Friday, March 16, 2012

Bumi Halmahera (12): Triple Combo Morotai part 1

 

Tidak seluruh acara jalan-jalan saya berlangsung dan berakhir menyenangkan. Ada satu dua pengalaman yang berkesan sekaligus tidak ingin saya ulangi. Transportasi yang jelek, cuaca yang tidak mendukung, atau kondisi tim jalan-jalan yang tidak baik dapat menyebabkan pengurangan kenikmatan jalan-jalan. Dan jika yang terjadi adalah kolaborasi ketiganya, maka akan menghasilkan mimpi buruk.

"Morotai itu pulaunya gersang gitu, ga ada apa-apanya. Yang bagus emang underwater view nya."
ucapan Andrea saat itu hanya menjadi angin lalu bagi saya dan teman-teman satu subunit. Andrea adalah tim KKN Jailolo Timur tahun sebelumnya, dan dia sempat mengunjungi (baca: honeymoon) Pulau Morotai pada medio 2010.

Sudah sejak saat perencanaan keberangkatan KKN kami memasukkan Morotai sebagai salah satu destinasi wajib dikunjungi di Maluku Utara. Pikiran kami saat itu sama: pulau-pulau di Maluku pasti berpasir putih dan lautannya berwarna biru toska. Saya sendiri sudah membayangkan tidur-tiduran di atas pasir putih halus di tepi laut sambil makan kelapa muda. Kalau bosan tinggal nyemplung ke laut atau duduk-duduk di dermaga.

Setelah seluruh kegiatan KKN di desa kami selesai (atau dipaksa selesai saat itu, hahaha) akhirnya pada awal Agustus 2011, di tengah teriknya siang di awal bulan ramadhan, kami berangkat menuju Pulau Morotai. Pada perjalanan kali ini kami ditemani Acil, pemuda desa Akelamo Kao yang menawarkan diri menjadi guide kami.

"Tenang saja, saya pe banyak saudara di Morotai... hahaha..." ujar Acil dengan penuh rasa percaya diri. Wah, akomodasi aman nih, pikir saya.

Sebenarnya perjalanan ini sudah hampir batal karena kejadian tidak mengenakkan yang bikin saya ngambek (oke ini curcol). Ditambah lagi, pada malam sebelum keberangkatan, Indro mengalami demam sangat tinggi dan badannya terus-terusan menggigil. Hanya satu pikiran kami saat itu: Indro mungkin kena malaria.

Akhirnya kami membawa Indro ke bidan desa. Indro yang takut jarum suntik saat itu sudah tidak bisa melawan lagi. Untunglah saat itu alat tes malaria tersedia. Dalam 25 menit kami mendapatkan hasilnya, dan yak! Indro positif malaria. Bidan desa nampaknya sudah terbiasa menghadapi kondisi itu, dia hanya memberikan wejangan singkat tentang perawatan sederhana untuk Indro. Tetapi karena kurang yakin akan hasil tes tersebut, kami berniat membawa Indro ke RSUD Tobelo keesokan harinya untuk mengikuti tes lagi dan mendapatkan pengobatan yang lebih layak.

Tobelo yang merupakan ibukota Halmahera Utara adalah kota terbesar di Halmahera dengan jumlah penduduk sekitar 25 ribu jiwa. Biasanya kapal-kapal pembawa logistik dan beragam barang kebutuhan lebih banyak merapat di Tobelo daripada Sofifi, ibukota Halmahera Barat. Kota ini sangat hidup dan bisa disandingkan keramaiannya dengan Ternate. Dan ya ampun, banyak sekali paras putih cantik dan tampan berseliweran di Tobelo karena percampuran antara darah Maluku, Bugis, Tionghoa, Portugis, hingga Philipina. Kebayang kan ya, remaja tanggung berparas Indo dengan kulit putih susu melenggang begitu saja di antara keramaian pasar. Atau lelaki bermuka Philipina dengan alis tebal khas Maluku berjualan handphone di outlet samping mall. Saya jadi ingat salah satu pemain sepakbola Akelamo kao yang saya idolakan karena mukanya mirip artis Thailand ternyata tidak ada apa-apanya di sini. Hahaha. 

Singkat cerita, Indro ternyata positif malaria. Kondisinya lemah tetapi dia tidak diharuskan untuk mondok di rumah sakit. Obatnya sebenarnya mudah: banyak makan, banyak minum air, minum susu, dan jangan lupa minum obat. Dengan wanti-wanti dokter tersebut kami sampai pada sebuah kesimpulan: asalkan Indro dijaga makan dan kesehatannya, dia pasti bisa ikut kami ke Morotai!
 
