December 30, 2012

DIY Project: Handmade Notebook

potrait di Indrayanti, Gunungkidul
Di penghujung 2012, dua kawan baik saya hijrah ke Jakarta. Lebih tepatnya seorang hijrah untuk bekerja, seorang lagi kembali ke rumah tercinta di mana ia dibesarkan. Hijrah adalah sebuah keniscayaan, kita pasti akan berhijrah, paling tidak satu kali sepanjang hidup. Tuhan telah tetapkan adil untuk tiap kisah hidup kita, maka jangan bersedih.

December 14, 2012

Graduation Trip At A Glance


Tahun 2012 ini nampaknya semesta berkonspirasi untuk terus menerus menjauhkan saya dari hangatnya rumah. Kaki ini menjadi lebih banyak melangkah, mata ini lebih banyak melihat warna-warni, dan tangan tak henti menjabat tangan orang-orang baru yang ditemui sepanjang perjalanan.

December 03, 2012

Download: Kelana Laut Wallacea


 Salam bahari!

Setelah dua bulan sejak kepulangan saya dari melakukan pelayaran bersama KRI Surabaya 591, banyak sekali hal-hal yang terjadi yang mengisi hari-hari tersebut. Hidup berubah. Banyak orang datang dan pergi. Ide membuat ebook tentang pelayaran pun terbengkalai cukup lama.

December 02, 2012

Artikel Pendakian Merbabu di National Geographic Traveler Desember 2012






Mengakrabi Tujuh Puncak Merbabu 
*dimuat di National Geographic Traveler, Desember 2012 

Paras rupawan gunung ini mengundang petualang merayapi sisi-sisi punggungnya.

Langit yang memayungi Merbabu, malam itu, bertabung gemintang yang bersinar terang. Pada pertengahan tahun, cuaca cenderung cerah dan suhu udara belum mencapai titik terdinginnya. Gunung di Jawa Tengah ini pun menunjukkan keramahannya yang khas. Saya bersama 15 rekan pendaki bergegas meninggalkan basecamp di Desa Tuk Pakis Selo, Boyolali. Kaki-kaki kami menyusuri jalan setapak pada punggungan landai di ketinggian 1.680 meter di atas permukaan laut.

Jalur Selo adalah salah satu jalur pendakian yang paling populer dibandingan jalur Cunthel, Thekelan, dan Wekas karena beragamnya bentang alam yang menawan. Trek yang lebih panjang dan melelahkan biasanya membuat para pendaki memilih untuk mendaki dari Wekas dan turun lewat Selo agar dapat menikmati lansekap cantik khas Merbabu: padang sabana, edelweis (Anaphalis javanica), dan gemunung hijau. Selama satu jam kami menyusuri jalur pendakian dengan vegetasi yang didominasi hutan homogen lebat kemudian tiba di pos pertama, Dok Malang. Setelah beristirahat sesaat, perjalanan dilanjutkan melewati jalur baru yang mulai sempit danmenanjak, tanaman tumbuh lebih rapat daripada sebelumnya. Angin yang berhembus kencang menimbulkan suara misterius di pucuk pepohonan dan sempat membuat kami khawatir terjadinya badai. Untunglah ketika tiba di Pos II yang berada di sisi padang rumput, kami tidak melihat tanda-tanda badai khas Merapi yang dihindari para pendaki.

Kami sengaja mendaki pada malam hari untuk menghindari panas terik yang membakar kulit dan mengeringkan kerongkongan. Tidak ada sumber air di sepanjang jalur sehingga perbekalan harus dihemat. Tetapi kami dihadapkan pada konsekuensi atas pilihan kami sendiri. Beranjak dari Pos II, kami tersesat di padang sabana dan selama hampir satu jam berputar-putar mencari jalan keluar. Leader pendakian yang seharusnya sudah mafhum jalur ini pun kebingungan dan berkali-kali bergumam,”Seharusnya ada jalan di sini.” Beberapa teman mulai khawatir dan suara canda tak lagi terdengar.

Tak kunjung menemukan jalur yang benar, kami memutuskan beristirahat dan membangun camp sembari menunggu matahari terbit sesaat lagi. Menjelang pukul lima, langit timur beranjak terang dan kami mendapati momen matahari terbit yang menakjubkan. Gunung Merapi yang sebelumnya hanya berupa siluet pun mulai nampak gagah diterpa cahaya pagi yang magis. Gunung Lawu membiru di kejauhan dengan puncaknya yang memanjang seakan menyembul dari lautan awan. Dan kami baru menyadari bahwa jalur pendakian yang hilang itu terletak hanya beberapa meter dari tempat tenda berdiri!

