawan AmbonBergerak. Kami sedang berkoordinasi dengan relawan Ambon mengenai pengiriman saldo donasi sebesar Rp 10.850.011.
Demi transparansi, kami akan menampilkan daftar lengkap donasi dari teman-teman semua secepatnya. Sekali lagi, terima kasih banyak atas bantuan teman-teman semua.

Jika ada yang mungkin bertanya-tanya, siapakah yang dimaksud 'kami' di post ini? Kami adalah sekumpulan mahasiswa UGM yang pernah mencoba mengabdi di tanah Maluku Utara selama dua bulan pada Juli-Agustus lalu. Kami telah menganggap Maluku Utara sebagai rumah baru dan keluarga baru kami.

January 04, 2012

Bumi Halmahera (10) : Rumah Akelamos Yang Bercerita


Rumah bercat putih pudar beratapkan seng ini adalah salah satu tempat yang paling familiar di memori kami, para Akelamos. Pagar kayu di tepi jalan setapak yang akhirnya rubuh diterjang kambing tetangga, dua kursi plastik biru yang akhirnya patah atau hilang dibawa anak-anak, jendela-jendela tidak berkaca dan ditutup kertas HVS, 'tirai' sederhana dari bekas spanduk sebuah provider selular, dan pohon kelapa pendek yang menjadi tempat latihan panjat pohon. Setidaknya itu yang selalu saya ingat ketika saya memandang rumah ini dari depan.

Rumah ini punya cerita yang panjang. Seakan ia menjadi saksi bisu konflik horisontal berdarah yang pernah terjadi di tanah Halmahera beberapa tahun yang lalu. Rumah ini, dengan atapnya yang bocor, jendela yang bolong-bolong, dan pagar yang rubuh, memperlihatkan bahwa kekuasaan menyengsarakan mereka yang jelata. Perkenankan saya menceritakan kembali apa yang saya dapatkan dari Jamet (pendahulu Jainyonyo), warga desa, teman-teman Jainyonyo subunit sebelah, dan sumber internet.

Medio 2000-an, seiring dengan perkembangan otonomi daerah, wilayah di Maluku Utara mengalami pemekaran wilayah. Sebelumnya konflik ini pernah terjadi pada tahun 1999 dimana terjadi konflik isu agama yang disinyalir berawal dari konflik politik perebutan kekuasaan. Di Maluku Utara, isu agama adalah isu sensitif dan jelas saja, ketika terjadi sedikit pergesekan akan segera membesar dan meluas. Pada 2003 kembali terjadi konflik yang diawali perebutan batas wilayah antara Halmahera Utara dan Halmahera Barat. Konflik ini melibatkan desa-desa yang terletak di perbatasan wilayah tersebut. Terdapat enam desa yang masuk ke wilayah pelayanan Kecamatan Jailolo Halmahera Barat tetapi secara administratif masuk ke Halmahera Utara. Kompleks sekali permasalahannya. Selama bertahun-tahun tidak ada penyelesaian atas hal ini. Rakyat diombang-ambingkan ketidakseriusan pemerintah.

Tidak semua warga desa menerima keputusan ini. Ada warga desa yang dengan keras menyatakan bergabung dengan Halmahera Barat, tetapi ada pula yang memutuskan bergabung dengan Halmahera Utara. Akibatnya? Konflik horisontal terjadi. Di Desa Akelamo Kao sendiri, pada akhirnya warga yang memilih bergabung dengan Halmahera Utara pergi meninggalkan desa. Warga desa yang memilih Halmahera Barat mengusir mereka dengan cara melempari rumah dengan batu, bahkan konon rumah-rumah tersebut 'dikirimi' berbagai santet agar penghuninya tidak betah.

