November 10, 2009

.senja di glagah.


Adalah sebuah keberuntungan bagi saya dapat menikmati senja sempurna di pantai Glagah, Kulonprogo. Di tengah ketidakpastian cuaca Jogjakarta, ternyata mengunjungi pantai masih menjadi pilihan yang cukup bijak.
Terjadi banyak sekali perubahan di pantai ini. Beberapa tahun lalu, tepatnya ketika saya masih SMP, saat mengunjungi Glagah tak lebih dari pantai dengan sungai bermuara- udara panas-gersang-dan mitos banyak buaya di sana. sekarang, Glagah telah mendandani dirinya, karena telah ditetapkan sebagai dermaga. Bersih, baru, lapang, kesan itulah yang saya dapatkan.
Saya tertarik dengan barisan beton pemecah pantai yang berderet rapi di sepanjang punggungan pasir pantai.

Awesome..
photo by kinkin

photo by saiqa


November 02, 2009

Nepal 2014.



" ketika kamu berkeliling ke negara lain, maka sebenarnya kamu sedang melihat negaramu sendiri."

itulah baris pertama pembuka buku Tibet di Otak pemberian Pak Maman yang saya baca untuk ketiga kalinya. Buku kumpulan catatan perjalanan dan karya fotografi ini ditulis oleh lima orang traveler-fotografer-arsitek hebat Indonesia, antara lain Jay Subiakto, Enrico Sukarno, Claudia Keeper.

Masing-masing menuliskan diari perjalanan mereka dengan sentuhan personal dan gaya menulis yang berbeda. Tetapi salah satu catatan perjalanan yang paling saya sukai adalah milik Enrico Sukarno, dimana perjalanan itu seperti begitu dinikmati olehnya yang seorang Budha, perjalanan tentang sejarah, budaya, arsitektur, dan tentu saja, religi, dimulai dari Kathmandu, Nepal menuju Shangri-La~Tibet~Atap dunia. Ketika rombongan keluar masuk banyak tempat ibadah dan kuil, mengamati gaya arsitektural masing-masing tempat yang mereka datangi, Enrico membuat begitu banyak kesepakatan batin antara dirinya sendiri, dimana perjalanan ini semacam menjadi sebuah ajang aktualisasi diri. Jadi perjalanan yang dia lakukan tak hanya sebatas memburu eksotika dan wisata kuliner semata. Sebenarnya semua rombongan menceritakan secara umum tentang perjalanan yang sama. Bagaimana mereka menginap dan menikmati begitu banyak aroma yak butter- dan tentu saja merasakannya, bagaimana mereka terkena penyakit mountain sickness, bagaimana perjalanan menantang tapi penuh keindahan misterius di sepanjang jurang menuju Tibet, Durbar Square yang selalu padat aktivitas, lorong-lorong kota yang sekilas mengingatkan kita akan Kotagede, Istana Potala yang mengejutkan, Dalai Lama dan kekaguman mereka akan dirinya, dan banyak lagi bait demi bait panjang yang menarik untuk diikuti.

Istilah Tibet di Otak sendiri sudah diperkenalkan sebelumnya-dan jujur saja- kata-kata itu terpatri dalam ingatan saya. Ketika lembar demi lembar habis terbaca, semakin kuat keinginan saya untuk datang ke salah satu negeri yang paling miskin sedunia-tapi juga menjadi world heritage yang kaya akan peninggalan sejarah itu. Dilengkapi foto-foto yang diambil mereka (tentu saja Jay Subiakto dengan Leica nya membuat saya iri!), lengkaplah sudah antara rasa haus saya akan pengetahuan, seperti apakah Tibet itu.

Lalu mengapa saya ngebet pergi ke sana suatu saat nanti, daripada pergi ke Prancis, atau negara Eropa lainnya?

Semua orang tahu sebagai negara miskin Nepal tergolong negara yang masih tertinggal. Tapi kelebihannya, mereka benar-benar tahu bahwa mereka hidup dari pariwisata, dan semua aset itu terjaga dengan baik. Di antara bangunan-bangunan kubus homogen berwarna keabuan, masih tampak kuil-kuil pemujaan, atau tempat-tempat bersejarah yang walaupun terkesan kumuh tapi mengajarkan tentang apresiasi akan budaya. Di Tibet sendiri masih banyak ditemukan cara pemujaan tradisional seperti praying wheel dan bendera-bendera warna-warni di sepanjang lereng pegunungan yang dipercaya akan membawa doa mereka ke surga. Namun ketika Cina mulai mengintervensi budaya dan 'membangun' budaya baru dengan paksa di atas eksotika Tibet, nampaklah keduanya tidak dapat hidup berdampingan. Tibet sendiri baru saja dibuka setelah adanya gejolak di dalam negara tersebut, sampai Dalai Lama 'mengungsi' ke India, sehingga menurut saya negeri ini semakin menantang untuk dikunjungi.

Dalai Lama


Entah harus berapa rupiah yang saya kumpulkan di tabungan saya, tetapi saya selalu berdoa di tahun saya bisa mengunjunginya besok, saya sudah mendapatkan banyak kemudahan untuk menggapai Tibet.

Dan entah dengan siapa saya akan pergi. Teman-teman? Keluarga? Suami? atau akan menjadi perjalanan eksotis saya sendiri?
Tibet oh tibet...


...di otak.

October 20, 2009

cover minimagz 1st edition


for MINIMAGZ equilibrium 1st edition!
enterpreneurship.

seperti biasa, idenya ian,
dan seperti biasa,
saya jadi babu fotonya..
hahaha

Rektorat UGM, 17 Oktober 2009.
Canon 20 d, 70-200 mm f/4L at 70 mm
f/11 1 sec.
dimainin dikit di Lightroom

sesi foto kali ini sempat membuat sedikit keributan di akhir.
tapi semuanya berjalan lancar.
ugh, sekali kali saya mau punya konsep dan mengeksekusinya sendiri.
karena seharusnya seperti itulah fotografer bekerja. iya kan?

August 05, 2009

Berburu Matahari Terbit di Prambanan dan Bermain Kata dengan Sekuriti

Seorang teman suatu hari 'membocorkan' rahasia dimana tempat saya bisa mendapatkan foto sunrise keren di sekitaran Prambanan. Tempat itu dulu pernah digunakan untuk syuting iklan sepeda motor Yamaha. Saya langsung bercerita pada teman dekat saya, dan hari ini, tepatnya pagi buta tadi, saya dan dia memutuskan untuk mencoba peruntungan.
Pukul lima kurang seperempat pagi, tepat setelah saya selesai sholat subuh, kami pun berangkat ke Prambanan. Dinginnya minta ampun, dan saya pede-pedenya cuma pake jaket biasa. Hari masih cukup gelap, dan kami tidak sadar bahwa itu adalah kabut tebal yang menutupi fajar yang seharusnya mulai muncul.

hanya satu foto di jembatan

Pukul lima lebih limabelas kami sampai di tempat yang dikatakan oleh si informan. Ugh, gabisa lihat apa-apa. Di tempat yang di tentukan memang cukup bagus, Prambanan terlihat di seberang jembatan tanpa pohon besar menutupi, tapi saya pikir sunrise enggak akan nampak menyembul dari belakang candi. Kami menunggu di pinggir jembatan, duduk kayak orang ilang, memperhatikan orang orang atau bis yang lewat dari tadi. Pukul setengah enam, bulatan oranye yang kami tunggu itu tak juga muncul. Saya melihat ke sekeliling, langit ini abu-abu. Kami mendapat double jackpot, awan mendung dan kabut yang melingkupi Prambanan yang mistis.

