December 31, 2011

the power of social media

Sejak berbagai jejaring sosial ramai digunakan oleh penduduk Indonesia, seakan-akan informasi menyebar dengan cepatnya dalam hitungan detik bagaikan angin topan. Bwoooss... berita dari suatu tempat diketahui oleh orang di ujung yang lain, yang mungkin tidak saling mengenal begitu cepat dan mudahnya.
Bentuk kepedulian sosial terhadap bencana alam pun kini mempunyai bentuknya yang baru. Lembaga-lembaga, sukarelawan, maupun individu merambah dunia maya untuk menyebarkan informasi mengenai penggalangan bantuan bencana alam dengan lebih cepat dan luas. Biasanya berita penggalangan dana hanya kita saksikan di televisi atau lewat dompet bencana di media massa, kini tiap orang dapat mengumpulkan bantuan secara mandiri. Dukungan moral dan material pun mengalir lebih mudah ke lokasi bencana tanpa harus mengandalkan pemerintah atau lembaga-lembaga besar.
Hari ini, kami, Jainyonyo mencoba melakukan hal yang sama. Berangkat dari rasa simpati atas kesulitan yang dirasakan keluarga dan rumah baru kami di tanah timur, Ternate, yang dilanda bencana erupsi Gamalama dan banjir lahar dingin, hingga malam tadi. Karena terkendala jauhnya jarak, kami hanya dapat memantau perkembangan via berita, pun yang mengekspose tidak terlalu banyak, dan kontak langsung dengan relawan di Ambon dan Ternate. Kemudian kami berinisiatif membuka jalur donasi yang detailnya dapat dibaca pada post sebelum ini.
Sedikit tweet menceritakan kondisi terkini Ternate dengan tagar #ternate dan menginformasikan pengumpulan donasi yang nantinya akan langsung dikirimkan ke AmbonBergerak untuk didistribusikan, kami tidak menyangka besarnya rasa kepedulian teman-teman (terutama di twitter dan facebook) untuk ikut menginformasikan hal tersebut. Ratusan retweet segera menghiasi laman activity twitter saya, hal sekecil ini sangat saya apresiasi karena berbagi informasi, sekecil apapun itu, dapat membantu saudara-saudara kita di Ternate.
Tidak hanya itu, web saling silang di twitternya @salingsilang membantu merangkum tweet saya dalam sebuah artikel di sini. Beberapa official account juga membantu me-RT kan informasi donasi, yang dalam hal ini, semakin memudahkan kami untuk tell others. Hal ini mungkin sederhana, tapi saya sangat terharu. Di tengah hiruk pikuk perayaan tahun baru, masih ada yang mau meluangkan waktu barang sebentar untuk membaca informasi dan membaginya ke orang lain.
Sementara ini, hanya ini yang dapat kami lakukan untuk membantu mereka.

Saya membuat post ini tepat pada pukul 22.00 WIB atau 00.00 WIT. Bersama post ini pula saya ucapkan Selamat Tahun Baru Indonesia Timur, Selamat Tahun Baru Ternate.

pertemuan

saat ini saya sedang bergelimpangan di kasur menghadap laptop, tidak bisa tidur gara-gara perut yang bermasalah. sudah hari kelima dan besok adalah malam tahun baru! rencana saya melihat sunrise di bromo terpaksa batal karena keadaan saya yang tidak kunjung membaik. saya tidak bisa terlalu lama pergi keluar karena akan segera pusing, berkeringat dingin, dan perut kembali merengek-rengek.
jujur, saya bingung saya sakit apa. teman saya wana, dengan pedenya bilang kalau saya sakit pikiran yang kemudian mempengaruhi fisik. agak sebel dengernya, karena saya lagi ga galau, tapi kemudian saya ingat kalau beberapa hari terakhir saya menerapkan sistem begadang untuk menyelesaikan data entry dan beberapa tugas presentasi lain. yah, otak disuruh beristirahat, tapi dengan cara yang tidak menyenangkan.

teman, pernah tidak kalian membayangkan seseorang yang belum pernah kalian temui, melalui tulisan-tulisannya? misalnya, bagaimana kepribadian orang tersebut, bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain, atau topik apakah yang dia sukai. akhir-akhir ini saya sering menebak-nebak 'bentuk' seseorang lewat blog mereka yang saya baca. terkadang, saya terlalu terpesona dengan tulisan mereka dan saya jadi pingin sekali ketemu orang tersebut. saya sudah sejak lama berteman via blog dengan mbak dwi putri (bisa kunjungi blognya disini). kalau ditanya kenal darimana, akan panjang jawabannya. kemudian beberapa bulan lalu akhirnya saya bisa ketemu dia yang lagi main di Jogja. dan saya semacam mengkonfirmasi hasil terkaan saya tersebut setelah melihat orangnya langsung. rasanya bertemu mbak putri kayak udah lama ketemu, entah, rasanya nyaman aja gitu. mungkin karena berhobi sama jadi obrolan cepat nyambung. apalagi kami saling follow di twitter, jadi sedikit banyak saya tahu mbak putri dari twitternya. dan itu seru! menebak-nebak dan mengkonfirmasi kebenarannya setelah bertemu langsung. tadi untuk kedua kalinya saya bertemu dengan mbak putri lagi. kali ini dia sedang mempersiapkan itinerary perjalanan ke suatu tempat (yang jelas-jelas bikin saya iri) bersama pacarnya dan seorang teman lagi. lalu datanglah mas nuran, orang yang selama ini cuma saya baca tulisannya via blog ini. tulisan-tulisannya hebat, dan saya dulu terinspirasi tulisan duet nuran-ayos yang backpacking ke sumbawa. terus tiba-tiba aja orangnya ada di depan mata. rasanya.. seru. haha seru bukan perasaan sih ya. tapi bener, seru!

saya suka bertemu orang baru. tetapi tidak selalu sih, karena saya tipe orang yang suka kasih judgement awal sebelum benar-benar orang tersebut. memang sih banyak orang yang melakukannya, tapi saya tipe yang terlalu cepat. tapi secara umum, saya suka bertemu dan ngobrol dengan orang baru karena mereka seakan-akan membawa energi baru yang menyenangkan. mereka seakan-akan bawa cerita yang seru untuk dibagikan. begitulah.

bertemu orang baru, apalagi yang berbeda latar belakang (misal tempat tinggal, pendidikan, komunitas, dan banyak lagi) akan selalu mengejutkan dan penuh cerita. dan semua itu semakin membuat saya sadar, saya bukan siapa-siapa, masih sangat banyak yang belum saya ketahui, masih sangat banyak yang harus saya pelajari.

