Chiang Rai, 12-13 Juli 2009
Baan Rub Aroon, adalah nama hostel yang kami tinggali selama di Chiang Rai. Dengan rate 300an baht per orang, kami bisa menikmati guesthouse nyaman yang begitu homy. Sebuah rumah beraksitektur khas kolonial dengan dominasi cat putih dan lantai kayu yang berderak, menimbulkan perasaan tenang dan... mistis. Iya. Mistis. Bagaimana tidak, saat pagi hari hujan dimana kami asyik bersantai di ruang tengah, si G tiba-tiba keluar kamar sambil tertawa-tawa sendiri, dan mengatakan " Ngerti ra ngopo aku tangi? Aku bar tindihen." Ditambah lagi dengan cerita si Pak Teman Ibu Pemilik Hostel, yang bilang saat dia masih sekolah rumah itu sudah ada walaupun sudah mengalami sedikit perubahan. Yah, paling tidak umurnya sama dengan si bapak.
Habis itu saya lebih milih menahan pipis sampai kami tiba di terminal.

Kasurnya empuk bukan main, dengan ruangan yang lapang dan suasana begitu damai. Baan Rub menyediakan penyewaan sepeda dengan harga 150 baht sepuasnya, dan jumlahnya pas 5 sepeda. Jadilah sisa sore kami habiskan dengan berputar sekeliling kompleks, menikmati udara senja yang adem bener.

Malamnya, seperti biasa, saya dan Ian ngendon di depan komputer, sementara Gelgel dan Mas Sidik sudah tertidur duluan( <-- ehm..) Koplak sibuk bermain pingpong dengan si penjaga guesthouse, kalau tidak salah namanya Nai.
Malamnya Mas Sidiq makin parah sakitnya. Sakit bawaan sejak di Pattaya. Dia demam, meriang, batuk. Kami berpikir dia mungkin masuk angin plus batuk pilek. Tapi orang Thailand ga kenal namanya MASUK ANGIN! Dan saat itu sedang sangat mewabahnya virus H1N1.Akibatnya? Mas Sidiq kena dugaan sementara dia tertular virus tersebut. Pemilik hostel yang merupakan mantan perawat memisahkan Mas Sidiq dari kami yang masih sehat, dan entah mengapa malam itu jadi terasa mencekam. Miss P'nong, nama pemilik hostel, berencana memanggil petugas kesehatan untuk mengkarantina Mas Sidiq dan membersihkan hostel dari segala bentuk virus. Demi apa!? Bisa-bisa kami tertahan lama sekali di tempat ini. Cukup lama kami bernegosiasi, dan akhirnya... pagi harinya Miss P'nong 'melepaskan' kami dengan jaminan kami akan memeriksakan Mas Sidiq sesampainya di Chiang Mai. Dan untunglah, Mas Sidiq sudah membaik ketika kami pergi.
Chiang Mai, 13-14 Juli 2009
Spicythai Backpackers Hostel, adalah 'penampungan' kami di Chiang Mai. Kenapa kami sebut penampungan? Karena memang kami seperti pengungsi disana. Baik, mari saya ceritakan perlahan.
Turun dari bis Chiang Rai-Chiang Mai, kami bisa dibilang sudah sangat kelelahan. Ransel segede bagor yang menumpang di pundak rasanya hanya memperlambat jalan kami. Langsung saja kami mencarter taxi lokal berwarna merah yang kemudian membawa kami ke wilayah Nammimuang Road, dimana hostel kami berada. Sampai disana, ternyata kami masih harus masuk kompleks perumahan. Mengikuti sign Spicythai yang tertempel di sepanjang jalan, sampailah kami di sebuah rumah di pojok jalan yang... uhm.. tidak keliatan bentuk hostelnya sama sekali. Rumah tingkat putih berhalaman dan berpohon lebat, dari kejauhan kami sudah melihat tempat itu ramai, dilihat dari sepatu dan sandal yang berjejalan di depan pintu utama.
