November 29, 2011

Beri Daku Sumba


source: google image


Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu

aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

(Taufiq Ismail, 1970 - diambil dari taufiqismail.com)

Today's Escape: Ketika Matahari Mulai Tinggi, Borobudur.


Subhanallah. Satu kata yang keluar dari mulut saya memandangan lukisan Tuhan yang indah ini. Tidak perlu jauh mencari, cukup satu setengah jam dari kota Jogjakarta, di bukit Punthuk Setumbu Magelang. 



Editing dengan meningkatkan level shadow dan highlight untuk efek HDR.
Photo by : Kurnia Fahmy. Thanks mate! :)

November 28, 2011

Today's Escape: Sunrise, Borobudur

...lanjutan dari post sebelumnya.
Namanya Bukit Punthuk Setumbu, letaknya sekitar 4 kilometer di sebelah barat Candi Borobudur. Terletak di desa Karangrejo Kecamatan Borobudur, bukit Setumbu menawarkan pemandangan landscape sangat indah. Saya dan Mbak Ayu, traveler dari Bali yang baru saya kenal malam sebelumnya yang mengajak saya kemari, tak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata takjub memandang hamparan pepohonan dengan latar belakang Merapi Merbabu di kejauhan. Apalagi saya tipe gampang histeris ngliat pemandangan bagus dikit. Liat langit biru aja saya histeris. Hahahaha.

Langsung lihat foto-fotonya saja ya, susah juga digambarkan dengan kata-kata :)

semburat cahaya jingga mulai nampak di kejauhan. borobudur masih tertutup kabut.

langit mulai menguning, kabut menipis, stupa borobudur mulai nampak di kejauhan.

mataharinya sudah terbit, sayang di bulan seperti ini sunrise warnanya datar karena musim hujan, langit cenderung putih
sunrise di setumbu terbilang cuma sebentar, lepas dari pukul lima awan jahat menutupi gunung dan kabut kembali turun. matahari memutih.
Karena sudah mulai sering didatangi turis, bukit ini dikomersialkan. Jalan memang diperbaiki, tapi setiap pengunjung yang datang akan ditarik biaya administrasi sebesar 15ribu/orang ditambah biaya parkir. Belum lagi kalau pakai guide lokal atau ojek, bisa habis 20ribu lagi. Mahal sih, tapi masih sangat lebih murah dibandingkan kita harus bayar Rp 300ribu untuk sunrise di puncak Borobudur atau harus menginap di hotel Amanjiwo. Suroloyo di Kulonprogo juga bisa jadi tempat melihat sunrise, tapi letaknya yang terlalu tinggi membuat Suroloyo cenderung selalu dikelilingi kabut tebal pada dini hari. Borobudur juga terlihat terlalu kecil di bawah.
Kata guide nya, kalau datang di bulan Juli-Agustus, matahari akan terbit diantara Gunung Merapi dan Merbabu. Wow!

Today's Escape : Ray of Light, Borobudur.

Sedari dulu saya selalu penasaran, darimana para fotografer bisa mendapatkan foto siluet Borobudur dengan ketinggian yang tidak terlalu ekstrim, diantara pepohonan dan bukit berkabut yang masih kehitaman karena belum disiram sinar matahari. And finally, last Friday, i found the spot! 



Dan salah satu breathtaking moment yang saya tunggu muncul juga, ketika cahaya menembus pepohonan dan membentuk Ray Of Light yang ciamik. Seperti lukisan hitam putih ya? Cantik, mistis, dan bikin saya sukses nahan napas!


Dimanakah spot ciamik ini? Akan saya ceritakan di post selanjutnya. Sabar ya :)

November 27, 2011

another sunset


Seperti sunset yang biasanya di Parangtritis. 

carrier dan sepatu trekking

saya baru menyadari, beberapa kali saya mengikuti tes potensi akademik dan disuruh menggambar orang, saya selalu menggambar sosok lelaki, dengan jaket dan celana lapangan, tas carrier besar, serta sepatu trekking. Selalu dari dulu.
mungkin gara-gara saya ikut sispala jaman sma, sosok seperti itu seperti sudah terpatri di ingatan saya. sosok seperti itu lengkap dengan wajahnya, tapi saya udah ga perlu diingat-ingat lagi karena sudah masa lalu. *kenapa jadi curhat sih ya*
ah ya satu lagi, sosok seperti itu akan lebih keren kalau tidak sambil ngerokok. jadi, cowok hobi naik gunung dan memakai outfit seperti itu, minus rokok, adalah sosok cowok idaman saya :)

random... -.-

November 24, 2011

Bumi Halmahera (5) : Oleh-Oleh Tak Terlupakan dari Jailolo


Hahaha! Ini adalah salah satu oleh-oleh tak terlupakan dari Jailolo, selain bergiga-giga foto dan kenangan yang cukup tersimpan di otak saja.

