Suatu saat saya mendapatkan info bahwa tourism board Nepal punya program volunteer untuk turis mancanegara yang ingin stay di Nepal dalam waktu panjang dengan budget murah. Pagi ini saya mencarinya dan mendapatkan banyak hal yang menyenangkan untuk dibaca.
Ternyata, untuk menyambut Nepal Tourism Year 2011, Nepal tourism board bersama NGO mengadakan beberapa program sukarelawan plus-plus. Sebuah simbiosis mutualisme mereka coba bangun disini. Program volunteer ini mengundang semua orang dari seluruh dunia yang tertarik menjadi sukarelawan sekaligus ingin melancong disana selama jangka waktu yang fleksibel, mulai dari 1 minggu sampai 5 bulan. Para sukarelawan pelancong ini mendapatkan penawaran yang sangat baik, kesempatan untuk mengajar dan membantu tourism board Nepal menyiapkan NTY 2011 dan kembali ke negara mereka dengan segudang pengalaman.
Jadi, para sukarelawan ini akan ditempatkan di key tourist area, seperti Kathmandu dan Pokhara untuk mengajar di bidang-bidang sesuai ketertarikan atau profesi. Misalnya, dari yang paling sederhana mengajar bahasa inggris di sekolah, program pemberdayaan perempuan, teknologi komputer, sampai pelestarian lingkungan dan pendampingan anak-anak yatim piatu di rumah singgah. Pengajaran dilakukan bervariasi, mulai dari 3 jam perhari tiap minggunya. Sebagai gantinya mereka mendapatkan segala macam akomodasi mulai dari homestay, makanan, jalan-jalan, training sebagai volunteer, pengetahuan bahasa Nepal dan cultural heritage gratis, dan banyak lagi, dengan harga setengah, atau bahkan seperempat harga normal jika berwisata ke sana sebagai turis saja.
Ya, tetap ada coverage fee nya, tentu saja :D
Yang paling menarik buat saya disini, Tourism Board Nepal dan NGO ternyata punya banyak akal untuk memajukan pariwisata sekaligus memberikan pendidikan layak untuk warga neraga mereka. Misalnya, pendidikan bahasa inggris ini diberikan bukan sekedar ke anak SD, tapi malah lebih difokuskan untuk mereka yang menjadi ujung tombak pariwisata Nepal : porter, tukang becak, supir taksi, guide, pelatih gajah, bahkan tourism professionals. Pendidikan tentang cultural heritage, tentu saja untuk mendidik penduduk Nepal agar semakin sadar dan mau melestarikan segala peninggalan bersejarah bangsa mereka; Nepal adalah salah satu cultural heritage terbesar di dunia. Nepal punya ribuan kuil dan tempat beribadah, pemandangan yang luar biasa indah, dan penduduknya yang masih menjalankan ritual ibadah dengan taat. Suatu harmoni yang menarik semua orang untuk datang.
Hei, saya belum pernah dengar tentang ini di Indonesia. Sejak pencanangan Visit Indonesia Year 2008 lalu, sepertinya belum banyak yang berubah di wajah pariwisata kita. Semua masih seperti sepuluh tahun lalu, atau bahkan mengalami penurunan kualitas. Indonesia tidak serius mengembangkan pariwisatanya. Mundur saja kau Jero Wacik, mungkin lebih baik kalau kau digantikan oleh Trinity (becanda, hehe!).
Indonesia ingin dapat pemasukan dari pariwisatanya, tapi tidak banyak yang tergarap dengan benar. Infrastruktur yang memudahkan perjalanan dan akomodasi para turis masih amburadul, para warganya yang belum melek turis, harga berwisata ala turis domestik dan mancanegara yang dikenal njomplang abis (ingin mengeruk dolar dari turis manca padahal ga semuanya orang kaya) tapi di sisi lain bangunan bersejarah, bentangan alam, kebudayaannya, dirusak secara brutal. Warga masyarakat tidak diberikan pendidikan dan pengetahuan betapa pentingnya aset potensial itu bagi pariwisata, tapi saya pikir pemerintahnya juga ngga ngedong-ngedong amat.
Jadi, tidak berlebihan kan kalau saya bilang Indonesia ngga serius mengembangkan pariwisata? Sudahlah, semua yang saya sebutkan di atas pasti sudah kalian rasakan, apalagi yang suka berkelana jauh sampai ke luar Jawa.
Sementara saya ucapkan terima kasih pada media dan para citizen journalists yang selalu memberitakan berbagai tujuan wisata dan kebudayaan yang akhirnya membuat turis lokal tahu lebih banyak. Tetapi bagaimana dengan promosi kita kepada dunia? Ayolah, Indonesia ngga cuma Bali. Akhir-akhir ini Bromo menjadi lebih terkenal di mata para backpacker, tapi sekali lagi, Indonesia ngga cuma itu.
