May 25, 2009

Behind The Scene Penelitian Sosial di Blado, Gunungkidul


Akhirnya observasi perdana kami ke Blado, Purwosari Gunung Kidul terlaksana juga. Penelitian kecil-kecilan untuk mengetahui potensi daerah ini kami lakukan bersama teman-teman dari Shalink dan Kappala. Terdapat beberapa kelompok yang masing-masing meneliti desa yang berbeda, dan kami (saya, Mas Dzul, Mas Resha, Mas Topik, Mas Riski dan Mba Ika) dapat bagian Blado itu. hehehe. Saya sempat mikir banget, jangan-jangan Blado letaknya di pojok jauuuuh. Dan benar, letak Blado memang di pojok tapi pojok dekat, hehehe. Parangtritis naik ke perbukitannya, jalur Parangndok belok kiri :D

di perjalanan

Belum sempat saya ketiduran di jalan, kami sudah sampai di lokasi.
Seperti daerah Gunungkidul pada umumnya, topografi wilayah Blado pun berbukit-bukit dan berbatu. Orang lokal bilang, ini bukan tanah berbatu tetapi, "batu bertanah" Hahaha. Yang saya suka, saya bisa menghirup udara segar sebebas-bebasnya tanpa intervensi dari polusi kendaraan bermotor. Tapi bukan berarti saya mau kesini naik sepeda. Hahaha. Ngga deh.
Kami disambut salah seorang warga desa saya lupa nama pastinya, kalo ga salah Pak Punijo. Atau Panjiyo? Atau Paijo? Yang jelas si bapak ini masih muda, mungkin seharusnya saya panggil mas saja. Dia sangat menyambut kami dengan baik, memberi kami suguhan sederhana, seperti kacang rebus dan singkong goreng (tapi rasanya sumpah enak banget.. empuk, anget, gurih, yauuum) Dia memberi kami banyak penjelasan awal tentang kondisi dan situasi di Blado ini, mulai dari relokasi penduduk dari bawah tebing sampai ke kangennya dia sama salah satu temannya dari Prancis yang kini hilang kontak.

di peternakan sapi komunal

we love bladooo!
Ditemani semilir angin khas perbukitan yang sejuk tapi 'panas', kami lanjutkan perjalanan mengelilingi sekitar, mengunjungi kandang sapi kelompok dan berputar - putar bertanya-tanya dengan warga sekitar. Mereka sangat ramah, menyambut kami dengan baik, menyuguhi kami makan siang, dan mengajak kami mengobrol santai. Saya pikir kearifan lokal dijunjung tinggi disini. Saat kami datang, mereka tengah bergotong royong membangun rumah salah satu warga desa. Wah. Keren. Sukarela tapi ada hasilnya. Ga kayak orang kota yang dikit-dikit mikir duit tapi dikit kerjanya *semoga saya ngga termasuk.. :P

Sebenernya kunjungan awal ini hanya untuk mengetahui kondisi medan. Kami belum masuk ke tahap yang lebih jauh, karena buat kami adaptasi itu cukup penting. Buat saya sih sebenernya :D
Dan saya betah disini!!! Sore-sore ngglethakan di teras orang, sejuk abis, dan saya mikir saya ngga mau pulang! Hahahahaa... Mungkin minggu depan saya bisa nginep sini .

Pukul 3 sore, kami langsung cabut. Berhubung Blado cukup dekat dengan Parangndok, saya putuskan mengajak teman-teman naik ke Parangndok untuk melihat panorama Parangtritis dari atas dan kalau sempat-sunset. hehehe.

menunggu sunset

sandal merah saya sudah ke parangndok juga! tapi tempat paling tinggi tetep aja dia ke lawu hahaha
Menunggu sekitar dua jam dia atas, tiba-tiba awan mendung datang! Gyahaaaa... awan jahat itu menutupi sang mentari yang mulai turun malu-malu. Saya sediiih sekali.

pemandangan dari atas landas pacu



nyoba nerbangin pesawat tapi ngga ada yang sukses.. angin jahat,. hahaha

Akhirnya kami pulang tanpa foto sunset yang berarti. Huks. Tapi kami masih bersemangat, karena setelah itu kami menonton marching band nya UGM ...

