July 20, 2014

Begini Rasanya Frenektomi

Cerita ini saya share agar teman-teman ikut meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut kalian ya :)

Saat baru mulai merasakan indahnya masa SMA, saya mengalami kecelakaan. Singkat cerita, rahang kanan patah (untung bukan pas di sendi, jadi ngga perlu bedah dan pakai platina segala) dan saya mendapatkan perawatan spesial: pemakaian plat pada susunan gigi atas bawah untuk mengikat rahang agar bisa tersambung kembali. Sayangnya, pemasangan plat tersebut tidak pas sehingga rahang saya tersambung tidak seperti bentuknya semula. Hal ini tentu saja berpengaruh pada susunan gigi geligi saya. Jadi berantakan kayak kapal pecah! Tapi barulah pada akhir masa kuliah saya berani pasang behel demi merapikan kekacauan itu.

Dua tahun pakai behel, gigi depan saya ngga simetris juga. Akhirnya saya tanya sana-sini, baca sana-sini, dan menemukan salah satu kemungkinannya adalah lipatan frenulum saya yang memiliki kelainan. Apa itu frenulum? Coba jilat bagian dalam bibir atas kalian (tepat di atas gigi seri depan) ada semacam lipatan kecil. Nah pada beberapa kasus (termasuk kasus saya) frenulum tersebut terlalu tebal atau pendek sehingga bisa mengganggu penampilan dan tentu saja, mengundang penyakit.

Cinta yang Tumbuh di Tempat-Tempat Biasa

Tapi kalo ini bukan tempat biasa sih...
Cinta ini tumbuh di antara peron-peron stasiun kereta api. Cinta ini tumbuh di dek kapal berlunas rendah yang menari di tengah samudera. Cinta ini tumbuh di tapak-tapak berpasir jalan menuju atap langit Jawa. Cinta ini tumbuh di tiap sudut kota Jogja: angkringan nasi kucing, warung bakmi jawa, tebing landas pacu Laut Selatan, dan teras depan Societet Taman Budaya.

Cinta ini tidak tumbuh di tempat-tempat (yang menurut orang lain) istimewa.

Pertama menjabat tangannya, aura yang menyenangkan tersibak begitu saja. Baru saja aku bertemu ia hari itu, rasanya sudah seperti kenal sejak lama. Bersemangat dan murah senyum, kusematkan tanda di memori bahwa ia perlu kukenal lebih jauh.

Pada Sebuah Meja Makan



Selama menjadi bagian dari keluarga Pak Misrudi dan Mak Masnah, saya selalu dipersilakan untuk ikut makan di dapur mereka. Dapur itu sederhana, terbuat dari jalinan bambu dengan atap daun aren yang terpisah dari bangunan utama.

"Bu, noro' ngakan sabedena pei ghi... Nyamana oreng tak andik, nya andik cukok kereng ya Ibu noro' ngakan pei ya Bu.. Eshon tak bisa masak se nyaman-nyaman carana oreng e nagarana Ibu."
(Bu, ikut makan seadanya saja ya... Namanya orang ngga punya, cuma punya ikan kering ya Ibu ikut makan aja ya Bu.. Saya ngga bisa masak yang enak-enak macam orang di kota Ibu.)

Di awal, pertengahan, hingga akhir masa tugas saya, selalu kata-kata tersebut yang diulang-ulang oleh Emak Masnah. Ibu angkat saya tersebut katanya sering kasihan karena saya hanya makan nasi dengan ikan kering, jika sedang tak musim ikan, dan jarang pakai sayur karena susah dicari. Jika sedang rejeki, akan terhidang sayur daun singkong, daun kelor, sayur ubi, dan sayur sawi hasil petik kebun sendiri. Mungkin Emak lupa, berat saya sempat naik sampai tujuh kilo saking nikmatnya makan masakan yang katanya 'seadanya' tersebut.

May 05, 2014

Mendaki Gunung Demi Danau Kastoba

Danau Kastoba dikelilingi perbukitan, di bagian belakang adalah persawahan di kecamatan Tambak dan laut lepas!
Eits, memang di Bawean ada gunung?
Jika menganut definisi gunung di Wikipedia yang mengatakan bahwa gunung mempunyai tinggi lebih dari 2000 kaki (600-an meter) itu artinya tidak ada gunung di Bawean. Tetapi jika menganut apa kata orang Bawean, ada 99 gunung di pulau kecil ini!
Ya, di Bawean, bukit disebut dengan gunung.