Seselesainya memeriksakan Indro, hari sudah beranjak sore. Karena itulah kami memutuskan untuk menginap di losmen dekat pelabuhan. Tetapi karena hari masih sore, kami menyempatkan jalan-jalan keliling Tobelo setelah mendapatkan penginapan. Kami mampir ke sebuah pantai di Desa Luari, Tobelo. Kata pak supir oto, pantai ini terkenal dengan arusnya yang tenang dan semenanjungnya yang cantik. Tapi yak sekali lagi kami tidak beruntung. Pantai Luari airnya sedang pasang dan langit mendung membuat saya tidak bersemangat bermain di sana. Kami hanya mampir sebentar dan segera beranjak sebelum adzan magrib berkumandang.

menyempatkan diri bikin beginian

Sembari mencari makanan berbuka, kami mencoba berkeliling kota dengan berjalan kaki. Suasana malam hari di Tobelo, apalagi di bulan puasa, sangat meriah dalam arti sebenarnya. Anak-anak Tobelo suka sekali bermain petasan dan sudah tidak terhitung lagi berapa kali kami yang sedang menyusuri jalan dilempari oleh mereka. Sampai-sampai saya yang sebenarnya takut sekali sama petasan menjadi terbiasa. Selain itu, banyaknya warung penjual CD dan DVD lagu-lagu Indonesia dan Maluku di pinggir jalan membuat telinga saya semakin terasa budheg. Lagu-lagu yang ngehits di kampung saya seperti Alay, Hamil Tiga Bulan, Asolole, dan lagu-lagu lain yang menyedihkan diputar dengan suara memekakkan telinga untuk mendatangkan pembeli.

Ketika pagi masih muda, kami sudah bersiap di depan losmen menunggu dijemput oleh angkot yang akan mengantarkan kami ke pelabuhan Tobelo. Angkot di Tobelo persis seperti angkot di Ternate, Sofifi, dan beberapa wilayah lain di Maluku Utara: si sopir hobi sekali menyalakan musik dengan volume maksimal! Dan lagu yang diputar tidak jauh-jauh dari genre dangdut koplo. Jadi ketika kita berpapasan dengan angkot lain seakan-akan sedang terjadi duel musik dahsyat. Terkadang jika kami melewati rumah penduduk, mereka akan memaki-maki si sopir yang tidak peduli dengan suara musik yang dapat membangunkan bayi-bayi.



Suasana pelabuhan Tobelo pagi itu tidak begitu ramai. Hanya ada satu dua kapal mesin yang menunggu berangkat. Kami agak kesulitan mencari speedboat yang mau mengantar ke Morotai, ada pun harganya mahal jika dicarter hanya untuk 8 orang. Saat duduk di tepi dermaga speedboat itulah saya mendapatkan kabar duka bahwa Mami Kantin Padmanaba tutup usia. Seketika saya menangis dan mood saya turun drastis. Ditambah mendung yang menutupi matahari dan teman seperjalanan yang sakit parah, rasanya saya hanya ingin duduk dan merenung saja. Tetapi seorang petualang tidak boleh putus asa dan mudah bersedih. Akhirnya setelah sedikit mengobrol dengan Siti, saya kembali bersemangat.

di dermaga ini saya duduk merenung

Sementara kami duduk menunggu penumpang Indro terus-terusan mengeluh sambil tersenyum kecut, 'iki kok aku iso-isone melu nang Morotai...' (ini kok aku bisa-bisanya ikut ke Morotai..)

Setelah hampir 1 jam menunggu, kami mendapatkan penumpang tambahan. Speedboat pun segera dipenuhi penumpang dan barang-barang yang naudzubillah banyaknya. Interior speedboat yang berwarna biru dan langit-langit yang pendek sedikit membuat mata saya pusing. Segera saya ambil posisi duduk sambil memeluk tas, baiklah, gelombang laut pagi ini nampaknya tidak begitu bersahabat. Saya bersiap untuk guncangan selama 2 jam perjalanan nanti.

