March 08, 2014

Jenuh

"Teruslah menulis. Paling tidak, orang-orang tahu kalau kamu masih hidup."

Ia tergelak saat kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Seorang sahabat dekat menasehati saya dengan hawa skeptis yang pekat. Ia tahu betul bagaimana mood menulis saya naik turun, bahkan saat saya sebenarnya sedang tidak punya kerjaan.

Begitulah. Perkataannya seakan menjadi cambuk bagi saya. Telak, menghunus ke dada. Saya sedang di titik puncak kejenuhan menulis. Bukan karena saya tidak punya inspirasi, tetapi sehari-hari di sini, yang awalnya semuanya seakan ingin diceritakan, kini menjadi rutinitas. Inspirasi itu saya lihat sehari-hari. Dan membicarakan rutinitas bagi saya adalah hal yang membosankan.

Maka, kurang dari sepuluh tulisan yang saya hasilkan dalam sembilan bulan perjalanan. Atas ketidakproduktifan itu pulalah, saya masih belum berani menerima tawaran kerja sama dengan berbagai pihak. Saya memang blogger pemalas. *tabok diri sendiri*

Mungkin, tiga bulan akhir nantinya akan memberi saya banyak inspirasi. Siapa tahu, minat menulis itu justru muncul ketika saya sudah kembali ke kasur yang saya nanti-nanti, dimana kehidupan saya saat ini hanya akan menjadi kenangan yang tidak dapat terulang lagi.

Saya sedang menuju persimpangan untuk pulang.

Suadi, Bisakah Berdikari?


Empat siswa laki-laki istimewa di kelas yang saya ampu. Suadi berdiri paling kiri.
Selalu memilih bangku yang sama di pojok belakang kelas, ia menumpuk semua buku pelajarannya di atas meja. Seragam merah putihnya yang beranjak kumal selalu alpa dikancingkan. Ah, bukannya lupa. Baju itu sudah kekecilan, bahkan celananya menggantung hingga di atas mata kaki. Bukan karena ia tumbuh terlalu cepat, usianya yang sudah terlalu tua untuk jenjang kelas lima.

"Suadi, ini huruf apa? Lihat, gendutnya di belakang," ujar saya sembari menunjuk huruf 'b' pada kertas yang saya tulisi huruf-huruf dengan beragam warna. Tujuannya agar ia mudah mengenali perbedaannya. Saat itu, satu bulan sudah saya menjadi penduduk dusun Serambah.

Lama ia berpikir, hingga akhirnya terucap 'd' dari mulutnya. Lirih. Ia tak percaya diri. Saya menghela napas. Belum genap lima menit yang lalu saya memperkenalkan - tentu bukan pertama kali - huruf 'b' padanya, Suadi sudah melupakannya lagi. Mungkin pula Suadi sebenarnya tak lupa, tapi ia tak pernah bisa mengingatnya.

February 23, 2014

Mereka Yang Berproses

Saya percaya bahwa baik tidaknya perilaku anak berasal dari pembiasaan. Children do what children see. Anak yang dibesarkan tanpa amarah dan emosi akan tumbuh jadi manusia penyayang. Anak yang sennatiasa melihat atau mengalami kekerasan fisik akan menjadi manusia kasar. Anak yang dibesarkan tanpa kesabaran dan keikhlasan akan tumbuh menjadi manusia pendendam. Bagaimana cara anak dibesarkan, seperti itulah ia akan berkembang.

Saat ini sudah tujuh bulan saya bertugas di sebuah sekolah di pucuk perbukitan. Di sini, saya temui kenyataan bahwa anak-anak dusun bersekolah dan bermasyarakat dalam hawa acuh yang pekat. Acuh dengan teman, guru, dan lingkungan sekitar. Para siswa ini tidak terbiasa mencium tangan guru atau menyapa saat bertemu gurunya, membuang sampah sembarangan, dan tidak memperhatikan sekitarnya. Ah satu lagi, mereka tak terbiasa mengekspresikan diri. Awal datang, saya sempat merasa heran (sekaligus agak sakit hati) karena anak-anak ini tidak menunjukkan sambutannya pada saya. Kelihatan senang tidak, kelihatan sedih juga tidak. Baru belakangan saya tahu bahwa mereka sangat senang karena mendapatkan guru perempuan. Itupun hasil bisik-bisik di belakang saya!