besok ketemu siapa lagi ya? :)

December 28, 2011

rindunya sampai ubun-ubun

Satu-satunya foto formasi lengkap: Danang-Yogi-Suryo-Nana-Nadya-Geby-Stephani-Kinkin-Ririn-Uci-Ferzya-Siti-Teh Yuyum-Ucki-Fajar-Najib-Indro-Hendry-Fahmi-Debbie
Tiga kali janjian ketemuan subunit, dua kali janjian rafting bareng satu unit, belum pernah ada yang terealisasi sampai sekarang. Padahal rindunya bukan main dengan teman-teman seperjuangan ini. Bersama-sama bersusah payah merumuskan tema dan proposal KKN yang tepat dengan daerah tujuan, cari dana kesana kemari termasuk jualan bunga dan stiker, bahkan saya masih ingat pertemuan mengharukan di selasar kampus biologi dimana kormanit memberikan pilihan sulit dan mengatakan bahwa KKN di Maluku Utara probabilitasnya semakin kecil. Saat itu kami diberikan pilihan tetap berjuang ke Malut dan siap dengan segala kemungkinan, pindah KKN ke Lombok Tengah, atau sekalian saja menyerah dan KKN di Jogjakarta. Tapi pada akhirnya kami bisa, dan itu adalah salah satu pencapaian terbesar.

Nyaris enam bulan berlalu sejak pertama kita menapak tanah Maluku dan sekarang kita sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Seakan-akan kita 'lupa' kalau kita punya janji untuk sering berkumpul sekembalinya kita di Jogjakarta ini. Tapi siapa yang tahu kalau ternyata anggota Jainyonyo sesibuk ini bahkan untuk berkumpul satu subunit pun tidak pernah terlaksana :(
Ada yang kuliah, ada yang sibuk skripsi, ada yang mau magang, ada yang sudah kerja, ada yang buka usaha, ada yang masih sibuk organisasi, ah, semoga saat ada yang wisuda nanti kita bisa berkumpul barang sebentar dan mengenang masa-masa bersama dulu, teman.
Lagi-lagi. Sesuai dengan mata kuliah saya mungkin ya, akuntansi selalu berhubungan dan mengungkit- ungkit transaksi yang telah terjadi di masa lalu. Begitupun saya, sulitnya terlepas dari kenangan masa lalu :)

Piknik sederhana ke pantai belakang rumah, berjalan jauh sampai mata air dan minum kelapa muda.
Di pantai inilah saya diceburkan dengan brutal diseling ucapan, 'selamat ulangtahun kin!'

Subunit 1 Akelamokao di depan pondokan: Indro-Suryo-Ririn-Siti-Kinkin-Fahmi-Yogi :')

December 24, 2011

siap dibaca: Meraba Indonesia



Sinopsis buku seperti yang tertera di bagian belakang:

Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.

Tujuan utama ekpedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat. 

Tertarik dengan tampilan cover yang 'gahar' dan sinopsis yang mengundang, akhirnya saya mengalokasikan uang yang seharusnya saya gunakan untuk membeli NG Traveler edisi Januari 2012. Sempat galau antara beli Selimut Debu nya Agustinus Wibowo yang sejak lama saya dambakan T.T Tapi saya pikir ini adalah traveling gaya baru, apalagi di Indonesia, dimana dua orang gila melakukan perjalanan dengan motor trail ke seluruh pelosok Indonesia. This is a real adventure! Saya belum membacanya, saya janji ketika sudah selesai membaca akan segera membuat review singkatnya. 


Buku yang dibuat oleh Ahmad Yunus seharga Rp 75.000 ini dilengkapi dengan 50 foto berwarna karya Ahmad Yunus dan ada juga CD film dokumenter buatan Farid Gaban. Ini adalah teman malam minggu saya kali ini. Hehehe.
Cerita tentang ekspedisi mereka juga bisa diintip di website www.zamrud-khatulistiwa.or.id, siapa tau bisa jadi referensi sebelum membeli bukunya :) 

Mungkin OOT, tapi saya dan Karlina Aucia Augusta, punya keinginan yang hampir sama liarnya : menapak tilas sejarah dan perkembangan sosial-budaya di sepanjang Jalan Raya Pos Daendels. Mungkin naik motor, mungkin naik kendaraan umum. Ah, mimpi lagi mimpi lagi. Tapi, semua petualangan diawali dengan mimpi kan? :)

December 23, 2011

bertualang!

"Optimisme, semangat, kekuatan tekad dan sedikit mimpi adalah modal dasar para petualang."
                                                                                                                                                @wana23

Coba kita ingat-ingat lagi bagaimana kita bisa mengunjungi suatu tempat di suatu waktu. Mungkin saja datang ke tempat tersebut adalah sebuah ketidaksengajaan yang menyenangkan, atau memang sudah sejak lama nama tempat tersebut menguasai dan meracuni pikiran kita. 
Bertualang tidak hanya sekedar melakukan kegiatan-kegiatan menantang di tempat yang baru. Buat saya, keluar dari zona nyaman adalah bertualang. Zona nyaman yang dimaksud bisa saja kasur kita yang empuk, rumah kita yang nyaman, atau kehidupan kampus yang menyenangkan (tapi bohong). Kemudian kita keluar, mencari sesuatu yang baru. Terkadang mencari ketidaknyamanan. Berkeliling pasar tradisional yang becek dan bau memperhatikan tingkah laku pedagang. Tertidur di kursi bus ekonomi dengan kaki tertekuk dan berdempetan dengan ibu-ibu gemuk yang bawel. Tidur di kasur tipis berdebu di penginapan sederhana di pinggir pelabuhan. Makan di warung langganan para supir truk demi harga yang murah dan porsi yang banyak. Kita mencari ketidaknyamanan yang memperkaya.
Mimpi. Sesederhana apapun, semua perjalanan kita awali dari mimpi. Sekedar ingin melihat matahari terbit dan terbenam, ingin menelusuri pematang sawah, ingin menjelajahi lorong-lorong kota, pokoknya ingin keluar. Imajinasi langsung liar terbayang ketika saya melihat foto suatu destinasi yang cantik dan sepertinya penuh dengan cerita. Darah berdesir kemudian saat saya mencari informasi lebih banyak, dan mulailah saya memupuk mimpi. Impian tersebut kita bumbui dengan optimisme bahwa kita pasti akan kesana. Bahwa kita pasti bisa mencapai tempat itu, mengambil foto yang lebih bagus dan mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna. Optimisme membawa kita pada semangat untuk mewujudkan petualangan impian tersebut. Yang masih mahasiswa mulai menyisihkan uang bulanan demi menutupi akomodasi perjalanan walaupun masih pas-pasan. Yang sudah bekerja mulai mencoret-coret kalender mencari waktu cuti yang paling tepat. Kegiatan menyusun itenerary menjadi salah satu hal yang paling menyenangkan. Membuat daftar alternatif transportasi dan membayangkan cerita apa yang bisa didapatkan dari masing-masing alternatif tersebut. Dilanjutkan mencari penginapan, ada yang mencari kenyamanan ada yang asal dapat murah. Semuanya punya pilihan.
Kadang hambatan datang menurunkan semangat. Tugas yang datang berjibun, pekerjaan kantor yang tidak selesai-selesai, kondisi tubuh yang tidak fit, bahkan izin orangtua yang ternyata tidak bisa tembus cuma contoh segelintir hambatan. Tapi hambatan punya peran ganda : sebagai pertanda bahwa langkah kita memang sebaiknya tidak dilanjutkan atau untuk membuat perjuangan kita nantinya lebih bermakna. Ah, tapi para petualang selalu punya cara untuk mewujudkan mimpinya bukan?
Kemudian saat kita berhasil mewujudkannya, ada kepuasan batin dan kenikmatan yang menyelimuti. Rasa lelah sepanjang perjalanan pulang tidak terasa, apalagi jika kita mendapatkan banyak hal mengejutkan yang menarik. Kulit yang menghitam menjadi bukti otentik selain foto-foto dan cerita yang bisa dibagi ke teman-teman.
Para petualang mempunyai caranya sendiri untuk bahagia. Tidak semua orang memahami apa enaknya menghabiskan uang tabungan di suatu tempat asing yang bahkan namanya saja jarang terdengar. Cara terbaik untuk memahami jalan pikiran para petualang adalah menjadi bagian dari mereka.
Sudahkah anda mencoba bertualang?

