March 05, 2015

Penghujung Senja Buppak

Kupanggil dia Buppak.

Lelaki tua berperawakan kecil yang penuh keriput, namun mata tajamnya masih memancarkan semangat untuk hidup. Tiap kutanya usianya, ia selalu menggeleng. Lupa kapan tepatnya ia lahir, sebagaimana para warga paruh baya di dusun kecil ini. Mungkin ia telah hadir semasa Jepang menginvasi Indonesia. Atau bahkan sebelum itu.

Buppak - sebutan untuk bapak atau ayah dalam bahasa Bawean - adalah kepala keluarga di hostfam saya semasa penempatan di Pulau Bawean. Beberapa kali mungkin namanya pernah muncul di blog ini. Bapak Misrudi, lelaki berdarah asli Bawean ini mau menerimaku sebagai anak angkatnya di rumah.

Yang paling kuingat dari Buppak adalah tingkahnya yang lucu dan selalu energik. Ia berbicara dengan suara yang keras, membuat ciut nyali lawan bicara yang belum mengenal. Tapi dibalik suara kerasnya tersebut, ia sebenarnya senang melucu. Guyon khas Bawean senantiasa terlontar dari mulutnya yang tak henti menghembuskan asap rokok lintingan.

Rutinitas di rumah Serambah yang selalu membuatku geleng kepala adalah saat pukul enam tiba. Aku, Emak, serta para saudara angkatku biasanya telah duduk manis di dapur yang terpisah dari bangunan utama rumah. Biasanya Buppak belum terjaga dan saat itulah teriakan Emak atau saudaraku, Norma, berusaha memanggilnya.

"Buppak! Tidur terus kerjaannya, bangun! Beri makan sapi, orang lain sudah kerja dari subuh, sudah pulang bawa rumput, Buppak malah belum bangun!" ujar Emak dalam bahasa Bawean. Sekilas Emak seperti orang marah-marah. Begitulah cara orang gunung berkomunikasi karena letak rumah yang saling berjauhan.

Tapi percayalah, itu tanda sayang. Tak pernah lepas Emak atau Norma membuatkan kopi untuk Buppak dan menyiapkan makanan khusus untuknya yang sudah tak punya gigi. Usai sarapan, Buppak akan pergi untuk ngarek (mencari rumput) di gunung dan mengurus sapi. Sapi milik keluarga kami memang hanya empat ekor, tetapi rumput harus terus dicari.

Awal saya berada di sana, pohon aren milik Buppak masih rajin mengeluarkan la'ang (semacam air nira). Ia pergi setiap hari memanjat pohon tersebut dan menyadap la'ang nya untuk dibuat gula merah. Jika pohon aren tak mengeluarkan la'ang, Buppak akan pergi bersama para tetangga untuk memanen sagu di hutan. Beratnya luar biasa dan aku heran Buppak masih kuat mengangkutnya berkilometer dari rumah.

Dan ia selalu bepergian tanpa alas kaki. Kulit kakinya lebih tebal dari sandal gunung sekalipun, tak jera ditusuk kerikil tajam atau dibasuh beceknya jalanan. Bahkan jika ia harus pergi dengan mengenakan sandal demi asas kesopanan, ia sering pulang tanpa membawa sandalnya lagi. Lupa.

Buppak adalah sebuah kamus hidup. Aku sering menghabiskan waktu di malam hari untuk mengobrol dengannya. Semua pengetahuan ia dapat dari pengalaman karena ia tak pernah menyelesaikan bangku sekolah. Bercocok tanam, mencari ikan di laut, atau beternak sapi. Jika siang ia membuat jaring ikan, satu demi satu lubang jaring ia rajut hingga akhirnya tertidur begitu saja di kursi. Emak akan selalu berseloroh setiap melihat Buppak tertidur, 'Lihat Bu, itu namanya orang tua sudah tak punya gigi,' kemudian kami tertawa.

Tiap aku pergi ke Jawa, Buppak akan selalu menitipkan hal yang sama: tembakau untuk rokok lintingnya. Padahal Buppak punya penyakit batuk kronis menahun. Tapi asap rokok tetap kencang terhembus dari mulutnya. Katanya, Tuhan tak pilih-pilih orang mati. Merokok atau tidak, dia akan tetap mati.

