August 05, 2009

Berburu Matahari Terbit di Prambanan dan Bermain Kata dengan Sekuriti

Seorang teman suatu hari 'membocorkan' rahasia dimana tempat saya bisa mendapatkan foto sunrise keren di sekitaran Prambanan. Tempat itu dulu pernah digunakan untuk syuting iklan sepeda motor Yamaha. Saya langsung bercerita pada teman dekat saya, dan hari ini, tepatnya pagi buta tadi, saya dan dia memutuskan untuk mencoba peruntungan.
Pukul lima kurang seperempat pagi, tepat setelah saya selesai sholat subuh, kami pun berangkat ke Prambanan. Dinginnya minta ampun, dan saya pede-pedenya cuma pake jaket biasa. Hari masih cukup gelap, dan kami tidak sadar bahwa itu adalah kabut tebal yang menutupi fajar yang seharusnya mulai muncul.

hanya satu foto di jembatan

Pukul lima lebih limabelas kami sampai di tempat yang dikatakan oleh si informan. Ugh, gabisa lihat apa-apa. Di tempat yang di tentukan memang cukup bagus, Prambanan terlihat di seberang jembatan tanpa pohon besar menutupi, tapi saya pikir sunrise enggak akan nampak menyembul dari belakang candi. Kami menunggu di pinggir jembatan, duduk kayak orang ilang, memperhatikan orang orang atau bis yang lewat dari tadi. Pukul setengah enam, bulatan oranye yang kami tunggu itu tak juga muncul. Saya melihat ke sekeliling, langit ini abu-abu. Kami mendapat double jackpot, awan mendung dan kabut yang melingkupi Prambanan yang mistis.

Memotret sebentar, kami mencoba mencari spot lain. Kami kendarai motor sampai ke gerbang pertunjukan sendratari ramayana. Pintu gerbang yang sudah terbuka membuat kami tergoda untuk masuk. Teman dekat saya bilang,dulu dia dan temannya dapat masuk ke bagian dalam karena kenal dengan satpam nya. Kami pikir, sekarang bisa coba masuk, nanti kalau dimarahi ya tinggal keluar.
Bener nggak?
Ini yang saya dapatkan di Prambanan, matahari itu muncul dari balik candi-sesuatu yang saya tunggu selama ini! Yang menyebalkan? Selama ini saya belum pernah berada pada suasana yang sempurna untuk belajar foto landscape. Kali ini, saya berburu foto landscape tanpa membawa kit (kata Pak Maman kit saya mau dibawa ke Timor Leste. Oh Waw, si kit harus difoto di depan gerbang perbatasan, ahaha) Foto saya yang 'jadi' cuma yang potrait, yang landscape eek semua. Mungkin mas saiqa punya stock foto landscapenya, hehehe.

bulatan oranye di langit keabuan

waiting for the sunrise


another pic
Baru mau memotret beberapa pose, pak satpam datang. Dan benar, kami diusir. Memang sih, kami terlihat seperti fotografer profesional (padahal ya engga tau aahaha). Kami membawa tas kamera besar, dua tripod, dan saat itu saya sedang menggunakan tele termos saya.
Saat di pos satpam mengisi buku tamu, saatnya bermain kata-kata dengan penjaga. Agak lama saya mengeles, kemudian ada percakapan lucu yang terjadi diantara saya dan dia.

Satpam: Maaf, mba. Sebenarnya ini engga boleh dilakukan. Harus ada ijinnya, dan biasanya kalau memang ada keperluan memotret disini membayar 200 ribu (tau deh masuk ke kantong siapa)
Kin2 : Ohh gitu pak. Saya engga tau, habisnya tadi gerbang terbuka, kami ya masuk aja. Tapi pak, teman saya ada loh yang bisa motret-motret disini juga... (Senyum setan)
Satpam : Wah.. masa si mba? Paling ya kayak mbaknya ini, nyelonong gitu aja.
Kin2: (ga terima) Weh.. engga pak.. Dia ada kenalan satpam sini, jadi dibolehin masuk..
Satpam : Yang bener mba? siapa namanya?
Kin2: Mana saya tahu lo yaaa.. (jadi mikir, kalau ada kenalan boleh masuk gratis gitu ya?)
Satpam : Tapi kalau kenal yang beda lagi mba..
Kin2: (dalam hati berpikir, weh WAGU!) Oh gitu Pak.. Jadi kalau gitu saya kenalan aja sama bapak biar besok lagi bisa masuk.
Satpam bergeming, tidak menyambut uluran tangan saya. Weks, ga mau ok piyeee! Hahahaa. salahnya mau membodohi saya. Sebenarnya dia tadi minta duit seikhlasnya, tapi saya pura pura ga denger dan ngloyor gitu aja. Maaf ya Pak...