December 21, 2011

Gunung Baluran (2)

Gunung Baluran, Taman Nasional Baluran Banyuwangi, Jawa Timur
Matahari terbenam langsung di balik angkuhnya Gunung Baluran, mempermanis lansekap sore di Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Berada di sini seakan berada di tengah padang Afrika. Semuanya kecoklatan, kering, berdebu, berangin, sepi, hening, cantik. Kami mendapatkan foto ini ketika menanti senja hilang sambil berguling-guling di savana Baluran yang habis dipangkas karena diserang tanaman hama.
Bulan September-Oktober memang merupakan puncak musim kering di Baluran. Karena itulah, saya ingin datang pada bulan Mei karena katanya ada padang bunga cantik dan Baluran pun menghijau. Saya juga belum bertemu merak dan banteng Baluran yang legendaris itu. Sementara monyet Baluran menghiasi sepanjang perjalanan kami, saya yang takut pada monyet sibuk berteriak-teriak dan menyelamatkan barang bawaan.
Menurut saya, lansekap Baluran adalah lansekap yang romantis. Sungguh. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari matahari terbit-terbenam tepat di cakrawala dan bulan besar yang dengan indahnya muncul tanpa tertutup pepohonan lebat.
Kapan ya bisa kesana lagi..

Anw, maafkan beberapa posting terakhir saya adalah posting random nan galau. Tapi terlanjur juga sih, gimana lagi. Hehehe. Saya sudah kembali menjadi Kinkin satu bulan lalu, yang tidak lagi sibuk menggalaukan hati. Semua itu pilihan, dan saya memilih untuk tidak memilih siapapun. I will, and I can.






December 18, 2011

My Best Partner!


Kalau harus menyebut nama satu orang yang sabar dengan kelabilan saya, maka perbolehkanlah saya sebut nama Wana Darma. Lelaki berkumis super dan bermuka Arab mesum ini adalah salah satu partner terbaik saya semasa kuliah.

Saya masih ingat, pertama kali bertemu Wana adalah saat dia menjadi kakak pendamping saya di jaman makrab jurusan akuntansi. Anaknya random, serandom mukanya. Lalu beberapa minggu kemudian ketika saya sudah bergabung dengan persma Equilibrium, di suatu sore di selasar FEB UGM. Saya sedang memotret gedung kampus lalu dia mendatangi dan langsung bilang mau lihat kamera saya. Dia tanya-tanya soal kamera tapi pertanyaannya mbingungi. Terus dia ngeloyor gitu aja.
Eh, beberapa bulan kemudian kami ketemu di kepanitiaan GMAD dan akhirnya dia juga jadi tim proart Equilibrium.

Kami pernah terlibat beberapa project dan Wana adalah salah satu pejalan yang juga aktif di CLR. Project yang paling saya ingat adalah ketika kami ingin membuat majalah digital bernama Swatzh! bersama Iqbal. Ian, Dzulfan, Mega, dan Navan. (tapi baru sampe sesi foto trus gajadi bikin gara-gara pada sibuk!) Kedua, ketika Wana menawari saya untuk ikut bikin majalah traveling tapi waktu itu saya memilih untuk nggak ikutan.

Wana adalah anak yang cepat belajar hal baru. Beberapa tahun lalu ketika jamannya saya lagi hobi-hobinya fotografi, dia juga mulai suka. Waktu itu dia belajar pakai analog dan akhirnya ganti Nikon D50 yang menemani dia sampe sekarang. Wana juga jago desain dan pintar bikin flash. Kalo boleh dibilang, Wana adalah motivasi saya buat belajar desain.

Dia begitu paham mengenai kelabilan saya masalah perasaan. Tiap saya ada 'cerita' yang berkaitan dengan hati, mungkin dia yang pertama tahu. Kupingnya sudah biasa kemasukan curhatan sampah saya, kicauan galau saya karena habis patah hati, atau ocehan-ocehan meracau karena sedang kasmaran. Dia jarang memberikan saran, terlebihnya membiarkan saya ngobrol ngalor ngidul tentang kegalauan apapun itu. Somehow, curhat sama cowok itu lebih menenangkan karena mereka bisa bantu kita pakai logika. Komentar sinis dan kontra sudah biasa saya dengar dari dia. Kadang-kadang sakit hati, tapi setelah dipikir lagi baru saya sadar yang dia maksud itu ada benarnya. Hahaha.