Kami kemudian menyadari, apakah kami masuk ke penginapan yang benar. Berada di ruang resepsionis yang bersebelahan langsung dengan ruang tengah (sebenarnya resepsionis cuma meja berkomputer yang terletak persis di depan pintu masuk) saya merasa diliatin. Oh, rupanya ramai sekali disana. Seluruh penghuni hostel rasanya semua berkumpul di situ, ada yang main internet, nggenjreng nggenjreng gitar, atau sekedar mengobrol. Semua berasal dari ras yang sama, putih berpostur tinggi dan berambut pirang. Bentuk bentuk kami yang... lecek, kelelahan, ditambah kami memakai masker, mungkin membuat mereka memandangi kami lebih lama. Hahaha.
Mereka bilang, kami pertama yang dari Indonesia. Apakah hanya perasaan saya saja, ketika nama depan Mas Sidiq dipanggil oleh penjaga hostel, yaitu "mohammed", para penghuni hostel diam sesaat. -.-
Kami sebenarnya memesan mixed dorm untuk 8 orang. Tetapi begitu melihat room yang terletak dekat ruang tengah, jujur, saya bergidik. Saya langsung menganggukkan kepala ketika penjaga menawarkan female dorm untuk saya dan Gelgel yang berada di lantai dua. Sementara tiga lelaki tadi 'terjebak' di mixed dorm lantai satu. Saya merasa kurang nyaman dengan keadaan ini, mungkin karena jiwa Jawa saya yang menghormati privasi dan kesantunan masih cukup kuat.
Begitu sampai di kamar, saya melongo. Oh.. rupanya tempat ini yang akan jadi tempat tidur kami malam nanti. Dua bunk bed bertingkat yang berdekatan, dan lemari besar di sisi satunya. Ruangan ini gelap, terkesan tanpa jendela. Baunya pengap, dan terlihat sudah ada dua carrier tergeletak di masing-masing bed bagian bawah. Oh, kami punya teman sekamar, pikir saya saat itu. Kemudian saya dan Gelgel ambil posisi menempati masing-masing bed yang ada di tingkat atas. Kami berpandangan, dan tertawa bersama. Kami kompak berpikir, 'kok bisa lo ya kita ada disiniii!!! Hakakakakaka...' dan tawa hambar itu terus berlanjut sampai akhirnya ketiga lelaki teman kami naik ke atas dan menjemput kami untuk makan. Ketika saya bilang " Besok kita langsung checkout jam 8 aja yaaa.. mbathang di airport gapapa deh..." muka mereka langsung menjadi cerah dan kami pun tertawa berlima.
Belakangan diketahui, bentuk mixed dorm lebih parah. Tidak ada lemari atau luggage store, dan jangan heran kalau tidur berdekatan dengan bule telanjang dada, hahahaha.
Ga tau kenapa, saat di sini, saya merasa ansos bukan main. Kedua teman sekamar kami datang malam hari, dan saya sempatkan mengobrol dengan mereka. Yah, cuma say hello dan darimana kamu datang, itu saja. Selanjutnya mereka ngeloyor lagi dan pulang saat kami sudah terlelap. Sialnya, walaupun saya tahu mereka berdua sebenernya tidak saling kenal, kok ya mereka bisa langsung akrab mengobrol gitu. Meninggalkan saya dan gelgel semacam kambing congek dan membiarkan kami mengobrol pakai bahasa jawa. Biarin ah, pikir saya. Keinginan saya bisa berbaur dengan teman sehostel raib seketika.

Paginya, sesuai perjanjian, saya dan Gelgel turun kebawah mencari para lelaki. Kami sudah siap, tinggal menenteng ransel saja. Sampai di bawah, ramenya minta ampun... Semua penghuni turun untuk sarapan. Ansos lagi ansos lagi.. saya sekedar tersenyum dan say hello kepada tiap orang yang memandang kami saja sulitnya bukan main. Kemudian kami menyelinap masuk ke mixed dorm dan menemukan mereka baru terbangun! Sedikit sebal, kemudian kami naik lagi ke kamar. Menunggu dan menunggu, kami tertidur. Tiba-tiba para lelaki datang dan mengajak kami turun sarapan. Ugh, nafsu makan saya sudah hilang. Tapi berhubung daripada saya sendirian di kamar, akhirnya saya turun. Ya ampun, mau turun sarapan saja rasanya saya harus mengumpulkan seluruh keberanian! Entah kenapa saya kurang berani untuk sekedar berjalan di depan bule-bule itu, cara mereka memandangi kok rasanya ga ada ramah-ramahnya. Hahaha, atau saya yang lebay ya.