Pukul sepuluh siang, separuh dari kami memutuskan untuk menunggu di basecamp sembari memasak dan membereskan tenda, sementara sisanya mendaki ke puncak.

Trek selepas Pos III Watu Tulis mulai licin dan menanjak tajam. Kami disambut padang sabana luas dengan pepohonan bergerombol di beberapa sisi yang menawarkan keteduhan. Terpisah bukit, terdapat beberapa padang sabana lain yang biasa digunakan para pendaki untuk berkemah. Kami mungkin hanya nampak seperti titik hitam kecil di antara luasnya sabana ini. Ingin rasanya duduk berlama-lama, tetapi waktu yang terus berjalan memaksa kami melanjutkan pendakian.

Merbabu dikenal dengan tujuh puncak bayangan yang memberikan harapan sesaat bagi pendaki. Setiap satu puncak selesai dicapai, rupanya ada puncak lain yang lebih tinggi menguji stamina. Berlalu dari Pos V, jalur pendakian menjadi lebih curam dan tak jarang kami harus berpegangan pada rerumputan di kanan kiri jalur sembari merangkak. Tubuh yang kelelahan kembali mendapat semangat ketika melihat gerombolan edelweis yang belum pernah kami lihat bertumbuh setinggi ini. Apalagi tiap menengok ke belakang Merapi senantiasa membayangi. Tampak begitu jelas, tanpa ditutupi selapis awan.

Tepat saat matahari di atas ubun-ubun, akhirnya kami tiba di puncak triangulasi Merbabu 3.142 meter di atas permukaan laut. Tampak jelas deretan gunung di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti si kembar Sumbing Sindoro yang anggun. Sekitar seratus meter dari puncak triangulasi, menjulang puncak Kenteng Songo yang begitu terkenal dengan mitos sembilan batu lumpangnya yang hanya dapat dilihat orang tertentu saja. Sementara kami hanya melihat empat batu lumpang yang terserak di puncak.

Setelah beristirahat sebentar dan menikmati pemandangan, kami turun menggunakan jalur yang sama secara perlahan karena lutut yang mulai meronta menahan beban tubuh. Tetapi semua rasa lelah terlupakan ketika mengingat perkataan seorang teman, “Mendakilah, di puncak-puncak gunung sana kau akan bersyukur hidup di Indonesia.”

***

November 24, 2012

Lanskap Merbabu Via Selo


bersujud syukur telah diberikan izin mencapai puncak Merbabu

Akhirnya, setelah enam bulan berlalu saya bisa memuat foto-foto lanskap Merbabu ini di blog. Catatan pendakianya pernah saya tulis di sini. Saya memposting foto dan catatan pendakian dengan harapan teman- teman dapat termotivasi untuk ikut menikmati keindahan gunung-gunung di Indonesia.

November 08, 2012

Mau Dibawa Kemana?

"Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life's longing for itself. They come through you but not from you, and though they are with you, yet they belong not to you. You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams."

Kahlil Gibran - The Prophet: Children

Sudah jamak dalam keseharian saya membaca kicauan teman-teman sepantaran yang sudah bekerja di ibukota: mengeluh tentang pekerjaan dan hari-hari berat yang mereka lalui. TGIF menjadi salah satu jargon andalan yang diyakini dapat menghapuskan kelelahan setelah lima hari penuh bekerja siang malam. Banyak di antara mereka adalah teman-teman satu bidang studi dengan saya, akuntansi. Dan banyak pula yang punya cerita pahit bahwa mereka masuk ke jurusan akuntansi sama seperti saya, bukan atas keinginan kami sendiri.

October 28, 2012

Ikan, Emas, dan Konflik: Catatan dari Teluk Kao


Teluk Kao yang terletak di pesisir timur pulau Halmahera adalah sebuah jazirah memanjang dari Jailolo di Halmahera Barat hingga Tobelo di Halmahera Utara. Jika berdiri di tepi Teluk Kao kita akan dapat melihat lekuk-lekuk perbukitan Halmahera Timur di kejauhan. Bisa dibayangkan cantiknya lansekap ala postcard ini menjadi halaman belakang rumah kami selama beberapa bulan. Tetapi semua itu terasa ironi dengan pahitnya sejarah lampau yang disimpan dalam-dalam di hati para penduduk Teluk Kao.

