Tangannya yang memegang pisau begitu lincah menyayat wortel sehingga menjadi hiasan tumpeng yang cantik. Ditatanya satu persatu di dalam tampah, dan senyum puas segera muncul di wajahnya.
Itulah ibu. Wanita super nomor satu yang akan saya cintai sampai akhir hayat nanti.
Seperti yang ditampilkan dalam sebuah iklan produk deterjen, ibu adalah manusia hebat yang bisa melakukan banyak hal. Dan kali inilah saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh televisi.
Sekilas flash back, ibu adalah seorang sarjana lulusan teknik pertanian yang gagal meraih impiannya menjadi seorang dosen sebuah universitas di Lampung karena keburu menikah dengan almarhum ayah. Membuang jauh-jauh mimpinya, ibu pun kemudian memposisikan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Pendamping kepala keluarga. Suami ayah. Ibu dari anak-anaknya kelak. Saya pikir saat itu adalah momen yang begitu rumit buat ibu. Beliau sempat tidak diperbolehkan menikah dengan almarhum ayah oleh eyang karena 'bentuk' ayah yang sekilas ugal-ugalan. Wow, pikir saya malah keren. Rambut keriting panjang, kumis tebal, mungkin ayah saya tinggal butuh motor harley davidson dan kacamata hitam agar terlihat seperti Indro Warkop masa muda. Tetapi ibu tetap menikah tanpa dihadiri eyang, yang mewakilkan malah kerabatnya, saya lupa. Ibu tampil begitu cantik dalam balutan kebaya putih sederhana, perawakannya yang ideal sempat membuat saya iri. Hahaha.
Dan ibu tidak menyesal menikah dengan ayah tanpa restu sepenuhnya dari eyang. Beliau melahirkan tiga anak yang kini beranjak dewasa.
Semasa kecil saya selalu berpindah-pindah, mengikuti kenaikan jabatan ayah sehingga kehidupan kami pun mulai membaik. Ketika ibu mengandung adik pertama saya, kami masih di Minomartani. Barulah ketika saya masuk SD kami sekeluarga pindah ke sebuah 'rumah dinas' yang diberikan kantor ayah saat itu. Sebuah rumah putih mungil dengan halaman yang luas dan pohon mangga serta jambu besar yang selalu kami panjati. Saat itu Ibu belum punya motor, mobil merah kesayangannya terpaksa dikandangkan kembali di rumah eyang sejak beliau menikah. Suatu hari saya yang masih berumur 4 tahun merengek-rengek pingin ke kantor ayah yang ada di Jalan P. Senopati ( dekat Taman Pintar, sekarang Hotel Limaran). Ibu kebingungan tidak punya kendaraan kemudian beliau nekad mengantarkan saya pergi naik sepeda, dalam keadaan mengandung adik pertama saya. Dengan fisik seperti itu, dari rumah kami di Jambusari sampai ke Ringroad saja saya pikir sudah mustahil. Dan benar, begitu sampai di daerah Gejayan ibu tidak kuat lagi, beliau terjatuh dan akhirnya diantarkan orang-orang ke rumah naik taksi. Saya malu mengingat kejadian itu lagi. Dasar anak bandel =p
Punya suami seorang programmer dan penulis buku komputer ternyata tidak membuat ibu menjadi melek teknologi. Beliau, dengan segala kesederhanaannya, selalu meminta tolong saya mengetikkan sesuatu jika ayah belum pulang. Saya yang masih SD, hahaha. Mungkin ibu sudah malas harus belajar lagi, jadilah saya yang 'dicekoki' ilmu teknologi informasi oleh ayah. Dan hal itu masih terjadi sampai sekarang. Saya maklum ketika ibu meminta saya membuatkan daftar menu untuk ditempelkan di warung, atau sekedar mencetakkan foto-foto milik ibu.
Ketika ayah mulai sakit-sakitan karena gaya hidup yang ia pilih, ibu terlihat cukup drop dengan keadaan tiba-tiba tersebut. Beliau pasti selalu membayangkan keluarga sehat dimana suami istri dapat hidup bahagia sampai tua dan menyaksikan satu persatu anaknya menikah. Ibu menyesal mengapa dahulu membiarkan ayah merokok berat, tidak pernah olahraga, dan mengikuti gaya hidup orang kantoran yang sama sekali tidak sehat dimana pagi sampai malam tidak beranjak dari komputer, dengan rokok selalu tertempel di bibir.
Saat itu pastilah adalah saat-saat terberat dalam kehidupannya. Suami yang sakit dan tidak bisa seproduktif dulu, dua anak yang masih kecil dan butuh uang sekolah, serta satu bayi yang butuh asupan gizi mencukupi. Tapi nyatanya ibu masih tetap tegar, walaupun tidak terlihat sebahagia dulu-tentu saja. Banyak cara beliau lakukan untuk membantu menopang keuangan keluarga, salah satunya dengan menerima pesanan kue dan masakan dengan keahlian memasaknya.
Sayangnya ayah dan ibu tidak selamanya bisa saling menyesuaikan diri. Di saat ayah pergi dan ibu mulai berjuang sendiri, mereka bukanlah pasangan lagi. Pasti ada banyak alasan mengapa semua itu harus diakhiri, dan saya hanya bisa melihatnya dari kacamata kecil saya dan merekamnya dalam otak. Memutar, memutar, memutarnya kembali, dan belajar dari apa yang telah terjadi. Saya hanya diam, mencoba tidak bertanya, memendamnya dalam-dalam, mencoba melupakannya.
Kemudian ibu bertemu dengan seseorang yang kini menjadi suaminya. Kembali saya bisa melihat senyum ibu, di antara kerutan wajahnya yang mulai nampak karena beliau terlalu sering memikirkan banyak hal, selain karena beranjak tua. Saya selalu berharap hanya punya satu ayah saja, tetapi ketika melihat ibu, saya pikir beliau memang sudah seharusnya mendapatkan kembali pendamping agar tidak menghadapi semuanya sendirian lagi.
Kini ibu kembali bahagia, semoga saja. Jejak-jejak itu tidak akan pernah terlupakan, tetapi tidak harus diingat selamanya. Ibu dengan logat khas nya "lha iya..." (dulu saya selalu ga terima kalo ibu sebenarnya tidak tahu tapi pingin kelihatan tahu sesuatu dengan mengatakan kata-kata itu), dengan penampilan tomboynya (ibu selalu mengelak jika saya suruh memakai blus -blus cantiknya yang keseringan ngendon di lemari), dengan tawa bermata sipitnya (persis sekali dengan cara saya tertawa), yang selalu mengingatkan saya untuk berperilaku sederhana dan rendah hati, yang selalu membangga-banggakan anak-anaknya, yang selalu memakai celemek di dalam rumah,
yang menjadi ibu terbaik yang pernah saya punya.
Semoga saya pun bisa menjadi hadiah terindah buat ibu.
amin.