Beberapa saat kemudian, mereka berkumpul lagi dan terlihat bersiap-siap. Saya melirik ke papan today activities, ada fun camp tertulis disana. Yesss... mereka bakal pergi semua! Hahaha. Dan ternyata benar, mereka kemudian pergi berombongan untuk camping. Hal pertama yang saya lakukan, menguasai internet. Dan menemukan Ian telah melakukan sesuatu dengan blog saya yang sukses membuat kami tertawa terguling-guling.
Ketika punggung kami semakin jauh meninggalkan hostel, ada perasaan lega tak terbendung yang saya rasakan pagi itu.
Spicythai Backpackers adalah hostel terbaik di Thailand pada tahun 2008. Dan saya sekarang tahu kenapa jadi terbaik. Hostel ini menawarkan kekeluargaan dan aktivitas menyenangkan yang bisa dilakukan bersama tiap harinya. Kamar mandinya benar-benar campur, begitupun dormnya, sarapan pun rame-rame di satu meja, saya rasa privasi bukanlah yang dicari disini. Rata-rata bule menginap disini untuk waktu yang cukup lama, ada yang sampai 1 bulanan, dan saya rasa jelas aja mereka merasa betah, karena mereka berkumpul dengan teman satu rasnya. Kalau saya jadi bule, saya rasa pasti menyenangkan tinggal di situ. Sayang saya orang Indonesia dengan adat timur yang masih kental.
Kuala Lumpur, 14-16 Juli 2009
Menginap di Paradiso Bed and Breakfast, kami pesimis bisa mendapatkan kesenangan saat mengingat hostel ini terletak di Bukit Bintang, salah satu kawasan turis di Malaysia. Kami berpikir akan mendapatkan suasana yang sama dengan Spicythai, apalagi kami pernah melihat foto hostel yang bentuknya kayak ruko. Tapi saat kami datang dan disambut dengan bahasa melayu yang hangat, hm.. sepertinya nasib kami akan lebih baik.
Disini kami menyewa mixed dorm untuk 6 orang tapi kami tempati berlima. Tempatnya like this banget deh, kamar mandinya oke punya, roomnya juga bersih berkarpet dengan ac menyala 24 jam. Memang tanpa jendela, tapi rupanya kami bisa bernapas juga kok. Sarapannya lebih rapi, dan menunya lebih lengkap. Penjaganya ramah dan senang mengajak kami bercanda, dan internet juga ada.
Letaknya disebelah resto fastfood McD dan mall ada di depan mata. Pavilion hanya 5 menit jalan kaki, sementara stasiun monorail ada di seberang jalan. Bis lalu lalang, perfect banget deh tempat ini pokoknya. Kalau malam wilayah ini ramai oleh pejalan kaki dan atraksi jalanan yang memukau.
Mungkin kalau besok saya ke malaysia lagi dan jadi backpacker, saya pingin nginep disini lagi. Hehehe.
Saya cinta banget sama si penjaga hostel yang orang Melayu ini, karena hobi kami adalah 'ngrasani' bule yang bersikap kurang manis di hostel. Sama-sama orang Melayu gitu loh! Dan dia tidak mengunderestimate kami sama sekali sebagai orang-orang dari 'negeri TKI'.
Esoknya saya baru tahu ternyata kami juga sehostel dengan keluarga muda dari Jakarta. Sarapan pagi itu terasa menyenangkan karena kami semeja dengan mereka, berbicara bahasa Indonesia dan diselingi keluhan berlogat Melayu penjaga hostel karena banyak penghuni yang menitipkan carrier mereka padahal mereka seharusnya sudah check out.
:)
Ketiga hostel tadi kami pilih dari hostelworld.com berdasar rating tertinggi dan harga termurah. Sekarang kami tahu cara memilih hostel yang baik, yaitu jangan gampang percaya sama rating bule! Hahahaa.










