***
Akhirnya setelah satu tahun lebih vakum mendaki, sore itu rasa penasaran saya terobati. Gunung Sabu yang konon terletak tepat di tengah pulau akan menjadi tempat pendakian kami bersama teman-teman dari MA Himayatul Islam Kebuntelukdalam. Tingginya tidak lebih dari 200 meter saya kira. Hanya dibutuhkan waktu mendaki sekitar satu jam saja untuk mencapai puncaknya. Tapi jangan remehkan trek pendakian Gunung Sabu. Lumayan menanjak curam dan saya berkali-kali terpeleset tanahnya yang licin setelah diguyur hujan. Untung persiapan kami sudah lumayan matang.

March 08, 2014

Jenuh

"Teruslah menulis. Paling tidak, orang-orang tahu kalau kamu masih hidup."

Ia tergelak saat kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Seorang sahabat dekat menasehati saya dengan hawa skeptis yang pekat. Ia tahu betul bagaimana mood menulis saya naik turun, bahkan saat saya sebenarnya sedang tidak punya kerjaan.

Begitulah. Perkataannya seakan menjadi cambuk bagi saya. Telak, menghunus ke dada. Saya sedang di titik puncak kejenuhan menulis. Bukan karena saya tidak punya inspirasi, tetapi sehari-hari di sini, yang awalnya semuanya seakan ingin diceritakan, kini menjadi rutinitas. Inspirasi itu saya lihat sehari-hari. Dan membicarakan rutinitas bagi saya adalah hal yang membosankan.

Maka, kurang dari sepuluh tulisan yang saya hasilkan dalam sembilan bulan perjalanan. Atas ketidakproduktifan itu pulalah, saya masih belum berani menerima tawaran kerja sama dengan berbagai pihak. Saya memang blogger pemalas. *tabok diri sendiri*

Mungkin, tiga bulan akhir nantinya akan memberi saya banyak inspirasi. Siapa tahu, minat menulis itu justru muncul ketika saya sudah kembali ke kasur yang saya nanti-nanti, dimana kehidupan saya saat ini hanya akan menjadi kenangan yang tidak dapat terulang lagi.

Saya sedang menuju persimpangan untuk pulang.

Suadi, Bisakah Berdikari?


Empat siswa laki-laki istimewa di kelas yang saya ampu. Suadi berdiri paling kiri.
Selalu memilih bangku yang sama di pojok belakang kelas, ia menumpuk semua buku pelajarannya di atas meja. Seragam merah putihnya yang beranjak kumal selalu alpa dikancingkan. Ah, bukannya lupa. Baju itu sudah kekecilan, bahkan celananya menggantung hingga di atas mata kaki. Bukan karena ia tumbuh terlalu cepat, usianya yang sudah terlalu tua untuk jenjang kelas lima.

"Suadi, ini huruf apa? Lihat, gendutnya di belakang," ujar saya sembari menunjuk huruf 'b' pada kertas yang saya tulisi huruf-huruf dengan beragam warna. Tujuannya agar ia mudah mengenali perbedaannya. Saat itu, satu bulan sudah saya menjadi penduduk dusun Serambah.

Lama ia berpikir, hingga akhirnya terucap 'd' dari mulutnya. Lirih. Ia tak percaya diri. Saya menghela napas. Belum genap lima menit yang lalu saya memperkenalkan - tentu bukan pertama kali - huruf 'b' padanya, Suadi sudah melupakannya lagi. Mungkin pula Suadi sebenarnya tak lupa, tapi ia tak pernah bisa mengingatnya.

February 23, 2014

Mereka Yang Berproses

Saya percaya bahwa baik tidaknya perilaku anak berasal dari pembiasaan. Children do what children see. Anak yang dibesarkan tanpa amarah dan emosi akan tumbuh jadi manusia penyayang. Anak yang sennatiasa melihat atau mengalami kekerasan fisik akan menjadi manusia kasar. Anak yang dibesarkan tanpa kesabaran dan keikhlasan akan tumbuh menjadi manusia pendendam. Bagaimana cara anak dibesarkan, seperti itulah ia akan berkembang.

Saat ini sudah tujuh bulan saya bertugas di sebuah sekolah di pucuk perbukitan. Di sini, saya temui kenyataan bahwa anak-anak dusun bersekolah dan bermasyarakat dalam hawa acuh yang pekat. Acuh dengan teman, guru, dan lingkungan sekitar. Para siswa ini tidak terbiasa mencium tangan guru atau menyapa saat bertemu gurunya, membuang sampah sembarangan, dan tidak memperhatikan sekitarnya. Ah satu lagi, mereka tak terbiasa mengekspresikan diri. Awal datang, saya sempat merasa heran (sekaligus agak sakit hati) karena anak-anak ini tidak menunjukkan sambutannya pada saya. Kelihatan senang tidak, kelihatan sedih juga tidak. Baru belakangan saya tahu bahwa mereka sangat senang karena mendapatkan guru perempuan. Itupun hasil bisik-bisik di belakang saya!