Memotret sebentar, kami mencoba mencari spot lain. Kami kendarai motor sampai ke gerbang pertunjukan sendratari ramayana. Pintu gerbang yang sudah terbuka membuat kami tergoda untuk masuk. Teman dekat saya bilang,dulu dia dan temannya dapat masuk ke bagian dalam karena kenal dengan satpam nya. Kami pikir, sekarang bisa coba masuk, nanti kalau dimarahi ya tinggal keluar.
Bener nggak?
Ini yang saya dapatkan di Prambanan, matahari itu muncul dari balik candi-sesuatu yang saya tunggu selama ini! Yang menyebalkan? Selama ini saya belum pernah berada pada suasana yang sempurna untuk belajar foto landscape. Kali ini, saya berburu foto landscape tanpa membawa kit (kata Pak Maman kit saya mau dibawa ke Timor Leste. Oh Waw, si kit harus difoto di depan gerbang perbatasan, ahaha) Foto saya yang 'jadi' cuma yang potrait, yang landscape eek semua. Mungkin mas saiqa punya stock foto landscapenya, hehehe.

bulatan oranye di langit keabuan

waiting for the sunrise


another pic
Baru mau memotret beberapa pose, pak satpam datang. Dan benar, kami diusir. Memang sih, kami terlihat seperti fotografer profesional (padahal ya engga tau aahaha). Kami membawa tas kamera besar, dua tripod, dan saat itu saya sedang menggunakan tele termos saya.
Saat di pos satpam mengisi buku tamu, saatnya bermain kata-kata dengan penjaga. Agak lama saya mengeles, kemudian ada percakapan lucu yang terjadi diantara saya dan dia.

Satpam: Maaf, mba. Sebenarnya ini engga boleh dilakukan. Harus ada ijinnya, dan biasanya kalau memang ada keperluan memotret disini membayar 200 ribu (tau deh masuk ke kantong siapa)
Kin2 : Ohh gitu pak. Saya engga tau, habisnya tadi gerbang terbuka, kami ya masuk aja. Tapi pak, teman saya ada loh yang bisa motret-motret disini juga... (Senyum setan)
Satpam : Wah.. masa si mba? Paling ya kayak mbaknya ini, nyelonong gitu aja.
Kin2: (ga terima) Weh.. engga pak.. Dia ada kenalan satpam sini, jadi dibolehin masuk..
Satpam : Yang bener mba? siapa namanya?
Kin2: Mana saya tahu lo yaaa.. (jadi mikir, kalau ada kenalan boleh masuk gratis gitu ya?)
Satpam : Tapi kalau kenal yang beda lagi mba..
Kin2: (dalam hati berpikir, weh WAGU!) Oh gitu Pak.. Jadi kalau gitu saya kenalan aja sama bapak biar besok lagi bisa masuk.
Satpam bergeming, tidak menyambut uluran tangan saya. Weks, ga mau ok piyeee! Hahahaa. salahnya mau membodohi saya. Sebenarnya dia tadi minta duit seikhlasnya, tapi saya pura pura ga denger dan ngloyor gitu aja. Maaf ya Pak...


Ada lagi cerita yang lain tentang bermain kata dengan sekuriti. Ada spot keren di wilayah pabrik gula Madukismo. Semacam jalur kereta pengangkut tebu yang berada di tengah barisan pohon mengering, sangat vintage. Gerbong-gerbong pengangkut tebu di teronggok di sudut sudut rel, kalau ada teman saya fotografer model lihat tempat ini, mungkin dia bakal teriak-teriak kayak orang ayan. Waktu itu kami bersepeda ke sana. Oke, bukan saya yang bersepeda, saya naik motor. Sampai di sana, dengan pedenya kami parkir di sebelah pos satpam, dan nyelonong gitu aja. Dari jauh kami diliatin sama satpam, tapi enggak dimarahin ato diusir, jadi kami melanjutkan acara foto-foto dan mengeksplore daerah situ, bahkan Koplak sempat main ke tempat pekerjanya dan mendapatkan minuman tebu gratis. (Sementara Om dzul sibuk menyesap tebu yang diambil dari gerbong terdekat)

dzulfan

tersesat di gerbong tebu

yellow harmony

ups,, i'll catch ya!

Begitu selesai, kami pulang. Seperti biasa, saya yang paling eyecatchy bentuknya (huek) ditanyai oleh satpam ada acara apa. Tau kami tidak punya izin, kami dinasehati, dimarahi, dibilangin macem macem, kami mah iya-iya aja sambil senyam-senyum. Hasil foto udah di tangan gitu.. Hahaha. Secara kami berbanyak, kami punya banyak tenaga untuk mengeles. Disini juga ada kejadian lucu. Jadi ceritanya, kami 'dilindungi' oleh seorang satpam dengan tidak perlu melapor ke atasan. Ketika satpam itu ditanyai oleh atasannya dia bilang kami rombongan yang kemaren melanjutkan syuting di Madukismo. Kayaknya si pak satpam ini engga mau kena masalah karena udah 'meloloskan' kami masuk. Nah, masalahnya, si atasan menunggui kami dan saat ditanyai dengan polosnya saya bilang "MAIN." Dia tanya terus karena ga percaya, dan saya pun ngotot njawab kalo kami ga punya urusan tertentu selain cuma mampir. Muka si pak satpam berubah begitu kami dengan pedenya bilang hanya main disini.
Pak atasan langsung memarahi si pak satpam karena udah bohong ke dia. Si atasan pun menasehati kami, lalu pergi begitu saja. Yaudah, selesai dimarahi, kami dipersilakan pulang. Si pak satpam sempat memberikan isyarat 'beri saya uang rokok, saya sudah berbaik hati mengorbankan diri dimarahi olehnya", tapi saya pilih pura pura enggak denger. Engga tau akhirnya si bapak baik hati ini diberi uang rokok atau tidak. hehehe. Ya maaf pak, mau membohongi atasan kok engga kongkalikong sama kita dulu... hihihi.
Hahaha. Aneh sekali bapak-bapak satpam di atas. Seharusnya hasil foto saya dicek kalau memang mereka takut foto tersebut akan dipergunakan untuk hal-hal komersil atau merugikan lainnya. Tapi nyatanya, mereka hanya memarahi kami, dan malah memberikan pilihan untuk 'memberikan uang panjer' yang disebutkan secara tersirat. Saya engga mau ah bayar buat gitu, toh duitnya masuk kantong mereka, dan bisa jadi kebiasaan entar. Atau malah saya pikir sebenarnya boleh memotret gratis, hanya butuh izin tertulis atau mengisi buku tamu, tapi dimanfaatkan oleh mereka? Lagi-lagi, birokrasi enggak jelas yang bisa merugikan.