tepi pelabuhan Tobelo, bersiap berangkat

Benar saja, rupanya gelombang laut sedang tinggi. Mendung pun menggantung sejak pagi tadi, rasanya seluruh lautan hanya nampak berwarna abu-abu. Hujan rintik-rintik sepanjang perjalanan. Berkali-kali speedboat terhempas keras di permukaan laut setelah 'terbang' akibat gelombang. Ditambah lagi pengemudi speedboat yang menyetir kayak lagi balapan. Padahal jika speedboat terlalu ngebut dapat menyebabkan badan speedboat pecah terkena ombak. Cerita mengenai dua kecelakaan speedboat yang pecah membuat saya sibuk mencari-cari letak life jacket dan ternyata ada di bawah kaki. Saya sudah mulai merasa mual dan pandangan saya berkunang-kunang. Dalam hati saya kasihan sama Indro, dia tidak bisa berenang dan takut air dalam, ditambah sakitnya yang parah, pasti ini menjadi perjalanan paling menakutkan dalam hidupnya.

Dua jam di dalam speedboat yang tergoncang keras dan bunyi mesin yang begitu berisik sangat tidak nyaman rasanya. Bermacam posisi tidur sudah saya coba dan berakhir dengan selonjoran cuek di atas kursi kapal. Ketika saya sudah sampai di puncak bosan, mesin kapal menderu lebih pelan. Saya kira sudah akan sampai, rupanya pulau masih jauuuh di sana. Speedboat harus menurunkan kecepatan karena semakin mendekati pulau, akan semakin banyak bangkai kapal selam dan pesawat peninggalan Perang Dunia kedua di sekitar Pulau Morotai. Nampak besi-besi tua menyembul dari permukaan laut, saya bergidik ngeri membayangkan lambung speedboat sobek akibat nyangkut disitu, hiii..

Barulah setengah jam kemudian speedboat benar-benar merapat di Pelabuhan Morotai. Alhamdulillah, Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk hidup lebih lama. Suasana pelabuhan cukup ramai dan sudah nampak apa yang diceritakan oleh Andrea: pulau ini gersang. Kami bersegera mencari transportasi untuk mencapai rumah saudara Acil yang terletak di dekat wilayah transmigrasi dan bandar udara Morotai. Kami memilih untuk naik ojek karena katanya bentor tidak kuat untuk jalan menanjak. Dalam hati saya berpikir, emang kayak apa sih jalannya sampai bentor aja nggak kuat?

...bersambung ke part 2

Tuesday, March 13, 2012

Let's Start Postcrossing (again)!



Saat saya masih ingusan dan jalan kemana-mana ga sisiran (aib banget sih ini), almarhum ayah sudah mengenalkan saya pada benda-benda pos. Ia mengajak saya berburu perangko luar negeri jadul di sebuah toko buku tua di pinggir Jalan Gejayan. Saya masih ingat harganya, satu set perangko isi 3-4 buah dihargai 1.750 rupiah. Kemudian ayah akan mengajak saya ke toko buku Gramedia. Membeli beberapa kartu pos dengan foto-foto tempo doeloe yang cantik. Saya pernah punya album perangko yang isinya sampai penuh. Saya punya beberapa sahabat pena hasil korespondensi di majalah Bobo. Saya juga mengoleksi kertas surat yang bergambar lucu dan hobi bertukar dengan teman-teman SD.

Intinya, saya sudah familiar dengan dunia filateli sejak kecil.

Kemudian saya lupa asyiknya berkirim surat sejak mengenal internet. Ayah pula yang mengenalkan saya pada hal itu, hahaha. Saya mulai lebih suka untuk belajar mengetik dan menggambar di komputer ayah atau ikut beliau mengajar ke lembaga komputernya di Kotabaru saat itu. Dan saya pun beranjak dewasa pada hingga saya mulai mengenal berbagai media sosial yang secara instan bisa menghubungkan saya dengan banyak orang dari belahan dunia lain. Saya terlena oleh kecanggihan internet.

Suatu saat, saya kemudian nyasar ke sebuah blog. Pemilik blognya dengan bangga menyatakan bahwa dia suka sekali mengoleksi dan bertukar kartu pos. Saya kembali teringat hobi lama saya: filateli. Dan entah mengapa, karena membaca artikel dia pula, saya kembali bersemangat untuk menjalani hobi ini lagi!

Bedanya, kali ini saya tidak membeli kartu pos. Saya membuat kartu pos saya sendiri dari foto-foto hasil jepretan saya. Saya desain dan cetak sendiri kartu pos tersebut. Foto dan desainnya mungkin tidak begitu bagus, tapi saya buat dengan kasih sayang dan penuh sentuhan personal lo... hahaha. Oke ngaco.

