March 15, 2009

Mengejar Matahari Suroloyo


Well, bagi beberapa orang, mungkin saya terlihat gila. Pergi ke tempat yang sama dalam jangka waktu satu minggu, tempat yang sangat jauh di puncak perbukitan, malam-malam bangun dan kedinginan menyusur jalan, untuk mendapatkan apa yang dinamakan sunrise.

Tepat seminggu lalu, saya bersama teman-teman EQ 'mendaki' suroloyo. Sebuah tempat di pucuk perbukitan Menoreh Kulonprogo yang konon memiliki panorama sangat indah. Agak nekat juga, pergi ke tempat tinggi di musim hujan, agak mustahil bisa mendapatkan sunrise yang kami idam-idamkan. Dan memang benar. Sejak masih di bawah, kabut pekat dan udara begitu dingin sudah menghadang kami, dini hari pukul tiga. Ya. Pukul tiga pagi kami beriringan menuju Suroloyo. Kok saya boleh ya? Hahaha. Berikut percakapan sesaat saya dengan orangtua:

Kin: Bu, Pak, aku ntar mau naik ke suroloyo sama temen-temen EQ.
I,B : Oh ya. Jam brapa naiknya?
Kin: Jam 1, hehehe. Rame-rame kok. Tenang aja.
I,B : Oh, ati-ati ya besok, kalo musim hujan pasti licin.
Kin: Besook?!
I,B :
Iya kan, berangkatnya jam satu besok siang?

Kin : Jam satu ntar malam, Bu...
I,B: (mikir bentar) Oh.. ya ya.. Nanti malam?! Yasudah. Hati-hati.. Pulang dengan utuh ya.


*gubrak*

Kembali ke Suroloyo.
Betapa tidak beruntungnya kami, kabut tebal dan awan mendung jahat menyelimuti perbukitan Menoreh dini hari itu. Sedikit (sebenarnya sangat) menyesal dan kecewa, tapi memang kami nya yang nekat juga sih.
Kami pulang dengan tangan hampa, setelah berwisata kabut.

Seminggu kemudian, pukul delapan malam. Sebuah pesan singkat masuk ke hp saya. Hanya sebuah kalimat yang saya ingat, "Ayo ke Suroloyo"

Jiwa mengejar sunrise saya berkobar kembali. Saya tiba-tiba ingat, oh iya ya bberapa hari terakhir cuaca sangaaat cerah.

saya kira anggota kelompok perjalanan kali ini sama dengan minggu lalu. ya Memang sama, tapi berkurang banyak. Dan saya satu-satunya wanita. (uuh mba mega pake ketiduran segala...)

Bertujuh, pukul setengah lima kami sampai di tangga bawah suroloyo. Alhamdulilah, sepanjang perjalanan pemandangan begitu indah. Bulan purnama menerangi sepanjang perjalanan hingga kami ngga perlu menyalakan lampu. Awan hanya menyelimuti tipis-tipis, malah membentuk pola indah di langit. Sesampai di perbukitan, subhanallah, tidak dapat saya gambarkan dengan kata-kata sebenarnya. Gunung Merapi dan Merbabu di kejauhan, terlihat dengan sangat jelas, berlatar bintang-bintang, dengan panorama kerlip lampu kota di bawahnya. Beautiful. Sangat sangat lebih indah dari Bukit Bintang.

Sesampai di bawah tangga, kami langsung berlari, ngga sabar mendapati langit bersih di ujung tangga. Unfortunately, kabut datang begitu tiba-tiba. Dalam sesaat, suasana seperti wisata kabut seminggu sebelumnya menjadi sarapan kami dini hari ini. dengan sabar kami menunggu sunrise di ujung pendopo, menghadap Merapi, tapi hanya berlapis-lapis kabut dan angin beku menerpa wajah kami.
Saya hanya ingin belajar motret sunrise dan landscape.. meskipun sangat berdarah-darah dan penuh halang rintang. :D

semburat pertama dini hari. setelah itu kembali berkabut. betapa ngga beruntungnya kami...

sindoro sumbing

mengucapkan selamat jalan kepada rekan wana, hakakapose lompat jongkok

(lagi-lagi) sindoro sumbing

Sesekali semburat garis merah tampak di kejauhan, membentuk siluet gunung merapi dan merbabu. Tapi itu hanya sekali. Setelah itu benar-benar dikelilingi kabut putih, , sangat kecewa,, kamu putuskan untuk tidur! Tentu saja saya ngga bisa asal ngglethak diantara para makhluk antah berantah itu, saya putuskan untuk tetap terjaga. Mengingat-ingat lagi apa yang harus saya lakukan sepulang dari sini.
fotografer narsis, ya saya ini


we call him om dzulfan (rambutnya bikin iri huh, bisa kayak gorden berkilau)


Baru di pukul delapan ( kurang lebih 3 jam menunggu terang) kabut berangsur menghilang, digantikan langit biru yang cerah. Alhamdulillah. Pemandangan yang kami dambakan tampak juga, walau tanpa sunrise. Sindoro Sumbing perlahan menampakkan diri, sementara Merapi tetap sembunyi. Borobudur terlihat di kejauhan, hanya seperti petak segiempat berukuran empat meter persegi. Haha. Kabut tipis di antara lereng bukit menimbulkan suasana tenang, sejuk, damai, benar-benar refreshing untuk saya. Hanya rombongan kami di Suroloyo pagi itu, ada keluarga kecil sih tapi mereka cuma bentar banget, sehingga suasana tenang banget. Yah sesekali memang suara Mas Zulfan yang teriak-teriak (ato malah saya?) selebihnya hanya desir angin. Saya cukup puas dengan perjalanan kali ini.



kata orang - orang saya masih merem. haha memang benar





begitu indahnya bumi Indonesia kita ini. Tempat-tempat yang dekat, yang kita pikir bukan apa-apa, jika kita datang di saat yang tepat, akan menjadi salah satu perjalanan ngga terlupa.

Oia. Kamera saya sensornya kotor... buat motret langit biru keliatan banget bintik2nya. Tadi malah ada kayak binatang kecil gitu jalan- jalan di lensa saya. hahaha jorok banget ya.