Tapi baguslah, kami hanya mendapatkan siraman rohani pagi buta, bukannya dibawa ke kantor dan disuruh menghapus foto di depan atasan mereka. Terima kasih Bapak-Bapak Satpam yang baik,, hehehe.

CLR, love this!

Thanks to : Saiqa :)
Kapan kita nyelonong masuk tempat keren kayak gitu lagi? Seru!

July 24, 2009

hotel oh hostel oh guesthouse

Saya ingin sedikit mereview tentang penginapan kami selama backpackeran di luar negeri. Saya pada awalnya sangat excited bisa tinggal di hostel karena membaca tulisan tulisan mba trinity yang mengatakan betapa kita bisa bersosialisasi dengan sesama backpacker. Rasanya pasti menyenangkan.
Tapi tidak selamanya selalu sama, ada suka duka berbagi privasi dengan banyak orang. Seperti,bagaimana jika 'ditampung' di Chiang Mai bersama para bule, menjadi tersangka suspect flu babi saat di Chiang Rai, dan bertemu teman senegara saat di Malaysia.

Chiang Rai, 12-13 Juli 2009
Baan Rub Aroon, adalah nama hostel yang kami tinggali selama di Chiang Rai. Dengan rate 300an baht per orang, kami bisa menikmati guesthouse nyaman yang begitu homy. Sebuah rumah beraksitektur khas kolonial dengan dominasi cat putih dan lantai kayu yang berderak, menimbulkan perasaan tenang dan... mistis. Iya. Mistis. Bagaimana tidak, saat pagi hari hujan dimana kami asyik bersantai di ruang tengah, si G tiba-tiba keluar kamar sambil tertawa-tawa sendiri, dan mengatakan " Ngerti ra ngopo aku tangi? Aku bar tindihen." Ditambah lagi dengan cerita si Pak Teman Ibu Pemilik Hostel, yang bilang saat dia masih sekolah rumah itu sudah ada walaupun sudah mengalami sedikit perubahan. Yah, paling tidak umurnya sama dengan si bapak.
Habis itu saya lebih milih menahan pipis sampai kami tiba di terminal.


kamar baan rub aroon. diambil dari web nya, tapi sama seperti aslinya.

sudut-sudut ruang Baan Rub Aroon

Kasurnya empuk bukan main, dengan ruangan yang lapang dan suasana begitu damai. Baan Rub menyediakan penyewaan sepeda dengan harga 150 baht sepuasnya, dan jumlahnya pas 5 sepeda. Jadilah sisa sore kami habiskan dengan berputar sekeliling kompleks, menikmati udara senja yang adem bener.

Malamnya, seperti biasa, saya dan Ian ngendon di depan komputer, sementara Gelgel dan Mas Sidik sudah tertidur duluan( <-- ehm..) Koplak sibuk bermain pingpong dengan si penjaga guesthouse, kalau tidak salah namanya Nai.
Malamnya Mas Sidiq makin parah sakitnya. Sakit bawaan sejak di Pattaya. Dia demam, meriang, batuk. Kami berpikir dia mungkin masuk angin plus batuk pilek. Tapi orang Thailand ga kenal namanya MASUK ANGIN! Dan saat itu sedang sangat mewabahnya virus H1N1.Akibatnya? Mas Sidiq kena dugaan sementara dia tertular virus tersebut. Pemilik hostel yang merupakan mantan perawat memisahkan Mas Sidiq dari kami yang masih sehat, dan entah mengapa malam itu jadi terasa mencekam. Miss P'nong, nama pemilik hostel, berencana memanggil petugas kesehatan untuk mengkarantina Mas Sidiq dan membersihkan hostel dari segala bentuk virus. Demi apa!? Bisa-bisa kami tertahan lama sekali di tempat ini. Cukup lama kami bernegosiasi, dan akhirnya... pagi harinya Miss P'nong 'melepaskan' kami dengan jaminan kami akan memeriksakan Mas Sidiq sesampainya di Chiang Mai. Dan untunglah, Mas Sidiq sudah membaik ketika kami pergi.

Chiang Mai, 13-14 Juli 2009

Spicythai Backpackers Hostel, adalah 'penampungan' kami di Chiang Mai. Kenapa kami sebut penampungan? Karena memang kami seperti pengungsi disana. Baik, mari saya ceritakan perlahan.
Turun dari bis Chiang Rai-Chiang Mai, kami bisa dibilang sudah sangat kelelahan. Ransel segede bagor yang menumpang di pundak rasanya hanya memperlambat jalan kami. Langsung saja kami mencarter taxi lokal berwarna merah yang kemudian membawa kami ke wilayah Nammimuang Road, dimana hostel kami berada. Sampai disana, ternyata kami masih harus masuk kompleks perumahan. Mengikuti sign Spicythai yang tertempel di sepanjang jalan, sampailah kami di sebuah rumah di pojok jalan yang... uhm.. tidak keliatan bentuk hostelnya sama sekali. Rumah tingkat putih berhalaman dan berpohon lebat, dari kejauhan kami sudah melihat tempat itu ramai, dilihat dari sepatu dan sandal yang berjejalan di depan pintu utama.
Kami kemudian menyadari, apakah kami masuk ke penginapan yang benar. Berada di ruang resepsionis yang bersebelahan langsung dengan ruang tengah (sebenarnya resepsionis cuma meja berkomputer yang terletak persis di depan pintu masuk) saya merasa diliatin. Oh, rupanya ramai sekali disana. Seluruh penghuni hostel rasanya semua berkumpul di situ, ada yang main internet, nggenjreng nggenjreng gitar, atau sekedar mengobrol. Semua berasal dari ras yang sama, putih berpostur tinggi dan berambut pirang. Bentuk bentuk kami yang... lecek, kelelahan, ditambah kami memakai masker, mungkin membuat mereka memandangi kami lebih lama. Hahaha.
Mereka bilang, kami pertama yang dari Indonesia. Apakah hanya perasaan saya saja, ketika nama depan Mas Sidiq dipanggil oleh penjaga hostel, yaitu "mohammed", para penghuni hostel diam sesaat. -.-
Kami sebenarnya memesan mixed dorm untuk 8 orang. Tetapi begitu melihat room yang terletak dekat ruang tengah, jujur, saya bergidik. Saya langsung menganggukkan kepala ketika penjaga menawarkan female dorm untuk saya dan Gelgel yang berada di lantai dua. Sementara tiga lelaki tadi 'terjebak' di mixed dorm lantai satu. Saya merasa kurang nyaman dengan keadaan ini, mungkin karena jiwa Jawa saya yang menghormati privasi dan kesantunan masih cukup kuat.
Begitu sampai di kamar, saya melongo. Oh.. rupanya tempat ini yang akan jadi tempat tidur kami malam nanti. Dua bunk bed bertingkat yang berdekatan, dan lemari besar di sisi satunya. Ruangan ini gelap, terkesan tanpa jendela. Baunya pengap, dan terlihat sudah ada dua carrier tergeletak di masing-masing bed bagian bawah. Oh, kami punya teman sekamar, pikir saya saat itu. Kemudian saya dan Gelgel ambil posisi menempati masing-masing bed yang ada di tingkat atas. Kami berpandangan, dan tertawa bersama. Kami kompak berpikir, 'kok bisa lo ya kita ada disiniii!!! Hakakakakaka...' dan tawa hambar itu terus berlanjut sampai akhirnya ketiga lelaki teman kami naik ke atas dan menjemput kami untuk makan. Ketika saya bilang " Besok kita langsung checkout jam 8 aja yaaa.. mbathang di airport gapapa deh..." muka mereka langsung menjadi cerah dan kami pun tertawa berlima.