Terakhir menatap wajah Buppak, Emak, dan puluhan warga Serambah lainnya adalah saat perpisahan kami di dermaga Bawean. Buppak ikut mengantarkan karena ia bisa sekalian melihat-lihat kota. Jarang betul Buppak bisa ke kota, paling jauh ke laut yang hanya sepelemparan batu dari gunung. Saat itu Buppak mengenakan kemeja hijau kotak-kotak pemberian anak bungsunya di Malaysia, dengan topi merah andalannya, biasanya Buppak mengenakan kemeja batik panjang khas orang tua. Melihatku menangis, Buppak tidak ingin bicara apa-apa. Tatapan matanya sendu, bahkan ia tidak menjawab salamku karena menahan haru. Sebelumnya Buppak sudah berjanji sekaligus sedikit angkuh mengatakan ia tidak akan menangis ketika aku pergi dari Bawean.

Buppak memang tidak menangis, tapi aku yang kembali menangisinya karena seminggu lalu ia akhirnya pergi.

Sebulan tergolek di tempat tidur karena beberapa penyakit, Buppak akhirnya dibawa ke puskesmas di kecamatan. Ketika kulihat Buppak dari foto yang dikirimkan Bu Sofi lewat Whatsapp, hatiku mencelos. Lelaki yang kuat perkasa di masa mudanya ini kini hanya jadi tulang berbalut kulit. Aku tidak dapat berharap banyak dari pengobatan ini karena dua hal: Buppak dan keluarga tidak akan betah berlama-lama di puskesmas dan puskesmas pun tidak dapat diandalkan karena minimnya fasilitas dan peralatan. Hanya tiga hari di sana Buppak dibawa pulang dengan anggapan bahwa dukun akan lebih mujarab dalam mengobati.

Selama beberapa hari sepulang dari rumah sakit aku tidak pernah lepas menanyakan keadaan Buppak lewat Bu Sofi, guru SD tempatku mengajar yang juga sering menginap di rumah Buppak. Kukirimkan beberapa obat herbal yang sekiranya bisa meringankan sakit Buppak sekaligus memberikan saran tentang asupan makanan Buppak. Hanya itu yang bisa kulakukan, sementara untuk langsung pergi ke sana belum memungkinkan. Tapi obat herbal itu belum sempat dicoba Buppak.

Selang dua hari setelah anak bungsunya datang dari Malaysia demi menjenguknya, Buppak meninggal dunia. Ia pergi di tengah keluarga yang lengkap menemaninya dan menyayanginya sepenuh hati.

"Bu Kinkin, saya menyesal tidak bisa membantu merawat Buppak dengan baik. Kenapa waktu itu saya biarkan Buppak pulang dari puskesmas. Saya kadang-kadang masih marah sama diri sendiri, Bu," ujar Bu Sofi lewat pesan whatsapp kepada saya.

Bu Sofi, saya menyesal karena saya terakhir kali hanya melihatnya dari jauh di dermaga. Saya tidak pernah menyangka itu pertemuan terakhir saya dengan Buppak. Saya menyesal jarang telpon Buppak, walaupun dia bukan orang tua kandung saya, tapi dia mau menerima dan direpotkan oleh saya.

Orang baik akan pergi dengan cara yang baik pula. Kali ini Buppak diberi jalan terbaik berupa kesembuhan dengan cara yang diberikan oleh Allah. Teriring Al-Fatihah untuk Buppak, semoga tenang penantianmu di sana.

Foto favorit alm. Buppak. Biar giginya tinggal satu, tetapi tertawa harus paling seru...

January 02, 2015

Ayu dan Refleksi Tahun Baru

Acara gathering yang diadakan di sebuah kantor akuntan publik sore itu sempat membuat saya khawatir. Sejak awal acara dibawakan dalam bahasa inggris karena audiensnya tak hanya orang Indonesia. Padahal, ada salah satu pengisi acara yang juga merupakan adik asuh di yayasan kami. Mampukah ia presentasi dalam bahasa inggris di depan para profesional yang meluangkan waktunya sesaat untuk duduk manis mendengarkan kami?

"Gapapa Kak, saya pakai bahasa Inggris saja," Ayu, nama pengisi acara termuda tersebut, berdiri dengan penuh percaya diri ketika ditawari untuk menggunakan bahasa indonesia dalam speechnya. Decak kagum segera muncul dari sesama pengisi acara. Anak ini tidak main-main.

Lalu terdengarlah suaranya memperkenalkan diri dalam bahasa inggris yang lancar. Ruangan seketika senyap memperhatikan Ayu menjelaskan perihal keinginannya melanjutkan studi di Jepang. Saya yang duduk di kursi operator, seketika harus membalikkan badan untuk menyeka air mata. Saya terharu karena ia ternyata mampu melampaui ekspektasi kami semua.