Teluk Kao menjadi saksi bisu kehebatan armada-armada perang Jepang di masa Perang Dunia II. Hingga saat ini kita masih dapat melihat bekas haluan kapal terserak di sepanjang pesisir, bahkan masih ada satu bangkai kapal perang Jepang yang karam teronggok di lautan dekat Malifut, Halmahera Utara. Teluk Kao memang terletak dekat dengan Morotai, sebuah pulau gersang di utara Halmahera yang dahulu menjadi basis pertahanan Sekutu untuk melakukan taktik perang lompat kodok demi mengalahkan Jepang.

Pada masa konflik berdarah yang mengatasnamakan agama di seluruh Maluku akhir tahun 90-an lalu, Teluk Kao menjadi salah satu medan perang yang mengerikan. Disebutkan dalam buku terbitan LIPI tentang konflik Maluku Utara, akar penyebab persoalan konflik tersebut tidaklah tunggal. Persoalan kesenjangan sosial, perebutan sumberdaya alam serta pertikaian politik dan birokrasi merupakan faktor penyebab yang dibungkus politik agama yang selama ini diyakini oleh sebagian besar masyarakat. Jejak kekejaman konflik tersebut - yang belakangan saya baca ternyata berawal dari perebutan hak tanah - masih terlihat di berbagai desa pesisir. Desa dibakar habis, nyawa-nyawa melayang begitu saja, eksodus besar-besaran terjadi. Ya, semenjak perang berkobar di tanah Maluku, tidak ada lagi desa yang penduduknya berasal dari beragam kepercayaan. Desa-desa homogen baru pun terbentuk berserakan di sepanjang pesisir, desa muslim, desa kristen, terkotak-kotakkan oleh agama. Di sini, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana isu SARA dapat dengan mudah memecah belah persatuan masyarakat.

October 25, 2012

Bersekolah di Tepi Teluk Kao

 

"Kinkin!" suara serak seorang perempuan terdengar memanggil ketika saya berjalan meninggalkan kantor desa selepas acara penyambutan. Sore itu saya dan teman-teman lain baru saja menjejakkan kaki di Desa Tafure Ternate Utara untuk mengikuti program homestay bersama penduduk selama dua hari, September lalu.
Segera saya menoleh mencari sumber suara. Sebuah sosok yang begitu melekat di ingatan saya, tengah berjalan cepat keluar dari halaman sebuah rumah. Ah, anak itu!
"Alipiii!!"
Pelukan erat dihadiahkan perempuan itu pada saya. Namanya Alif, tetapi sering kami panggil Alipi, adalah gadis desa yang saya kenal saat kami melaksanakan KKN di Desa Akelamokao Halmahera Barat lebih dari satu tahun yang lalu. Kala itu, Alipi adalah salah satu anak yang kami anggap adik sendiri dan keluarganya berbaik hati membersihkan rumah pondokan ketika kami datang serta meminjamkan peralatan tidur. Alipi juga sering datang membawakan makanan atau sekedar mengundang kami minum teh di rumahnya. Saat itu, Alipi baru saja resmi menjadi siswi baru SMK Pertanian Akelamokao.
Tetapi, ada yang berbeda dari Alipi sore itu. Perutnya membuncit, ia nampak sangat lebih dewasa dari sebelumnya. Rupanya Alipi tengah hamil tua. Dahi saya mengerenyit tidak paham mengisyaratkan bahwa saya butuh penjelasan.
"Iya, saya nikah sama orang Tafure, Kin. Sekarang tinggal di belakang rumah ini." ujar Alipi seakan paham akan kebingungan yang saya alami.
"Kamu udah nikah? Ya ampun, baru satu tahun kita nggak ketemu padahal..."
Sayangnya pembicaraan itu tidak berlangsung lama. Pak Jamaluddin, bapak angkat saya sudah menunggu di ujung jalan untuk membawa kami pulang ke rumah. Lambaian tangan Alipi di kejauhan terasa tidak cukup mengobati rasa rindu saya padanya.

Melihat kondisi Alipi saat itu, entah mengapa saya tidak bahagia. Alipi menikah dan tengah hamil, berarti dia tidak sekolah lagi. Meninggalkan sekolahnya, dan tentu saja kehidupannya di sebuah desa di tepi Teluk Kao yang damai. Satu lagi pemudi harapan Akelamokao putus sekolah dan memilih menjadi istri orang di usianya yang masih sangat muda. 

