December 31, 2011

the power of social media

Sejak berbagai jejaring sosial ramai digunakan oleh penduduk Indonesia, seakan-akan informasi menyebar dengan cepatnya dalam hitungan detik bagaikan angin topan. Bwoooss... berita dari suatu tempat diketahui oleh orang di ujung yang lain, yang mungkin tidak saling mengenal begitu cepat dan mudahnya.
Bentuk kepedulian sosial terhadap bencana alam pun kini mempunyai bentuknya yang baru. Lembaga-lembaga, sukarelawan, maupun individu merambah dunia maya untuk menyebarkan informasi mengenai penggalangan bantuan bencana alam dengan lebih cepat dan luas. Biasanya berita penggalangan dana hanya kita saksikan di televisi atau lewat dompet bencana di media massa, kini tiap orang dapat mengumpulkan bantuan secara mandiri. Dukungan moral dan material pun mengalir lebih mudah ke lokasi bencana tanpa harus mengandalkan pemerintah atau lembaga-lembaga besar.
Hari ini, kami, Jainyonyo mencoba melakukan hal yang sama. Berangkat dari rasa simpati atas kesulitan yang dirasakan keluarga dan rumah baru kami di tanah timur, Ternate, yang dilanda bencana erupsi Gamalama dan banjir lahar dingin, hingga malam tadi. Karena terkendala jauhnya jarak, kami hanya dapat memantau perkembangan via berita, pun yang mengekspose tidak terlalu banyak, dan kontak langsung dengan relawan di Ambon dan Ternate. Kemudian kami berinisiatif membuka jalur donasi yang detailnya dapat dibaca pada post sebelum ini.
Sedikit tweet menceritakan kondisi terkini Ternate dengan tagar #ternate dan menginformasikan pengumpulan donasi yang nantinya akan langsung dikirimkan ke AmbonBergerak untuk didistribusikan, kami tidak menyangka besarnya rasa kepedulian teman-teman (terutama di twitter dan facebook) untuk ikut menginformasikan hal tersebut. Ratusan retweet segera menghiasi laman activity twitter saya, hal sekecil ini sangat saya apresiasi karena berbagi informasi, sekecil apapun itu, dapat membantu saudara-saudara kita di Ternate.
Tidak hanya itu, web saling silang di twitternya @salingsilang membantu merangkum tweet saya dalam sebuah artikel di sini. Beberapa official account juga membantu me-RT kan informasi donasi, yang dalam hal ini, semakin memudahkan kami untuk tell others. Hal ini mungkin sederhana, tapi saya sangat terharu. Di tengah hiruk pikuk perayaan tahun baru, masih ada yang mau meluangkan waktu barang sebentar untuk membaca informasi dan membaginya ke orang lain.
Sementara ini, hanya ini yang dapat kami lakukan untuk membantu mereka.

Saya membuat post ini tepat pada pukul 22.00 WIB atau 00.00 WIT. Bersama post ini pula saya ucapkan Selamat Tahun Baru Indonesia Timur, Selamat Tahun Baru Ternate.

pertemuan

saat ini saya sedang bergelimpangan di kasur menghadap laptop, tidak bisa tidur gara-gara perut yang bermasalah. sudah hari kelima dan besok adalah malam tahun baru! rencana saya melihat sunrise di bromo terpaksa batal karena keadaan saya yang tidak kunjung membaik. saya tidak bisa terlalu lama pergi keluar karena akan segera pusing, berkeringat dingin, dan perut kembali merengek-rengek.
jujur, saya bingung saya sakit apa. teman saya wana, dengan pedenya bilang kalau saya sakit pikiran yang kemudian mempengaruhi fisik. agak sebel dengernya, karena saya lagi ga galau, tapi kemudian saya ingat kalau beberapa hari terakhir saya menerapkan sistem begadang untuk menyelesaikan data entry dan beberapa tugas presentasi lain. yah, otak disuruh beristirahat, tapi dengan cara yang tidak menyenangkan.