Kalau saya bilang "Wana, aku galau." dia biasanya sudah tahu saya butuh curhat. Kalau dia lagi ga sibuk sama ehemnya dia pasti meluncur mendatangi saya, atau kami pergi untuk mengobrol di suatu tempat. Sayangnya akhir-akhir ini jarang ketemu karena Wana sedang sakit sehingga dia lebih banyak di kontrakan. Semalam saja ketika saya ingin curhat sama dia, kami berkali-kali mencoba nelpon via skype tapi selalu ada masalah, ga jodoh juga. Kalau diinget, kocak!

Kasihannya Wana, dia sering banget dikira cowok saya. Padahal kalo dibilang rasa suka diantara kami sudah nggak ada. Hahaha. Saya adalah korban kejahatan dia yang bilang saya ini cowok T.T Tapi yaudahlah ya, berarti ini persahabatan dua cowok. Hahahaha.

Posting ini sekaligus untuk mendoakan Wana Darma semoga dia fokus menyelesaikan skripsi dan segera meraih cinta yang selama ini dia kejar! Wahahaha. Please Wan, jangan lagi jadikan saya kedok buat mengejar wanita lain ya! *ketawa koprol*

Dan semoga kita dapat pekerjaan sesuai passion yang kita inginkan : traveling. You can do it! :)



December 17, 2011

Bumi Halmahera (8) : Pekarangan Sekolah


Ini adalah jalan yang biasa kami lewati tiap akan berangkat ke MI Akelamokao. Bangunan MI benar-benar berada di tengah dataran yang dikelilingi perbukitan hijau. Selalu menyempatkan berhenti sebentar di bawah pohon kembar, memandang rerumputan dan lekuk-lekuk bukit di tanah Maluku.

Kebanyakan warga Akelamokao menyekolahkan anaknya ke MI. Akibatnya, SD Akelamokao sepi murid, walaupun letaknya sangat lebih dekat dengan desa. Kelas satu baru di SD Akelamokao kemarin hanya empat anak sehingga terpaksa digabung dengan kelas dua. Sementara itu di MI Akelamokao sangat ramai oleh murid sekolah.


Rute Gowes Favorit: Ancol


Selokan Mataram ke arah barat hingga mencapai Ancol Bligo di perbatasan Magelang, merupakan salah satu rute bersepeda favorit saya. Kenapa? Ya, jalanannya tidak begitu ramai, hijau sawah dan rumput dimana-mana, dan berakhir di sebuah bendungan besar yang suara airnya menenangkan. Ancol Bligo ini merupakan 'muara' dari Selokan Mataram yang legendaris itu. Kalau beruntung, di sepanjang selokan anda akan menemukan pemandangan ndeso, entah anak-anak desa yang berenang di selokan, kerbau yang mandi, atau rombongan bebek yang berjalan beriringan menuju ke sawah. Lovely banget buat pecinta pemandangan damai macam saya ini.

Jaraknya cukup jauh dari rumah saya di daerah Mlati, sekitar 20 kilometer kali ya, yang jelas saya pernah waktu itu nggenjot ke sana kok rasanya gak sampai-sampai. Hahahaha. Satu yang ga direkomendasikan, jangan gowes naik folding bike kayak punya saya ini. Capeknya 2x lipat karena harus nggenjot lebih banyak!

Bumi Halmahera (7) : Potong Rambut Cap Akelamokao





Kegiatan memotong rambut di halaman rumah disaksikan anak-anak dan anggota KKN lain adalah salah satu momen lucu yang pantang dilupakan. Onteng, si tukang potong rambut, dengan sangat percaya diri memangkas dan merapikan rambut Indro, Suryo, dan Fahmi. Yogi memilih untuk tetap memanjangkan rambutnya dengan alasan 'gamau menghilangkan oleh-oleh selama KKN'. Entahlah, mungkin juga dia ga yakin dengan hasil potongan si Onteng :)

Di foto kedua, ada saya di teras rumah. Ya, kami nonton mereka potong rambut sambil asik ngerokin daging kelapa muda sama Siti. What a moment :D

Bumi Halmahera (6): Siliwangi


Halo, perkenalkan namanya Siliwangi. Umurnya baru empat tahun dan tinggalnya di depan rumah pondokan kami. Mukanya lucu, dan ga ada karakteristik Maluku kecuali kulitnya yang cokelat eksotis. Ada cerita unik dibalik nama Siliwangi tersebut, yang memang kurang familiar di Maluku.

Seorang tentara pernah datang dan tinggal di Akelamokao tempat tinggal orangtua Angi (panggilan Siliwangi). Kata orangtua Angi, tiap ada pendatang tinggal disana dan kemudian akan pergi, maka sebelumnya pergi akan memberikan nama ke bayi yang baru lahir dan  bayi itu adalah Angi. Yap, nama Siliwangi didapatkan dari seorang tentara, sesuai dengan nama Prabu Siliwangi yang terkenal di tanah Jawa.

(sayangnya waktu itu ga ada bayi mau lahir, jadi Akelamos ga ngasih nama ke siapa-siapa deh :p)

Walau baru empat tahun, Angi jago main bola. Gesit dan tidak kenal lelah. Kami pernah menonton Angi dan sepupunya main bola satu lawan satu di halaman rumah. Bahkan ia sangat pandai melakukan selebrasi ketika sukses menjebol pertahanan sepupunya. Persis yang dilakukan pemain bola di TV. Berlari keliling halaman sambil jarinya membantuk huruf v dan sesekali mengecupkan jari di bibirnya.

Mungkin Angi akan jadi pemain bola unggulan Desa Akelamokao suatu saat nanti :)

December 08, 2011

My Project : Photo and Design for Tukutuku Gallery








Desain x-banner dan poster ini merupakan satu rangkaian dengan foto-foto hijab yang saya posting beberapa minggu lalu. Tidak terasa, akhirnya akan diadakan expo kewirausahaan dan Tukutuku Gallery akan ikut serta! Acaranya sendiri 11 Desember 2011 di JEC. Tukutuku akan buka stand bersama puluhan usaha kreatif kelas kewirusahaan dan food bazaar juga ada lo! Jangan sampai terlewatkan!



Photo, logo, and graphic design by Maharsi Wahyu Kinasih.


November 29, 2011

Beri Daku Sumba


source: google image


Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu

aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

(Taufiq Ismail, 1970 - diambil dari taufiqismail.com)

Today's Escape: Ketika Matahari Mulai Tinggi, Borobudur.


Subhanallah. Satu kata yang keluar dari mulut saya memandangan lukisan Tuhan yang indah ini. Tidak perlu jauh mencari, cukup satu setengah jam dari kota Jogjakarta, di bukit Punthuk Setumbu Magelang. 