October 15, 2012

Kita Di Persimpangan

 

Aku anggap kita sedang sama-sama berada di sebuah persimpangan. Senja sudah sedari tadi menghilang, mungkin rindu tertidur di peraduan. Langit yang segera menjadi gelap membuat kita hanya saling menyapa sesaat tanpa banyak bicara. Mungkin, itu secepat kabut yang datang di pucuk-pucuk gunung yang angkuh. Atau mungkin, itu secepat dandelion yang menjadi gundul diterpa semilir angin. Atau mungkin, memang secepat itulah pertemuan kita.

October 12, 2012

[PHOTO] A Short Escape: Dodola Island, Morotai













Perjalanan ini berawal dari kami yang malas pergi untuk mengikuti gladi resik upacara, berbondong-bondong turun dari truk dan sempat dikejar para marinir. Kami lari berhamburan, bahkan ada yang sempat harus menumpang truk aspal atau bersembunyi di kebun penduduk. Saat-saat tersebut selalu membuat tawa ketika diingat.

Tahun lalu saya pernah berjanji untuk bisa kembali ke pulau ini. Saat itu hujan dan gelombang besar membuat perjalanan kami ke Dodola terhambat dan kurang berkesan. Tuhan Maha Baik. Rupanya tahun ini saya diperbolehkan kesana lagi, beramai-ramai pula bersama anak-anak ini. Kami langsung berlarian ke dermaga speedboat, mencari penumpang lain yang juga ingin ke sana, dan langsung berangkat ketika speedboat pesanan tiba.

What a short escape! :)


September 27, 2012

An Ordinary Day in Raja Ampat

Pulau Saonek Besar, Waigeo Raja Ampat

Kepulauan Wayag, Raja Ampat


Wait for the photos and full story, soon :)

September 25, 2012

Bait Permulaan

pada suatu sore yang biasa

Helideck KRI Surabaya 591, Minggu 2 September 2012. 

Saya duduk menulis ini saat matahari terbenam di perjalanan menuju Ambon. Air laut sedikit bergelombang tetapi tidak menghalangi laju kapal kami untuk terus berlayar menuju ke timur. Kapal besar milik rakyat Indonesia seberat 11.800 ton ini telah menjadi rumah saya selama enam hari terakhir dimana saya bersama ratusan peserta dan ABK kapal, kami terombang-ambing, in the middle of nowhere.

August 20, 2012

Tentang Sebuah Rumah

di sini kita akan duduk berdua menikmati sore, suatu saat nanti
(sumber)

Di blog ini, saya pernah menulis sebuah sajak tentang impian saya untuk pergi ke Nepal dengan orang yang saya kasihi, suatu hari nanti. Di situ imajinasi saya meliuk-liuk dengan liar, berusaha mengingat berbagai artikel tentang Nepal yang pernah saya baca, dan membangun sebuah konstruk cantik tentang bagaimana saya nanti akan mengalami keindahan tersebut dengan mata kepala saya sendiri.

Dalam sajak itu saya seakan menjadi seorang nomaden yang berjalan tanpa henti serasa ingin terus menjelajahi dunia. Seorang pejalan yang punya pendirian 'home is where the heart is'. Menganggap dunia adalah rumah, dan saya bisa tidur dimana saja.

The Beach Is Ours!



On a sunny day we go...

August 17, 2012

Meninggalkan Jogja Lagi


Tidak terasa kurang dari seminggu saya akan meninggalkan Jogjakarta lagi, tapi untuk sementara saja. Dan kali ini, bersama kelima pemuda-pemudi inilah saya akan menggoreskan kisah baru yang sebelumnya hanya dimulai dengan sebuah mimpi.

Menggunakan KRI Makassar 590 yang gagah berani, kami akan mengarungi lautan dan merasakan bagaimana dulu nenek moyang kami berjuang dan menjadi pelaut-pelaut yang tangguh menerjang gelombang. Posting ini adalah bentuk optimisme saya bahwa acara ini benar-benar akan terlaksana dengan baik dan saya dapat kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, bersama mereka berlima.

Tunggu ceritanya ketika kami kembali ke Jogjakarta sebulan lagi :)

August 15, 2012

Berburu Bimasakti


Bimasakti nampak jelas membujur dari utara ke selatan (Maharsi Wahyu)


tenda kami di tepi pantai, di bawah taburan bintang-bintang.