Indonesia juga menyimpan potensi wisata olahraga yang luar biasa. Bentang alam dari laut dalam sampai puncak gunung bersalju kita punya. Mau bersepeda keliling Jawa, diving, surfing, trekking, hiking, paralayang, terjun payung, panjat tebing, susur gua, apapun. Tapi (tapi lagi sayangnya) atas semua wisata olahraga itu kita kalah tenar dari Thailand, yang luasnya ngga ada seperempat dari negara kita. Para turis manca di Thailand melonjak kesenangan diajak guidenya naik gajah dan trekking beberapa hari di hutan yang tidak lebih bagus daripada hutan di Gunungkidul. Mereka juga bahagia menemukan suku-suku asli di Thailand di dalam hutan, padahal disini kita punya buanyak sekali pemukiman suku asli yang menawarkan keramahan untuk tinggal dan belajar bersama.
Tidak usah jauh-jauh ke Nepal, kita kalah sama negara tetangga kita. Saya juga tidak salah 100% dong kalau lebih ingin pergi ke Nepal atau menjejakkan kaki di Thailand, daripada bersusah-susah dan mengeluarkan ongkos banyak untuk bisa mencapai Pulau Hong di kepulauan dekat Kendari sana.
Kita bisa meniru negara-negara lain tentang cara mereka menarik turis, salah satunya dengan program sukarelawan tadi. apalagi buat turis yang suka tantangan, Indonesia sangat menantang! Mungkin dia suka ditempatkan di Papua, dimana suara tembakan dan anak panah melesat adalah pemandangan sehari-hari. Eh, tapi saya pikir menarik turis dengan penghalalan dan lokalisasi judi bukan ide baik. Pemerintah desperate banget kalo sampe mikirnya kayak gitu.
Tapi saya masih cinta Indonesia, semakin banyak saya pergi keluar negeri, saya makin yakin bahwa Indonesia adalah negeri terkaya dan terluarbiasa di dunia.
Mimpi saya, ketika saya berada di ujung dunia yang jauh, dan bertanya pada warga lokal tentang suatu tempat di Indonesia, mereka akan menjawab, " Oh, Raja Ampat di Indonesia itu ya? Saya sudah kesana sekali, dan itu bagus sekali!"
(maaf Indonesia, sejauh ini saya baru bisa jadi pengamat dan komentator, saya buktikan nanti kalau saya sudah jadi mentri pariwisata.)
buat yang pengen tahu lebih jauh tentang summer volunteer program di nepal, klik ini :
summer volunteer 1
summer volunteer 2
summer volunteer 3
nanti kalau nemu yang di indonesia saya bilang deh :)
Ternyata, untuk menyambut Nepal Tourism Year 2011, Nepal tourism board bersama NGO mengadakan beberapa program sukarelawan plus-plus. Sebuah simbiosis mutualisme mereka coba bangun disini. Program volunteer ini mengundang semua orang dari seluruh dunia yang tertarik menjadi sukarelawan sekaligus ingin melancong disana selama jangka waktu yang fleksibel, mulai dari 1 minggu sampai 5 bulan. Para sukarelawan pelancong ini mendapatkan penawaran yang sangat baik, kesempatan untuk mengajar dan membantu tourism board Nepal menyiapkan NTY 2011 dan kembali ke negara mereka dengan segudang pengalaman.
Jadi, para sukarelawan ini akan ditempatkan di key tourist area, seperti Kathmandu dan Pokhara untuk mengajar di bidang-bidang sesuai ketertarikan atau profesi. Misalnya, dari yang paling sederhana mengajar bahasa inggris di sekolah, program pemberdayaan perempuan, teknologi komputer, sampai pelestarian lingkungan dan pendampingan anak-anak yatim piatu di rumah singgah. Pengajaran dilakukan bervariasi, mulai dari 3 jam perhari tiap minggunya. Sebagai gantinya mereka mendapatkan segala macam akomodasi mulai dari homestay, makanan, jalan-jalan, training sebagai volunteer, pengetahuan bahasa Nepal dan cultural heritage gratis, dan banyak lagi, dengan harga setengah, atau bahkan seperempat harga normal jika berwisata ke sana sebagai turis saja.
Ya, tetap ada coverage fee nya, tentu saja :D
Yang paling menarik buat saya disini, Tourism Board Nepal dan NGO ternyata punya banyak akal untuk memajukan pariwisata sekaligus memberikan pendidikan layak untuk warga neraga mereka. Misalnya, pendidikan bahasa inggris ini diberikan bukan sekedar ke anak SD, tapi malah lebih difokuskan untuk mereka yang menjadi ujung tombak pariwisata Nepal : porter, tukang becak, supir taksi, guide, pelatih gajah, bahkan tourism professionals. Pendidikan tentang cultural heritage, tentu saja untuk mendidik penduduk Nepal agar semakin sadar dan mau melestarikan segala peninggalan bersejarah bangsa mereka; Nepal adalah salah satu cultural heritage terbesar di dunia. Nepal punya ribuan kuil dan tempat beribadah, pemandangan yang luar biasa indah, dan penduduknya yang masih menjalankan ritual ibadah dengan taat. Suatu harmoni yang menarik semua orang untuk datang.