Editing dengan meningkatkan level shadow dan highlight untuk efek HDR.
Photo by : Kurnia Fahmy. Thanks mate! :)

November 28, 2011

Today's Escape: Sunrise, Borobudur

...lanjutan dari post sebelumnya.
Namanya Bukit Punthuk Setumbu, letaknya sekitar 4 kilometer di sebelah barat Candi Borobudur. Terletak di desa Karangrejo Kecamatan Borobudur, bukit Setumbu menawarkan pemandangan landscape sangat indah. Saya dan Mbak Ayu, traveler dari Bali yang baru saya kenal malam sebelumnya yang mengajak saya kemari, tak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata takjub memandang hamparan pepohonan dengan latar belakang Merapi Merbabu di kejauhan. Apalagi saya tipe gampang histeris ngliat pemandangan bagus dikit. Liat langit biru aja saya histeris. Hahahaha.

Langsung lihat foto-fotonya saja ya, susah juga digambarkan dengan kata-kata :)

semburat cahaya jingga mulai nampak di kejauhan. borobudur masih tertutup kabut.

langit mulai menguning, kabut menipis, stupa borobudur mulai nampak di kejauhan.

mataharinya sudah terbit, sayang di bulan seperti ini sunrise warnanya datar karena musim hujan, langit cenderung putih
sunrise di setumbu terbilang cuma sebentar, lepas dari pukul lima awan jahat menutupi gunung dan kabut kembali turun. matahari memutih.
Karena sudah mulai sering didatangi turis, bukit ini dikomersialkan. Jalan memang diperbaiki, tapi setiap pengunjung yang datang akan ditarik biaya administrasi sebesar 15ribu/orang ditambah biaya parkir. Belum lagi kalau pakai guide lokal atau ojek, bisa habis 20ribu lagi. Mahal sih, tapi masih sangat lebih murah dibandingkan kita harus bayar Rp 300ribu untuk sunrise di puncak Borobudur atau harus menginap di hotel Amanjiwo. Suroloyo di Kulonprogo juga bisa jadi tempat melihat sunrise, tapi letaknya yang terlalu tinggi membuat Suroloyo cenderung selalu dikelilingi kabut tebal pada dini hari. Borobudur juga terlihat terlalu kecil di bawah.
Kata guide nya, kalau datang di bulan Juli-Agustus, matahari akan terbit diantara Gunung Merapi dan Merbabu. Wow!

Today's Escape : Ray of Light, Borobudur.

Sedari dulu saya selalu penasaran, darimana para fotografer bisa mendapatkan foto siluet Borobudur dengan ketinggian yang tidak terlalu ekstrim, diantara pepohonan dan bukit berkabut yang masih kehitaman karena belum disiram sinar matahari. And finally, last Friday, i found the spot! 



Dan salah satu breathtaking moment yang saya tunggu muncul juga, ketika cahaya menembus pepohonan dan membentuk Ray Of Light yang ciamik. Seperti lukisan hitam putih ya? Cantik, mistis, dan bikin saya sukses nahan napas!


Dimanakah spot ciamik ini? Akan saya ceritakan di post selanjutnya. Sabar ya :)

November 27, 2011

another sunset


Seperti sunset yang biasanya di Parangtritis. 

carrier dan sepatu trekking

saya baru menyadari, beberapa kali saya mengikuti tes potensi akademik dan disuruh menggambar orang, saya selalu menggambar sosok lelaki, dengan jaket dan celana lapangan, tas carrier besar, serta sepatu trekking. Selalu dari dulu.
mungkin gara-gara saya ikut sispala jaman sma, sosok seperti itu seperti sudah terpatri di ingatan saya. sosok seperti itu lengkap dengan wajahnya, tapi saya udah ga perlu diingat-ingat lagi karena sudah masa lalu. *kenapa jadi curhat sih ya*
ah ya satu lagi, sosok seperti itu akan lebih keren kalau tidak sambil ngerokok. jadi, cowok hobi naik gunung dan memakai outfit seperti itu, minus rokok, adalah sosok cowok idaman saya :)

random... -.-

November 24, 2011

Bumi Halmahera (5) : Oleh-Oleh Tak Terlupakan dari Jailolo


Hahaha! Ini adalah salah satu oleh-oleh tak terlupakan dari Jailolo, selain bergiga-giga foto dan kenangan yang cukup tersimpan di otak saja.

Kartu Berobat RSUD Jailolo - sekitar tiga minggu sebelum pelepasan mahasiswa KKN, kormasit saya, Indro Wicaksono, sakit! Sakitnya persis kayak gejala malaria, sakit kepala berat, badan panas banget, badan menggigil semalaman, dan sendi-sendi yang sakit. Padahal besoknya adalah keberangkatan kami ke Morotai. Akhirnya kami putuskan untuk membawa Indro ke Tobelo (untuk menyeberang ke Morotai kami harus naik kapal dari Pelabuhan Tobelo). Tobelo adalah ibukota Halmahera Utara, paling enggak disana ada rumah sakit. Soalnya kalo mau ke Jailolo pun sama jauhnya, dan kalo mau cari rumah sakit yang lebih bagus kami harus nyeberang ke Ternate.
Disini kami merasakan susahnya jadi orang yang hidup di wilayah kepulauan, terpencil pula. Ke rumah sakit harus menempuh perjalanan berjam-jam dan biayanya gak murah. Pelayanan juga seadanya, tidak segesit di kota, pun hasilnya tidak seakurat rumah sakit besar.

Pemeriksaan dilakukan, dan benar. Indro positif malaria! Kami sempat panik tapi ternyata kondisi Indro masih cukup stabil sehingga dia tidak perlu dirawat di rumah sakit. Cerita berlanjut... dan entah kenapa dia akhirnya ikut kami ke Morotai! Hahahaha dipikir-pikir kami ini teman yang jahat. Bahkan Indro mau (atau lebih tepatnya terpaksa) buat ikut kami naik kapal kecil, di tengah ombak tinggi di perairan Morotai, buat mengunjungi Pulau Dodola dan Pulau Zumzum yang legendaris itu!
Kata-kata dari Indro yang sampe sekarang masih saya ingat 'Iso-isone nggowo wong lagek loro malaria nang Morotai, numpak kapal neh...' (bisa-bisanya kalian bawa orang sakit malaria ke Morotai, naik kapal lagi..)


Sepulangnya kami dari Morotai, Indro kami rawat dan kami jaga. Tiba-tiba semua orang jadi galak sama Indro. Rumah jadi sering ramai karena warga desa menjenguk Indro. Akhirnya Indro sembuh (ga sembuh-sembuh banget sih, masih suka ngedrop) Pokoknya Indro gaboleh sampe kambuh lagi malarianya.