Warga Akelamo pernah bercerita dengan bangganya, pada konflik 1999 warga antar desa saling serang. Ketika desa-desa lain habis terbakar dan warganya tunggang langgang, desa Akelamo yang hanya dijaga beberapa pemuda tetap berdiri walau terbakar disana-sini. Kisah ini hingga sekarang masih terus diceritakan kepada para pendatang. Bener sih, saat kami main ke Akesahu, desa yang terletak beberapa kilometer di utara Akelamo, terlihat jelas jejak konflik. Puing-puing rumah yang rusak atau terbakar masih ada dan warga Akesahu masih mencoba membangun rumah-rumah kayu baru di dekat pantai. Saya sedih sekali melihatnya, ini adalah bukti nyata bahwa otonomi daerah tidak selalu membawa kesejahteraan bagi warga.

Saya jadi pusing mau cerita. Jadi, mari kita kembali ke rumah pondokan kami.

Sebenarnya ini rumah yang bagus. Besar memanjang ke belakang dan ruang depannya sudah berlantaikan keramik putih. Ini adalah rumah seorang pedagang yang pindah ke Halmahera Utara kemudian dijual kepada seorang haji, yang kebetulan ketika kami kesana ia sedang bekerja di Sofifi sehingga rumah ini tidak digunakan. Sudah saya ceritakan sebelumnya kalau rumah warga yang memilih ke Halut akan 'dikirimi' macam-macam, hal yang sama terjadi di rumah ini. Kejadian kecil yang aneh mewarnai hari-hari kami. Hari pertama mendiami rumah, tidak ada yang berani tidur nyenyak. Bagaimana tidak, sepanjang malam terdengar suara orang main bola dan menyapu di halaman samping dan atap rumah berkali-kali kejatuhan sesuatu, entah apa. Dua kali saya mendengar suara orang bersiul aneh yang dipercaya warga merupakan suara siulan makhluk jejadian Fio-Fio. Pada akhirnya kami mulai terbiasa dengan keadaan rumah ini dan kini cerita tentang rumah ini dan segala yang terjadi di dalamnya adalah salah satu hal yang paling lucu untuk diingat.


kamar tidur cewek. jauh dari layak
ruang belakang, disini letak kamar mandi. kalau malam saya gaberani ke sini.
kamar mandi. pintunya jebol dan bolong-bolong, jd harus diangkat kalau mau pakai kamar mandi.
tanpa lampu, kalau malam (lagi-lagi), saya selalu minta ditemani.
dapur yang menjadi penghubung ruang depan dan ruang tengah.
suasana rapat perencanaan kegiatan di ruang tengah.
Desa Akelamo mengandalkan sisa-sisa sinyal telepon seluler dari pemancar yang terletak di PT NHM Halmahera Utara. Sinyal hanya ada di tempat-tempat tertentu dan menjadi lokasi favorit warga untuk berkumpul. Tapi uniknya, rumah kami menjadi jalur lewat sinyal. Maka tidak aneh kalau warga sering duduk-duduk di depan rumah untuk sekedar menelpon, ber-SMS, dan... menyetel lagu dangdut koplo keras-keras! Sementara kami, cukup meletakkan handphone di jendela rumah, dan voila! Sinyal barang satu-dua strip akan menghampiri.

dijual dijual...

January 03, 2012

bahagia yang sederhana

Bahagia itu sederhana,
saat saya masih bisa melihat matahari terbit dan terbenam dari tempat favorit.
Bahagia itu sederhana,
saat dua tangan masih bisa saya ulurkan kepada mereka yang membutuhkan bantuan.
Bahagia itu sederhana,
saat melihat ibu terharu menerima gaji pertama dari penelitian saya.
Bahagia itu sederhana,
saat foto sebuah tempat yang saya hasilkan membuat teman-teman terdekat minta diantarkan kesana.
Bahagia itu sederhana,
saat saya dan kamu, kita duduk berdua berhadapan tanpa bicara apapun. Tapi saya tahu bahwa kamu menyayangi saya.
Bahagia itu sederhana,
saat saya diimami lelaki yang bacaan solatnya lancar dan merdu.
Bahagia itu sederhana,
saat mendongak ke langit dan mendapatkan langit biru dengan awan-awan yang berarak teratur.
Bahagia itu sederhana,
saat saya melompat-lompat kecil di bawah naungan payung di antara genangan air di tengah hujan gerimis.
Bahagia itu sederhana,
saat melihat orang yang disayangi tertawa lepas karena candaan yang saya buat.