Kartu Berobat RSUD Jailolo - sekitar tiga minggu sebelum pelepasan mahasiswa KKN, kormasit saya, Indro Wicaksono, sakit! Sakitnya persis kayak gejala malaria, sakit kepala berat, badan panas banget, badan menggigil semalaman, dan sendi-sendi yang sakit. Padahal besoknya adalah keberangkatan kami ke Morotai. Akhirnya kami putuskan untuk membawa Indro ke Tobelo (untuk menyeberang ke Morotai kami harus naik kapal dari Pelabuhan Tobelo). Tobelo adalah ibukota Halmahera Utara, paling enggak disana ada rumah sakit. Soalnya kalo mau ke Jailolo pun sama jauhnya, dan kalo mau cari rumah sakit yang lebih bagus kami harus nyeberang ke Ternate.
Disini kami merasakan susahnya jadi orang yang hidup di wilayah kepulauan, terpencil pula. Ke rumah sakit harus menempuh perjalanan berjam-jam dan biayanya gak murah. Pelayanan juga seadanya, tidak segesit di kota, pun hasilnya tidak seakurat rumah sakit besar.

Pemeriksaan dilakukan, dan benar. Indro positif malaria! Kami sempat panik tapi ternyata kondisi Indro masih cukup stabil sehingga dia tidak perlu dirawat di rumah sakit. Cerita berlanjut... dan entah kenapa dia akhirnya ikut kami ke Morotai! Hahahaha dipikir-pikir kami ini teman yang jahat. Bahkan Indro mau (atau lebih tepatnya terpaksa) buat ikut kami naik kapal kecil, di tengah ombak tinggi di perairan Morotai, buat mengunjungi Pulau Dodola dan Pulau Zumzum yang legendaris itu!
Kata-kata dari Indro yang sampe sekarang masih saya ingat 'Iso-isone nggowo wong lagek loro malaria nang Morotai, numpak kapal neh...' (bisa-bisanya kalian bawa orang sakit malaria ke Morotai, naik kapal lagi..)


Sepulangnya kami dari Morotai, Indro kami rawat dan kami jaga. Tiba-tiba semua orang jadi galak sama Indro. Rumah jadi sering ramai karena warga desa menjenguk Indro. Akhirnya Indro sembuh (ga sembuh-sembuh banget sih, masih suka ngedrop) Pokoknya Indro gaboleh sampe kambuh lagi malarianya.

Beberapa hari kemudian, ketika saya sedang tidur, tiba-tiba badan saya menggigil berat! Bahkan teman saya Fahmi ngeliat tangan saya menggigil gitu aja. Bangun-bangun saya nangis karena kedinginan T.T Siti dan Indro langsung ngejudge saya sakit malaria, asem. Kebetulan besoknya kami akan berlibur ke Jailolo, akhirnya kami putuskan untuk sekalian ke rumah sakit.. nah itulah awal dari saya mendapatkan kartu berobat tersebut :))

Pas berangkat saya sehat-sehat aja. Eh tau-tau pas sampe pelabuhan Jailolo mau nyebrang ke Pulau Babua, saya menggigil hebat! Tangan saya dingin dan keringat bercucuran. Langsung deh saya diantar Indro balik lagi ke oto, minta dianterin si supir ke RSUD Jailolo. Ambil darah, nungguin, dan hasilnya NEGATIF. Anjrit saya sakit apa nih, bingung juga sih ya. Tapi alhamdulillah saya ga malaria.
Kami menginap di Jailolo. Besok paginya saat saya bangun, suddenly, kepala saya sakit bukan main! Sampe saya ga bisa buka mata, tiba-tiba tenggorokan dan hidung saya panas, sampe saya nangis. Dan beberapa saat kemudian saya pingsan --' Padahal kami harusnya sudah pergi buat jalan-jalan di pantai di Jailolo. Akhirnya saya, Suryo, Fahmi, Indro, dan Siti memutuskan buat nggak ikut jalan-jalan dan mereka mengantarkan saya ke RSUD Jailolo (lagi). Kali ini ga cuma ambil di jari doang tapi lewat lengan (pertama kali diambil darahnya lewat lengan! Tapi ternyata ga sakit2 banget. Sakitan kepalanya T.T)
Dan hasilnya, masih NEGATIF. Saya dinyatakan sehat walafiat.