Marching band UGM bagus.. Saya suka konser tembang dolanan anaknya. Saya selalu standby tegak di kursi, kecuali saat ada yang maen lagu Cublak-Cublak Suweng dengan improv a la jazz. Lagu aslinya 2 menit, improvisasinya 20 menit. Saya sukses tertidur sebentar.
Makan sebentar di Gudeg Cukupan batas kota (sepertinya saya udah mulai bosan sama gudeg. Gatau neq banget makan gudeg kmaren, stop gudeg untuk sesaat!) akhirnya saya baru sampai rumah jam 12an. Saya tepar, tapi saya sukses ngga mbolos keesokan harinya. Alhamdulilah. :D

*Hemm.. knapa ya saya mau jauh-jauh ikutan penelitian kayak gitu? Minggu-minggu, panas-panas, jauh-jauh, ngantuk, banyak tugas, tapi saya bersemangat banget. Soalnya saya merasa bakal dapet banyak ilmu baru. Buat saya, pelajaran yang paling efektif yang saya dapatkan adalah ketika saya bisa belajar di tengah masyarakat. Memperhatikan bagaimana mereka bekerja, berkarya, berkumpul dan berdiskusi, membuka wawasan saya dari sudut pandang yang baru, dan belajar berani memberikan pendapat dengan cara yang berbeda dengan di kampus. Waaah...


Saya cinta Bladoooo :)

May 21, 2009

Get Lost at Malioboro

Hari ini bener-bener ga jelas dan aneh. Pertamanya saya pingin ikut anak-anak EQ maen ke Gunungkidul, daerah pantai Siung, tapi diawali dengan motret nelayan di Pantai Depok pukul 4 pagi. Eh ternyata saya kesiangan, bangun setengah 5. Tapi anak2 EQ yang nginep di rumah mba mega lebih parah kayaknya. hahahaha.
Kemudian saya niat beli jilbab di Beringharjo. Jilbab saya habis, dan saya baru sadar kalo saya punya nya jilbab yang warnanya ga netral. Ahahaha. Saya suka tergoda beli jilbab dengan warna-warna manis :D
Akhirnya di chatbox FB saya mengajak ian untuk keliling Beringharjo. Dia mengatakan iya. Sepertinya ian ingin kulineran di sana sejak ia membeli buku panduan kuliner si Bondan Winarno. Katanya ada ratengan dan soto pithes di sana.
Sesampainya di EQ, anak-anak GK belum pada berangkat. Ohohoo. Dasar parah. Kemudian menunggu agak lama di EQ bersama si Bulu(red:Ian) saya mendapat tambahan massa, yaitu Koplak, mas Navan dan Mas Wiwiw. Mereka tertarik dengan wisata kuliner yang akan kami lakukan di Malioboro.
"Sok sehat", kami memilih transportasi Trans Jogja. Berawal dari halte Panti Rapih, perjalanan panjang yang tak terduga ini pun dimulai. Sebagai sarapan(padahal dah jam 1), kami mencari Ayam Bakar Klaten Mbah Purwo yang letaknya di depan toko Maju Jaya. Padahal kami ngga tau sama sekali toko itu ada di sebelah mana. Kami tanya tukang becak, katanya ada di dalam pasar Beringharjo. Ketika kami di dalam, tanya orang lagi, dia bilang ada di Jalan Malioboro. Jujur, kami ga tau toko Maju jaya itu toko apa dan letaknya dimana. Terus kami tunjukin foto lokasi Ayam Bakar Klaten di buku, si mas-mas mengenali lokasi dalam foto itu. Yeah! Dan ternyata arah yang dia tunjukkan benar... Dan ternyata,,, nama tokonya bukan Maju Jaya, tapi MAKMUR JAYA... Parah deh tu buku panduan..
Pas banget sampe sana ayam bakarnya tinggal 3. Kami pun membungkusnya untuk dimakan di tujuan kuliner berikutnya. Lalu kami kembali ke Beringharjo, masih dengan tekad kuat saya membeli jilbab, kami berjalan menyusuri lorong-lorong malioboro yang hari itu begitu sesak oleh manusia.
Tujuan kami berikutnya, soto pithes nya Mbah Galak. Hauuung. Katanya ni soto pedes abis. Saya ngga tau kenapa harus bersama rombongan pecinta cabai ini, sementara perut saya tipe yang cepat berkontraksi begitu kemasukan cabe rada banyakan.

Melewati lorong beringharjo yang begitu panjang, tanya kanan-kiri, plonga-plongo, mikir sambil ndodok(boong ding), kami pun temukan lokasi soto itu. Dan... sotonya abiiiis! Uagh!

Ngga putus asa, Ian mencari alternatif lokasi kuliner sekitar Malioboro. Dia pun menemukan brongkos Koyor Kotik di Jalan Pajeksan. Kami ngga tau itu dimana, dan berbekal muka tembok tanya-tanya, kami diberi rute berjalan yang menyenangkan oleh seorang tukang parkir. Kami berjalan menyusuri gang sebelah timur Jalan Malioboro, melewati daerah yang sekilas seperti Pecinan, jalanan yang lengang dan udara sejuk membuat kami nyaman berjalan kaki. Suka.. suka banget aku sama situasi Malioboro daerah situ...

