1

.tooya.


Saya 'kurang ajar' pada Wana dan Mba Mega dengan meminjam tablet pen TOOYA mereka. Hahaha. Saya semalam suntuk mencoba bagaimana logo GMAD yang bagus dan elegan, eh ngga nemu juga. saya jenuh, lalu mencoba menggambar ini.
Saiqa Ilham Akbar,, hahaha.
3

.senja di glagah.


Adalah sebuah keberuntungan bagi saya dapat menikmati senja sempurna di pantai Glagah, Kulonprogo. Di tengah ketidakpastian cuaca Jogjakarta, ternyata mengunjungi pantai masih menjadi pilihan yang cukup bijak.
Terjadi banyak sekali perubahan di pantai ini. Beberapa tahun lalu, tepatnya ketika saya masih SMP, saat mengunjungi Glagah tak lebih dari pantai dengan sungai bermuara- udara panas-gersang-dan mitos banyak buaya di sana. sekarang, Glagah telah mendandani dirinya, karena telah ditetapkan sebagai dermaga. Bersih, baru, lapang, kesan itulah yang saya dapatkan.
Saya tertarik dengan barisan beton pemecah pantai yang berderet rapi di sepanjang punggungan pasir pantai.

Awesome..
photo by kinkin

photo by saiqa


4

Nepal 2014.



" ketika kamu berkeliling ke negara lain, maka sebenarnya kamu sedang melihat negaramu sendiri."

itulah baris pertama pembuka buku Tibet di Otak pemberian Pak Maman yang saya baca untuk ketiga kalinya. Buku kumpulan catatan perjalanan dan karya fotografi ini ditulis oleh lima orang traveler-fotografer-arsitek hebat Indonesia, antara lain Jay Subiakto, Enrico Sukarno, Claudia Keeper.

Masing-masing menuliskan diari perjalanan mereka dengan sentuhan personal dan gaya menulis yang berbeda. Tetapi salah satu catatan perjalanan yang paling saya sukai adalah milik Enrico Sukarno, dimana perjalanan itu seperti begitu dinikmati olehnya yang seorang Budha, perjalanan tentang sejarah, budaya, arsitektur, dan tentu saja, religi, dimulai dari Kathmandu, Nepal menuju Shangri-La~Tibet~Atap dunia. Ketika rombongan keluar masuk banyak tempat ibadah dan kuil, mengamati gaya arsitektural masing-masing tempat yang mereka datangi, Enrico membuat begitu banyak kesepakatan batin antara dirinya sendiri, dimana perjalanan ini semacam menjadi sebuah ajang aktualisasi diri. Jadi perjalanan yang dia lakukan tak hanya sebatas memburu eksotika dan wisata kuliner semata. Sebenarnya semua rombongan menceritakan secara umum tentang perjalanan yang sama. Bagaimana mereka menginap dan menikmati begitu banyak aroma yak butter- dan tentu saja merasakannya, bagaimana mereka terkena penyakit mountain sickness, bagaimana perjalanan menantang tapi penuh keindahan misterius di sepanjang jurang menuju Tibet, Durbar Square yang selalu padat aktivitas, lorong-lorong kota yang sekilas mengingatkan kita akan Kotagede, Istana Potala yang mengejutkan, Dalai Lama dan kekaguman mereka akan dirinya, dan banyak lagi bait demi bait panjang yang menarik untuk diikuti.

Istilah Tibet di Otak sendiri sudah diperkenalkan sebelumnya-dan jujur saja- kata-kata itu terpatri dalam ingatan saya. Ketika lembar demi lembar habis terbaca, semakin kuat keinginan saya untuk datang ke salah satu negeri yang paling miskin sedunia-tapi juga menjadi world heritage yang kaya akan peninggalan sejarah itu. Dilengkapi foto-foto yang diambil mereka (tentu saja Jay Subiakto dengan Leica nya membuat saya iri!), lengkaplah sudah antara rasa haus saya akan pengetahuan, seperti apakah Tibet itu.

Lalu mengapa saya ngebet pergi ke sana suatu saat nanti, daripada pergi ke Prancis, atau negara Eropa lainnya?

Semua orang tahu sebagai negara miskin Nepal tergolong negara yang masih tertinggal. Tapi kelebihannya, mereka benar-benar tahu bahwa mereka hidup dari pariwisata, dan semua aset itu terjaga dengan baik. Di antara bangunan-bangunan kubus homogen berwarna keabuan, masih tampak kuil-kuil pemujaan, atau tempat-tempat bersejarah yang walaupun terkesan kumuh tapi mengajarkan tentang apresiasi akan budaya. Di Tibet sendiri masih banyak ditemukan cara pemujaan tradisional seperti praying wheel dan bendera-bendera warna-warni di sepanjang lereng pegunungan yang dipercaya akan membawa doa mereka ke surga. Namun ketika Cina mulai mengintervensi budaya dan 'membangun' budaya baru dengan paksa di atas eksotika Tibet, nampaklah keduanya tidak dapat hidup berdampingan. Tibet sendiri baru saja dibuka setelah adanya gejolak di dalam negara tersebut, sampai Dalai Lama 'mengungsi' ke India, sehingga menurut saya negeri ini semakin menantang untuk dikunjungi.