Hei, saya belum pernah dengar tentang ini di Indonesia. Sejak pencanangan Visit Indonesia Year 2008 lalu, sepertinya belum banyak yang berubah di wajah pariwisata kita. Semua masih seperti sepuluh tahun lalu, atau bahkan mengalami penurunan kualitas. Indonesia tidak serius mengembangkan pariwisatanya. Mundur saja kau Jero Wacik, mungkin lebih baik kalau kau digantikan oleh Trinity (becanda, hehe!).
Indonesia ingin dapat pemasukan dari pariwisatanya, tapi tidak banyak yang tergarap dengan benar. Infrastruktur yang memudahkan perjalanan dan akomodasi para turis masih amburadul, para warganya yang belum melek turis, harga berwisata ala turis domestik dan mancanegara yang dikenal njomplang abis (ingin mengeruk dolar dari turis manca padahal ga semuanya orang kaya) tapi di sisi lain bangunan bersejarah, bentangan alam, kebudayaannya, dirusak secara brutal. Warga masyarakat tidak diberikan pendidikan dan pengetahuan betapa pentingnya aset potensial itu bagi pariwisata, tapi saya pikir pemerintahnya juga ngga ngedong-ngedong amat.
Jadi, tidak berlebihan kan kalau saya bilang Indonesia ngga serius mengembangkan pariwisata? Sudahlah, semua yang saya sebutkan di atas pasti sudah kalian rasakan, apalagi yang suka berkelana jauh sampai ke luar Jawa.
Sementara saya ucapkan terima kasih pada media dan para citizen journalists yang selalu memberitakan berbagai tujuan wisata dan kebudayaan yang akhirnya membuat turis lokal tahu lebih banyak. Tetapi bagaimana dengan promosi kita kepada dunia? Ayolah, Indonesia ngga cuma Bali. Akhir-akhir ini Bromo menjadi lebih terkenal di mata para backpacker, tapi sekali lagi, Indonesia ngga cuma itu.
Indonesia juga menyimpan potensi wisata olahraga yang luar biasa. Bentang alam dari laut dalam sampai puncak gunung bersalju kita punya. Mau bersepeda keliling Jawa, diving, surfing, trekking, hiking, paralayang, terjun payung, panjat tebing, susur gua, apapun. Tapi (tapi lagi sayangnya) atas semua wisata olahraga itu kita kalah tenar dari Thailand, yang luasnya ngga ada seperempat dari negara kita. Para turis manca di Thailand melonjak kesenangan diajak guidenya naik gajah dan trekking beberapa hari di hutan yang tidak lebih bagus daripada hutan di Gunungkidul. Mereka juga bahagia menemukan suku-suku asli di Thailand di dalam hutan, padahal disini kita punya buanyak sekali pemukiman suku asli yang menawarkan keramahan untuk tinggal dan belajar bersama.
Tidak usah jauh-jauh ke Nepal, kita kalah sama negara tetangga kita. Saya juga tidak salah 100% dong kalau lebih ingin pergi ke Nepal atau menjejakkan kaki di Thailand, daripada bersusah-susah dan mengeluarkan ongkos banyak untuk bisa mencapai Pulau Hong di kepulauan dekat Kendari sana.
Kita bisa meniru negara-negara lain tentang cara mereka menarik turis, salah satunya dengan program sukarelawan tadi. apalagi buat turis yang suka tantangan, Indonesia sangat menantang! Mungkin dia suka ditempatkan di Papua, dimana suara tembakan dan anak panah melesat adalah pemandangan sehari-hari. Eh, tapi saya pikir menarik turis dengan penghalalan dan lokalisasi judi bukan ide baik. Pemerintah desperate banget kalo sampe mikirnya kayak gitu.
Tapi saya masih cinta Indonesia, semakin banyak saya pergi keluar negeri, saya makin yakin bahwa Indonesia adalah negeri terkaya dan terluarbiasa di dunia.
Mimpi saya, ketika saya berada di ujung dunia yang jauh, dan bertanya pada warga lokal tentang suatu tempat di Indonesia, mereka akan menjawab, " Oh, Raja Ampat di Indonesia itu ya? Saya sudah kesana sekali, dan itu bagus sekali!"
(maaf Indonesia, sejauh ini saya baru bisa jadi pengamat dan komentator, saya buktikan nanti kalau saya sudah jadi mentri pariwisata.)
buat yang pengen tahu lebih jauh tentang summer volunteer program di nepal, klik ini :
summer volunteer 1
summer volunteer 2
summer volunteer 3
nanti kalau nemu yang di indonesia saya bilang deh :)