Kemudian, sampailah kami di Jalan Pejaksan. Kami bingung di sebelah mana Brongkosnya. Saat saya suruh Ian melihat ke buku panduan itu, dia tersentak. Dia ternyata baru baca kalo bukanya mulai jam 6 sore! WTF! Saya seketika lemes. Hasrat saya membeli jilbab ga terpenuhi sama sekali, dan sore ini saya malah kelaparan di pinggiran Malioboro.

Kemudian kami mencari alternatif lain, yaitu Soto Sulung yang letaknya di dekat Stasiun Tugu. Iya. Jauh juga dari Jalan Pejaksan. Tapi kami memilih lewat jalan kampung turis di sebelah barat Malioboro, yang cukup teduh dan tidak berdesakan. Wah.. saya sekali lagi baru tau. Tempat ini keren menurut saya. Sayang saya ngga bawa kamera, padahal banyaaaak sekali objek human interest yang saya temukan disana. YAng saya sukai adalah ramahnya orang-orang sana (mungkin udah terbiasa sama turis) dan kita bisa jalan-jalan di gang-gang sempitnya dengan santai ala backpacker. Hehehehe. Kapan-kapan saya mau ke sana lagi, tapi pagi-pagi.. :D

Waaah. Akhirnya ayam bakar klaten kami makan bersama soto sulung di Stasiun Tugu. Ian bahkan sempat mengajak kami makan Nasi Goreng sumsum kambing di dekat Wirobrajan. Hiiih. Bisa pusing saya makan nya. Kolesterol!!

Sekenyangnya kami makan, lalu kami berpikir melanjutkan perjalanan ke pameran ACT dan kuliner nusantara di JEC. Saya pikir bakal dapet banyak barang keren di pameran ACT tersebut. Ternyata ngga. Saya agak kecewa. Entah kenapa ada kesamaan antara tiap pameran yang diadakan di Jogja. Sama-sama kurang matang, sama-sama standar, biasa aja, range jenis standnya samar-samar, dan tiket masuknya agak mahal. Hahahaha.

Tapi di sana akhirnya kami jadi kritikus makanan. Tiap ada stand yang kayaknya ada makanannya kami samperin dan bertanya, Ada testernya ngga? HAhaha. Lumayan. Bisa ngrasain beberapa macem makanan beberapa daerah di Indonesia. Bisa dapet brosur-brosur wisata juga, mulai dari Jogja, banten, sampai Belitung dan Tangerang. Hihihi. Jadi punya banyak referensi.

Nahh.. bagian ini yang saya suka. Selepas magriban di JEC, kami bermaksud pulang. Akhirnya kami berlarian di trotoar karena masih hujan cukup deras. Suasana senja mendung gerimis membuat halte transjogja jadi keren. Keren.. bahasa yang aneh. Ya kalo saya dah punya cowok saya bilang itu romantis. Wakakakaka. Tapi berhubung saya sama para bodyguard saya,,, yaa jadi ga romantis deh. Hahahaa

Di dalam bis transjogja.. saya kecapekan lalu sibuk merenung. Di dalam bis transjogja yang lengang, suasana dingin di luar dan cukup hangat di dalam, lampu yang remang-remang, membuat saya relaks dan sibuk memikirkan macam-macam hal. Bersenandung... Ahhh coba saya lebih awal naik bis ini, saya mau kok nambahin satu lap lagi buat menikmati suasana ini...:D


Ayo, ada yang mau ikut saya menikmati suasana malam di bis transjogja?
Bawa cemilan, i-pod, lalu sibuk berenang di khayalan kita
Memandang jendela luar dengan pantulan samar wajah kita.
So sweet.
Pewe abis...


May 06, 2009

Mengais semburat Mentari di Ambarawa

personel CLR tour de ambarawa, photo by Jauhari

Finally!
Saya CLR an ke Ambarawa. Terimakasi buat Prasetya Yudha (ntar kalo ga ketuker sama kakak kelas saya Prastowo) yang sudah merekomendasikan tempat ini kepada kami. Terimakasih juga udah mau jadi guide kami selama di perjalanan di Ambarawa... :D

Sunrise di Ambarawa jadi JUARA di awal tahun ini. Kenapa? karena saya ke suroloyo, Bukit Bintang, dan Boko ga dapet sunrise sama skali. Wisata Kabut. Eyeah. Dan saya mendapatkan sunrise nyaris sempurna di Rawa Pening. Senang...