Dalai Lama


Entah harus berapa rupiah yang saya kumpulkan di tabungan saya, tetapi saya selalu berdoa di tahun saya bisa mengunjunginya besok, saya sudah mendapatkan banyak kemudahan untuk menggapai Tibet.

Dan entah dengan siapa saya akan pergi. Teman-teman? Keluarga? Suami? atau akan menjadi perjalanan eksotis saya sendiri?
Tibet oh tibet...


...di otak.

5

cover minimagz 1st edition


for MINIMAGZ equilibrium 1st edition!
enterpreneurship.

seperti biasa, idenya ian,
dan seperti biasa,
saya jadi babu fotonya..
hahaha

Rektorat UGM, 17 Oktober 2009.
Canon 20 d, 70-200 mm f/4L at 70 mm
f/11 1 sec.
dimainin dikit di Lightroom

sesi foto kali ini sempat membuat sedikit keributan di akhir.
tapi semuanya berjalan lancar.
ugh, sekali kali saya mau punya konsep dan mengeksekusinya sendiri.
karena seharusnya seperti itulah fotografer bekerja. iya kan?
3

hadiah terindah

Tangannya yang memegang pisau begitu lincah menyayat wortel sehingga menjadi hiasan tumpeng yang cantik. Ditatanya satu persatu di dalam tampah, dan senyum puas segera muncul di wajahnya.
Itulah ibu. Wanita super nomor satu yang akan saya cintai sampai akhir hayat nanti.
Seperti yang ditampilkan dalam sebuah iklan produk deterjen, ibu adalah manusia hebat yang bisa melakukan banyak hal. Dan kali inilah saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh televisi.
Sekilas flash back, ibu adalah seorang sarjana lulusan teknik pertanian yang gagal meraih impiannya menjadi seorang dosen sebuah universitas di Lampung karena keburu menikah dengan almarhum ayah. Membuang jauh-jauh mimpinya, ibu pun kemudian memposisikan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Pendamping kepala keluarga. Suami ayah. Ibu dari anak-anaknya kelak. Saya pikir saat itu adalah momen yang begitu rumit buat ibu. Beliau sempat tidak diperbolehkan menikah dengan almarhum ayah oleh eyang karena 'bentuk' ayah yang sekilas ugal-ugalan. Wow, pikir saya malah keren. Rambut keriting panjang, kumis tebal, mungkin ayah saya tinggal butuh motor harley davidson dan kacamata hitam agar terlihat seperti Indro Warkop masa muda. Tetapi ibu tetap menikah tanpa dihadiri eyang, yang mewakilkan malah kerabatnya, saya lupa. Ibu tampil begitu cantik dalam balutan kebaya putih sederhana, perawakannya yang ideal sempat membuat saya iri. Hahaha.
Dan ibu tidak menyesal menikah dengan ayah tanpa restu sepenuhnya dari eyang. Beliau melahirkan tiga anak yang kini beranjak dewasa.
Semasa kecil saya selalu berpindah-pindah, mengikuti kenaikan jabatan ayah sehingga kehidupan kami pun mulai membaik. Ketika ibu mengandung adik pertama saya, kami masih di Minomartani. Barulah ketika saya masuk SD kami sekeluarga pindah ke sebuah 'rumah dinas' yang diberikan kantor ayah saat itu. Sebuah rumah putih mungil dengan halaman yang luas dan pohon mangga serta jambu besar yang selalu kami panjati. Saat itu Ibu belum punya motor, mobil merah kesayangannya terpaksa dikandangkan kembali di rumah eyang sejak beliau menikah. Suatu hari saya yang masih berumur 4 tahun merengek-rengek pingin ke kantor ayah yang ada di Jalan P. Senopati ( dekat Taman Pintar, sekarang Hotel Limaran). Ibu kebingungan tidak punya kendaraan kemudian beliau nekad mengantarkan saya pergi naik sepeda, dalam keadaan mengandung adik pertama saya. Dengan fisik seperti itu, dari rumah kami di Jambusari sampai ke Ringroad saja saya pikir sudah mustahil. Dan benar, begitu sampai di daerah Gejayan ibu tidak kuat lagi, beliau terjatuh dan akhirnya diantarkan orang-orang ke rumah naik taksi. Saya malu mengingat kejadian itu lagi. Dasar anak bandel =p
Punya suami seorang programmer dan penulis buku komputer ternyata tidak membuat ibu menjadi melek teknologi. Beliau, dengan segala kesederhanaannya, selalu meminta tolong saya mengetikkan sesuatu jika ayah belum pulang. Saya yang masih SD, hahaha. Mungkin ibu sudah malas harus belajar lagi, jadilah saya yang 'dicekoki' ilmu teknologi informasi oleh ayah. Dan hal itu masih terjadi sampai sekarang. Saya maklum ketika ibu meminta saya membuatkan daftar menu untuk ditempelkan di warung, atau sekedar mencetakkan foto-foto milik ibu.
Ketika ayah mulai sakit-sakitan karena gaya hidup yang ia pilih, ibu terlihat cukup drop dengan keadaan tiba-tiba tersebut. Beliau pasti selalu membayangkan keluarga sehat dimana suami istri dapat hidup bahagia sampai tua dan menyaksikan satu persatu anaknya menikah. Ibu menyesal mengapa dahulu membiarkan ayah merokok berat, tidak pernah olahraga, dan mengikuti gaya hidup orang kantoran yang sama sekali tidak sehat dimana pagi sampai malam tidak beranjak dari komputer, dengan rokok selalu tertempel di bibir.
Saat itu pastilah adalah saat-saat terberat dalam kehidupannya. Suami yang sakit dan tidak bisa seproduktif dulu, dua anak yang masih kecil dan butuh uang sekolah, serta satu bayi yang butuh asupan gizi mencukupi. Tapi nyatanya ibu masih tetap tegar, walaupun tidak terlihat sebahagia dulu-tentu saja. Banyak cara beliau lakukan untuk membantu menopang keuangan keluarga, salah satunya dengan menerima pesanan kue dan masakan dengan keahlian memasaknya.
Sayangnya ayah dan ibu tidak selamanya bisa saling menyesuaikan diri. Di saat ayah pergi dan ibu mulai berjuang sendiri, mereka bukanlah pasangan lagi. Pasti ada banyak alasan mengapa semua itu harus diakhiri, dan saya hanya bisa melihatnya dari kacamata kecil saya dan merekamnya dalam otak. Memutar, memutar, memutarnya kembali, dan belajar dari apa yang telah terjadi. Saya hanya diam, mencoba tidak bertanya, memendamnya dalam-dalam, mencoba melupakannya.
Kemudian ibu bertemu dengan seseorang yang kini menjadi suaminya. Kembali saya bisa melihat senyum ibu, di antara kerutan wajahnya yang mulai nampak karena beliau terlalu sering memikirkan banyak hal, selain karena beranjak tua. Saya selalu berharap hanya punya satu ayah saja, tetapi ketika melihat ibu, saya pikir beliau memang sudah seharusnya mendapatkan kembali pendamping agar tidak menghadapi semuanya sendirian lagi.