Ayu saat memperkenalkan dirinya di depan audiens. (Foto oleh: Dwinawan)
Bertahun lalu, Ayu mungkin hanyalah satu dari sekian banyak 'anak desa biasa' yang hidup di pelosok Bantul, Yogyakarta. Pertemuannya dengan Hoshizora Foundation memberikannya satu alasan kuat untuk bisa melihat dunia lebih luas. Dengan kemampuannya sendiri, Ayu mengumpulkan berbagai informasi penting mengenai sekolah favorit yang ia incar: MAN Insan Cendekia di Tangerang. Ia ceritakan bagaimana dirinya mempelajari sendiri bahasa Arab melalui internet dan bertanya sana-sini demi bisa lulus ujian masuk sekolah bergengsi tersebut. Jika bukan karena tekad, seorang Ayu mungkin akan kesulitan menembus batas-batas dirinya untuk bisa memperoleh informasi yang diinginkan.

Ayu kini sudah menginjak tahun ketiga bersekolah di sana. Prestasinya luar biasa: keluar dari zona nyamannya, jauh dari keluarganya, demi menempa diri agar bisa lebih baik. Ada satu mimpi yang kini ia kejar yaitu mendapatkan beasiswa Monbukagakusho untuk menempuh studi Ilmu Komputer di Jepang. Kala saya menjabat tangannya saat perpisahan kami di Stasiun Tanah Abang, binar mata dan senyumnya menunjukkan bahwa ia akan punya masa depan yang cerah.

(Ayu menuturkan perjalanan panjangnya meraih cita-cita secara lengkap di sini.)

Di yayasan tempat saya bekerja saat ini, saya temukan banyak Ayu-Ayu lain yang tak kalah menginspirasi. Saya sering merinding saat mengetikkan cerita-cerita mereka untuk berbagai media publikasi. Anak-anak ini punya masa-masa yang lebih sulit daripada orang kebanyakan, tetapi di saat yang bersamaan mereka pun punya masa-masa yang lebih hebat untuk dikenang. Mereka ini tidak mau terkekang dalam himpitan ekonomi yang mungkin sudah dirasakan sejak baru belajar berjalan. Beberapa mulai mekar berkembang, ada yang berhasil kuliah di universitas idaman, ada yang mulai merintis usaha, ada yang bekerja lebih dari apa yang pernah dibayangkan, tapi ada pula yang masih bingung apa yang ingin diraih kemudian.

Kemudian saya malu pada diri sendiri. Saat saya di usia yang sama, sudah sekeras inikah saya berjuang meraih cita-cita? Kini ketika usia saya menginjak kepala dua puluh, sering sekali ada keinginan yang berakhir dengan gumaman "Ah, kenapa nggak dari dulu…"

Saya tidak mencoba pertukaran pelajar saat SMA padahal saya ingin. Saya tidak mencoba mengikuti kursus bahasa Spanyol padahal saya ingin. Saya tidak mencoba mengikuti berbagai kegiatan unik padahal saya ingin. Saya tidak melanjutkan studi di jurusan idaman padahal saya ingin.

Dan banyak "saya tidak mencoba … padahal saya ingin" lainnya yang kini saya sesali.

Saya menyesalinya bukan karena saya telah melakukannya, tetapi justru karena saya tidak mau melakukannya. Saya kepalang takut dan gundah melihat sekeliling, bukannya memperkuat motivasi dan menjadi percaya diri.

Nyaris tiga bulan saya bekerja di yayasan ini, saya menemukan banyak hal baru. Salah satunya adalah bahwa motivasi dan inspirasi tak melulu datang dari mereka yang lebih tua. Ternyata mereka yang berusia jauh di bawah kita membawa hal-hal baru yang tak terpikirkan oleh kepala. Di usia dua puluhan ini nampaknya banyak hal yang masih belum terlambat untuk dikejar. Mumpung belum menikah, belum berkeluarga, dan belum membawa serentetan tanggung jawab baru lainnya. 

Jadi resolusi 2015 adalah mencoba apa yang sedari dulu saya ingin. Sebelum terlambat dan saya hanya bisa menyesalinya.

Selamat tahun baru 2015. Semoga di tahun ini kita bisa lebih baik dari sebelumnya, bisa lebih bermanfaat bagi sesama. Kurangi meminta dan menuntut, perbanyak memberi. Percayalah, itu tidak akan membuatmu merasa kurang.