Beberapa hari kemudian, ketika saya sedang tidur, tiba-tiba badan saya menggigil berat! Bahkan teman saya Fahmi ngeliat tangan saya menggigil gitu aja. Bangun-bangun saya nangis karena kedinginan T.T Siti dan Indro langsung ngejudge saya sakit malaria, asem. Kebetulan besoknya kami akan berlibur ke Jailolo, akhirnya kami putuskan untuk sekalian ke rumah sakit.. nah itulah awal dari saya mendapatkan kartu berobat tersebut :))

Pas berangkat saya sehat-sehat aja. Eh tau-tau pas sampe pelabuhan Jailolo mau nyebrang ke Pulau Babua, saya menggigil hebat! Tangan saya dingin dan keringat bercucuran. Langsung deh saya diantar Indro balik lagi ke oto, minta dianterin si supir ke RSUD Jailolo. Ambil darah, nungguin, dan hasilnya NEGATIF. Anjrit saya sakit apa nih, bingung juga sih ya. Tapi alhamdulillah saya ga malaria.
Kami menginap di Jailolo. Besok paginya saat saya bangun, suddenly, kepala saya sakit bukan main! Sampe saya ga bisa buka mata, tiba-tiba tenggorokan dan hidung saya panas, sampe saya nangis. Dan beberapa saat kemudian saya pingsan --' Padahal kami harusnya sudah pergi buat jalan-jalan di pantai di Jailolo. Akhirnya saya, Suryo, Fahmi, Indro, dan Siti memutuskan buat nggak ikut jalan-jalan dan mereka mengantarkan saya ke RSUD Jailolo (lagi). Kali ini ga cuma ambil di jari doang tapi lewat lengan (pertama kali diambil darahnya lewat lengan! Tapi ternyata ga sakit2 banget. Sakitan kepalanya T.T)
Dan hasilnya, masih NEGATIF. Saya dinyatakan sehat walafiat.

Saya penasaran dong ya ini sakit apa. Ketika sudah dirumah pun saya masih suka menggigil tapi saya ga meriksain ke dokter. Dan sampai sekarang saya nggak tau saya sakit apa....
Kalo kata kak Ika, tetangga rumah saya di Akelamokao, 'ah paling ketempelan suwanggi (setan) Ternate. Kan suwanggi Ternate bisa nyebrang laut gak kayak setan Jawa!'
Astagfirullah!


muka sakit masih bisa ketawa, say thanks to Bapak Supir Oto ajeb-ajeb! 

November 23, 2011

Bumi Halmahera (4) : Calon Bintang dari Akelamokao


INILAH PARA CALON BINTANG SEPAKBOLA DARI AKELAMO KAO!

Lapangan bola superbesar di barat Desa Akelamokao ini bukan tidak ada gunanya. Tiap sore, para pemuda desa Akelamokao selalu berlatih keras, memaksimalkan kemampuan dan menguji stamina bermain si bundar. Kegiatan ini menjadi tontonan rutin kami para pendatang (baca: mahasiswa KKN) karena dua hal: permainan mereka yang penuh semangat serta orang-orangnya yang good looking! ahahaha, bisa dilihat kan, muka-muka eksotis khas Timur, dengan alis tebal, mata cekung, rahang keras, dan badan yang kencang! Kyaaaa. Sayang di foto ini ndak ada cim-ciman saya :))

Para pemain bola dari Akelamokao terkenal berkualitas. Sudah beberapa kali mereka bertanding di pertandingan tingkat nasional, bahkan ada yang jadi pemain klub nasional juga! (berhubung saya bukan fanatik sepakbola, saya lupa namanya). Karena prestasi itu pula, di desa ini dibuat SSB. Keren ya?

Tidak hanya Papua, Maluku juga bisa memberikan putra daerah terbaiknya untuk maju di kancah persepakbolaan nasional. Ayo pemerintah, jangan cuma terpusat di Jawa, berikan kesempatan para pemuda ini untuk membuktikan keahliannya dong :)

Bumi Halmahera (3) : Dari Tepi Daruba


Ini adalah sore yang biasanya di Daruba, Pulau Morotai.
Air laut mulai pasang, langit memerah dan orang-orang kembali ke peraduan.
Aku duduk di sebuah pembatas beton, bersama enam manusia lain, mendengarkan debur ombak di bawahku. Tenang.
Ini adalah sore yang biasanya di Daruba, Pulau Morotai.
Tetapi ini adalah salah satu soreku yang paling menakjubkan selama aku hidup.

___________________________________________

Sail Morotai akan diadakan pada pertengahan tahun 2012 di Pulau Morotai ini. Melihat Morotai seperti melihat dua dunia yang berbeda. Ya, Morotai dikenal dengan surga bawah laut yang diperkaya bangkai-bangkai kapal dan pesawat karam yang kini menjadi tempat hidup karang dan hewan-hewan laut. Keunikan ini menjadi daya tarik utama para wisatawan datang ke Morotai. Di daratannya, Morotai mungkin tak lebih dari pulau tandus berdebu, benar-benar seperti dataran kerontang yang lama tidak dibasahi hujan.
Daruba menjadi salah satu bagian wilayah di Morotai Selatan yang paling sibuk. Listrik menyala selama 24 jam, tetapi bukan jaminan listrik tidak sering mati. Hal ini pun lazim terjadi di seluruh wilayah Halmahera, Maluku Utara.

Kapan-kapan, di bawah label Bumi Halmahera pula, saya akan bercerita tentang sejarah Pulau Morotai yang sangat panjang dan menarik. Menurut sepengetahuan saya aja tapi ya, hahaha.

November 19, 2011

Sunrise Hunter : Telomoyo Magelang



Para sunrise/sunset hunter (salah satunya adalah saya!) selalu mencari spot terbaik untuk memuaskan hasrat melihat si bulat jingga bercengkrama dengan cakrawala. Sebut saja beberapa tempat yang sudah terkenal sejak lama, seperti Bukit Bintang, Parangtritis, dan Candi Ratu Boko. Tapi jangan salah, selain tempat-tempat yang sudah lebih dahulu populer tersebut, ada beberapa referensi lagi yang tidak kalah serunya, seperti Gunung Nglanggeran di Gunungkidul, Parangndog di Bantul, atau Suroloyo di Kulonprogo (semuanya pernah saya posting di blog ini) Berbahagialah kita penduduk Jogja dan sekitarnya, ada banyak tempat tinggi seperti bukit atau pegunungan yang bisa dijadikan tempat ngendon menunggu si matahari.
Ingin menambah jam terbang, kali ini saya dan beberapa teman beranjak ke Magelang, sebuah gunung kecil (bukit mungkin lebih tepatnya) yang dijuluki Telomoyo. Gunung kecil ini berada dekat dengan Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing. Daerah sekitar Telomoyo pun pernah digunakan sebagai venue Festival Lima Gunung yang terkenal itu.