Saya penasaran dong ya ini sakit apa. Ketika sudah dirumah pun saya masih suka menggigil tapi saya ga meriksain ke dokter. Dan sampai sekarang saya nggak tau saya sakit apa....
Kalo kata kak Ika, tetangga rumah saya di Akelamokao, 'ah paling ketempelan suwanggi (setan) Ternate. Kan suwanggi Ternate bisa nyebrang laut gak kayak setan Jawa!'
Astagfirullah!


muka sakit masih bisa ketawa, say thanks to Bapak Supir Oto ajeb-ajeb! 

November 23, 2011

Bumi Halmahera (4) : Calon Bintang dari Akelamokao


INILAH PARA CALON BINTANG SEPAKBOLA DARI AKELAMO KAO!

Lapangan bola superbesar di barat Desa Akelamokao ini bukan tidak ada gunanya. Tiap sore, para pemuda desa Akelamokao selalu berlatih keras, memaksimalkan kemampuan dan menguji stamina bermain si bundar. Kegiatan ini menjadi tontonan rutin kami para pendatang (baca: mahasiswa KKN) karena dua hal: permainan mereka yang penuh semangat serta orang-orangnya yang good looking! ahahaha, bisa dilihat kan, muka-muka eksotis khas Timur, dengan alis tebal, mata cekung, rahang keras, dan badan yang kencang! Kyaaaa. Sayang di foto ini ndak ada cim-ciman saya :))

Para pemain bola dari Akelamokao terkenal berkualitas. Sudah beberapa kali mereka bertanding di pertandingan tingkat nasional, bahkan ada yang jadi pemain klub nasional juga! (berhubung saya bukan fanatik sepakbola, saya lupa namanya). Karena prestasi itu pula, di desa ini dibuat SSB. Keren ya?

Tidak hanya Papua, Maluku juga bisa memberikan putra daerah terbaiknya untuk maju di kancah persepakbolaan nasional. Ayo pemerintah, jangan cuma terpusat di Jawa, berikan kesempatan para pemuda ini untuk membuktikan keahliannya dong :)

Bumi Halmahera (3) : Dari Tepi Daruba


Ini adalah sore yang biasanya di Daruba, Pulau Morotai.
Air laut mulai pasang, langit memerah dan orang-orang kembali ke peraduan.
Aku duduk di sebuah pembatas beton, bersama enam manusia lain, mendengarkan debur ombak di bawahku. Tenang.
Ini adalah sore yang biasanya di Daruba, Pulau Morotai.
Tetapi ini adalah salah satu soreku yang paling menakjubkan selama aku hidup.

___________________________________________

Sail Morotai akan diadakan pada pertengahan tahun 2012 di Pulau Morotai ini. Melihat Morotai seperti melihat dua dunia yang berbeda. Ya, Morotai dikenal dengan surga bawah laut yang diperkaya bangkai-bangkai kapal dan pesawat karam yang kini menjadi tempat hidup karang dan hewan-hewan laut. Keunikan ini menjadi daya tarik utama para wisatawan datang ke Morotai. Di daratannya, Morotai mungkin tak lebih dari pulau tandus berdebu, benar-benar seperti dataran kerontang yang lama tidak dibasahi hujan.
Daruba menjadi salah satu bagian wilayah di Morotai Selatan yang paling sibuk. Listrik menyala selama 24 jam, tetapi bukan jaminan listrik tidak sering mati. Hal ini pun lazim terjadi di seluruh wilayah Halmahera, Maluku Utara.

Kapan-kapan, di bawah label Bumi Halmahera pula, saya akan bercerita tentang sejarah Pulau Morotai yang sangat panjang dan menarik. Menurut sepengetahuan saya aja tapi ya, hahaha.