Kami berangkat dari Jogja pukul stg 11 malam. Dinginnya udah menggigit banget. Dan saya merasa sangat beruntung bisa nebeng mas saiqa hehehe, karena jok motornya nyaman banget. Bokong saya ngga tambah tepos menempuh perjalanan sekitar 2 jam ini, hihihi.
Perjalanan malam menuju ambarawa lebih menyenangkan daripada siang hari. Ga ada sinar terik, polusi, truk-truk, atau sekedar traffic di titik tertentu. Tapi dingin dan ngantuknya ngga nguatin.. Untungnya saya udah tidur siang hari. Tapi kasian sama yang belum tidur...
foto bentar di depan tugu tank

______RAWA PENING
Pukul tiga pagi kami berangkat menuju Rawa Pening setelah beristirahat sebentar di warung. Ademe.. Brrr! Untung aja perjalanan ke Rawa Pening cuma bentar banget. Sampe disana, masih gelap. Ngga liat apa-apa. Pendar lampu di perbukitan memantul di perairan rawa pening. Sunyi.
Kami menunggu sampai semburat oranye tampak di ufuk timur. Sudah fajar! Kami yang berniat hunting di sini udah bersiap dengan senjata masing-masing. Sementara yang lain ga kuat nahan kantuk tidur bertebaran di warung apung. Lumayan dapet beberapa foto :D

meksain banget pasang tenda

hore hore udah fajar!

semburat jingga di kejauhan

Lalu saat sunrise tampak akan segera terlihat kami pun berlompatan ke kapal motor yang udah disewa 30ribu per setengah jamnya, untuk 8 orang. Mahal juga ehehehe. Tapi gapapa. Ehm.. yang saya suka dari Rawa Pening, tempat ini dikelilingi perbukitan, pegunungan juga.. Adap gunung Ungaran, Merbabu di kejauhan. Subhanallah. Saya benar-benar refreshing disini.

sunrise and three boats

gunung merbabu

sejoli..

harmoni biru pagi

Ada satu cerita menarik yang saya dapat dari pak pengemudi perahunya. Saya sering melihat foto-foto di Rawa Pening tentang orang menjala ikan di tengah danau, tapi pas disana kok ga liat apa-apa. Cuma ada orang - orang berperahu lalu lalang di sekitar kami. Ternyata, pak penjala ikan itu emang cuma ada satu, namanya Pak Handoko, dan dia pun sebenernya model! Jadi dia bakal "nebar jala" kalo ada yang nyewa dia. Seratus ribu rupiah. Aduh.. Seratus ribu buat motret orang nebar jala. Ngga deh... Dan katanya. Rawa Pening emang bukan tempat buat njala ikan. Wakakaka.

____________GEDONG SONGO
Matahari meninggi, saatnya kami ke tempat kedua. Gedong Songo. Tapi ternyata anak2 pengen makan dulu. Akhirnya kami cari makan. Maunya pecel keong, tapi mas Dzul ga mau. Akhirnya cari yang biasa aja deh. Hahahaa. Langsung, kita lanjut ke Gedong Songo. Jalan menanjaknya mengingatkan saya pada jalur menuju Merbabu. Mantaps abis.. Tapi ya saya tenang-tenang saja sih. Hehehehe.
nice! photo by: jauhari

salah satu candi


jump!

oh ternyata di gedong songo ada orang minta2 juga hahaha

men behind their gun

semacam belerang?

menyempatkan foto prewedd

Jadi, Candi Gedong songo itu terdiri dari sembilan candi yang letaknya bertingkat di perbukitan, berlatarkan puncak gunung ungaran yang menggoda untuk didaki hehee. Kalo kita ngga mau cape sih bisa sewa kuda, harganya 50 ribuPP, tapi saya terima jalan. Naik kuda yang berjalan pelan- naik turun- rasanya ngga enak banget. Tapi ngehek juga kalo ga kebiasa jalan jauh ato trekking. Karna cukup.. menanjak.

rawa pening dilihat dari kompleks gedong songo

a way to go home. Goodbye..

Sepulang dari situ kami mampir beli beberapa oleh-oleh. Kaktus disana muraaah. Sayang saya cuma beli 2 biji. Huhuhu. Terus kami beli gorengan khas Ambarawa. Trus beli serabi ngampin yang sukses bikin ternggorokan kami lega!
Sepanjang perjalanan saya nglilir gluthak-gluthuk ketiduran di motor. Hebatnya, saya ngga nggeblak! hahaha*gitu aja bangga. Sleeping bag di pelukan menjadi guling darurat saya. Hehehe.
Alhamdulilah Saya sukses sampe Jogja.
Ah coba perjalanan ini bisa lebih lama lagi. Mungkin kami akan bablas Semarang.
Jadi, KAPAN CLR KE SEMARANG? :D

thx for Prasetya Yudha!



terimakasih sebesarnya kepada awak CLR yang antusias ikut perjalanan ini, mas saiqa yang mau nebengin dengan motornya yang joknya super nyaman(hahaha maunya), mas jo mas wana dan geby yang mau jadi teman hunting, dan tentu saja kamera tersayang saya . Ehe. saya berharap bisa ikut perjalanan menyenangkan ini lagi. Indonesia belum kita jelajahi! :D