November 13, 2011

Sunset Parangtritis, Sore Tadi



Salah satu sunset terbaik tahun ini, saya dapatkan di Pantai Parangtritis, Bantul, Jogjakarta :) Mencoba bertamasya dengan teman-teman baru dan mendapatkan perspektif baru. Sungguh ini perjalanan selow yang menyenangkan! Parangtritis, aku selalu jatuh cinta kepadamu.

Pasirmu, ombakmu, landas pacumu, warung Yu Mar mu, andongmu, layang-layangmu, gardupandangmu, lahan parkirmu, kamu.


rasane kepingin nangis yen kelingan Parangtritis... versi Didi Kempot
rasane kepingin mringis yen kelingan Parangtritis... versi saya.


diambil dengan kamera hp LG Optimus milik Oktiyanto Ade Saputro. 
Sekali-kali jalan-jalan menikmati pemandangan tidak dari jendela bidik kamera :)


Bonus! Seperti biasa, dimana ada pantai disitu ada foto lompat. Kali ini lompatnya di gumuk pasir. Obsesi: balik lagi kesana! :D



November 10, 2011

Bumi Halmahera (2) : Our Daily Scenery

Our daily scenery, behind the Akelamokao Village. 

Teluk Kao adalah harapan bagi Halmahera Barat. Memanjang dari Jailolo Timur hingga dekat Malifut, perairannya tenang menghanyutkan. Dari tempat saya berdiri di pinggir Desa Akelamo, saya bisa memandang punggungan di seberang, di Buli Halmahera Timur atau gereja besar bercat putih di Desa Pasir Putih. Topografi pantai nya beragam, mulai dari pantai berbatu-batu kecil, berbatu super besar, berpasir halus, sampai yang berpasir putih juga ada!

Tiap bulan purnama, Teluk Kao akan dipenuhi bagang nelayan yang mencari penghidupan. Berselang-seling, mereka mencari ikan teri dan cumi-cumi (biasa disebut suntung). Dahulu, kedua jenis hewan laut ini menjadi pengharapan utama warga desa. Berton-ton ikan teri dikirim ke Surabaya dan Makassar. Dengan menjual hasil tangkapan tersebut mereka bisa membangun rumah bagus dan hidup cukup layak. Tetapi seiring berkurangnya jumlah teri dan suntung di Laut Kao, berkurang pula sumber penghidupan yang membuat dapur mereka tetap mengepul. Ada isu bahwa Teluk Kao telah tercemar limbah merkuri dari tambang emas di sekitar Malifut, tapi sampai sekarang belum ada bukti nyata.
Berbagai jenis keindahan alam terbentang di tepi Teluk Kao. Mulai dari sumber air panas nonbelerang di Akesahu, mata air tawar yang letaknya hanya 10 meter dari bibir pantai, hingga pantai pasir putih tersembunyi dengan airnya yang jernih.

Halmahera dan Teluk Kao nya mengingatkan kita betapa luas dan indahnya Indonesia kita.

November 09, 2011

Bumi Halmahera (1) : Bergitar Ria Di Tengah Teluk Kao


Yuhuuuu! Sudah pernah menyanyi sambil bermain gitar - ditemani warga lokal berwajah eksotis - sambil naik perahu - di tengah birunya lautan Teluk Kao? Teman satu subunit saya ini, Luhki Herwanayogi, sudah pernah melakukannya.
Rasanya? Joss gandoooosss!!

___________________________________________________________________

Yap, mulai hari ini saya akan memposting tiap hari 1 (satu) atau beberapa foto disertai cerita singkat mengenai pengalaman saya hidup selama dua bulan di bumi Halmahera tercinta. 
Are you ready?
I'm ready! semoga enggak mitos yaa! :))

October 27, 2011

Sendratari Ramayana | Oktober 2011










Hore! Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa menonton pertunjukan Sendratari Ramayana di Open Air Theatre Prambanan. Ramayana di panggung teater hanya diadakan bulan Mei-Oktober tiap tahunnya, itupun tidak setiap hari. Jadi, saya merasa beruntung bisa nonton, dengan tiket yang murah pula :)
Foto-foto lain bisa diliat di facebook album saya disini :)

October 26, 2011

My Project: Tuku-Tuku Photo Session











Hari Sabtu lalu, saya diberi kehormatan (cieh) untuk melakukan sesi foto produk Tukutuku, sebuah online shopping yang menjual baju dan aksesoris khas Indonesia milik anak-anak kewirush FEB UGM. Kali ini baju-baju merk Dian Pelangi yang khas dengan tie dye bercorak uniknya yang kami potret. Alhamdulillah sesi berjalan cukup lancar, walau sedikit terburu-buru.

Lagi suka mainan channel mixer dan gradient layer. :)
Enjoy!

Talents : Annisia and Rahmia
Wardrobe : Dian Pelangi
Location: FEB UGM

taken by Canon 5D Mark II and Sigma 20 f/2.8




October 22, 2011

Pengalaman Gurdo Mengikuti Trust By Danone 2011


Tidak terasa, sudah hampir satu tahun sejak saya dan empat orang teman saya, yang tergabung dalam tim GURDO, mengikuti business game bikinan Danone : Danone Trust 2011. Sebuah event internasional yang sebelumnya tidak diduga-duga, kami bisa ikut serta di dalamnya. Memang pada akhirnya kami tidak dapat lanjut ke Country Final Round, tapi saya pribadi sangat puas sudah bisa berada di tahap Trust Day.

Saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman kami ikut Danone Trust Day, semoga bisa jadi tambahan info buat teman-teman yang berencana ikut Danone Trust 2012.