barak tentara? memang...

Belakangan diketahui, bentuk mixed dorm lebih parah. Tidak ada lemari atau luggage store, dan jangan heran kalau tidur berdekatan dengan bule telanjang dada, hahahaha.
Ga tau kenapa, saat di sini, saya merasa ansos bukan main. Kedua teman sekamar kami datang malam hari, dan saya sempatkan mengobrol dengan mereka. Yah, cuma say hello dan darimana kamu datang, itu saja. Selanjutnya mereka ngeloyor lagi dan pulang saat kami sudah terlelap. Sialnya, walaupun saya tahu mereka berdua sebenernya tidak saling kenal, kok ya mereka bisa langsung akrab mengobrol gitu. Meninggalkan saya dan gelgel semacam kambing congek dan membiarkan kami mengobrol pakai bahasa jawa. Biarin ah, pikir saya. Keinginan saya bisa berbaur dengan teman sehostel raib seketika.

dicuekin bule, foto sendiri aja..




Paginya, sesuai perjanjian, saya dan Gelgel turun kebawah mencari para lelaki. Kami sudah siap, tinggal menenteng ransel saja. Sampai di bawah, ramenya minta ampun... Semua penghuni turun untuk sarapan. Ansos lagi ansos lagi.. saya sekedar tersenyum dan say hello kepada tiap orang yang memandang kami saja sulitnya bukan main. Kemudian kami menyelinap masuk ke mixed dorm dan menemukan mereka baru terbangun! Sedikit sebal, kemudian kami naik lagi ke kamar. Menunggu dan menunggu, kami tertidur. Tiba-tiba para lelaki datang dan mengajak kami turun sarapan. Ugh, nafsu makan saya sudah hilang. Tapi berhubung daripada saya sendirian di kamar, akhirnya saya turun. Ya ampun, mau turun sarapan saja rasanya saya harus mengumpulkan seluruh keberanian! Entah kenapa saya kurang berani untuk sekedar berjalan di depan bule-bule itu, cara mereka memandangi kok rasanya ga ada ramah-ramahnya. Hahaha, atau saya yang lebay ya.
Beberapa saat kemudian, mereka berkumpul lagi dan terlihat bersiap-siap. Saya melirik ke papan today activities, ada fun camp tertulis disana. Yesss... mereka bakal pergi semua! Hahaha. Dan ternyata benar, mereka kemudian pergi berombongan untuk camping. Hal pertama yang saya lakukan, menguasai internet. Dan menemukan Ian telah melakukan sesuatu dengan blog saya yang sukses membuat kami tertawa terguling-guling.
Ketika punggung kami semakin jauh meninggalkan hostel, ada perasaan lega tak terbendung yang saya rasakan pagi itu.
Spicythai Backpackers adalah hostel terbaik di Thailand pada tahun 2008. Dan saya sekarang tahu kenapa jadi terbaik. Hostel ini menawarkan kekeluargaan dan aktivitas menyenangkan yang bisa dilakukan bersama tiap harinya. Kamar mandinya benar-benar campur, begitupun dormnya, sarapan pun rame-rame di satu meja, saya rasa privasi bukanlah yang dicari disini. Rata-rata bule menginap disini untuk waktu yang cukup lama, ada yang sampai 1 bulanan, dan saya rasa jelas aja mereka merasa betah, karena mereka berkumpul dengan teman satu rasnya. Kalau saya jadi bule, saya rasa pasti menyenangkan tinggal di situ. Sayang saya orang Indonesia dengan adat timur yang masih kental.

Kuala Lumpur, 14-16 Juli 2009
Menginap di Paradiso Bed and Breakfast, kami pesimis bisa mendapatkan kesenangan saat mengingat hostel ini terletak di Bukit Bintang, salah satu kawasan turis di Malaysia. Kami berpikir akan mendapatkan suasana yang sama dengan Spicythai, apalagi kami pernah melihat foto hostel yang bentuknya kayak ruko. Tapi saat kami datang dan disambut dengan bahasa melayu yang hangat, hm.. sepertinya nasib kami akan lebih baik.
Disini kami menyewa mixed dorm untuk 6 orang tapi kami tempati berlima. Tempatnya like this banget deh, kamar mandinya oke punya, roomnya juga bersih berkarpet dengan ac menyala 24 jam. Memang tanpa jendela, tapi rupanya kami bisa bernapas juga kok. Sarapannya lebih rapi, dan menunya lebih lengkap. Penjaganya ramah dan senang mengajak kami bercanda, dan internet juga ada.
Letaknya disebelah resto fastfood McD dan mall ada di depan mata. Pavilion hanya 5 menit jalan kaki, sementara stasiun monorail ada di seberang jalan. Bis lalu lalang, perfect banget deh tempat ini pokoknya. Kalau malam wilayah ini ramai oleh pejalan kaki dan atraksi jalanan yang memukau.
Mungkin kalau besok saya ke malaysia lagi dan jadi backpacker, saya pingin nginep disini lagi. Hehehe.
Saya cinta banget sama si penjaga hostel yang orang Melayu ini, karena hobi kami adalah 'ngrasani' bule yang bersikap kurang manis di hostel. Sama-sama orang Melayu gitu loh! Dan dia tidak mengunderestimate kami sama sekali sebagai orang-orang dari 'negeri TKI'.
Esoknya saya baru tahu ternyata kami juga sehostel dengan keluarga muda dari Jakarta. Sarapan pagi itu terasa menyenangkan karena kami semeja dengan mereka, berbicara bahasa Indonesia dan diselingi keluhan berlogat Melayu penjaga hostel karena banyak penghuni yang menitipkan carrier mereka padahal mereka seharusnya sudah check out.
:)

Ketiga hostel tadi kami pilih dari hostelworld.com berdasar rating tertinggi dan harga termurah. Sekarang kami tahu cara memilih hostel yang baik, yaitu jangan gampang percaya sama rating bule! Hahahaa.