Mewah dalam Sederhana

Pagi itu sumpah setia Nin ‘Ali di depan petugas KUA Sangkapura telah membuat Sanna menjadi istri sahnya. Jauh dari hingar bingar akad nikah a la kota, disaksikan ratusan pasang mata, dekorasi gedung dan pakaian mewah, serta kelip lampu blitz tanpa jeda – mereka menikah disaksikan dua saksi yang juga masih tetangga. Dengan motor pinjaman, Nin’Ali membawa pulang Sanna, sang istri yang sama bahagianya, kembali ke rumahnya di balik gemunung Bawean.

Pak Jamsuri, wali kelas 1, datang tergopoh-gopoh dari luar. "Ibu, Ibu, iring-iringan pengantinnya sudah datang!" beliau sebenarnya berbisik, tetapi karena suasana sedang hening maka segeralah semua anak mengetahui isi percakapan kami. Spontan, semua siswa saya berlarian keluar menuju teras sekolah dan melompat-lompat demi bisa melihat jalan masuk Serambah. Dari kejauhan memang terdengar irama tabuhan rebana, klakson dan gerungan motor, lalu nampaklah barisan panjang pengiring pengantin dari dusun Tanarata yang berjalan menuju Serambah Barat.

December 11, 2013

The Moment(s) They've Captured

Tangan Haera (kelas 6) membayang di matanya saat ia mencoba memotret dirinya sendiri.

"Ibuuuu, lihaaat! Gambar bunga saya kabur kenapa Bu?" rajuk Kisra, anak kelas 5 yang saat itu kebagian giliran memotret objek yang ia suka.
"Lihat Kisra, kalau memotret tangannya tidak boleh goyang-goyang biar gambarnya bagus," ujar saya sambil mencontohkan cara memegang kamera padanya. Ia manggut-manggut tanda paham.

November 09, 2013

Adit Akhirnya Pulang

Di tengah teriakan anak-anak didik yang asyik bermain bola di lapangan tepi pantai Bhayangkara, saya duduk dan membiarkan kaki terendam genangan air di antara ceruk karang. Fauzan, rekan sepenempatan yang ikut meramaikan piknik mendekati saya tanpa banyak bersuara.

Sejurus setelah saya membaca pesan singkat yang ia tunjukkan, suara anak-anak itu tak lagi terdengar nyata. Sebulir air mata turun perlahan. Saya tak percaya.

***
Halimun di Ranca Upas menjadi saksi akan dimulainya perjalanan kami sebagai guru tepat selepas hasduk merah putih dikalungkan oleh ketua yayasan, Anies Baswedan. Memori itu, tepat lima bulan yang lalu, mengakhiri cerita kebersamaan kami selama dua purnama sebelumnya di camp pelatihan Pengajar Muda. Kami, Pengajar Muda angkatan VI akan segera menjejak tanah baru di lokasi penugasan selama satu tahun ke depan.

Dia orang yang penuh semangat. Ucapannya menggebu-gebu, seakan tak kenal jeda di antara kalimatnya yang penuh optimisme. Perawakannya kecil dengan kacamata bertengger di hidung, senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang cerdas. Apalah namanya jika bukan jodoh, di antara 7500 orang pendaftar, dia salah satu di antara 73 lainnya yang akhirnya dipertemukan dalam idealisme yang sama.

Saya tidak pernah mengenalnya sampai begitu dekat. Interaksi antara kami berjalan begitu normal: guyonan dan diskusi pendek di meja makan, lantunan doa saat sembahyang subuh berjamaah, argumentasi dan dukungan sepanjang microteaching, hingga jabat tangan akhir sebelum tim saya berangkat sebagai tim pertama. Tetapi ada satu perasaan mengikat sebagai rekan satu nasib dan satu rasa. Sudah sejak awal pertemuan di registrasi ulang pelatihan, saya, pun teman-teman yang lain, akan mengamini bahwa kami sudah layak disebut teman seperjuangan. Jalan yang sama. Idealisme yang serupa. Tujuan akhir kami mungkin memang berbeda, tapi satu tahun ini kami akan belajar dan berproses dalam kadar yang hampir sama banyaknya.

Kemarin, 5 November 2013. Saat umat Islam meninggalkan satu tahun di belakang dan menapak satu hari di tahun yang baru, ia pun melanjutkan perjalanannya di tempat yang baru, yang sama sekali lain dengan tempat kami berada saat ini. Lima bulan berjalan dan purnalah tugasnya sebagai seorang pendidik. Ia meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Tampak jelas bayangan saya bagaimana ia menyambut anak-anak didiknya di depan kelas, mengajar dengan penuh semangat, dan ia tunjukkan kecintaannya akan pendidikan dengan memberikan sebaik-baiknya usaha. Berkelebat kemudian, bayangan kursi yang biasa ia tempati untuk menunggui murid-muridnya, papan tulis yang biasa ia bubuhi beragam ilmu, atau bilik kecil tempatnya menanti pagi. Kosong. Bukan lagi raganya yang akan mengisi kekosongan itu.