Di awal tahun ini saya mendapatkan kartu pos dari dua teman yang punya hometown di Sumatera. Yap, Ferzya yang tengah pulang ke Aceh mengirimi saya kartu pos bergambar Masjid Raya Baiturrahman yang terkenal itu disertai doa agar saya bisa segera mengunjunginya. Beberapa hari kemudian, kartu pos datang dari Palembang. Adit, si pemilik blog Shutter Backpack yang menginspirasi saya tersebut, mengirimi saya kartu pos bergambar Masjid Agung Palembang! Ah. Tanah Sumatra belum pernah saya pijak. Segera...

Saya mulai menemukan kenikmatan kembali di hobi ini. Menyenangkan sekali rasanya mencetak kartu-kartu itu, memotongnya satu persatu, menuliskan sebaris kalimat sapaan atau cerita pendek, menggambar di atasnya, menempelkan perangkonya, dan akhirnya kartu pos itu bersama ribuan surat lain, terkirim ke tempat tujuan. Saya membayangkan penerimanya akan tersenyum ketika melihat kartu pos itu terselip di bawah pintu rumah ketika dia pulang. Seperti saya sendiri yang histeris seperti anak kecil yang ketika pulang ke rumah Lik Yem menyambut dengan kalimat, 'ada yang ngirim pos nok...'

Suatu hari, saya membaca beberapa artikel mengenai sebuah proyek seni visual yang dilakukan sekelompok seniman. Mereka menuliskan R.I.P di permukaan kotak pos tersebut kemudian didokumentasikan. Maksudnya adalah kotak pos telah kehilangan fungsi dan kini seperti kuburan karena tergantikan oleh teknologi. Artikelnya dapat dibaca disini dan disini.

Jujur, saya sebel bacanya. Mereka menganggap pos sudah tidak ada fungsinya lagi. Salah besar, pikir saya. Masih banyak orang-orang yang mengandalkan jasa pak pos dan rutin mendatangi kantor pos untuk mengirimkan surat-surat. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan kecepatan informasi, masih banyak orang-orang yang berharap surat dari teman jauh terselip di bawah pintu rumah mereka. Masih banyak orang-orang yang menikmati hobi berkirim surat, bertukar kartu pos, dan mengoleksi benda-benda filateli.

Mungkin memang tidak semua orang setuju dengan saya. Kalau bisa kirim email, kenapa harus susah payah kirim surat dan tunggu balasannya aja lama? Kalau bisa tag foto via FB, kenapa harus mencetaknya menjadi sebuah kartu pos agar penerimanya melihat hasil karya foto kita?

Boleh saya jawab dengan satu kalimat?
"Karena berkirim surat itu romantis, bertukar kartu pos itu sangat manis :)"

*baru tadi malam saya bergabung dengan komunitas Postcrossing. Ternyata anggotanya cukup banyak, mencapai 300 ribu orang. Saya langsung diseret bergabung ke Komunitas Postcrosser Indonesia oleh Mbak Titi Sari. Jadi sudah saya tetapkan tujuan saya weekend ini : berburu kartu pos di Jakarta!*



Friday, March 09, 2012

Dibuka Pendaftaran Ekspedisi Khatulistiwa 2012

Terimakasih kepada Om Farid Gaban yang telah menginformasikan mengenai acara menarik ini  :)



Teman-teman, sebentar lagi akan diadakan Ekspedisi Khatulistiwa 2012 oleh TNI AD di bumi Kalimantan. Jadi rencananya, sekitar 1000-an prajurit TNI AD akan melakukan penjelajahan area perbatasan pulau Kalimantan, penelitian (mitigasi bencana dan sosial budaya) serta komunikasi sosial budaya. Menariknya, TNI AD mengajak seluruh elemen masyarakat ikut serta, khususnya para mahasiswa, dan ini menjadi kesempatan buat kita para mahasiswa ikut serta!