Sayangnya bahagia tak selalu sederhana,
ketika putus asa, benci, takut, dan iri memasuki dan meracuni relung-relung hati.
Kemudian bahagia tak lagi sederhana,
sampai banyak yang bertanya-tanya, kapan terakhir kali merasakan bahagia.

what easy come, easy go.

tiap yang datang ke kehidupan kita akan pergi juga. semua yang kita miliki adalah titipan Yang Maha Kuasa.
lalu kenapa mempersulit bahagia untuk datang?

kamu,
aku ingin mencintaimu dengan sederhana. aku ingin membuatmu bahagia dengan sederhana.

January 02, 2012

Bumi Halmahera (9) : Gunung dan Laut

Membicarakan keindahan gunung dan laut di Maluku Utara seperti tak pernah ada habisnya. Siapa sangka, begitu besarnya kekayaan alam provinsi 'kecil' di timur Indonesia ini. Apalagi yang anda cari? Anda sudah mengintip halaman surga. Warna hijau dan biru berpadu begitu indahnya menjadi harmoni yang tak terbantahkan pesonanya.

Jika anda tidak percaya akan kata-kata saya dan ingin melihat semua anugerah ini secara langsung, apalagi yang anda tunggu! Dari Pulau Jawa, beberapa perusahaan penerbangan menyediakan rute penerbangan ke Ternate, sebut saja Express Air, Sriwijaya Air, Lion Air, atau bahkan Garuda Indonesia. Range harga sekitar 800 ribu - 1,3 juta. Untuk Garuda Indonesia antara 1,7 juta - 2,5 juta. Biasanya pesawat akan transit dulu di Manado atau Makassar. Dari Manado, untuk pertama kalinya saya merasakan naik pesawat baling-baling yang suaranya gaduh bukan main. Jika anda tidak punya cukup uang untuk naik pesawat, coba rasakan sensasi berlayar selama empat hari dengan kapal besar yang disediakan PT Pelni. Selama sebulan ada beberapa kali pelayaran ke Ternate. Dari Ternate, anda bisa menyeberang ke Halmahera menggunakan speedboat seharga 50 ribu dengan tujuan Jailolo atau naik kapal feri dengan tujuan Sidangoli. Di Jailolo ada beberapa penginapan yang tersedia di dekat pelabuhan. Salah satu yang paling terkenal adalah Hotel Camar disebelah Pasar Ikan, dari hotel anda cukup berjalan 10 menit untuk sampai ke pelabuhan.

Anda ingin merasakan cantiknya Teluk Jailolo dengan suasana berbeda? Silakan datang di bulan Mei, akan diadakan Festival Teluk Jailolo. Jailolo akan tampak meriah dan semakin menawan dengan panggung di atas lautnya. Rasakan keramahan di bagian lain Indonesia, negara kita tercinta.

lekuk khas Halmahera dilihat dari Jailolo Bay
 

















Gunung Gamalama (Agustus 2011) dilihat dari pelabuhan Bastiong, Ternate.
Pulau Babua, pulau kecil tak berpenghuni ini dilengkapi pasir putih, batuan vulkanik besar, dan karang cantik di dasar lautnya.
Gunung Jailolo dilihat dari Pulau Babua yang berbatu-batu
Dasar dermaga speedboat Ternate ini terlihat begitu jernih.
Tidore membiru di kejauhan, dilihat dari Pelabuhan Bastiong Ternate.
seluruh foto diambil dengan kamera Sony Nex 5 dan lensa 18-55mm

January 01, 2012

e-book pejalan wajib unduh

Saya bersyukur Indonesia punya banyak petualang yang rendah hati. Mereka melakukan perjalanan, memotret, membuat video, menulis kisahnya, dan bahagianya, semua informasi itu mereka bagikan secara gratis via e-book dan e-magz. Saya termasuk salah satu penikmat e-book gratisan, dan jangan salah, banyak sekali e-book gratisan yang berkualitas bikinan para pejalan Indonesia.