Ada lagi cerita yang lain tentang bermain kata dengan sekuriti. Ada spot keren di wilayah pabrik gula Madukismo. Semacam jalur kereta pengangkut tebu yang berada di tengah barisan pohon mengering, sangat vintage. Gerbong-gerbong pengangkut tebu di teronggok di sudut sudut rel, kalau ada teman saya fotografer model lihat tempat ini, mungkin dia bakal teriak-teriak kayak orang ayan. Waktu itu kami bersepeda ke sana. Oke, bukan saya yang bersepeda, saya naik motor. Sampai di sana, dengan pedenya kami parkir di sebelah pos satpam, dan nyelonong gitu aja. Dari jauh kami diliatin sama satpam, tapi enggak dimarahin ato diusir, jadi kami melanjutkan acara foto-foto dan mengeksplore daerah situ, bahkan Koplak sempat main ke tempat pekerjanya dan mendapatkan minuman tebu gratis. (Sementara Om dzul sibuk menyesap tebu yang diambil dari gerbong terdekat)

dzulfan

tersesat di gerbong tebu

yellow harmony

ups,, i'll catch ya!

Begitu selesai, kami pulang. Seperti biasa, saya yang paling eyecatchy bentuknya (huek) ditanyai oleh satpam ada acara apa. Tau kami tidak punya izin, kami dinasehati, dimarahi, dibilangin macem macem, kami mah iya-iya aja sambil senyam-senyum. Hasil foto udah di tangan gitu.. Hahaha. Secara kami berbanyak, kami punya banyak tenaga untuk mengeles. Disini juga ada kejadian lucu. Jadi ceritanya, kami 'dilindungi' oleh seorang satpam dengan tidak perlu melapor ke atasan. Ketika satpam itu ditanyai oleh atasannya dia bilang kami rombongan yang kemaren melanjutkan syuting di Madukismo. Kayaknya si pak satpam ini engga mau kena masalah karena udah 'meloloskan' kami masuk. Nah, masalahnya, si atasan menunggui kami dan saat ditanyai dengan polosnya saya bilang "MAIN." Dia tanya terus karena ga percaya, dan saya pun ngotot njawab kalo kami ga punya urusan tertentu selain cuma mampir. Muka si pak satpam berubah begitu kami dengan pedenya bilang hanya main disini.
Pak atasan langsung memarahi si pak satpam karena udah bohong ke dia. Si atasan pun menasehati kami, lalu pergi begitu saja. Yaudah, selesai dimarahi, kami dipersilakan pulang. Si pak satpam sempat memberikan isyarat 'beri saya uang rokok, saya sudah berbaik hati mengorbankan diri dimarahi olehnya", tapi saya pilih pura pura enggak denger. Engga tau akhirnya si bapak baik hati ini diberi uang rokok atau tidak. hehehe. Ya maaf pak, mau membohongi atasan kok engga kongkalikong sama kita dulu... hihihi.
Hahaha. Aneh sekali bapak-bapak satpam di atas. Seharusnya hasil foto saya dicek kalau memang mereka takut foto tersebut akan dipergunakan untuk hal-hal komersil atau merugikan lainnya. Tapi nyatanya, mereka hanya memarahi kami, dan malah memberikan pilihan untuk 'memberikan uang panjer' yang disebutkan secara tersirat. Saya engga mau ah bayar buat gitu, toh duitnya masuk kantong mereka, dan bisa jadi kebiasaan entar. Atau malah saya pikir sebenarnya boleh memotret gratis, hanya butuh izin tertulis atau mengisi buku tamu, tapi dimanfaatkan oleh mereka? Lagi-lagi, birokrasi enggak jelas yang bisa merugikan.

Tapi baguslah, kami hanya mendapatkan siraman rohani pagi buta, bukannya dibawa ke kantor dan disuruh menghapus foto di depan atasan mereka. Terima kasih Bapak-Bapak Satpam yang baik,, hehehe.

CLR, love this!

Thanks to : Saiqa :)
Kapan kita nyelonong masuk tempat keren kayak gitu lagi? Seru!