teman, pernah tidak kalian membayangkan seseorang yang belum pernah kalian temui, melalui tulisan-tulisannya? misalnya, bagaimana kepribadian orang tersebut, bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain, atau topik apakah yang dia sukai. akhir-akhir ini saya sering menebak-nebak 'bentuk' seseorang lewat blog mereka yang saya baca. terkadang, saya terlalu terpesona dengan tulisan mereka dan saya jadi pingin sekali ketemu orang tersebut. saya sudah sejak lama berteman via blog dengan mbak dwi putri (bisa kunjungi blognya disini). kalau ditanya kenal darimana, akan panjang jawabannya. kemudian beberapa bulan lalu akhirnya saya bisa ketemu dia yang lagi main di Jogja. dan saya semacam mengkonfirmasi hasil terkaan saya tersebut setelah melihat orangnya langsung. rasanya bertemu mbak putri kayak udah lama ketemu, entah, rasanya nyaman aja gitu. mungkin karena berhobi sama jadi obrolan cepat nyambung. apalagi kami saling follow di twitter, jadi sedikit banyak saya tahu mbak putri dari twitternya. dan itu seru! menebak-nebak dan mengkonfirmasi kebenarannya setelah bertemu langsung. tadi untuk kedua kalinya saya bertemu dengan mbak putri lagi. kali ini dia sedang mempersiapkan itinerary perjalanan ke suatu tempat (yang jelas-jelas bikin saya iri) bersama pacarnya dan seorang teman lagi. lalu datanglah mas nuran, orang yang selama ini cuma saya baca tulisannya via blog ini. tulisan-tulisannya hebat, dan saya dulu terinspirasi tulisan duet nuran-ayos yang backpacking ke sumbawa. terus tiba-tiba aja orangnya ada di depan mata. rasanya.. seru. haha seru bukan perasaan sih ya. tapi bener, seru!

saya suka bertemu orang baru. tetapi tidak selalu sih, karena saya tipe orang yang suka kasih judgement awal sebelum benar-benar orang tersebut. memang sih banyak orang yang melakukannya, tapi saya tipe yang terlalu cepat. tapi secara umum, saya suka bertemu dan ngobrol dengan orang baru karena mereka seakan-akan membawa energi baru yang menyenangkan. mereka seakan-akan bawa cerita yang seru untuk dibagikan. begitulah.

bertemu orang baru, apalagi yang berbeda latar belakang (misal tempat tinggal, pendidikan, komunitas, dan banyak lagi) akan selalu mengejutkan dan penuh cerita. dan semua itu semakin membuat saya sadar, saya bukan siapa-siapa, masih sangat banyak yang belum saya ketahui, masih sangat banyak yang harus saya pelajari.

besok ketemu siapa lagi ya? :)

December 28, 2011

rindunya sampai ubun-ubun

Satu-satunya foto formasi lengkap: Danang-Yogi-Suryo-Nana-Nadya-Geby-Stephani-Kinkin-Ririn-Uci-Ferzya-Siti-Teh Yuyum-Ucki-Fajar-Najib-Indro-Hendry-Fahmi-Debbie
Tiga kali janjian ketemuan subunit, dua kali janjian rafting bareng satu unit, belum pernah ada yang terealisasi sampai sekarang. Padahal rindunya bukan main dengan teman-teman seperjuangan ini. Bersama-sama bersusah payah merumuskan tema dan proposal KKN yang tepat dengan daerah tujuan, cari dana kesana kemari termasuk jualan bunga dan stiker, bahkan saya masih ingat pertemuan mengharukan di selasar kampus biologi dimana kormanit memberikan pilihan sulit dan mengatakan bahwa KKN di Maluku Utara probabilitasnya semakin kecil. Saat itu kami diberikan pilihan tetap berjuang ke Malut dan siap dengan segala kemungkinan, pindah KKN ke Lombok Tengah, atau sekalian saja menyerah dan KKN di Jogjakarta. Tapi pada akhirnya kami bisa, dan itu adalah salah satu pencapaian terbesar.

Nyaris enam bulan berlalu sejak pertama kita menapak tanah Maluku dan sekarang kita sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Seakan-akan kita 'lupa' kalau kita punya janji untuk sering berkumpul sekembalinya kita di Jogjakarta ini. Tapi siapa yang tahu kalau ternyata anggota Jainyonyo sesibuk ini bahkan untuk berkumpul satu subunit pun tidak pernah terlaksana :(
Ada yang kuliah, ada yang sibuk skripsi, ada yang mau magang, ada yang sudah kerja, ada yang buka usaha, ada yang masih sibuk organisasi, ah, semoga saat ada yang wisuda nanti kita bisa berkumpul barang sebentar dan mengenang masa-masa bersama dulu, teman.
Lagi-lagi. Sesuai dengan mata kuliah saya mungkin ya, akuntansi selalu berhubungan dan mengungkit- ungkit transaksi yang telah terjadi di masa lalu. Begitupun saya, sulitnya terlepas dari kenangan masa lalu :)

Piknik sederhana ke pantai belakang rumah, berjalan jauh sampai mata air dan minum kelapa muda.
Di pantai inilah saya diceburkan dengan brutal diseling ucapan, 'selamat ulangtahun kin!'