Berikut ini, saya coba share beberapa e-book pejalan yang sayang untuk dilewatkan. Siapkan koneksi internet dan siap-siap 'bertualang'!

Majalah Digital Info Backpacker


Website majalah digital ini memenangkan Bubu Awards v.07 : Web Awards kategori Cultural & Tourism untuk digital media Indonesia pada tahun 2011. E-magz nya sendiri sudah mencapai edisi sepuluh yang menurut saya adalah sebuah pencapaian luar biasa. Info Backpacker mengulas perjalanan ke berbagai destinasi wisata Indonesia dan luar negeri dengan gaya backpacking. Artikel di dalamnya mengulas cukup lengkap mulai dari how to get there sampai akomodasi harian di tempat tujuan.


Edisi favorit : Info Backpacker edisi 10 yang membahas dengan lengkap mengenai perjalanan backpacking ke Raja Ampat. Informasi yang dicantumkan sangat detail dan membuat saya berpikir, 'Raja Ampat ga melulu buat orang kaya.'


The Travelist


Majalah digital satu ini masih terbilang baru, edisi 1 nya muncul pada pertengahan 2011 lalu. Tapi jangan salah, e-magz yang mengusung tagline 'Satisfying Your Craving for Travel' ini selalu menyediakan tema segar di setiap edisinya. Saya kenal dekat dengan para manusia yang ada di dapur pembuatan e-magz ini dan mereka adalah orang-orang yang memang berdedikasi pada traveling. Kontributor tiap edisi juga enggak boleh diremehkan. Pada edisi pertama saja mereka berhasil mewawancarai Agustinus Wibowo, traveler favorit saya!

Edisi favorit: The Travelist edisi kedua tentang Underwater. Editor in chief The Travelist adalah seorang diver kece, Ferzya; menurut saya, dia cukup berhasil membawa misi 'mingin-mingin orang buat diving'. Hahaha, tos dulu lah kakak.

Landscape Indonesia


Widhibek, seorang traveler yang juga pegiat forum National Geographic Indonesia adalah seorang yang banyak bekerja dibalik pembuatan e-book Landscape Indonesia ini. Beliau termasuk produktif bikin e-book. Sekarang sudah ada belasan e-book Landscape Indonesia siap unduh yang kebanyakan dibuat per destinasi wisata. Yang saya sukai dari koleksi e-book ini adalah foto-foto mas Widhibek yang ciamik. Saya selalu sukses menahan napas tiap melihat foto-foto startrailnya.

Edisi favorit: E-book Menggapai Mahameru yang dibagi kedalam tiga chapter. Ini selera pribadi sih ya, soalnya saya emang pingin banget bisa muncak Semeru suatu saat nanti, hehehe.

Hifatlobrain: Alone Longway From Home



Hifatlobrain, sebuah travel institute berbasis di Surabaya yang berisi pejalan-pejalan 'gila' ini beberapa kali membuat e-book. Tetapi hingga saat ini saya baru membaca salah satu diantaranya yaitu yang berjudul Alone Longway From Home. Tema utama e-book ini adalah kisah perjalanan duo pejalan gendeng, Nuran-Ayos, dari Jawa ke Flores yang diceritakan dengan sangat menyenangkan. Kalo boleh saya bilang, style backpacking mereka termasuk hardcore, dimana mereka bahkan sampai numpang-numpang truk untuk bisa sampai ke Flores. E-book ini jelas memperlihatkan bahwa terkadang perjuangan mencapai suatu tempat adalah hal yang paling seru untuk diceritakan. List 4 shits happen di bagian akhir dan daftar lagu-lagu yang menemani selama perjalanan membuat e-book ini semakin unik dan menarik untuk dikoleksi.


Terimakasih, para petualang yang rendah hati :)


Apabila teman-teman ada yang memiliki referensi e-book pejalan lain yang menarik untuk diunduh, boleh loh share dengan saya :)