***

Kini saya membantu teman-teman di Hoshizora Foundation, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang concern terhadap pendidikan dengan memberikan beasiswa kakak asuh kepada adik asuh di seluruh Indonesia agar dapat terus melanjutkan pendidikannya. Tertarik menjadi kakak asuh dan melihat sendiri bagaimana adik asuhmu berkembang? Sila klik hoshi-zora.org :)

November 22, 2014

Jenis-Jenis Pengendara Motor di Jogja: Sebuah Pengamatan (Tidak) Ilmiah

Sebulan terakhir saya rutin membelah Jogja. Bagi yang rutin main atau bahkan asli wong Jogja pasti tahu meskipun daerah istimewa ini kelihatannya hanya seuprit di peta pulau Jawa, tapi luasnya nggak kira-kira. Hahaha. Jadi setiap hari kerja saya harus berangkat dari rumah di dekat Ringroad Utara (kampus UGM) ke kantor di wilayah kota Bantul yang jauuuuh di selatan. Karena itulah saya sebut 'membelah Jogja'. Jarak tempuh satu arah sekitar 15an kilometer. Lumayan...

Nah, dengan jarak pulang pergi sejauh itu, saya tidak mau menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk berlama-lama di jalan. Jadilah selama beberapa minggu pertama saya mencoba beragam rute pulang pergi demi mendapatkan efektivitas dan efisiensi maksimal! Pertama saya mencoba pulang pergi lewat tengah kota Jogja, menyusur jalanan utama nan padat yang saya biasa lewati. Daripada nyasar? Tapi saya bisa habis 1 jam lebih di jalan dan melewati lebih dari 15 lampu lalu lintas. Kemudian saya disarankan memutari Ringroad saja, karena meski lebih jauh lampu lalu lintas lebih sedikit dan jalannya tidak sepadat lewat dalam kota. Enak sih, hanya habis 35-45 menit saja di jalan, tapi lawan saya truk-truk gede dan bis AKAP. Akhirnya saya coba rute kombinasi (berasa pesen roti bakar) melewati jalan mblasuk lewat Goa Selarong dan akhirnya blusukan lewat Soragan. Waktunya tidak jauh beda dan tidak selelah saat saya menggunakan jalur Ringroad.

Jadinya curhat.

November 16, 2014

Gunungkidul Pada Suatu Hari


Pagi masih muda. Ine memacu cepat kendaraannya, berkejaran dengan jarum menit yang belumlah genap melewati pukul enam. Hawa pagi ini tak membuat kami menggigil, mengingat semalam harus terbangun berkali-kali karena gerah bukan main. Akhir musim kemarau di Jogja kali ini cukup menyiksa: udara kering berdebu dan suhu yang cukup membuat kepala cenat-cenut.

Berangkat dari Kota Bantul, sepeda motor Ine arahkan menuju timur melewati jalan lintas kabupaten yang mulus dan berkelok-kelok. Kami menuju Gunungkidul untuk kepentingan kunjungan ke sekolah yang menjadi mitra yayasan. Saya selalu suka perjalanan ke Gunungkidul apalagi pada pagi hari. Pemandangannya luar biasa. Barisan pohon jati yang meranggas dan berwarna kemerahan adalah favorit saya.

Enaknya ke Gunungkidul lewat 'jalan belakang' adalah jalanan yang cenderung lebih lancar dan sama bagusnya dengan lewat jalan utama yang biasa dilewati truk-truk dan warga Jogja. Meski tanjakannya membuat motor matic Ine ngos-ngosan, akhirnya kami tiba juga di Playen, sebuah kecamatan di tengah Gunungkidul. Kalau kata orang kecamatan di Jogja itu besarnya seperti kabupaten, saya setuju seratus persen. Luas banget!

November 01, 2014

Dicari, Pelari Terakhir! (+Pengalaman Seleksi Indonesia Mengajar)


jalan masuk menuju Dusun Serambah, dusun penempatan saya di Pulau Bawean (2013)
*tulisan ini saya buat berbekal potongan ingatan dari lebih setahun yang lalu. maaf jika ada kesalahan penulisan, ya :)

Rasanya baru kemarin saya menapakkan kaki di Jalan Galuh II no 4 sembari menggendong sebuah carrier, dengan perasaan tidak karuan karena selanjutnya hidup saya akan berbeda. Halah. Yap, 22 April 2013 adalah hari bersejarah karena itulah hari pertama saya akan memasuki camp pelatihan Pengajar Muda VI. Hampir satu setengah tahun yang lalu! Oh maaan, cepet banget!