Subunit 1 Akelamokao di depan pondokan: Indro-Suryo-Ririn-Siti-Kinkin-Fahmi-Yogi :')

December 24, 2011

siap dibaca: Meraba Indonesia



Sinopsis buku seperti yang tertera di bagian belakang:

Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.

Tujuan utama ekpedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat. 

Tertarik dengan tampilan cover yang 'gahar' dan sinopsis yang mengundang, akhirnya saya mengalokasikan uang yang seharusnya saya gunakan untuk membeli NG Traveler edisi Januari 2012. Sempat galau antara beli Selimut Debu nya Agustinus Wibowo yang sejak lama saya dambakan T.T Tapi saya pikir ini adalah traveling gaya baru, apalagi di Indonesia, dimana dua orang gila melakukan perjalanan dengan motor trail ke seluruh pelosok Indonesia. This is a real adventure! Saya belum membacanya, saya janji ketika sudah selesai membaca akan segera membuat review singkatnya. 


Buku yang dibuat oleh Ahmad Yunus seharga Rp 75.000 ini dilengkapi dengan 50 foto berwarna karya Ahmad Yunus dan ada juga CD film dokumenter buatan Farid Gaban. Ini adalah teman malam minggu saya kali ini. Hehehe.
Cerita tentang ekspedisi mereka juga bisa diintip di website www.zamrud-khatulistiwa.or.id, siapa tau bisa jadi referensi sebelum membeli bukunya :) 

Mungkin OOT, tapi saya dan Karlina Aucia Augusta, punya keinginan yang hampir sama liarnya : menapak tilas sejarah dan perkembangan sosial-budaya di sepanjang Jalan Raya Pos Daendels. Mungkin naik motor, mungkin naik kendaraan umum. Ah, mimpi lagi mimpi lagi. Tapi, semua petualangan diawali dengan mimpi kan? :)

December 23, 2011

bertualang!

"Optimisme, semangat, kekuatan tekad dan sedikit mimpi adalah modal dasar para petualang."
                                                                                                                                                @wana23