Mungkin ini yang disebut 'sabar menanti'. Tiga tahun lebih sejak saya pertama mengenal astrophotography, sejak saat itu pula saya bertekad ingin bisa memotret galaksi Bimasakti. Sulit, tentu. Gear yang saya punya tidak mendukung, pun ilmu yang saya pelajari masih dangkal sehingga setiap ada kesempatan saya mencoba selalu gagal.

Tapi Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir. Tadi malam, lima mahasiswi skripsi yang mendirikan tenda di tepi Pantai Indrayanti Yogyakarta, mendapatkan pemandangan langit malam yang super mewah. Dan akhirnya, Bimasakti yang sudah saya buru sejak tiga tahun lalu tersebut, berhasil saya abadikan dengan tangan saya sendiri.


***
P.S. : terima kasih banyak untuk Newin, Edo, dan Monik yang sudah meng-endorse acara kemping bahagia ini. terima kasih banyak sudah membantu kami menabung rindu :)

August 08, 2012

Misty Morning

Pernah menangis gegara melihat pemandangan luar biasa di depan mata? 
Saya pernah. Salah satunya, 
di sini.


sayangnya, saya tidak bisa membuat kamera saya menangkap momen sebagus apa yang ditangkap oleh mata.
saya memang orang yang gampang histeris, melihat langit biru saja teriak-teriak bahagia. cium bau air laut saja saya sudah tidak sabar berlarian di tepinya.

saya hanya berharap, terus diberikan kesempatan untuk bisa menjelajahi tiap jengkal Indonesia.

August 07, 2012

Bromo dalam BW







Sedang suka ngedit foto jadi BW. Katanya, hasil jepretan fotografer mencerminkan suasana hatinya. Abu-abu? :)

Yadnya Kasodo Bromo








Lantunan musik tradisional yang lirih lamat-lamat terdengar tanpa terputus di antara kabut pekat dini hari tersebut. Terasa menyayat hati, entah mengapa. Sembari terus berlari menyamakan langkah dengan arak-arakan, saya membayangkan kisah Roro Anteng dan Joko Seger yang konon menjadi cikal bakal masyarakat Tengger dan upacara Kasodo di Bromo.

Saya berada di tengah segelintir rombongan pengiring ongkek-ongkek. Bersama saya, hanya ada kurang dari 10 fotografer yang sama-sama berlarian agar tetap berada di barisan depan. Sejenak saya merasa bahagia karena ekspektasi saya bahwa Kasodo akan seramai festival-festival lain yang pernah dihelat di Indonesia, rupanya salah besar. Ya, tidak banyak yang mau mempersulit diri di tengah bekunya udara pegunungan dan pekatnya debu Bromo, pagi ini.

Setelah berhenti di tiga tempat persembahan kecil untuk berdoa sejenak dan meletakkan sesaji, kami tiba di Pura Luhur Poten yang sudah dipenuhi para peziarah dan wisatawan yang ingin menyaksikan prosesi Kasodo. Ah, rupanya mereka semua menunggu di sini. Segera, arak-arakan menjadi objek ratusan fotografer yang haus dokumentasi. Saya yang sudah kelelahan memilih untuk duduk di pojok bersama rombongan, menanti waktu sahur untuk membuka bekal dari warung Tante Tolly.

Duduk kedinginan, saya larut dalam nyanyian kidung suci yang dilantunkan oleh para dukun pandhita. Walaupun tidak paham akan artinya, entah mengapa telinga ini sangat menikmati bait demi bait nyanyian mereka. Mungkin karena itu adalah doa yang berisi pujian dan harapan yang dipanjatkan kepada pemilik semesta.

Bromo pagi itu, tetap romantis seperti biasanya. Ada nostalgia yang saya titipkan untuk ikut terbuang bersama ongkek-ongkek dan ratusan sesaji lainnya, ke dalam kawah Bromo yang menganga...



July 27, 2012

Pada Suatu Pagi Di Atas 3400 mdpl






Pada suatu pagi di ketinggian >3400 mdpl

Saya nggak pandai bikin catatan perjalanan yang runtut dan detail. Karena itu, sejak kemarin saya lebih memilih memposting cerita yang paling saya ingat dalam otak. Kisah perjalanan ke puncak - dan turun dari puncak - adalah satu fragmen paling menarik dalam pendakian kali ini, sehingga saya ceritakan dalam beberapa post. 
Selebihnya, biar foto yang bicara. 