Jadi sedianya Ekspedisi Khatulistiwa akan diadakan pada pertengahan Maret - Juli 2012. Dafuq, empat bulan di Kalimantan. Sungguh in sangat menarik kawan. Nah, karena penasaran, saya mengemail panitia di ekspedisi.khatulistiwa@gmail.com untuk menanyakan apa saja syarat-syaratnya. Sila disimak :)

  • Kirimkan data diri lengkap dengan kemampuan dan pengalaman
  • Sehat jasmani dan rohani dilengkapi surat keterangan dokter.
  • Bersedia ikut kegiatan selama empat bulan penuh (18 Maret - 17 Juli 2012)
  • Akomodasi ditanggung panitia penuh, tetapi apabila mengundurkan diri sebelum kegiatan berakhir, biaya ditanggung sendiri.
  • Menyiapkan perlengkapan pribadi.
  • Sertakan nomer hp yg bisa dihubungi untuk kami panggil bergabung dengan kami


Yang perlu dicatat : pendaftaran gratis dan akomodasi ditanggung panitia.
Kalau ada pertanyaan lebih lanjut bisa hubungi email tersebut atau klik link di bawah ini:
Ekspedisi Khatulistiwa 1
Ekspedisi Khatulistiwa 2
Ekspedisi Khatulistiwa 3
Ekspedisi Khatulistiwa 4

Sayang beribu sayang, informasi dan sosialisasi mengenai Ekspedisi Khatulistiwa 2012 ini baru banyak dilakukan pada awal Maret. Padahal peserta pasti butuh banyak persiapan jika ingin ikut. Ayo, tinggal seminggu lagi waktu kalian untuk mendaftar. Semoga beruntung menjadi salah satu peserta ekspedisi dan bisa menjelajah pedalaman Kalimantan bersama para prajurit TNI AD yang gagah berani :') Pasti pulang-pulang perutnya sixpack dan bisa lari bawa beban 30 kg deh... hahaha.

Wednesday, March 07, 2012

after the duty


Para abdi dalem Keraton Jogjakarta tengah beristirahat setelah melakukan pekerjaan harian mereka. Orang-orang ini tidak mencari uang dari pekerjaan yang mereka lakukan - karena abdi dalem hanya digaji tidak lebih dari 9 ribu hingga 500 ribu rupiah per bulan sesuai tingkatan - tetapi rasa damai dan kebanggaan karena telah mengabdi untuk Sultan dan Keraton yang mereka cintai. Kesetiaan para abdi dalem ini terasa begitu ironis di tengah hiruk pikuk wakil rakyat kita yang telah dipilih untuk mengabdi kepada rakyat - tapi justru menyiakannya dan menjadi bumerang bagi rakyat sendiri.

Mereka bukannya tidak punya pekerjaan lain. Ada yang menjadi guru, pegawai negeri, bahkan tukang sapu. Akan tetapi untuk penduduk di desa-desa, menjadi abdi dalem adalah pekerjaan yang sangat membanggakan. Abdi dalem tidak datang setiap hari, mereka bekerja sesuai jadwal piket. Saya sempat mengobrol dengan seorang abdi dalem penjaga perkakas rumah tangga Keraton, Mas Tarto. Dia datang ke Keraton setiap hari untuk piket jaga ruang perkakas. Tidak digaji banyak, tapi ia ikhlas mengerjakannya. Dapat mengabdi untuk Sultan yang dia hormati adalah imbalan terbesar yang diinginkan.

Foto ini diambil di tengah pekerjaan iseng saya: membuat film dokumentasi sederhana mengenai seorang abdi dalem keraton dua tahun lalu. Film ini tidak akan pernah saya tampilkan karena memang tidak ada. Footage mentahnya, yang berada dalam 2 kaset handycam, hilang entah kemana ketika saya pindahan kamar. Semoga kebodohan ini adalah yang pertama dan terakhir.

Monday, March 05, 2012

rasuna hari ini

Rasuna Said, dari lantai 17 Cyber 2 Building, Jakarta Selatan.

Friday, March 02, 2012

berwisata

Dan kita berjanji untuk berwisata
Dengan kereta menuju ke stasiun kota
Berjalan melewati gedung-gedung tua
Berdua... oh senangnya

Kita melanjutkan dengan bis trans jakarta
Ke pemberhentian di dekat istana negara
menikmati suasana kota jakarta
Berwisata... oh senangnya
Berwisata 

Berwisata - The Adams

Monday, February 27, 2012

self timer



Saya selalu gagal untuk membuat foto lompat dengan self timer. Apalagi kesalahannya kalau bukan karena tidak tepat memperkirakan kapan kamera menjepret.

Hasilnya kemudian selalu kocak, entah muka yang ga siap, lompatan yang wagu, atau justru perut yang terlihat dan muka ketutupan jilbab.

Tapi membuat foto lompat selalu seru, hahaha. Salah satunya di atas ini, walaupun sudah pakai burst mode, malah kayak orang ngeden!

Ada yang suka bikin foto lompat juga? Share dong :D