Coba kita ingat-ingat lagi bagaimana kita bisa mengunjungi suatu tempat di suatu waktu. Mungkin saja datang ke tempat tersebut adalah sebuah ketidaksengajaan yang menyenangkan, atau memang sudah sejak lama nama tempat tersebut menguasai dan meracuni pikiran kita. 
Bertualang tidak hanya sekedar melakukan kegiatan-kegiatan menantang di tempat yang baru. Buat saya, keluar dari zona nyaman adalah bertualang. Zona nyaman yang dimaksud bisa saja kasur kita yang empuk, rumah kita yang nyaman, atau kehidupan kampus yang menyenangkan (tapi bohong). Kemudian kita keluar, mencari sesuatu yang baru. Terkadang mencari ketidaknyamanan. Berkeliling pasar tradisional yang becek dan bau memperhatikan tingkah laku pedagang. Tertidur di kursi bus ekonomi dengan kaki tertekuk dan berdempetan dengan ibu-ibu gemuk yang bawel. Tidur di kasur tipis berdebu di penginapan sederhana di pinggir pelabuhan. Makan di warung langganan para supir truk demi harga yang murah dan porsi yang banyak. Kita mencari ketidaknyamanan yang memperkaya.
Mimpi. Sesederhana apapun, semua perjalanan kita awali dari mimpi. Sekedar ingin melihat matahari terbit dan terbenam, ingin menelusuri pematang sawah, ingin menjelajahi lorong-lorong kota, pokoknya ingin keluar. Imajinasi langsung liar terbayang ketika saya melihat foto suatu destinasi yang cantik dan sepertinya penuh dengan cerita. Darah berdesir kemudian saat saya mencari informasi lebih banyak, dan mulailah saya memupuk mimpi. Impian tersebut kita bumbui dengan optimisme bahwa kita pasti akan kesana. Bahwa kita pasti bisa mencapai tempat itu, mengambil foto yang lebih bagus dan mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna. Optimisme membawa kita pada semangat untuk mewujudkan petualangan impian tersebut. Yang masih mahasiswa mulai menyisihkan uang bulanan demi menutupi akomodasi perjalanan walaupun masih pas-pasan. Yang sudah bekerja mulai mencoret-coret kalender mencari waktu cuti yang paling tepat. Kegiatan menyusun itenerary menjadi salah satu hal yang paling menyenangkan. Membuat daftar alternatif transportasi dan membayangkan cerita apa yang bisa didapatkan dari masing-masing alternatif tersebut. Dilanjutkan mencari penginapan, ada yang mencari kenyamanan ada yang asal dapat murah. Semuanya punya pilihan.
Kadang hambatan datang menurunkan semangat. Tugas yang datang berjibun, pekerjaan kantor yang tidak selesai-selesai, kondisi tubuh yang tidak fit, bahkan izin orangtua yang ternyata tidak bisa tembus cuma contoh segelintir hambatan. Tapi hambatan punya peran ganda : sebagai pertanda bahwa langkah kita memang sebaiknya tidak dilanjutkan atau untuk membuat perjuangan kita nantinya lebih bermakna. Ah, tapi para petualang selalu punya cara untuk mewujudkan mimpinya bukan?
Kemudian saat kita berhasil mewujudkannya, ada kepuasan batin dan kenikmatan yang menyelimuti. Rasa lelah sepanjang perjalanan pulang tidak terasa, apalagi jika kita mendapatkan banyak hal mengejutkan yang menarik. Kulit yang menghitam menjadi bukti otentik selain foto-foto dan cerita yang bisa dibagi ke teman-teman.
Para petualang mempunyai caranya sendiri untuk bahagia. Tidak semua orang memahami apa enaknya menghabiskan uang tabungan di suatu tempat asing yang bahkan namanya saja jarang terdengar. Cara terbaik untuk memahami jalan pikiran para petualang adalah menjadi bagian dari mereka.
Sudahkah anda mencoba bertualang?

December 21, 2011

Gunung Baluran (2)

Gunung Baluran, Taman Nasional Baluran Banyuwangi, Jawa Timur
Matahari terbenam langsung di balik angkuhnya Gunung Baluran, mempermanis lansekap sore di Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Berada di sini seakan berada di tengah padang Afrika. Semuanya kecoklatan, kering, berdebu, berangin, sepi, hening, cantik. Kami mendapatkan foto ini ketika menanti senja hilang sambil berguling-guling di savana Baluran yang habis dipangkas karena diserang tanaman hama.
Bulan September-Oktober memang merupakan puncak musim kering di Baluran. Karena itulah, saya ingin datang pada bulan Mei karena katanya ada padang bunga cantik dan Baluran pun menghijau. Saya juga belum bertemu merak dan banteng Baluran yang legendaris itu. Sementara monyet Baluran menghiasi sepanjang perjalanan kami, saya yang takut pada monyet sibuk berteriak-teriak dan menyelamatkan barang bawaan.
Menurut saya, lansekap Baluran adalah lansekap yang romantis. Sungguh. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari matahari terbit-terbenam tepat di cakrawala dan bulan besar yang dengan indahnya muncul tanpa tertutup pepohonan lebat.
Kapan ya bisa kesana lagi..

Anw, maafkan beberapa posting terakhir saya adalah posting random nan galau. Tapi terlanjur juga sih, gimana lagi. Hehehe. Saya sudah kembali menjadi Kinkin satu bulan lalu, yang tidak lagi sibuk menggalaukan hati. Semua itu pilihan, dan saya memilih untuk tidak memilih siapapun. I will, and I can.






December 18, 2011

My Best Partner!


Kalau harus menyebut nama satu orang yang sabar dengan kelabilan saya, maka perbolehkanlah saya sebut nama Wana Darma. Lelaki berkumis super dan bermuka Arab mesum ini adalah salah satu partner terbaik saya semasa kuliah.