July 20, 2009

10 things to do in thailand!

Rupanya saya terlalu malas untuk membuat posting khusus tentang satu tempat, karena memang tidak banyak yang bisa diceritakan. Yang seru adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, berpindah pindah, dan menyusuri Thailand. Saya iri dengan postingan Mas Nabun tentang Bali yang begitu detail atau posting Wana tentang Surabaya yang udah kayak time organizer, dia apal sampe ke menit-menitnya. Hehehe. Jadi saya membuat posting yang agak berbeda sajalah, dan semoga Gel-gel atau Ian atau Koplak membuat posting yang lebih detil dan lebih rapi dari saya, hihihi.

10 Things To Do in Thailand


Mengunjungi Wat / Temple di seantero Thailand.



Salah satu tempat yang harus dikunjungi adalah Grand Palace di Bangkok. Grand Palace adalah sebuah kompleks istana yang baru saja direhab. Jika anda datang kesana pada siang hari, anda harus memicingkan mata terus-menerus saking menyilaukannya warna-warna car dan ornamen candi.
Oh iya, di tempat-tempat sakral tertentu, kita diharuskan masuk dengan baju sopan, tidak terbuka lebar di bagian bahu (misal, tanktop) dan tidak bercelana pendek. Tenang, di sana ada jasa peminjaman baju dan celana yang ketika sedang ramai, jangan kaget kalau anda dapat pinjaman bekas bule yang di bagian tali perutnya masih basah.. wakakakakka *tunjuk Gelgel

Mempelajari logat English penduduk Thailand.
Jangan harap dengan kemampuan bahasa Inggris anda yang tokcer, anda sudah bisa menguasai Thailand. Jika bukan guide tour atau pemilik hostel, sebut saja misalnya penjaga Seven Eleven, maka akan mempunyai logat berbahasa Inggris yang lebih hancur dari Singlish. Mereka suka menghilangkan huruf tertentu dan menggantinya dengan huruf lain. Misalkan, 'sugar' jadi 'tukka', 'miracle' jadi 'miraken', 'finish' jadi 'finit', 'refill' jadi 'reppi'. Oh iya, jika anda mengucapkannya dengan logat Inggris yang benar, mereka belum tentu akan mengerti loh. Di Thailand saya malah paling banyak memakai bahasa tarzan sampai akhirnya kami sama-sama paham apa yang dimaksudkan. Jangan sampai anda bilang A mereka tafsir G, bisa berabe nantinya. Bagus juga jika kita belajar bahasa Thai sedikit saja, sekedar bahasa sehari-hari semacam khap phun kha (terimakasih), sawatdeeka (apa kabar?), dll. Mereka pasti tersenyum melihat kita kesulitan mengucapkannya.

Membeli baju di Pratunam Plaza. Pratunam dikenal sebagai surganya grosiran. Biasanya banyak loh orang Indonesia yang grosiran baju langsung dari sini buat butik mereka di Indonesia. Bisa dicoba hitung, untuk pembelian 3 dress lucu saja hanya habis 300an baht. Kalo di Indonesia dijual saja sudah bisa 100 ribuan per potongnya. Ehm.. saya jadi berpikiran punya bisnis jualan baju dari Thailand, wkwkwk.

Mencoba naik boat yang mempunyai rute melewati kanal-kanal di kota Bangkok.

Wuh.. sensasinya mak. Baru pertama kali ini saya naik boat yang bikin mau muntah gara-gara suaranya, Kami salah pilih seat, di belakang mesin. Walhasil selama perjalanan kami cuma bisa tutup telinga saking bisingnya. Oh iya, seru lagi kalau duduk di paling pinggir. Begitu akan berpapasan dengan boat lain, harus siap-siap angkat plastik terpal yang sudah tersedia untuk menutupi badan kita, biar enggak kecipratan. Kecuali anda memang anak gunung yang suka main air. Kalau saya, engga deh.. kecipratan air sungai yang bau nya kayak Code...

Minum cha yen, milk tea nya Thailand.
Sebenernya, kalau di Thailand anda pesan tea saja dikasihnya cha yen loh. Jadi mungkin memang teh nya Thailand itu pake susu. Tapi inilah milk tea pertama yang saya coba lebih enak dari Tong Ji. Selain dikasi susu cair, dikasi lagi susu kental manis. Jadi gurihnya dua kali deh. Dan teh khas Thailand yang berwarna orange juga saya suka banget rasanya. Ngga kehitung udah berapa gelas milk tea yang saya beli disana. Uh.. love it.

Jika anda 'terjebak' di Pattaya and nothing to do, ada baiknya mencoba menonton Tiffany Show, semacam kabaret banci Thailand.
Eits, tapi anda engga bakal menemukan kabaret banci-banci bermuka Tata Dado dengan bulu ayam berwarna-warni dimana-mana dan stocking asal pake lalu bernyanyi berputar-putar ga tentu arah. Banci Thailand terkenal cantek-cantek dan badannya buagus-buagus. Dan itu benar! Saat menonton Tiffany Show, saya hanya bisa melongo, kok bisa orang-orang yang sebelumnya kaum adam ini mengubah penampilan mereka 180 derajat, menjadi seorang wanita berparas ayu, putih, cantik, langsing, dan tidak berkelakuan layaknya banci (lhoh?) Mungkin satu-satunya yang bikin mereka bakal keliatan bancinya adalah suaranya yang dibuat-buat dan malah jadi nggilani hahaha. Oh iya, Tiffany Show ini sebenarnya.. ehm.. norak. Baju mereka oh wow banget, nyanyi lagu yang ga saya tau secara lipsync, tap ada satu yang saya suka, saat sesi tari-tarian India. Mereka benar-benar menari dengan sangat luwes, yah.. saya merasa 500 baht saya tidak habis dengan sia-sia.. Hehehe.

Berbelanja di Catuchak Weekend Market.
Catuchak Market adalah pasar terbuka terbesar di Thailand. Sampai ada petanya loh saking besarnya. Terbagi dalam beberapa section, seperti makanan, pakaian, barang kebutuhan rumah tangga, souvenir, second shop, dan banyak lagi. Pasar ini terkenal murah dan sangat lengkap. Jangan harap bisa keluar dari pintu yang sama, bahkan kalau anda mengingat nomor kiosnya. Pasar ini begitu menggoda untuk dijelajahi dari ujung ke ujungnya, berharap mendapatkan harta karun di salah satu pojok. Sayangnya saat itu kami berlima, dan bertekad tidak akan saling ninggal, jadilah saya tidak bisa tiba-tiba berlari ke arah lain gara-gara lihat sandal lucu... Oh iya, seperti pasar tradisional lainnya, jangan lupa menawar! Dan sebagai orang asing ( iya, kan, paling tidak kita beda pulau.. hehehe) tidak perlu bertanya panjang lebar. Cukup "How Much?" dan mereka akan langsung menjawabnya kok. Eh, tapi kadang-kadang mereka kesulitan menjawab harganya dalam bahasa inggris, jadi mereka akan mengetikkannya di kalkulator, menggunakan isyarat jari tangan, bahkan berpura-pura menuliskannya di udara seperti yang saya alami saat membeli Lays rasa Extreme.