Kami berkumpul dan membuat tim sekitar 4 hari sebelum deadline pengumpulan CV. Last minute people, yeah. Saya, Ian Prasetyo, Danang Satriaji, Masagung Suksmonohadi, dan Tya Hafsha. Keempat orang pertama berasal dari FEB UGM dan si wanita berasal dari Psikologi UGM. Begitu deal mengenai pembentukan tim, kemudian kami melakukan pembagian tugas. Suke didaulat menjadi CEO, saya menjadi CFO, Tya menjadi HR, sementara sempat terjadi rebutan antara Danang dan Ian. Akhirnya Ian memegang jabatan Marketing dan Danang sebagai Operating Officer. Sempat merasa minder juga melihat tim-tim lain yang notabene huebat-huebat dengan segudang prestasi akademis. Tapi kami tetap pede aja dong. Hahaha. Pemilihan nama untuk tim inipun melewati proses yang panjang. Kamu mendaftarkan nama Mahameru di website Trust by Danone pada pukul 8 malam alias 1 jam sebelum deadline pendaftaran via website, dan ternyata sudah ada yang pakai! Kami langsung galau karena gapunya nama cadangan. Kami sempat putus asa dan kepikiran pakai nama 'xoxo' hahaha ngakak pol kalo diinget sekarang. Terus jam 10 malam tiba-tiba wifi kampus mati! Kami keliling dan berhenti di Cokelat untuk cari wifi. Cokelat ternyata sudah last order, dan kami tetap maksa nebeng wifi disana. Entah akhirnya nama gurdo itu yang keluar, dan kami juga harus memikirkan filosofi nama tersebut sebaik mungkin.

Setelah CV dibuat dengan sistem kerja paksa *saya yang dipaksa hahaha* selama hampir dua hari, ditambah sesi foto spesial di nol kilometer pukul 12 malam tepat dibantu Haryo, akhirnya pada hari pengumpulan terakhi pukul 12 malam kurang (batas waktu pengumpulan pukul 12) kami justru mengalami kesulitan meresize CV yang versi pdf nya segede gaban! Agak pasrah, akhirnya CV berukuran 24 MB itu kami kirim ke email Campus Manager. Muka-muka capek di Dunkin dan menunggu balasan, saat itu pula saya menemukan cara mengecilkan ukuran pdf! Akhirnya pukul satu malam kami mendapatkan balasan menyuruh kami mengecilkan pdf dan kami kirim file resize dengan hati deg-degan.

*tips: CV merupakan salah satu hal yang dinilai pertama kali oleh campus manager. Kalau mau CV kalian dibaca dengan seksama, silakan dibuat dengan semenarik mungkin ya!


Tiga hari kemudian, kami dipanggil untuk tahap wawancara. Kami bingung mau pake baju apa, akhirnya pake baju yang sama dengan saat sesi foto! Hahaha gak ada rapi-rapinya blas. Kami juga dapat giliran pertama, itupun Tya sempat terlambat karena kuliah. Hebaaaat... Hahaha. Sesi wawancara dilakukan dalam bahasa inggris oleh campus manager dan berjalan sekitar satu jam. Jujur, saya minder pol melakukan wawancara dalam bahasa inggris. Apa yang kita pikirkan belum tentu terucap dengan baik dan itu bikin stress! Tapi untunglah campus manager kami orangnya santai dan ga galak, kami pun bisa melewati sesi wawancara. Inget banget, waktu itu di mobil Danang kami semua diam ga mau ngomong sepulang wawancara... hahahaha.

Beberapa hari kemudian saya mendapat sms dari Suke kalau ternyata kami lolos tahap wawancara dan menjadi satu dari tiga tim UGM yang akan mewakili UGM di Jakarta! Kami bahagia bukan main. FYI, tiga tim tersebut sebanyak 90% anggota timnya berasal dari FEB UGM.

*tips: memilih anggota tim adalah hal yang sangat sangat penting. Ini bukan hanya masalah anggota tim yang harus pintar, tapi jika ingin melewati tahap wawancara, pastikan tim kalian terdiri dari anggota yang semuanya dapat muncul dan unik di bidangnya masing-masing. Tidak ada satu dua orang yang terlalu pintar dan mendominasi sehingga yang lain terkesan tenggelam. Saat itu campus manager kami mengatakan bahwa tim saya orang-orangnya punya 'bentuk' yang berbeda dan semuanya menonjol, tidak ada yang dominan dan itu membuatnya tertarik. Oh iya, jangan lupa belajar dikit-dikit tentang Danone dan unit bisnisnya. Masalah pengalaman dan kepandaian sepertinya bisa dituliskan di CV, nah yang harus dilakukan saat wawancara adalah membuat si campus manager tertarik dengan kepribadian dan keunikan tim kalian :)



Untuk cerita saat Trust Day, akan saya ceritakan lain waktu. Buat kalian yang ingin mendaftar, goodluck! Persiapkan semuanya sebaik mungkin. Kalau perlu, belajar tentang financial, marketing, HR dll itu sejak sekarang biar kalau ternyata kalian lolos ke Trust Day, kalian nggak kaget! Bersambung dulu yaaa :)

October 17, 2011

Malaka dan random post

Near Jonker Street, Malaka, Mei 2010

Salah satu tempat non wisata alam yang ingin saya kunjungi lagi adalah Malaka! Yap, kota ini penuh dengan cultural heritage yang menawan dan suasana kotanya yang ramah. Adudududuh, pengen balek sana lagi. Makanannya juga enak-enak, bangunan kunonya bagus-bagus dan tertata rapi...

Random post malam-malam akibat nggak bisa tidur ini. Gara-gara minum kopi padahal harusnya mengistirahatkan mata dari layar laptop. Uggh.

eniwe, layout blog saya berubah! Jadi lebih simpel dan bisa menampilkan foto yang buesaar buesaar. Horeee... :)

October 13, 2011

Today's Escape: Beach!

Our today's escape





Snack :)





Pantai menjadi salah satu destinasi favorit saya ketika suntuk dan ingin melepas penat. Dataran pasir yang luas, berpadu dengan debur ombak dan sinar keemasan matahari yang mulai merangkak turun adalah salah satu alasan saya bersyukur tinggal di Indonesia.
Ditambah kamera, langit biru, dan teman, ini kemudian menjadi sempurna. Kemanapun kaki melangkah, semuanya adalah pasir dan bau laut.
Kali ini kami memilik Parangndog dan Parangtritis sebagai pilihan. Letaknya bisa dibilang paling dekat dibandingkan pantai di Gunungkidul atau Kulonprogo. Alhamdulillah, kali ini kami bisa melihat matahari terbenam di laut :)


_______
photo by : Maharsi Wahyu | Wana Darma
camera : Sony Nex (16 mm f/2.8 and Nikon 50 mm f 1.4 lens) | Nikon D50 (50 mm f/1.8 lens)

October 05, 2011

Sunrise at Bama


| GOLDEN SUNRISE AT BAMA |
Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur



sesungguhnya ini adalah sunrise yang kesiangan.
Sony Nex 5 with 18-55 mm lens
sweep panorama (again!)