***
Dipotret dengan Gopro HD Hero 2 yang terpasang di kepala saya. Susah juga memotret sambil menebak-nebak, karena Gopro tidak saya pasangi LCD BacPac. Terima kasih kepada studio Maman Agosto yang berbaik hati meminjamkan saya benda ajaib ini. 

July 25, 2012

Suatu Saat Kita Akan Ke India, Sayang

Suatu saat,
kita akan berjalan-jalan ke India, sayang.
berpakaian sederhana, dengan kacamata hitam dan berkalung kamera.
berlari di antara pasar dan kuil-kuil, dimana tanganmu menggandengku erat.

Kita tidak pergi ke Taj Mahal.
kita mencari ketenangan di antara ashram, mungkin di Ladakh atau Agra.
bermeditasi dalam sunyi selama satu atau dua minggu untuk kemudian berpindah lagi.
kemudian aku sibuk menertawakanmu saat mencicip asamnya yogurt di dalam saus canai, saat kita pelesir di Kolkata.

Berjalan Bersama


Some of my favorite memories are of people I have photographed.
Caroline Mueller - In Memory Of Those We Shot
Sembilan belas manusia, lima hari empat malam. Bahkan beberapa dari kita baru berkenalan di atas jeep menuju Ranu Pane, pintu gerbang dimana kita akan memulai petualangan di pertengahan Juli itu.

July 22, 2012

Selimut Kabut Ranu Kumbolo



Pagi itu, kami masih bergelimpangan di dalam tenda. Udara dingin menggigit: dua lapis baju dan jaket polar rupanya tidak mampu menjadi penghangat diri. Kami saling berteriak dari tenda masing-masing, 'bikin sarapan yuuuk!' sementara tubuh masih ingin berbalut sleeping bag yang melenakan.
Akhirnya terdengar suara tenda sebelah dibuka, para lelaki terbangun sudah. Saya dan Monik memilih untuk tetap menyelimuti diri dengan sleeping bag, ketika mulai timbul suara-suara ribut. Nampaknya para pemilik suara tersebut tengah bergerilya mencari peralatan masak dan kompor.

Beberapa hela napas kemudian, tenda kami diketuk. Ketika resleting pintu tenda terbuka, segera hawa dingin masuk. Tapi bersamaan dengan itu pula sebuah tangan menyodorkan segelas minuman hangat yang kami tunggu-tunggu.

"Diminum dulu Kin." Udin, dia sudah bangun dan memasak air.

July 18, 2012

[Pics] Haru Biru Mahameru: Landscape and The Journey




Akhirnya hari ini saya berhasil menyelesaikan editing dan resizing foto-foto perjalanan saya mendaki Mahameru pada akhir minggu yang lalu. Sangat melelahkan dan saya terpaksa mengesampingkan dahulu skripsi saya, tapi jujur kegiatan ini menyenangkan, hahaha.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa menggapai tanah tertinggi di pulau Jawa ini, yang pada bulan Juli - Agustus mencapai titik suhu terdinginnya sepanjang tahun. Berjibaku dengan udara beku dan oksigen yang tipis, napas yang tersengal dan mata yang berat karena kantuk, tetapi semuanya terbayarkan saat melihat sendiri letupan Jonggring Saloka dan ikut mendoakan Soe Hok Gie-Idhan Lubis langsung di depan in memoriam-nya.

July 17, 2012

Haru Biru Mahameru

Napas saya tersengal pada setengah perjalanan pendakian dari Cemoro Tunggal menuju Mahameru. Pukul 12 malam tadi kami sudah meninggalkan Kalimati bergerak menyusur hutan Arcopodo yang lebat dan gelap. Trek pasir berbatu yang biasanya ditempuh dalam lima-enam jam ini benar-benar menguras mental dan menguji ketahanan fisik. Jam masih menunjukkan pukul empat pagi, saya berhenti di tengah trek, mengatur napas sembari tetap mencengkeram pasir yang begitu labil. Sudah hampir dua jam saya merayap di lereng Semeru ini: kaki menjejak tiga langkah, merosot satu langkah. Daypack berisi kamera dan air yang saya bawa mulai terasa berat.