Mencontreng di KBRI Bangkok.
Lifetime experience deh pokoknya. Apalagi buat saya, ini benar-benar pertama kali pengalaman mencontreng karena saat pemilu legislatif saya engga kedaftar jadi pemilih. Mudah lo prosedur pendaftaran menjadi pemilih di sana. Walaupun kita engga ada dalam DPT, kita bisa langsung mencontreng. Cukup paspor dan beberapa kali menuliskan identitas diri, taraa.. kartu pemilih sudah di tangan. Dan lima menit kemudian kelingking kami sudah ternoda tinta hitam yang buat saya, sangat keren. Hahahaha

Bertemu mahasiswa indonesia yang tengah belajar di Thailand
Nah... selepas mencontreng di KBRI kami kebingungan mau kemana. Akhirnya sok tahu turun ke pier buat canal boat. Ngendon kebingungan disana, lalu ada seorang wanita berjilbab datang bersama temannya. Dia sedang menelpon, dan kami kenal logat itu!! Hahaha. Kami langsung ngeh kalo dia orang Indonesia. Sambil berbisik-bisik, kami menunggu dia selesai menelpon. Setelah itu dengan pedenya kami samperin dia dan dia sama kagetnya dengan kami yang dikira orang Malaysia. Si mbak yang kemudian diketahui namanya Yaya itu, mengajak kami bergabung dengan teman-teman 'multinasional' nya (teman di kampusnya) dan rombongan kami pun membengkak jumlahnya menjadi tigabelasan orang. Waw. Saat itu kami punya tujuan buffet di Ramkamheng, tapi sampai sana tutup. Akhirnya kami malah jelajah mall ke mall mencari makanan dan berakhir di KFC! Oh mai god.. hahaha. Soalnya kata Mba Yaya di sana resto fast food yang pasti halal cuma KFC. Tapi menyenangkan lo berjalan-jalan dengan teman baru, dari negara yang sama lagi. Biasanya kami punya opini yang sama tentang sesuatu hal, dan kalau mahasiswa itu, biasanya punya wawasan 'mblusuk kampung' yang lebih luas daripada orang-orang yang sudah kerja. Hehehe. Belakangan saya baru tahu kalau Mba Yaya sudah menikah gara-gara saya kira Mba Yaya berpacaran dengan salah satu anggota rombongan. Hahaha. Malunya saya...

Berkeliling Chiang Rai naik sepeda. Seperti surga rasanya, karena di Chiang Rai cukup sepi kendaraan, dengan jalannya yang besar-besar. Kami hanya sempat ke tempat-tempat di dalam kota, dan tentu saja supermarket, tetapi itu saja sudah menyenangkan. Ditambah pegunungan di kanan kiri, pohon pohon menghijau di pinggir jalan, dan warna langit senja yang jingga berlapis putih awan,, sooo romantic. Hahaha.


Uh..sedihnya. Saya tidak bisa memenuhi postingan saya kali ini dengan foto-foto.. :(
Tunggu CF saya terselamatkan, dan saya akan melengkapinya sekaligus menambah dengan 10 things no to do in thailand! hehehe.
Catch ya later!

July 18, 2009

backpackeran - prolog

Alhamdulilah, perjalanan saya dan teman-teman selama sepuluh hari selesai juga. Begitu sampai di tanah Jogja, rasa syukur dan bahagia menyelimuti batin saya, bersyukur bahwa saya tinggal di Jogjakarta. Perjalanan kami kali ini benar-benar penuh makna, dan menyadarkan kami, bahwa Indonesia adalah benar-benar zamrud khatulistiwa.

Sepertinya kurang afdol bagi saya kalau enggak membagi cerita kami kepada teman-teman semua. Walaupun sempat ada tragedi hilangnya setengah foto perjalanan saya karena card reader busuk, tetap saya masih ada cerita yang ingin saya share di blog ini. Saya akan membaginya dalam beberapa part sesuai negara yang kami kunjungi. Semoga teman-teman menyukainya, dan bisa mendapat wawasan baru dari cerita-cerita bodoh kami :)

Sebelumnya saya ingin mengenalkan teman-teman rombongan saya.


Sidiq, si ketua rombongan. Aaa.. sebenernya kami enggak memutuskan bersama sih bahwa mas sidiq yang jadi grup leadernya. Tapi dialah yang punya ide membuat trip ini, kemudian ia mengajak Koplak ikut serta. Urusan pra keberangkatan seperti booking hostel, tiket pesawat, sampai ke pembelian Lonely Planet, Mas Sidiq yang punya andil. Dia sempat sakit flu di Thailand gara-gara beberapa hari sebelumnya kami nekad tidur di pinggir pantai Pattaya yang anginnya kenceng ngga nguatin. Keadaannya yang cukup parah saat di hostel Chiang Rai, ditambah saat itu sedang ramai kasus flu babi, membuat pemilik hostel yang mantan perawat panik dan 'memisahkan' Mas Sidiq dengan yang lain. Bahkan dia sempat akan memanggil petugas kesehatan untuk memeriksa kamar tempat kami menginap dan memastikan bahwa tempat itu bersih dari virus. Kami sempat stuck dan bingung kalau Mas Sidik sampai harus diperiksa dan dikarantina di Chiang Mai, walau akhirnya hal itu tidak terjadi. Dia semakin membaik dan sembuh saat kami berada di KL.


Koplak, si cuek tukang kentut. Saya sempat khawatir dengan sifat koplak yang moody abis dan gampang bosenan. Kami sempat berpikir kalau di jalan Koplak bosen berjalan dengan rombongan dia akan mlethas dan mencari jalur sendiri. Ternyata hal itu tidak terbukti. Setelah Koplak mengatakan rasa excitednya habis lama sebelum perjalanan, rupanya ia kembali bersemangat saat kami sudah memulai trip melelahkan ini. Anak yang sakpenake dewe dan cuek, tukang kentut, dan pongah-pongoh. Tapi Koplak sangat membantu perjalanan ini. Dia mudah dekat dengan orang baru, dan kami sering mendapatkan banyak info dari hasil ngobrol SKSD nya dengan penduduk setempat. Bahkan, saat di Bangkok, om nya Koplak sangat membantu kami. Beliau sekeluarga membolehkan kami berlima menginap di apartemennya yang seperti hotel bintang lima, dan selama lima hari kami serasa menginap a la tamu terhormat. Om Heru adalah staf KBRI Bangkok yang sibuk, tapi saat makan malam kami selalu makan bersama, sehingga kami merasa berada di keluarga sendiri. Mereka adalah orang-orang yang sangat baik. Kami mendapat tempat menginap yang super keren, internet gratis, bisa makan siang dan malam sampai kenyang, beberapa kali diantarkan supirnya ke tempat-tempat wisata di Bangkok, dan di malam terakhir kami ditraktir makan buffet di Ramkamhaeng. Alhamdulilah, kami bisa menghemat uang kami untuk trip selanjutnya :)