Kini ibu kembali bahagia, semoga saja. Jejak-jejak itu tidak akan pernah terlupakan, tetapi tidak harus diingat selamanya. Ibu dengan logat khas nya "lha iya..." (dulu saya selalu ga terima kalo ibu sebenarnya tidak tahu tapi pingin kelihatan tahu sesuatu dengan mengatakan kata-kata itu), dengan penampilan tomboynya (ibu selalu mengelak jika saya suruh memakai blus -blus cantiknya yang keseringan ngendon di lemari), dengan tawa bermata sipitnya (persis sekali dengan cara saya tertawa), yang selalu mengingatkan saya untuk berperilaku sederhana dan rendah hati, yang selalu membangga-banggakan anak-anaknya, yang selalu memakai celemek di dalam rumah,
yang menjadi ibu terbaik yang pernah saya punya.

Semoga saya pun bisa menjadi hadiah terindah buat ibu.
amin.

3

trade off

saya sering sekali bilang saya engga akan banyak mengeluh
tapi seiring bertambahnya tugas dan hal-hal yang seharusnya menjadi konsekuensi karena saya menerima pekerjaan itu,
saya semakin sering mengeluh

semacam saya harus melakukan trade off
karena ternyata saya belum siap bisa melakukan semuanya.

aih, saya masih anak kemaren sore gini aja udah ngeluh macem-macem
gimana besok kalau saya udah harus naik ke tahap yang lebih kompleks lagi?


saya jadi merutuki diri sendiri.

sebaiknya apa yang harus saya lakukan agar saya tidak selalu mengeluh?oke, berpikir positif adalah salah satunya.
dan berusaha memandang semuanya 'ringan' adalah hal kedua. tapi kemudian jika semua itu terpendam begitu saja,
muka saya bakal jadi ngga enak dilihat seharian. hahaha

bagaimana dengan kalian?
7

.splash!

.splash!.
acara outbond, pos 5, pertamanya lomba ngisi paralon malah jadi perang air panitia.


Makrab KREASI 2009(kumpul rame-rame anak akuntansi) gaweannya anak IMAGAMA di Kaliurang 3-4 Oktober 2009.

Outbond, kalikuning 4 Oktober 2009
Canon 20D with 70-200 f.4L at 70 mm
f.4 speed 1/250

(mungkin akan menjadi foto terakhir dengan canon ku.. T.T)