Saya masih ingat, pertama kali bertemu Wana adalah saat dia menjadi kakak pendamping saya di jaman makrab jurusan akuntansi. Anaknya random, serandom mukanya. Lalu beberapa minggu kemudian ketika saya sudah bergabung dengan persma Equilibrium, di suatu sore di selasar FEB UGM. Saya sedang memotret gedung kampus lalu dia mendatangi dan langsung bilang mau lihat kamera saya. Dia tanya-tanya soal kamera tapi pertanyaannya mbingungi. Terus dia ngeloyor gitu aja.
Eh, beberapa bulan kemudian kami ketemu di kepanitiaan GMAD dan akhirnya dia juga jadi tim proart Equilibrium.

Kami pernah terlibat beberapa project dan Wana adalah salah satu pejalan yang juga aktif di CLR. Project yang paling saya ingat adalah ketika kami ingin membuat majalah digital bernama Swatzh! bersama Iqbal. Ian, Dzulfan, Mega, dan Navan. (tapi baru sampe sesi foto trus gajadi bikin gara-gara pada sibuk!) Kedua, ketika Wana menawari saya untuk ikut bikin majalah traveling tapi waktu itu saya memilih untuk nggak ikutan.

Wana adalah anak yang cepat belajar hal baru. Beberapa tahun lalu ketika jamannya saya lagi hobi-hobinya fotografi, dia juga mulai suka. Waktu itu dia belajar pakai analog dan akhirnya ganti Nikon D50 yang menemani dia sampe sekarang. Wana juga jago desain dan pintar bikin flash. Kalo boleh dibilang, Wana adalah motivasi saya buat belajar desain.

Dia begitu paham mengenai kelabilan saya masalah perasaan. Tiap saya ada 'cerita' yang berkaitan dengan hati, mungkin dia yang pertama tahu. Kupingnya sudah biasa kemasukan curhatan sampah saya, kicauan galau saya karena habis patah hati, atau ocehan-ocehan meracau karena sedang kasmaran. Dia jarang memberikan saran, terlebihnya membiarkan saya ngobrol ngalor ngidul tentang kegalauan apapun itu. Somehow, curhat sama cowok itu lebih menenangkan karena mereka bisa bantu kita pakai logika. Komentar sinis dan kontra sudah biasa saya dengar dari dia. Kadang-kadang sakit hati, tapi setelah dipikir lagi baru saya sadar yang dia maksud itu ada benarnya. Hahaha.

Kalau saya bilang "Wana, aku galau." dia biasanya sudah tahu saya butuh curhat. Kalau dia lagi ga sibuk sama ehemnya dia pasti meluncur mendatangi saya, atau kami pergi untuk mengobrol di suatu tempat. Sayangnya akhir-akhir ini jarang ketemu karena Wana sedang sakit sehingga dia lebih banyak di kontrakan. Semalam saja ketika saya ingin curhat sama dia, kami berkali-kali mencoba nelpon via skype tapi selalu ada masalah, ga jodoh juga. Kalau diinget, kocak!

Kasihannya Wana, dia sering banget dikira cowok saya. Padahal kalo dibilang rasa suka diantara kami sudah nggak ada. Hahaha. Saya adalah korban kejahatan dia yang bilang saya ini cowok T.T Tapi yaudahlah ya, berarti ini persahabatan dua cowok. Hahahaha.

Posting ini sekaligus untuk mendoakan Wana Darma semoga dia fokus menyelesaikan skripsi dan segera meraih cinta yang selama ini dia kejar! Wahahaha. Please Wan, jangan lagi jadikan saya kedok buat mengejar wanita lain ya! *ketawa koprol*

Dan semoga kita dapat pekerjaan sesuai passion yang kita inginkan : traveling. You can do it! :)



December 17, 2011

Bumi Halmahera (8) : Pekarangan Sekolah


Ini adalah jalan yang biasa kami lewati tiap akan berangkat ke MI Akelamokao. Bangunan MI benar-benar berada di tengah dataran yang dikelilingi perbukitan hijau. Selalu menyempatkan berhenti sebentar di bawah pohon kembar, memandang rerumputan dan lekuk-lekuk bukit di tanah Maluku.

Kebanyakan warga Akelamokao menyekolahkan anaknya ke MI. Akibatnya, SD Akelamokao sepi murid, walaupun letaknya sangat lebih dekat dengan desa. Kelas satu baru di SD Akelamokao kemarin hanya empat anak sehingga terpaksa digabung dengan kelas dua. Sementara itu di MI Akelamokao sangat ramai oleh murid sekolah.