Ria, teman wanita tukang tidur yang teraniaya. Ria sudah terkena flu beberapa hari setelah kami sampai di Bangkok. Dan dia semakin teraniaya saat kami nekad tidur di Pattaya. Harusnya dia bisa beristirahat, malah ikut tidur di tepi pantai. Tambah disia-sia pula dengan dipanggil gadis H1N1. Begitulah nasib Ria disana. Tapi Ria adalah satu-satunya anggota rombongan, selain saya tentunya, yang wanita. Ada cerita unik dibalik ikutnya dia di perjalanan ini. Saya mengajak dia hanya lewat telpon, dan dia izin ibunya pun dengan berteriak-teriak saat masih saya telpon, dan mengatakan ikut saat itu juga. Saat itu sih dia tergoda dengan harga tiket perjalanan yang saya bilang hanya delapan ratus ribu rupiah (yang akhirnya membengkak seiring bertambahnya rute perjalanan kami) tapi Ria sangat keren. Dia , walaupun baru satu kali bertemu dengan Sidiq dan Koplak, langsung bisa akrab dengan mereka saat trip. Sifatnya yang cuek dan agak ingah-ingih membuatnya bisa merasa santai melakukan trip ini dan membuatnya terasa menyenangkan. Satu lagi, anak ini ngantukan parah. Sering sekali baru beberapa menit kami ada di atas kendaraan, dia tahu-tahu sudah tertidur lelap. Sampai di hostel pun dia tertidur. Kata-kata andalannya, "aku kok ngantuk ya..." jkakakakkaak.


Ian, si berbulu kuliner sejati. Buat anak satu ini, lebih baik menggunakan uangnya untuk kulineran daripada untuk biaya transportasi. Lebih baik jalan jauh tapi nyoba makanan baru daripada naik MRT tapi cuma makan McD. Dia sudah mengumpulkan cukup banyak referensi kulineran di negara-negara tujuan kami, sehingga saat di sana kami mencoba cukup banyak makanan baru sampai akhirnya saya bilang, "stoppp. ayo kita makan McD". Rasa makanan baru yang kami coba tidak selalu enak, dan beberapa kali Ian mendapatkan menu yang tidak enak itu. Wakakakakaka. Ian adalah tersangka utama penganiaya Ria a.k.a Gelgel dan sampai sekarang Ian menganggap Gelgel adalah gadis H1N1 yang harus diisolasi. Saya sebenernya sering berbeda pendapat dengan dia, tapi kalau sudah punya pandangan yang sama, kompaknya bukan main, apalagi dalam hal ngerjain Gelgel. Hekekekeke. Motto dia, " Biarpun aku dibayari nang Pattaya, aku bakal mikir-mikir lagi kalo mau kesana untuk kedua kalinya" Saya setuju Yan!


5. Dan saya sendiri, Kinchung. Si wanita berkaki model iklan sepatu gunung yang sudah lama pingin keluar negeri, dan mempunyai keinginan sangat besar untuk melihat Golden Triangle. Banyak hal bodoh yang dia lakukan mengingat dirinya yang ceroboh, dan sifat moody nya yang mungkin sempat membuat teman-temannya sebal. Tapi buat dia, ini adalah perjalanan keluar negerinya yang paling berkesan!


Sekedar pesan, jika kalian ingin bepergian dalam rombongan, misal nya saya bepergian dengan 4 teman saya, pastikan bahwa kalian mempunyai visi dan misi yang sama. Jangan sampai disana ternayat ada perbedaan pendapat yang kemudian membuat perjalanan tidak menyenangkan. Perbedaan pendapat pasti ada, tapi harus diminimalisir. Alhamdulilah kami punya satu tujuan yang sama, berlibur dan backpackeran! Jadi engga ada yang ngributi pengen tidur di hotel mewah atau bermasalah dengan makanan. Soalnya kalau ada perbedaan, apalagi yang serius, bisa mempengaruhi mood rombongan loh. Makanya, sebelum trip itu dimulai, pastikan semuanya baikbaik saja.. :)


Thanks to : My eiger camera backpack, 20 D bersensor kotor, lensa kit berjamur dan fix 50mm yang hobi eror 99, sepatu sendal reebok, paspor berfoto TKI, jurnal kecil merah yang cantik, lembaran dolar yang tertinggal di ChiangRai, sarung Bali biru nya Gelgel, yang menemani perjalanan saya ini. Saya sempat berharap bisa mengeksplore banyak hal dari tempat-tempat ini, sayangnya waktu kami sangat kurang sehingga engga bisa ke tempat-tempat yang unik. Saya tidak bisa mendapatkan hasil foto yang prima, mengingat sensor kamera yang busuk, dan cuaca di negara tujuan yang mendung dan engga bersahabat. *cari alesan mode: on


Ehm.. mungkin ini dibanding teman-teman lain yang nantinya akan posting, punya sayalah yang paling panjang dan ngga penting. Hehehe ga papa ya...

July 02, 2009

Wonderful Salaran!



Lagi-lagi rencana saya mencabut sambungan speedy kemarin batal. Gimana ya. Kalo udah acara sama anak-anak EQ, biarpun cuma makan, akhirnya pasti ada acara jalan-jalannya. Kayak udah satu rangkaian gitu, gabisa dipisahin.
Begitupun kemarin. Ketika kami makan pisang ijo di warung ababil Gejayan, Mba Dini meratapi nasibnya yang akan segera berangkat KKN ke solo esok hari. Kami kasian dan kami gabisa menolak ketika mba dini kemudian mengajak kami pergi, mumpung dia masih bisa maen sama motornya. Saya, Ninda, Koplak, Om jul dan Mas Saiqa adalah tipe orang yang yah yoh aja, mendengar kalimat "kemana yuk" terdengar seperti rayuan pulau kelapa. *lebay.
Akhirnya kami putuskan untuk berpencar dahulu. Saya dan Ninda mengambil kamera saya, sementara yang lain ngendon di rumah Mas Saiqa. Sebelumnya kami sempat punya pikiran, maen ke Waduk Tambakbayan yang ada di daerah Mino atau naik transjogja ke prambanan. Tapi akhirnya saat saya dan Ninda sampai di rumah Mas Saiqa, mereka sibuk menunjuk-nunjuk potongan koran kompas yang ada di meja. Di situ ada artikel mengenai sebuah tempat di Gunungkidul, Watu Wayang. Saya melihat foto-fotonya, dan saya ngiler. Dan ga tau kenapa kamipun serempak berkata , "ayo kita kesana sekarang."
potongan koran yang menjadi peta kami

Jadi, tempat yang diceritakan di dalam tulisan itu adalah Dusun Salaran Desa Ngoro - oro yang terletak di kecamatan Pathuk. Sebuah dusun yang terletak di perbukitan Gunungkidul, beberapa kilometer dari Bukit Bintang. Sebuah dusun yang ada di lereng perbukitan, yang dikenal sebagai jendela pegunungan sewu dan dusun seribu tower.
perjalanan ke sungai gembyong
berasa di luar negri
seribu tower


Mengapa?
Dusun ini menghadap langsung ke daerah pegunungan sewu dan begitu kita berada di pinggir bukit di depan kita terhampar lembah yang mungkin akan mengingatkan kita pada Ngarai Sianok dengan background pegunungan dan tiang-tiang Sutet di kejauhan. Dan disebut seribu tower karena di tempat ini banyak berdiri tower pemancar siaran televisi yang digunakan sebagai stasiun relay.