November 19, 2011

Sunrise Hunter : Telomoyo Magelang



Para sunrise/sunset hunter (salah satunya adalah saya!) selalu mencari spot terbaik untuk memuaskan hasrat melihat si bulat jingga bercengkrama dengan cakrawala. Sebut saja beberapa tempat yang sudah terkenal sejak lama, seperti Bukit Bintang, Parangtritis, dan Candi Ratu Boko. Tapi jangan salah, selain tempat-tempat yang sudah lebih dahulu populer tersebut, ada beberapa referensi lagi yang tidak kalah serunya, seperti Gunung Nglanggeran di Gunungkidul, Parangndog di Bantul, atau Suroloyo di Kulonprogo (semuanya pernah saya posting di blog ini) Berbahagialah kita penduduk Jogja dan sekitarnya, ada banyak tempat tinggi seperti bukit atau pegunungan yang bisa dijadikan tempat ngendon menunggu si matahari.
Ingin menambah jam terbang, kali ini saya dan beberapa teman beranjak ke Magelang, sebuah gunung kecil (bukit mungkin lebih tepatnya) yang dijuluki Telomoyo. Gunung kecil ini berada dekat dengan Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing. Daerah sekitar Telomoyo pun pernah digunakan sebagai venue Festival Lima Gunung yang terkenal itu.






November 13, 2011

Sunset Parangtritis, Sore Tadi



Salah satu sunset terbaik tahun ini, saya dapatkan di Pantai Parangtritis, Bantul, Jogjakarta :) Mencoba bertamasya dengan teman-teman baru dan mendapatkan perspektif baru. Sungguh ini perjalanan selow yang menyenangkan! Parangtritis, aku selalu jatuh cinta kepadamu.

Pasirmu, ombakmu, landas pacumu, warung Yu Mar mu, andongmu, layang-layangmu, gardupandangmu, lahan parkirmu, kamu.


rasane kepingin nangis yen kelingan Parangtritis... versi Didi Kempot
rasane kepingin mringis yen kelingan Parangtritis... versi saya.


diambil dengan kamera hp LG Optimus milik Oktiyanto Ade Saputro. 
Sekali-kali jalan-jalan menikmati pemandangan tidak dari jendela bidik kamera :)


Bonus! Seperti biasa, dimana ada pantai disitu ada foto lompat. Kali ini lompatnya di gumuk pasir. Obsesi: balik lagi kesana! :D



November 10, 2011

Bumi Halmahera (2) : Our Daily Scenery

Our daily scenery, behind the Akelamokao Village. 

Teluk Kao adalah harapan bagi Halmahera Barat. Memanjang dari Jailolo Timur hingga dekat Malifut, perairannya tenang menghanyutkan. Dari tempat saya berdiri di pinggir Desa Akelamo, saya bisa memandang punggungan di seberang, di Buli Halmahera Timur atau gereja besar bercat putih di Desa Pasir Putih. Topografi pantai nya beragam, mulai dari pantai berbatu-batu kecil, berbatu super besar, berpasir halus, sampai yang berpasir putih juga ada!

Tiap bulan purnama, Teluk Kao akan dipenuhi bagang nelayan yang mencari penghidupan. Berselang-seling, mereka mencari ikan teri dan cumi-cumi (biasa disebut suntung). Dahulu, kedua jenis hewan laut ini menjadi pengharapan utama warga desa. Berton-ton ikan teri dikirim ke Surabaya dan Makassar. Dengan menjual hasil tangkapan tersebut mereka bisa membangun rumah bagus dan hidup cukup layak. Tetapi seiring berkurangnya jumlah teri dan suntung di Laut Kao, berkurang pula sumber penghidupan yang membuat dapur mereka tetap mengepul. Ada isu bahwa Teluk Kao telah tercemar limbah merkuri dari tambang emas di sekitar Malifut, tapi sampai sekarang belum ada bukti nyata.
Berbagai jenis keindahan alam terbentang di tepi Teluk Kao. Mulai dari sumber air panas nonbelerang di Akesahu, mata air tawar yang letaknya hanya 10 meter dari bibir pantai, hingga pantai pasir putih tersembunyi dengan airnya yang jernih.

Halmahera dan Teluk Kao nya mengingatkan kita betapa luas dan indahnya Indonesia kita.

November 09, 2011

Bumi Halmahera (1) : Bergitar Ria Di Tengah Teluk Kao


Yuhuuuu! Sudah pernah menyanyi sambil bermain gitar - ditemani warga lokal berwajah eksotis - sambil naik perahu - di tengah birunya lautan Teluk Kao? Teman satu subunit saya ini, Luhki Herwanayogi, sudah pernah melakukannya.
Rasanya? Joss gandoooosss!!

___________________________________________________________________

Yap, mulai hari ini saya akan memposting tiap hari 1 (satu) atau beberapa foto disertai cerita singkat mengenai pengalaman saya hidup selama dua bulan di bumi Halmahera tercinta. 
Are you ready?
I'm ready! semoga enggak mitos yaa! :))