July 11, 2012

Mengaji



Beberapa hari belakangan, tiap saya mengintip ke kamar ibu untuk memastikan beliau sudah tertidur atau belum, saya selalu mendapati beliau tertidur mendekap DVD player portable kesayangannya. DVD player tersebut memang selalu digunakan ibu untuk memutar CD Al-Quran digital koleksinya.

Ibu sedang belajar mengaji. Akhir-akhir ini rajin sekali.

Ibu adalah anak perempuan yang terlahir dari rahim seorang Katolik taat. Ibu mengikuti kepercayaan kedua orangtuanya hingga menginjak bangku SMA. Kemudian eyang uti bercerai dan menikah lagi dengan seorang muslim, ibu pun ikut berpindah agama. Tapi itu tidak membuat ibu mempelajari Islam secara mendalam.

Ibu pun baru saja memakai jilbab sejak awal tahun ini. Setelah berpuluh-puluh kali pembicaraan alot antara saya dengan beliau yang meyakinkan Ibu bahwa berjilbab itu sama sekali tidak merugikan. Padahal saya juga masih asal-asalan dalam berjilbab. Ibu, mungkin seperti wanita-wanita yang belum berjilbab lainnya, menganggap bahwa dengan berjilbab artinya harus menjaga segala perkataan dan perilaku dan harus mampu menjadi contoh bagi sekitar, dan beliau menganggap dirinya tidak siap.

July 05, 2012

Sepotong Memori

Kalian wanita-wanita pintar. Anak UGM. Kalian harus bisa mendapatkan suami yang lebih dari kalian. Bermimpilah yang tinggi, yang besar. Jangan bermimpi kecil. Kejar cita-cita sesuai passion. Besok kalian harus dapat suami yang mau menuruti passion kalian. Kalau mau kuliah keluar negeri, berangkat! Jangan mau dibatasi.. Susah lo dapat suami seperti itu. Langka, tapi ada. Bekerjalah, tapi kalian tidak punya kewajiban untuk mencari nafkah. Suami-suami kalian yang harus mencari nafkah. Jangan mau dengan suami yang menyuruh kalian cari duit!
- AA, lebih dari sekedar atasan dan mentor, ayah selama dua bulan. 

Perasaan sendu muncul begitu saja ketika sosoknya yang berjaket hitam menghilang dari balik gate imigrasi. Ada rasa kehilangan. Saya masih mengingat pertemuan pertama saya dengan beliau yang spontan mengatakan, "Bener nama kamu Kinkin?" disertai celetukan bahwa beliau agak tidak yakin apakah saya memang bisa melakukan pekerjaan itu. Tetapi hari demi hari berjalan, selalu nampak senyum puas beliau setiap melihat foto-foto yang saya jepret. Foto yang saya bilang biasa saja, ternyata sesuai dengan seleranya. 

Saya mengenal sosok beliau lebih secara moralitas, dimana saya banyak terlibat pembicaraan-pembicaraan non-profesional dengan beliau. Nasihat-nasihat, teguran, pun guyonan jamak terdengar dari mulut beliau yang  selalu sukses membuat saya semakin kagum. 
Hingga akhirnya saya bertekad, nantinya dapat menemukan suami sehebat Bapak.
Saya baru dua bulan bekerja untuk beliau. Mungkin tidak sedekat asisten-asisten yang lain yang sudah sejak lama bersama beliau. Tapi itu sudah cukup untuk membuktikan dan membuat saya meyakini bahwa Bapak adalah orang hebat yang baik. Tiang agamanya kuat, jaringannya yang begitu luas, santun tapi tegas dalam bertindak, integritasnya yang tak terbantahkan, sekaligus mampu menjadi sosok suami dan ayah yang menjadikan keluarga sebagai prioritas nomor satu.

Saya beruntung ikut menemani Bapak dalam tiga hari kunjungan terakhirnya sebagai akademisi sebelum akhirnya beliau terbang ke ibukota dan memulai tugas di kantornya yang baru.

Bapak, selamat bekerja. Sampai bertemu di kesempatan yang lain. Terima kasih sudah menjadi lebih dari sekedar atasan yang sangat hebat, terima kasih telah menjadi seorang ayah.

***

"Bapak, bapak juga mau saya foto ya di depan situ ya? Buat kenang-kenangan.. "


"Ah kamu, saya nih sudah tua, ngga butuh itu difoto-foto... Sini, kalian aja yang saya foto. Ini gimana pakai kameranya, tolong disettingkan dulu.." 

Bapak, akan saya rindukan percakapan itu, yang selalu terjadi setiap saat.