Di Dusun Salaran ini ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi, antara lain :
1. Sungai Gembyong dan Jembatan Lemah Abang


Untuk mencapai Sungai Gembyong kita bisa menggunakan motor biasa. Hanya saja, jalanan menuju tempat ini sangat curam. Jalanan turun ya bener bener turun, panjang dan berkelok, enggak memberikan kita tempat menghela napas sebentar. Saya sarankan, motor anda pada kondisi prima , kampas rem engga habis, dan orang yang nebeng anda engga overweight, ahehehe. *piss* Saat baru masuk ke daerah Gembyong, kami disuguhi pemandangan aduhai, yang sejenak mengingatkan kami pada daerah pegunungan, kalo buat saya, Merbabu. Udara sangat sejuk, diterpa mentari yang udah condong ke barat, dan lembah terhampar di sebelah kiri kami, saya berkali-kali mengucap subhanallah. I love Indonesia.


Jembatan Lemah Abang yang tergantung di atas Sungai Gembyong adalah jembatan gantung yang dibangun pada tahun 1996. Wah, sudah cukup lama ya. Jembatan gantung kuning ini adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan daerah Sleman dan Gunungkidul di wilayah situ. Begitu ada motor yang melewati, jembatan akan bergetar cukup hebat, bahkan kemaren Om Zul engga kuat jembatannya digoyang-goyang, dia sedikit mabuk. Sungai Gembyongnya sendiri sedang asat, mungkin karena sudah memasuki musim kemarau. Padahal, kalau sedang penuh air, kita bisa bermain air disini dan bercengkrama di dekat air terjun. Memang kecil sih air terjunnya, tapi airnya masih jernih, dan katanya, sensasi boker disini melebihi nyamannya boker di hotel bintang lima. Waakkaka. Next time i'll try ..
Btw saat jembatan bergoyang dan saya sibuk mencari keseimbangan, tiba-tiba tas saya jatuh dan tutup lensa saya melompat keluar, dan dengan manisnya menyusup lewat sela jembatan, terjun bebas ke bawah diiringi teriakan saya. Ahahahaha. Lebay abis. Untunglah bisa turun kebawah buat ngambil tutup lensanya... :D

koplak mabok

Di sini kemudian Om Zul dan Ninda pamit pulang duluan. Mereka mau rapat Sempu *weseeeh yang mau ke sempu* Kami merasa eman eman, masa mau pulang juga. Akhirnya kami mencoba ke destinasi selanjutnya, Watu Wayang.

2. Watu Wayang

watu wayang di kejauhan

Saya kira watu wayang itu semacam tempat bertapa. Atau batu yang suangat buesar. Dan ternyata benar. Watu Wayang adalah batu suangat buesar, lebih tepatnya gunung! Hahahaha. Gunung kecil, bukit deh kalo gamau dibilang gunung.Letaknya bersebelahan dengan Gunung Nglanggeran. Tapi topografi Watu Wayang sangat unik, seperti bongkahan batu yang tergerus di sisi-sisinya, ditumbuhi pepohonan, dan di bagian bawah ada batu-batu segede mobil berserakan di pinggiran jalan.Waaw. Berasa di jaman purba. Kami pingin banget naik kesana. Sayangnya waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima, kami juga belum solat ashar. Akhirnya kami asal berhenti di pinggir jalan, sekedar berfoto di batu-batu segede mobil tadi. Kami ingin naik ke atas batu yang segede rumah, tapi buat kesana harus lewat sawah dulu.
Ternyata sawahnya kering, hehehe. Kami jadi mudah berjalan di sana. Tapi sama aja, batunya gabisa dipanjat zzz____________________________________________________
Akhirnya kami memutuskan kembali ke motor. Saat itulah kami lupa dimana tadi kami naik, sementara Koplak dan Mba Dini berputar lewat jalan lain. Saya nekat mlipir di pinggir sawah, dan hap! Saya melompat. SIAL! Ternyata sawahnya berlumpur! Sandal saya terhisap, padahal saya baru beli di depan puskesmas Tawangsari tadi... T.T Tujuh ribuku....
____________________________________________________

tragedi lumpur hisap

Eh tapi nasib koplak ga jauh beda. Sandal sembilan ribunya juga putus. Ahahaha.
Sayang sekali, kalau awan tidak menutupi cakrawala, sunset dari daerah berdirinya tower pemancar cukup perfect. Watu Wayang dibelakang saya berkilau kemerahan diterpa sinar matahari. Cantikkk sekali. Langit juga sudah bersih kebiruan.. eh.. malah pas mataharinya awan jahat bergerombol. Sedih. Baterai kamera saya juga habis. T.T


akhirnya setelah solat magrib, kami memutuskan makan di daerah jalan Wonosari. Saya lupa namanya. Rekomendasi Mas Saiqa sih hahaha, saya mah yang penting makan. Muka Koplak sendiri sudah kayak orang teler, kayaknya dia sendiri udah mabok tadi di jembatan gantung. Makanan disana enak.. engga manis kayak kebanyakan warung makan jogja. Saya sok sugih memesan ayam goreng saos mentega, kuahnya yummy.. Sayang nasinya agak keras, dan jeruk anget saya rasanya kayak campuran mie godog. Wahahaha.

Perlu teman-teman ketahui, tempat tempat di atas sebenernya bukan objek wisata. Tapi menurut saya, biarkan tempat ini seperti apa adanya, jangan bertambah ramai. Saat ini tempat-tempat yang bisa buat refreshing makin sedikit saja, karena modernisasi yang terus dilakukan. Ehm.. sebenernya saya nulis disini pun akan membuat orang2 jadi penasaran dan pengen kesana. Iya enggak sih? Saya jadi dilema... hahaha

Kapan-kapan kami akan menaklukkan Watu Wayang,, dan berteriak dari puncaknya.
Ada yang mau ikutan?


P.S : Foto ini bebas diunduh sepanjang bukan kepentingan komersial, dan tentu saja, atas seizin saya.. :D