Aditya Prasetya, telah dicukupkan bekalmu untuk menghadapi penantian hari akhir yang entah kapan datangnya. Sosokmu akan selalu terkenang di hati kami, orang-orang yang sepenuh hati mendukung dan menyayangi. Tetapi rupanya Tuhan lebih sayang pada Adit, dengan cara-Nya yang tak pernah kita ketahui. Semangat juangmu takkan pernah padam, dan justru menjadi minyak pembakar semangat kami yang mungkin memudar. Pengabdianmu tak akan sia-sia. Ketiadaanmu menjadi pemompa harapan kami untuk terus mengestafetkan mimpi di ujung-ujung negeri. Binar mata anak-anak didikmu pasti tak akan bohong, betapa mereka nanti akan merindukan Bapak Gurunya yang senantiasa optimis. Binar mata kami pun, menunjukkan betapa kami bangga kepadamu, Adit.

Selamat menempuh jalanmu yang baru. Kami iri padamu yang nir dalam keadaan begitu tenang, dalam derasnya pengabdian. Umurmu mungkin tidak panjang, tapi kamu telah meninggalkan goresan makna yang begitu panjang di hati orang-orang: keluarga, sahabat, rekan, dan mereka yang ada di Timur sana.

Akan kami lanjutkan perjuanganmu. Jangan pernah merasa sendiri, karena sebenarnya kamu memang tidak pernah sendiri.

*Sore 6 November 2013, jenazah Adit tiba di Lampung setelah menempuh perjalanan panjang dari Saumlaki, Maluku Tenggara Barat. Beberapa rekan Pengajar Muda datang mewakili kehadiran kami, Bapak Anies Baswedan, Bapak Hikmat Hardono, dan tim Galuh pun ikut mengantarkan Adit hingga ke peristirahatan akhirnya. Semoga keluarga dan sahabat yang ditinggalkan diberi ketabahan. amin yaa rabbal al amin.


Selamat jalan, Adit...

October 18, 2013

Obrolan Cepo Mak Masnah

Pada malam-malam yang beranjak sunyi, Emak Masnah senantiasa melakukan hal yang sama: membuat cepo dari bambu. Cepo adalah tempat menyimpan barang-barang dapur atau beragam makanan. Potongan bambu yang diambil dari rumpunnya tersebut ditipiskan, diserut hingga halus kemudian dianyam dan diberi tatakan datar. Tekun sekali Emak mengerjakan satu demi satu cepo berukuran sedang tersebut. Jika sudah banyak yang dibuat, Emak kemudian menjualnya ke Pasar Kepuh yang terletak di pesisir laut. Kadang berjalan kaki turun gunung, kadang menumpang colt, kadang diantar oleh anak tertuanya.

Cepo Emak yang tertumpuk membisu menunggu dijual, bercerita pada saya tentang banyak hal. Mungkin dahulu, cepo itu dibuat Emak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Seperti layaknya penduduk desa yang masih jauh dari hingar bingar konsumerisme ala kota, ada daftar panjang kebutuhan harian yang masih mampu mereka penuhi tanpa campur tangan uang. Contoh terdekat tentu saja penduduk dusun Serambah ini. Mereka mampu memenuhi kebutuhan pangan berupa beras selama satu tahun penuh dari sawah-sawah luas yang membentang hingga ke bukit seberang. Beragam tanaman pangan tumbuh sembarangan - ditanam begitu saja tanpa perawatan - siap dipanen kapanpun empunya mau. Buah-buahan menggantung di pohon menggoda setiap orang yang lewat di bawahnya. Jika mereka ingin ikan, cukup ambil jaring dan turun ke laut mencari beberapa keranjang ikan rencek. Saat angin besar, persediaan ikan kering yang sudah dibuat sejak beberapa bulan sebelumnya siap mengambil alih meja makan. Di sekitar mereka, tumbuh berserakan pohon jati, mahoni, dan pohon berkayu kualitas nomor satu untuk kebutuhan papan. Mungkin satu-satunya yang harus mereka beli adalah baju yang melekat di badan.