Perjalanan panjang tersebut dimulai dari sebuah titik balik. Alkisah pada akhir tahun 2012, dengan langkah gontai saya memasuki gedung Grha Sabha Pramana UGM untuk mengikuti talkshow Indonesia Mengajar bersama Pak Anies Baswedan. Motivasi saya saat itu hanya ingin lihat Pak Anies Baswedan saja. Sudah sejak lama saya 'tersihir' oleh berbagai speech beliau dan kali ini ingin saksikan langsung di depan mata. Selain Pak Anies, saat itu ada beberapa alumni Pengajar Muda yang ikut bercerita tentang pengalamannya selama di penempatan. Keluar dari ruangan kok ya tekad saya bisa berubah: saya ingin jadi Pengajar Muda! (thanks to Mas Arief Lukman Hakim yang sukses bikin saya ngiler ingin punya pengalaman yang sama serunya)

Dan sekarang, 1 November kembali datang. Rekruitmen Pengajar Muda angkatan X sudah dibuka. Indonesia Mengajar mengundang putra-putri terbaik bangsa untuk mengabdikan satu tahunnya di pelosok negeri. Yap, sudah sembilan angkatan yang sedang dan akan diterjunkan ke 17 kabupaten di seluruh Indonesia dan angkatan 10 siap menyusul. Apakah kamu salah satunya? Jika tertarik untuk mendaftar bisa langsung klik link INI ya.. :)

October 10, 2014

Sebulan Jajal Food Combining, Apa Hasilnya?

"Orang kurus kayak kamu itu justru harusnya lebih waspada. Mereka yang gampang gemuk punya alarm untuk atur pola makannya ketika berat badan mulai berlebih. Untuk kamu yang susah gemuk pasti akan merasa tenang makan apa saja. Baru nanti waktu tua kebingungan kok kadar kolestrol dan tensi lebih tinggi dari mereka yang gemuk."
Suatu ketika seorang sahabat, yang sayangnya saya lupa siapa, kurang lebih mengatakan hal seperti ini pada saya. Saat itu kami sedang berkumpul dan membahas betapa beruntungnya orang macam saya yang tidak perlu waswas makan terlalu nggragas. Cetaar! Rasanya kayak dislepet pakai sarung dan tetiba air muka saya langsung muram terngiang-ngiang hal tersebut.

Ah, yang benar orang kurus juga rentan kena kolestrol tinggi dan penyakit lain - sebut saja, hipertensi?

Pencarian saya berlanjut dengan bertanya kepada teman-teman dokter dan membaca berbagai sumber di internet. Kesimpulannya, kelaziman orang kurus dan gemuk dalam hal kadar kolestrol tinggi tidak jauh beda. Sama aja paparannya. Ini cukup masuk akal. Saya tidak pernah merasa khawatir makan apapun yang berlemak, bahkan ada masanya saya senang betul dengan junkfood dan daging merah olahan. Olahraga jarang, dulu cuma seminggu sekali saat jam olahraga di sekolah. Saat kuliah lebih jarang lagi. Dan memang, saya tidak pernah menjadi gemuk. Sejak SMP berat badan saya konsisten di bawah 50 kilogram dengan tinggi 163 cm. Underweight cuy! Kalaupun naik hanya 2-3 kilogram. Jika pola makan saya kendor sedikit akibat banyak kerjaan atau sedang tidak nafsu, berat badan akan kembali ke awal. "Dimulai dari nol Bu..." *menghela napas karena gagal gendut

October 02, 2014

Riuhnya Prau di Akhir Minggu

Berhenti sejenak di pos 3 sambil lihat kepulan debu yang dihasilkan pendaki yang menuruni lereng Prau
(journalkinchan)
Setelah membuat posting panjang mengenai keresahan saya saat mendaki Gn. Prau beberapa waktu lalu, tidak afdol rasanya jika tidak memposting foto-foto saat mendaki dan mencari matahari terbit di sini. Karena malas  tidak keburu mengeluarkan kamera DSLR untuk memotret (lebih praktis jepret pakai Go Pro -.-) maka tidak banyak foto yang saya hasilkan. Karena itulah saya meminta izin pada Lingga Binangkit, seorang teman yang mendaki bersama juga, agar ia mengizinkan beberapa fotonya dimuat di blog ini. Dan berhasil, yes! Haha. Oh iya, Lingga ini meski lumayan baru di dunia fotografi tapi hasilnya foto-fotonya ciamik dan ga kalah dengan fotografer yang udah malang melintang belasan tahun. Sayangnya satu foto startrail bikinan dia lupa belum saya minta, lagipula penuhnya tenda di puncak Prau saat itu bikin foreground foto jadi nggak oye. Gaya yah, padahal bukan saya juga yang foto :))  Akhirnya saya dapat foto startrail bikinan Lingga!