Rute Gowes Favorit: Ancol


Selokan Mataram ke arah barat hingga mencapai Ancol Bligo di perbatasan Magelang, merupakan salah satu rute bersepeda favorit saya. Kenapa? Ya, jalanannya tidak begitu ramai, hijau sawah dan rumput dimana-mana, dan berakhir di sebuah bendungan besar yang suara airnya menenangkan. Ancol Bligo ini merupakan 'muara' dari Selokan Mataram yang legendaris itu. Kalau beruntung, di sepanjang selokan anda akan menemukan pemandangan ndeso, entah anak-anak desa yang berenang di selokan, kerbau yang mandi, atau rombongan bebek yang berjalan beriringan menuju ke sawah. Lovely banget buat pecinta pemandangan damai macam saya ini.

Jaraknya cukup jauh dari rumah saya di daerah Mlati, sekitar 20 kilometer kali ya, yang jelas saya pernah waktu itu nggenjot ke sana kok rasanya gak sampai-sampai. Hahahaha. Satu yang ga direkomendasikan, jangan gowes naik folding bike kayak punya saya ini. Capeknya 2x lipat karena harus nggenjot lebih banyak!

Bumi Halmahera (7) : Potong Rambut Cap Akelamokao





Kegiatan memotong rambut di halaman rumah disaksikan anak-anak dan anggota KKN lain adalah salah satu momen lucu yang pantang dilupakan. Onteng, si tukang potong rambut, dengan sangat percaya diri memangkas dan merapikan rambut Indro, Suryo, dan Fahmi. Yogi memilih untuk tetap memanjangkan rambutnya dengan alasan 'gamau menghilangkan oleh-oleh selama KKN'. Entahlah, mungkin juga dia ga yakin dengan hasil potongan si Onteng :)

Di foto kedua, ada saya di teras rumah. Ya, kami nonton mereka potong rambut sambil asik ngerokin daging kelapa muda sama Siti. What a moment :D

Bumi Halmahera (6): Siliwangi


Halo, perkenalkan namanya Siliwangi. Umurnya baru empat tahun dan tinggalnya di depan rumah pondokan kami. Mukanya lucu, dan ga ada karakteristik Maluku kecuali kulitnya yang cokelat eksotis. Ada cerita unik dibalik nama Siliwangi tersebut, yang memang kurang familiar di Maluku.

Seorang tentara pernah datang dan tinggal di Akelamokao tempat tinggal orangtua Angi (panggilan Siliwangi). Kata orangtua Angi, tiap ada pendatang tinggal disana dan kemudian akan pergi, maka sebelumnya pergi akan memberikan nama ke bayi yang baru lahir dan  bayi itu adalah Angi. Yap, nama Siliwangi didapatkan dari seorang tentara, sesuai dengan nama Prabu Siliwangi yang terkenal di tanah Jawa.

(sayangnya waktu itu ga ada bayi mau lahir, jadi Akelamos ga ngasih nama ke siapa-siapa deh :p)

Walau baru empat tahun, Angi jago main bola. Gesit dan tidak kenal lelah. Kami pernah menonton Angi dan sepupunya main bola satu lawan satu di halaman rumah. Bahkan ia sangat pandai melakukan selebrasi ketika sukses menjebol pertahanan sepupunya. Persis yang dilakukan pemain bola di TV. Berlari keliling halaman sambil jarinya membantuk huruf v dan sesekali mengecupkan jari di bibirnya.

Mungkin Angi akan jadi pemain bola unggulan Desa Akelamokao suatu saat nanti :)

December 08, 2011

My Project : Photo and Design for Tukutuku Gallery








Desain x-banner dan poster ini merupakan satu rangkaian dengan foto-foto hijab yang saya posting beberapa minggu lalu. Tidak terasa, akhirnya akan diadakan expo kewirausahaan dan Tukutuku Gallery akan ikut serta! Acaranya sendiri 11 Desember 2011 di JEC. Tukutuku akan buka stand bersama puluhan usaha kreatif kelas kewirusahaan dan food bazaar juga ada lo! Jangan sampai terlewatkan!



Photo, logo, and graphic design by Maharsi Wahyu Kinasih.